Selasa, 09 Maret 2021

#9 Semua Akan Hilang Pada Waktunya!

Sejak kecil saya suka sekali mengamati lingkungan sekitar. Tak jarang daya ingat saya cukup kuat menyoal hal-hal yang berkesan untuk saya. Secara tak sadar, memori itu terekam dengan baik dan sewaktu-waktu bisa saja muncul begitu saja bahkan saat saya tak bermaksud mengingatnya. Seperti saja contohnya, saya akan mudah ingat dengan tanggal lahir orang-orang yang berkesan atau orang-orang yang memiliki memori dengan saya. Bahkan, saya mudah ingat momen-momen jam, kondisi, situasi, keramaian, atau keheningan yang terjadi lengkap dengan printilan dan detail kejadiannya. Seperti ada gudang dalam otak saya untuk menyimpan banyak hal dan kadangkala membuat saya susah melupakan hal-hal buruk yang terjadi pada saya yang berakibat sulitnya memaafkan seseorang jika saya rasa itu sangat menyakiti saya. Sebenarnya ini hal buruk yang sampai saat ini saya masih berusaha untuk memperbaikinya.

Ditambah lagi, saya merupakan tipe orang yang sayang dengan barang-barang yang memorable. Bahkan, sewaktu kuliah, teman saya pernah nyeletuk tentang barang yang sudah lama tak dipakai hasil karya kelas kami, "Coba saja tanya Dian, pasti dia simpan itu barang dari tahun kapan!" Ya, benar saja! Sewaktu kuliah saya selalu menjadi orang yang mengumpulkan barang-barang hasil karya kelas. Apalagi kalau barang-barang itu adalah barang berharga versi saya, penuh kenangan. Misalnya saja, butuh waktu semalaman mengerjakannya secara berkelompok, tentu saja saya tak tega membuang hasilnya karena saya pikir ketika kita menyimpannya kita akan menghargai kerja keras kita itu. Lantas, apa yang terjadi? Setelah 10 tahun, kosan saya bak gudang dengan perkakas yang hampir saja tanpa space untuk duduk.

Suatu ketika, kosan saya kebanjiran karena selokan mampet. Berhubung kos saya di lantai satu, alhasil barang-barang saya banyak yang basah dan mau gak mau saya merelakan untuk buang sebagian dan sebagian lagi tetap saya simpan. Sebenarnya, barang-barang itu tak serta merta saya gunakan setiap hari. Saya hanya menyimpannya dan menjaga setiap memorinya. Ternyata saya salah! Barang-barang itu banyak yang semakin lembab setelah tetap saya simpan setahun setelah banjir itu datang dan malah merusak barang lain yang sebenarnya masih bisa digunakan kembali. Semenjak itu, saya akhirnya pindah ke kosan baru, banyak barang-barang saat kuliah yang terpaksa saya buang, tapi tetap saja masih ada 30an container 70 literan. Bayangkan! 30an box ya! Pindahannya pun 30 hari sebelum penempatan kosan baru. Beruntungnya, mas kosan baik diperbolehkan menghuni kamar satu bulan setelah itu setelah loading barang. Inilah yang membuat saya tidak suka pindahan! Ya, karena barang-barang saya banyak!

Pernas suatu hari saat kami pulang dari kampus, seorang teman nyeletuk, "Tuh, Put, Mbak Dian nih barang-barang di kosannya banyak. Semua disimpan sama dia!" Lantas, aku balas, "Ya, aku hanya mau menjaga kenangan dan barang-barang itu penuh memori!" Belum selesai, salah satu kawan pun berkata, "Gak mungkin Lo simpan terus itu barang. Pasti suatu saat Lo akan buang itu!" "Tidak mungkin!" jawabku dengan berbagai idealisme tinggi.

Benar saja, saya pikir saya akan bisa tetap menampung semua hal yang bisa saya jaga, termasuk barang-barang itu. Mungkin saya perlu buka gedung museum kali ya untuk merealisasikan hal itu. Sayangnya, saya salah memilih menjadi orang yang menyimpan setiap kenangan. Saya salah terlalu enggan untuk meninggalkan masa lalu. Saya salah menjadi orang yang terlalu pemikir dan takut kehilangan. Ya, padahal sebenarnya kita bisa mendapat hal lain yang lebih bermanfaat untuk masa kini dan masa depan selain memikirkan masa lalu. Ya, saya masih belajar untuk hal ini. Untuk menghargai setiap momen waktu dan merelakan setiap momen itu tersimpan pada tempatnya, tapi tak ingin memaksanya tersimpan, hanya biarkan saja apa adanya. Dan benar saja, saya tak bisa terus menyimpan setiap kenangan yang ada, cukup nikmati saja dan ikuti saja perasaan apa yang muncul saat itu juga. Itu saja cukup. Nikmati saja selagi bisa, tidak perlu membebani diri sendiri dengan masa lalu, karena kita hidup bukan untuk masa lalu, tapi untuk masa kini dan masa depan.

Biarkan rencana Tuhan yang bertindak! Kita akan belajar banyak hal. :) :) :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar