Tampilkan postingan dengan label #TentangProses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #TentangProses. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

Hari ini Pasar Senin Legi di sekolah. Sa memilih untuk berjualan lagi. Kali ini sa berjualan cukup laris "es teh buah". Semua bahan dan persiapan sudah oke, tapi tetep aja ada yang tertinggal. Yups, madunya tertinggal di meja dapur. Alhasil sa beli gula pasir untuk pemanis.

Lumayanlah hasilnya untuk memeriahkan Pasar Senin Legi. Walaupun jenis makanan yang dijual kurang beragam karena ternyata banyak yang jual es buah dan buah-buahan. :) Karena temanya warna-warni alami mungkin ya jadi semua jual buah dan jelly. >.< Lain kali sepertinya harus putar otak lagi buat nyari ide yang lebih menarik untuk jualan.

Kali ini sa dibantu sama Bu Wo. Lalu anak-anak antusias juga membantu. Pagi-pagi datang sudah disambut anak-anak dengan pertanyaan "Mbak, jualan apa?" Terus beberapa anak bantu bawa barang bawaan. Yo bantu buat tempelan harga dibantu sama Ken. Aby bantu ambilkan gelas kelas untuk jualan. Yo juga bantu jualan ambilkan es dan buah. Bu Wo jadi kasir. Semua senang. Walaupun pulang-pulang rasanya lelah banget. Tapi happy!

Nah, ada kejadian tidak sesuai rencana kali ini. Pagi tadi Bu Er izin tidak masuk sekolah dan memang jadwal Mas And off hari Senin. Alhasil sa cukup kuwalahan. Setelah selesai pasaran, sa baru ingat kelas ada makan siang. Ternyata belum masak nasi. :) Anak-anak yang piket lupa masak nasi. Akhirnya dibantu Titi masak nasi. Sa bilang ke Titi masak nasi 6 cup saja karena 3 orang tidak masuk. Dan ok, nasi dimasak. Waktu sa tanya di kelas siapa yang bawa makan siang, ternyata Aro. Dan... dia lupa bilang kalau makan siangnya mau ke warung Ken. Lah, nasi sudah dimasak. Sedangkan menu makan siang di warung Ken ada bakso, mie ayam, ayam pokpok. 

Diskusilah kami mencari solusi bagaimana cara menghabiskan nasi yang terlanjur dimasak. Gen mengusulkan kalau masing-masing membawa nasi pulang. Namun, cara tersebut belum diterima karena wadah bekal anak-anak masih penuh snack. Ada lagi yang mengusulkan untuk menanyakan kelas lain yang membutuhkan. Terulah, beberapa perwakilan tanya satu-satu ke kelas 1-6. Alhasil hasilnya tidak ada yang membutuhkan nasi. Info yang didapat karena masing-masing kelas ada yang tidak ada jadwal makan siang, jadi tidak membutuhkan nasi. Kelas 2 mengatakan kalau kami menginfokan terlambat 10 menit. Andaikan 10 menit itu kami sudah menginfokan, mungkin nasi tersebut bisa untuk kelas 2. Jadilah kami mencari ide lain. Yups, makan bakso sama nasi, makan mie ayam sama nasi (buat yang mau aja). Sisanya bagaimana? Muncullah ide dibawa pulang fasi terus dibawa lagi besoknya dibuat onigiri. Deal, sa yang akan membuat isian ayam, dicetak di sekolah bersama-sama.

Jalanlah kami ke warung Ken dan memesan makanan. Sa beli bakso tanpa mie agar bisa makan nasi juga. Itung-itung mengurangi nasi yang sudah dimasak. Yo juga nambah nasi. Tar juga nambah nasi. Ab pun juga ikutan makan nasi. Aby juga ikut makan nasi. Lalu, kami diskusi nasi yang masih ada besok dibuat onigiri di sekolah. Pembagian alat sudah disetujui. Tiba-tiba ada telepon dari kelas 2, mereka kekurangan nasi. Dan nasi kelas pun akhirnya untuk kelas 2. Alhamdulillah. Batal deh kami membuat onigiri. Jadi akan kami tunda untuk kegiatan kelas berikutnya. Problem solved!

Sa pulang dengan lebih lelah, namun harus kerja tambahan sampai jam setengah 9 malam. Permasalahan Hasse Diagram pun terselesaikan tepat waktu. Tapi masih ada PR untuk belajar lagi tentang Diagram Transisi DFA. Sa masih perlu waktu untuk memahaminya. 

Hari sudah mulai sibuk. Jadi cukup hectic untuk urusan diri sendiri. Mari fokus ke diri sendiri dan membangun relasi.

Minggu, 05 Januari 2025

#5 Buat Komitmen

Hari ini saya masak sayur sawi dan ikan cakalang. Tidak banyak yang saya lakukan hari ini. Hanya bersih-bersih rumah, nyuci baju, dan jemur bantal. Hari ini ada Mbk S dari grup pola makan sehat tiba-tiba chat saya tanya tips agar BB turun. Saya jawab ikuti tips yang diberikan coach. Ya memang begitu.

Hari ini saya berkomitmen untuk mengatur kembali keuangan. Beberapa hal perlu diubah. Menenangkan diri untuk tetap fokus pada kebahagiaan diri dan self love. Semangat ya kamu yang tengah belajar.... 

Sabtu, 11 Mei 2024

#43 Tenang Seimbang, Datar Saja

Hari ini Kuro belum pulang juga. Entah kemana perginya. Saya hanya bisa bersikap tenang saja. Semoga baik-baik saja dan bahagia selalu. Saya belajar untuk merelakan sesuatu yang di luar kontrol saya, seperti sesuatu yang pergi dan tak kembali, ya saya perlu merelakannya. Jika dia kembali, tentunya puji syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan kedua untuk bersama lagi. Ya, saya belajar untuk tidak bereaksi apa pun, datar saja, karena semua sudah ada jalannya. Begitu pula saat Kuro tak pulang, saya tetap tenang, datar saja. Semua akan kembali seperti biasa, tak perlu terlalu berlebihan sedih, terlalu senang, atau terlalu benci. Itu yang saya pelajari.

Seperti halnya, saya sempat benci sekali dengan nama Anis semenjak huru-hara ibukota yang membuat saya lumayan trauma dengan identitas Islam. Sebenarnya, saya tahu betul itu hanya sebagian saja, toh masih banyak kyai atau pemeluk Islam yang mengayomi dan tenang damai. Namun, sejujurnya, tetap kejadian yang ada di Jakarta dulu membuat saya trauma. Saking bencinya saya dengan nama Anis, sampai akhirnya saya tidak suka ketika ada nama Anis, entah itu disebutkan orang atau saya membaca sesuatu yang berhubungan dengan kata itu. Dan semesta pun sangat adil dan mengingatkan saya untuk tidak membenci.

Dan tahu apa yang terjadi? Semesta mengirimkan teman bernama Anees. Lha kok bisa? Ya, begitulah cara semesta mengingatkan kita untuk tetap sesuai jalur kehidupan. Kan kalau seperti ini, interaksi saya bersama nama Anees semakin banyak dan mau nggak mau saya harus terbiasa dan tidak boleh berlebihan dalam membenci maupun menyukai sesuatu. Intinya adalah sedatar-datarnya, sewajarnya, dan tak perlu berlebihan.

Makanya, saya sekarang tidak mau ambil pusing dengan kedatangan maupun kepergian sesuatu. Kalau datang ya saya hargai. Kalau pergi ya saya biarkan pergi dan saya lepaskan. Tak perlu berlebihan mencintai atau membenci. Belajar untuk melepas kemelekatan karena hidup datang dan pergi. Tetap fokus ke diri sendiri. Tetap tenang seimbang. Fokus ke diri sendiri dan perbaiki diri. Dan ini sudah hampir satu bulan saya mengkonsumsi sesuatu non hewani. Ternyata saya bisa bertahan juga. Lalu, konsisten untuk tetap menjaga diri dengan olahraga dan beberapa kegiatan lainnya. Semesta sangat baik ya ke diri ini. Kadang manusianya saja yang terlalu banyak mengeluh dan memprotes. Padahal semesta sudah memberi yang terbaik untuk kita. Mari berbahagia.... 

Jumat, 10 Mei 2024

#42 Kuro Tak Pulang!

Hari ini tepat 3 hari Kuro tidak pulang. Biasanya dia akan turun dari atap saat pagi minta sarapan dan sore saat menjelang makan malam. Setiap pagi juga dia menunggui saya cardio. Tidur di sebelah kaki saya bersama Usrok dan Oyen. Dia selalu tahu dan berlari mengejar saya ketika kami berpapasan. Dia selalu pulang! Walaupun kadang hanya untuk say hello!

Selama tinggal bersama saya, Kuro hanya pernah tidak pulang dua kali. Pertama, saat dia kecelakaan tertabrak motor sewaktu kecil. Dia bersembunyi di semak-semak yang akhirnya saya temukan pagi harinya. Feeling saya kuat saat itu kalau saya akan bertemu kembali dengan Kuro. Dan benar saja, pagi harinya saya beranikan diri masuk ke pekarangan tetangga yang terbengkalai. Saya mendapati dia sedang menggulungkan tubuhnya lemas karena luka di muka di antara tumpukan kayu-kayu dan semak-semak. Ya, saya menemukannya!

Lalu, kedua, saat dia terluka kakinya di sekat rumah tetangga. Saat itu saya baru pindah kos. Selang beberapa hari, dia keluar rumah dan saya biarkan karena dia sudah hapal rumah. Tapi beberapa hari dia tak pulang. Saya pergi mencarinya berkeliling kompleks dan tanya ke tetangga-tetangga juga tanya ke kucing-kucing yang saya temui di jalan. Setelah berputar-putar mencari tetap nihil. Kuro tidak saya temukan. Lalu, lagi-lagi feeling saya kuat kalau saya panggil-panggil lagi pasti Kuro akan mendengar dan memberi tahu keberadaannya. Setelah keliling kompleks, saya masuk ke kos, entah kenapa feeling saya kuat kalau saya harus memanggilnya sekali lagi. Saya panggil lagi namanya dan benar! Kuro menyahut dan mengeong menunjukkan keberadaannya. Dia ada di sela-sela tembok tetangga, tidak bisa turun. Lantas, saya berusaha mengambilnya, tapi tembok terlalu tinggi. Saya tunggu dia sampai jam 2 pagi, tapi akhirnya saya memintanya untuk menunggu pagi hari. Setelah pagi, saya minta bantuan ke tetangga untuk mengambilkan Kuro dengan tangga. Alhamdulillah, bapak tukangnya mau bantu. Saya pun bertemu Kuro kembali. Kakinya bengkak karena luka, badannya demam sehingga dia tidak mau makan dan hanya tidur sepanjang hari. Saya membawanya ke Rumah Sakit Hewan UGM dan segera ditangani dokter. Pulang-pulang dikasih antibiotik dan obat agar segera sehat. Beberapa hari kemudian Kuro kembali sehat! Alhamdulillah....

Ini ketiga kali Kuro tidak pulang. Saya sudah berusaha cari keliling kampung dan tanya ke tetangga. Setiap ada kucing tetangga, saya juga tanyakan dan titip pesan kalau mereka bertemu Kuro, si hitam dengan ekor panjang, suruh pulang karena dicari ibuk. Saya masih menunggunya pulang.... Anak ibuk! Dan kali ini saya tidak punya feeling apa-apa.... Saya masih berharap Kuro kembali dengan sehat.... Aamiin....

Pagi tadi setelah cardio, saya meditasi untuk mengurangi overthinking karena semalam saya tidur dengan tidak nyaman dan sangat mengharapkan Kuro pulang. Setelah meditasi, saya lebih tenang. Dan saya mengurangi ekspektasi saya terhadap apa yang terjadi. Saya ingat, dulu saya pernah bilang ke Kuro, kalau suatu hari nanti Kuro ingin pergi duluan, nggak papa, ibu ikhlas, ibuk bahagia karena Kuro sudah menemani ibuk dan sayang sama ibuk selama ini. Jangan terbebani ya Kuro, sayangnya ibuk! Kalau suatu saat ibuk duluan yang pergi, Kuro juga nggak boleh nungguin Ibuk terus ya.... Ibuk sayang sama Kuro! Terima kasih ya sudah sayang sama ibuk dan selalu menemani ibuk! Sayang sama mamas Kuro.... Itulah, sesungguhnya hidup ini memang perlu merelakan dan menerima. Semeleh dengan apa yang terjadi. Tidak perlu memberontak atau berekspektasi. Semua akan indah tepat pada waktunya. Jika pun berpisah, itu artinya memang sudah selesai sampai di sini, sesuatu itu datang di hidup kita dan kita pun memang harus mengikhlaskan.

Kuro, anak baik! Love you! Terima kasih ya sudah sayang dan menemani Ibuk selama ini.... Di mana pun kamu berada, ibuk sayang sama mamas Kuro. Love you! Alhamdulillah, ibu bersyukur karena sudah dipertemukan dengan mamas Kuro.... Ibu bahagia selama ini hidup bersama sama Mamas Kuro! Baik-baik ya Nak! Love you! 

Untukmu yang terbaik, Mamas Kuro, kucing hitam berekor panjang dengan warna putih di dada. Love you!

Kamis, 09 Mei 2024

#41 Happy Birthday!

Happy birthday to you! 9 Mei!

Apa kabar kamu? Sehat selalu ya.... Dua hari yang lalu, tak sengaja aku melihat postinganmu di salah satu grup facebook. Ternyata kita beririsan di grup itu. Kamu berbagi cerita tentang perjalananmu ke Jepang. Nice! Setelah lebih dari 3 minggu ini saya berusaha untuk tidak kepoin kamu, aku senang mendapat kabarmu lagi walau hanya lewat social media. Aku tak perlu tanya kabar kamu lagi kan? Dan aku tidak perlu khawatir lagi karena kamu masih sehat dan bahagia....

Lalu, hari ini kamu ulang tahun ya.... Aku sengaja tak mengucapkan langsung ke kamu. Cukuplah di tulisan sini saja dan dalam doa baik. Aku tak mau mengganggu hidupmu lagi. Biar kamu bahagia dengan caramu sendiri. Dan aku juga bahagia dengan caraku sendiri. Terima kasih ya, sudah mengajarkan bagaimana cara membahagiakan diri sendiri. Terima kasih sudah mengajarkan apa itu kasih sayang dan cinta. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana cara mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Terima kasih ya sudah pernah datang di dalam cerita hidupku sejauh ini. Aku belajar untuk merelakan dan menerima. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana bersikap dewasa dan menjadi teman yang baik.

Di tahun ini, aku belajar memperbaiki diri dan belajar mengenali diri sendiri. Aku belajar untuk mengambil sikap. Aku memilah hal mana saja yang perlu aku pertahankan dan mana yang perlu aku tinggalkan. Aku belajar untuk merelakan dan melepas segala sesuatu yang memang ingin pergi. Terima kasih ya sudah menyadarkan aku tentang arti hidup menerima dan memberi.

Teruntuk kamu, sehat-sehat ya.... Bahagia selalu.... Aku berhenti untuk tanya kabarmu.... Aku berhenti untuk mau tahu urusanmu.... Aku berhenti untuk menghubungimu.... Aku berhenti untuk meresponmu.... Aku berhenti untuk memikirkanmu.... Bukan berarti aku benci, bukan.... Aku hanya memberi waktu untuk diriku sendiri. Fokus pada diriku yang selama ini aku fokus pada orang lain. Aku kembali fokus pada goals dan hidupku.... Pergilah dengan bahagia!

Suatu hari nanti ketika kita bertemu kembali, mari bercerita banyak hal.... Suatu hari nanti ya! Bahagia dan damai selalu.... Selamat ulang tahun ya.... Doa-doa baik untukmu.... Thank you!

Selasa, 07 Mei 2024

#39 Keputusan dan Keikhlasan

Hari ini saya janjian sama Bang Limin dan Tace untuk makan siang bareng setelah sekian lama tidak berjumpa di kampus. Saya mengajak juga mbak Alia tapi tidak bisa ikut. Anees juga saya ajak, tapi dia ikut kelas BIPA dan baru selesai jam 12.50. Sedangkan Bang Limin ada kelas lagi jam 1. Jadi saya memutuskan untuk tidak menunggu Anees dan pulang setelah jam 1. Lalu, setelah sampai kos, ternyata Anees menyusul ke kantin FMIPA dan akhirnya kami tidak bisa bertemu. Saya bilang lain kali saja karena saya sudah pulang. Saya tawarkan dia mau ditemani makan siang, tapi dia menjawab sudah makan.

Saya pun lanjut ke Bank Mandiri untuk mengurus AXA Mandiri. Ternyata produk lama itu membuat saya malah rugi selama 5 tahun belakangan ini. Rugi hampir 10jt, dengan biaya admin yang ternyata gede. Alhasil saya pun cerita ke Mbak Raras, dan hasil diskusi kami adalah saya cut saja asuransi itu dan ikhlaskan kerugiannya selama ini. Nanti juga akan ada gantinya yang lain. Akhirnya saya cut off AXA Mandiri saya dan tidak tertarik untuk ikut lagi walaupun produk barunya tanpa biaya admin, tapi tetap saja, saya rada trauma dengan yang namanya asuransi.

Ya, dulu kenapa saya ikut asuransi, karena berpikir saya kerja di Jakarta dan kerjaan saya mobile, kalau sewaktu-waktu saya kenapa-napa, minimal ibu saya punya uang. Makanya nama penerima dana itu adalah ibu saya. Lalu, sekarang ibu saya sudah tidak ada, jadi ya sudah mari hidup seperti biasa dan serahkan takdir kepada Tuhan saja. Lain kali mungkin bisa ya saya pikir-pikir ulang tentang asuransi.

Terus, sorenya, saya nonton Totto-Chan: The Little Girl at the Window sama Tace dan Bang Limin di bioskop Lippo. Salah satu novel yang saya suka dari dulu tentang sekolah yang beda dari yang lain. Saya menemukan sekolah serupa di Salam. Entah kenapa membuat saya seperti berada di dalam film itu saat saya mengajar di Salam. Totto-Chan, salah satu inspirasi saya di dunia pendidikan. Filmnya sedih tapi bagus! Novelnya tambah bagus lagi. :)

Dulu saya pernah punya mimpi untuk membangun sekolah seperti Sekolah Tomoe. Sekolah yang mengajarkan tentang hidup dan bahagia. Menerima segala karakteristik anak, tak ada anak yang bodoh, tak ada anak yang nakal, semua istimewa. Mungkin itu jadi salah satu semangat kenapa saya tetap di pendidikan. Ya, salah satu impian saya pun bisa mengajar di daerah pedalaman. Entah, dimana pun itu. Semoga bisa terwujud.... Aamiin....

Pulang nonton, saya dan Tace makan nasi padang. Saya makan terong dan tempe goreng. Lanjut mampir beli keripik singkong 1 porsi Rp6.000 di dekat fakultas teknik. Lalu pulang. Hari yang cukup padat. 

Senin, 06 Mei 2024

#38 Panen sayur dari Teras

Pagi ini saya panen daun pepaya jepang dari teras. Saya masak tumis kering dengan lauk tempe. Sederhana tapi enak. :D Tak lupa saya juga pamerin ke Fitri. Hahaha.

Saya mulai senang lagi masak makanan rumahan daripada beli jadi. Menurut saya ketika saya masak, itu salah satu healing untuk saya. Semua indera bekerja. Penglihatan sangat dibutuhkan untuk memilah bahan-bahan dan juga menentukan apakah masakan sudah matang atau belum. Pendengaran tentu, memanaskan air pun berbunyi tanda mendidih. Peraba, dibutuhkan saat kita memotong bahan. Kontak langsung dengan bahan-bahan tentunya membuat indera kita semakin terasah. Penciuman, ini salah satu indera penting untuk menentukan aroma layak atau tidaknya makanan untuk dikonsumsi. Pengecap, ini utama dari penentuan rasa apakah manis, kurang bumbu, atau keasinan. Lalu, memasak adalah salah satu kegiatan yang bisa mengasah semua indera tubuh manusia, menurut saya seperti itu.

Terus lagi, kegiatan masak juga membantu saya mengurangi overthinking karena lebih fokus ke diri sendiri. Terlebih lagi, membantu untuk mengelola emosi. Memasak adalah kegiatan kedua saya setelah bersih-bersih kamar dengan tujuan untuk healing. :D Tetap cara healing utama saya adalah bersih-bersih kamar dan kos. Hehehe. Memasak juga membantu saya memanggil kembali memori masa lalu, seperti memori indah bersama ibu dan bapak saat masak dan makan bersama. Memori bukan untuk dilupakan kan? Tapi sebaliknya, memori masa lalu akan memberi kita pembelajaran, entah itu baik atau buruk. Kita bisa belajar tentang itu.

Bahkan saat saya masak daun pepaya jepang ini, ada memori dari ibu, dulu ibu sempat tak mengizinkan saya memasak pepaya jepang tanpa menjelaskan alasan. Sampai sekarang pun saya tidak tahu alasannya. Dulu ibu hanya bilang nanti kena penyakit, tapi saya tidak tahu penyakit apa dan kandungan apa yang menyebabkan penyakit itu. Saya baru mengetahui kalau pepaya jepang ini salah satu tanaman superfood. Dan enak ketika ditumis, tidak pahit. Kalau ada yang tahu tentang kandungan pepaya jepang, bisa komen di sini ya.... Mungkin ada yang tahu kenapa pepaya jepang tidak boleh dikonsumsi? 

Minggu, 05 Mei 2024

#37 Jogja National Museum

Pagi ini saya pergi ke Pasar Kranggan untuk makan kembang tahu dan beli lopis. Saya beli juga nasi pecel di dekat kembang tahu. Lalu, pulang dan beres-beres kos. Akhirnya, alhamdulillah bisa merasakan lopis pasar Kranggan yang ngehits itu setelah berkali-kali ke sana tidak dapat antrian. Harganya Rp10.000, yang jualan simbah-simbah dan 2 anaknya. Antriannya 1 sampai 50, kalau jualan masih, antrian akan mengulang kembali. Rasanya enak, tapi isinya kurang banyak. :D

Lalu, sore harinya saya pergi ke JNM bareng Anees. Sebenarnya, saya mengajak dia ke Pasar Kranggan juga tapi tidak jadi ikut karena dia tidak bisa bangun pagi. Ya, sudah.... Saya menjemputnya jam 3 sore. Ada kejadian kocak saat saya menunggu dia keluar kos. Saya sudah menunggunya, dia bilang sudah di pinggir jalan, tapi kami tidak bertemu. Hahaha. Ternyata saya salah berhenti, titik temunya kurang beberapa meter ke depan. Hahaha. Pantesan tidak ketemu. 

Kami pergi sekitar 15 menit sampai lokasi. Kami parkir di parkiran yang sudah disediakan. Pembayarannya di awal masuk sebesar Rp3.000 untuk biaya parkir. Saya ribet nyari dompet di tas, ternyata Anees sudah mengeluarkan Rp5.000 untuk parkir. Terima kasih ya Anees.

Kami pun masuk ke museum. Untuk tarif mahasiswa Rp15.000 per orang. Acaranya barengan dengan Pasar Jembar. Anees dan saya pun masuk ke museum terlebih dahulu. Pamerannya bagus. Banyak bahasa Jawa yang ditulis arab. Anees pun membaca tulisan arab itu sambil menceritakan tentang tulisan arab tanpa harokat. Saya hanya menyimak karena saya tidak bisa baca tulisan arab tanpa harokat. :") Katanya, tulisannya itu lebih ke makna spiritual dan proses mengenal Tuhan dengan berbagai perjalanan spiritual seseorang. Terus lagi juga tentang kisah Nabi Khidir. Menarik....

Setelah selesai melihat-lihat museum, kami pun pergi ke Pasar Jembar. Lokasinya di halaman museum. Ada beberapa yang jual makanan dan pernak-pernik handmade gitu. Saya beli lopis dan buko pandan buat Anees. Biar dia merasakan makanan tradisional Indonesia. Lalu, beli mochi dan brownies buatan muridku. Terus, kami nonton tarian anak-anak dari kelas minat Tari Salam. Salam juga tampil beberapa lagu dari gitar kecil. 

Saya bertemu Nara, Sofi, Bening dan tim tari lainnya. Saya memperkenalkan Anees ke murid-murid saya. :D Dia pusing mengingat nama anak-anak yang tidak biasa di telinga dia dan kata-kata yang susah diingat. Hahaha. Lain kali saya ajak ke sekolahku ya.... Terus selesai penampilan Salam, saya mengajak dia pulang karena saya harus mengajar. Sebelum pulang saya janjian ke dia untuk makan malam bareng nasi padang deket UGM. Baiklah, kami pun pulang.

Lalu, setelah ngajar, saya kembali menjemput Anees dan makan nasi padang. Saya hanya makan tahu dan bakwan karena saya sedang mengurangi protein hewani. Dia hanya makan nasi, rendang dan kuah tanpa sayuran. Saya kutanya kenapa nggak ambil sayur, katanya sayurannya tanpa bumbu jadi itu aneh buat dia. Ya sudah. Hahaha. Dia makan sampai nambah dua kali. hahahaha. Setelah makan, kami ngobrol sebentar lalu kami pulang karena warungnya mau tutup. Kami pulang dan merencanakan pertemuan selanjutnya. Entah kapan lagi. Hahaha.


Jumat, 03 Mei 2024

#35 Jalan Semesta

Hari ini ada silat di sekolah. Seperti biasa saya ikut jalan puter kampung sama anak-anak. Biasanya saya selalu di deretan paling terakhir karena nggak kuat lari, jadi tertinggal di belakang. Nah, hari ini entah gimana ceritanya, saya pun semangat untuk silat. Saya ikut lari kecil bersama anak-anak cewek, tapi lama-lama mereka maunya jalan saja, ya sudah saya ikut jalan di paling belakang. Biasanya kan saya di urutan belakang karena saya nggak kuat ya, tapi hari ini saya di urutan belakang bukan kareana saya tidak kuat, tetapi saya sengaja di deretan belakang untuk memantau anak-anak selamat sampai sekolah lagi. Gerakan saya juga lebih ringan, kaki-kaki saya juga semakin kuat. Alhamdulillah....

Energi saya benar-benar berbeda setelah saya rutin cardio tiap pagi. Saya cerita ke Mbak Raras, selaku mentor dan guruku. Lalu, mbak Raras bilang kalau semesta memberi cara untukku menjadi lebih baik dan mengenal diri sendiri lagi. Melalui Vipassana, lalu bertemu Mbak Raras. Sebenarnya, sudah lama saya tahu Vipassana tapi saya selalu tidak jadi ikut karena jadwal yang bentrok. Nah, mungkin memang jalannya ya.... Vipassana Desember lalu saya bisa ikut. Memang sudah berjodoh dan ada jalan dari Tuhan. Kebetulan, Mbak Raras ini samping kamar saya waktu vipassana. Orangnya rajin dan saya sempat kesal karena ditegur rambut rontok yang tidak tahu itu rambut siapa. Wkwkwkwk.... Terus, awalnya sih saya tidak terlalu banyak bicara sama Mbak Raras, ya karena memang tidak boleh berbicara dengan sesama siswa. Terus pas hari terakhir, kami boleh berbicara dengan teman, akhirnya saya ikut gabung dengan siswa-siswa baru yang sedang ngobrol di kamar. Berujung pada dipijit sama Mbak Raras.

Awalnya, saya menginfokan kalau saya sempat kolesterol, lalu Mbak Raras ngecek telapak tangan saya, dikasih tahu beberapa gejala penyakit yang ada potensi saya derita kalau pola makan dan hidup tidak benar. Dari rambut rontok sampai darah tinggi dan lain-lain. Lalu cerita banyak hal dan setelah sehari pulang dari Vipassana, mbak Raras tiba-tiba WA, ngajakin olahraga. Aku terharu.... :')

Lalu, saya bergabung di grup LOA Mbak Raras, isinya sangat positif, banyak ilmu yang saya dapatkan dan bagaimana bisa mencintai diri sendiri. Mbak Raras kalau punya ilmu nggak pelit, diajarin, dibimbing. Lalu beberapa kali saya bertemu lagi ikut meditasi tiap hari Jumat. Selesai meditasi, kami ngobrol tentang hidup. Mbak Raras, pernah bilang, kalau beliau sudah bertemu orang dan berinteraksi sama orang itu pasti ada tujuan semesta yang ingin disampaikan lewat Mbak Raras. Dan salah satunya pesan semesta untuk saya.

Saya bersyukur.... Saya rajin cardio tiap pagi sekarang. Bahkan saat energi saya kecewa dan saya cerita ke Mbak Raras, energi saya seperti kembali netral. Saya juga sedang menjalani pola makan tanpa produk hewani. Dan saya merasa lebih baik. Kata Mbak Raras, programnya minimal 3 bulan yang harus saya selesaikan. Baiklah.... Saya senang menjalaninya.... Hal baik yang saya rasakan adalah saya menjadi lebih baik dari segi perasaan, emosi, dan juga kondisi fisik. Alhamdulillah ya.... Semoga semua makhluk berbahagia, damai dan harmonis.... :)

Minggu, 28 April 2024

#30 Kurangi Ekspektasi

Makin dewasa makin nggak pengen banyak berekspektasi pada sesuatu. Terlebih terhadap sesuatu yang datang dan pergi. Saya bilang ke Fitri kalau saya tidak mau banyak effort untuk urusan hati. Kalau memang seseorang mau hadir ya aku hargai, kalau mau pergi ya silakan pergi, kurelakan. Kalau seseorang itu tidak dapat bersikap, ya sudah biar saya yang bersikap, kasih batasan, karena saya pun layak untuk bahagia. Saya belajar dari Nafis, untuk sebuah batasan, kalau tidak dihargai ya pergi, masih banyak tempat layak untuk diri sendiri. Begitulah kira-kira.

Ya seperti hari ini, saya banyak-banyak merenung. Entah kenapa rasanya ingin saja menangis. Sedih karena betapa sulitnya saya bisa mengontrol diri dan emosi. Saya sadar betul saat saya mulai berekspektasi terhadap sesuatu. Lalu muncullah perasaan takut adanya penolakan atau effort lebih yang saya lakukan untuk sesuatu. Ya, sudah saya katakan di awal, saya tidak ingin effort lebih untuk hal-hal perasaan.

Sesuatu yang pernah terjadi pastinya masih membekas di memori alam bawah sadar. Masih kerasa sampai saat ini perasaan ditolak dan diacuhkan. Lalu, saya masih stay untuk hal-hal seperti itu kemarin-kemarin. Ya, memang kan cinta membuat seseorang bodoh itu pun nyata. Dan anehnya saya selalu bodoh tapi tidak sadar-sadar beberapa tahun belakangan ini. Hahaha. Tenang saya sekarang kembali lagi ke jalan yang benar kok. Ya, nggak bodoh-bodoh banget sekarang. Bisa berpikir dengan sadar dan menentukan solusi dengan lebih baik. Minimal, saya sadar kalau hidup tidak melulu soal cinta. Sekarang tidak pengen banyak-banyak effort mengejar tapi perbanyak mencintai diri sendiri. Lelah banget kalau harus mengejar mulu. 

Ya sekarang sih biasa saja, bener-bener yang biasa saja. Tidak mau banyak berekspektasi juga. Kamu datang ya saya hargai, kamu pergi ya silakan pergi, saya biarkan pergi, kalau kamu tak bisa bersikap ya biar saya yang bersikap, biar saya yang memutuskan. Begitulah kira-kira hari ini. Mari berbahagia!

Selasa, 23 April 2024

#25 Revolver yang Kendor

Agenda hari ini adalah mengamati benda-benda di sekitar dengan mikroskop. Ya, mikroskop baru yang kami terima, masih kondisi yang excited. Masih ada rasa penasaran kami. Terlebih lagi, ini adalah pertama kalinya kami belajar dengan menggunakan mikroskop. Saya sendiri juga sudah belasan tahun tidak pegang mikroskop. :D Terakhir kali eksperimen dengan mikroskop itu saat saya masih SMA tahun 2008-2009 lah. Lama sekali yak! Hahaha

Hari ini jam pertama diisi dengan membaca cerita liburan. Awalnya memang mau menjadikan opsi terakhir cerita liburan itu, tapi saya memilih untuk tetap menyelesaikan cerita liburan walaupun anak-anak sudah komplain karena ingin segera bereksperimen. Akhirnya, kami menyelesaikan cerita liburan dengan kebosanan. Saya pun menyadari hal itu. :D Cerita liburan pun selesai.

Kami persiapan alat dan bahan untuk eksperimen. Lalu, salah satu anak menyiapkan mikroskop. Anak-anak yang lain mencari sampel dari lingkungan sekitar, boleh daun, bunga, air sawah, lumpur sawah, dan lainnya. Setelah kembali, ada salah satu anak membawa ikan kecil dari kali dekat sekolah. Saya lihat masih hidup. Sontak saya kasihan dengan ikan itu, alhasil saya bilang ke anak itu kalau saya kasihan melihat ikan itu kalau masih hidup. :D Haha bukan guru sains, jadi gak tega liat ikan masih hidup harus dilukai. :X

Kemudian, ada kejadian yang membuat kelas tidak kondusif. Yups! Mikroskopnya kendor revolver-nya, tapi saya tidak bisa membetulkannya. Awalnya, saya panik, tapi saya atur napas agar saya tidak panik karena kelas harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Saya mengatakan, "Ya nggak papa, ini nanti tinggal diservis dulu, tapi ini masih bisa digunakan, yuk coba kita gunakan."

Beberapa anak tampak kecewa. Baru juga sehari, masak mikroskopnya rusak. :P Lalu, saya mencoba berpikir positif agar suasana tetap kondusif. Siapa sangka kalau kerusakan itu, ternyata membuat kami berdiskusi tentang sikap apa saja yang sebaiknya dilakukan ketika berada di laboratorium. Kami juga belajar tentang bagian-bagaian mikroskop. Beberapa anak juga semangat untuk menyetel mikroskop agar teman-temannya yang lain bisa melihat objek dengan jelas. Kelas hari ini diakhiri dengan diskusi yang menyenangkan. Belajar dari sebuah kesalahan dan belajar untuk respect di kelas.

Sepulang dari sekolah, saya lanjut ke tempat servis mikroskop di daerah utara, sekitar satu jam dari Bantul. Di tengah perjalanan, hujan deras, tapi saya tetap paksakan lanjut perjalanan. Sampai di suatu kondisi, saya memutuskan untuk berhenti ngiup di bengkel pojok karena baju saya sudah basah walaupun menggunakan mantel. Hujannya juga dibarengi dengan petir. Ini pertama kalinya saya menerobos hujan lebat selama di Jogja. Saya berusaha untuk tetap tenang. Sambil menunggu hujan sedikit reda, saya tak berani buka HP karena kilatan petir dimana-mana. Saya hanya duduk diam. Mengamati air hujan turun deras. Sesekali memperhatikan orang-orang lewat yang ikut ngiup di seberang jalan. Air jalanan yang meluber dan membuat cipratan saat kendaraan lewat. Saya benar-benar hanya mengamati. Bayangan saya mengembara membuat kemungkinan-kemungkinan terjadi. Misalnya tadi saya tidak pergi ke tempat servis pasti saya bisa tidur di kos. Beberapa pikiran serupa muncul begitu saja. Tapi saya kembali tersadar bahwa saya menikmati perjalanan ini. Saya menikmati air hujan yang membasahi pakaian saya. Saya menikmati hawa dingin yang melewati muka saya. Saya menyadari semua itu. Kapan lagi saya bisa hujan-hujanan ya kan? Semua itu saya coba sadari kembali dengan tidak menyangkal dengan segala kemungkinan kalau ini ya ini kalau itu ya itu. Semua perlu disadari keberadaannya.

Hujan mulai reda, tetapi masih gerimis. Saya pun berpamitan dengan bapak yang dari tadi duduk di kursi sebelah, saya berterima kasih sudah bertemu orang baik yang mengizinkan saya ikut duduk ngiup. Setelah mengecek google maps, jaraknya tinggal beberapa menit saja. Lalu, saya putar motor dan melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari sana, motor saya memasuki jalanan yang cekung sepertinya masuk sebagian ke got. Saya langsung tancap gas, dalam hati, ayo bisa yok, jangan terperosok. Saya kurang hati-hati memilih jalan dan terlalu ke pinggir. Ada genangan air yang ternyata parit. Untungnya, motor saya aman dan saya masih bisa melanjutkan perjalanan. Memang harus banyak-banyak bersyukur.

Sampai di lokasi, saya sudah basah pakaian saya. Sampai bisa diperas airnya. Lalu, saya masuk ke tempat servis. Ada mbak-mbak yang menyambut saya dan mempersilakan saya masuk. Saya sudah bilang kalau saya basah, dan katanya tidak apa-apa. Di sana kursinya sofa, jadi saya memilih duduk di lantai sambil membuka mikroskop. Lalu mas teknisi datang dan langsung menanyakan keluhan mikroskopnya apa. Saya bilang kalau revolvernya kendor, entah patah entah gimana, lalu masnya hanya bilang kalau ini hanya kendor, lalu diperbaiki. Masnya mempersilakan ke saya duduk di sofa saja, tapi saya memilih tetap di lantai. Ya karena benar-benar basah baju saya. :") Sambil uji coba mikroskop, mas nya tanya dari mana, saya jawab, dari Bantul. Saya bercerita tentang sekolah saya dan menceritakan pula kronologinya. Lalu saya tanya tentang kantornya ini hanya servis atau jual juga, ternyata tempat servis ini untuk pengadaan barang-barang laboratorium baik bijian maupun jumlah besar. Selesai servis, masnya bilang kalau simpan saja nomornya agar kalau ada apa-apa saya bisa menghubungi tanpa harus ke kantornya. Ternyata rumah masnya di daerah Godean, jadi kadang kerjanya muter-muter ngecek dari satu lab ke lab lainnya. Wah, dengan senang hati kalau begitu, tidak perlu jauh-jauh lagi ke sini untuk servis. 

Satu hal yang saya pelajari hari ini, semua yang datang hari ini pasti ada pembelajaran, jadi tetap tenang dan nikmati prosesnya. Mari selalu bersyukur!


Senin, 24 Mei 2021

Pemakluman Agar Tetap Waras!

Dunia kadang tidak sesuai rencana kita. Keinginan hati A, tapi jalan Tuhan ternyata Z. Sebagai manusia kadang kita mengeluh, kesal, marah sama keadaan yang tidak sama dengan rencana kita. Lalu, kita mulai tak bersyukur dan menganggap Tuhan jahat dengan kita. Padahal semesta sebenarnya telah berjalan dan merencanakan hal baik dari Tuhan untuk kita sebaik-baiknya.

Saya jadi teringat apa kata Fitri tempo hari, sebenarnya semesta ini semuanya saling terhubung. Kita melakukan A, ternyata A itu adalah jalan yang ditakdirkan Tuhan untuk orang lain yang kita temui. Pernah gak sih berpikir kalau pertemuan kita dengan orang lain itu sebenarnya masing-masing kita membawa misi Tuhan. Rencana Tuhan memutuskan perjalanan hidup kita. Dan satu lagi, orang-orang yang satu frekuensi dengan jalan hidup kita itu saling terhubung dan memiliki intersection di sebuah pertemuan dengan kita. Dan kadangkala kita bertanya-tanya kok bisa ya ketemu orang X dan delalahnya orang X ini ada sangkut-pautnya sama hal-hal yang ingin kita tuju. Ya begitulah cara Tuhan menugaskan semesta.

Seperti contohnya, bulan lalu saat Kuro-chan, kucing saya tertabrak motor dan baiknya orang yang nabrak ini bertanggung jawab. Akhirnya kami dipertemukan lagi karena Mbak yang nabrak ini ingin nengokin Kuro pas udah dari rawat inap ke dokter. Dia ingin memastikan Kuro baik-baik saja. Akhirnya kami mengobrol banyak hal. Mulai dari pekerjaan hingga asal kami berada. Saya bilang kalau saya pindah dari Jakarta setelah 10 tahun merantau di sana. Lantas dia bercerita juga kalau dia juga sering ke Jakarta dan menginap di salah satu temannya di daerah Pancoran. Dannn, ternyata dia sering melintasi jalanan Sampoerna University yang tak lain adalah kampus saya. Lalulah kami sedikit demi sedikit ada bahan untuk diperbincangkan. Ditambah lagi, ternyata dia punya tante yang tantenya ini punya usaha membuat sabun organik di dekat kos saya. Tak sampai di situ, ternyata juga suka kucing. Banyak hal-hal yang kadang membuat saya melongo! Oh Tuhan! Sungguhlah indah jalan hidup yang telah Engkau atur untuk saya! Kocaknya lagi, tantenya juga punya usaha burger tempe yang sering saya lihat di postingan-postingan Pasar Wiguna, salah satu pasar di Jogja yang menarik saya untuk kunjungi. Baikkk!!! Begini ya cara Tuhan menghadirkan banyak hal pembelajaran yang kadangkala malah kita lupa bersyukur.

Dan satu hal lagi, kadang di tengah perjalanan kita menyayangkan sesuatu buruk yang terjadi pada diri kita. Sering sekali ini terjadi. Kadang saya sendiri pun menyesal dan menyalahkan diri sendiri kenapa membuat kesalahan yang seharusnya bisa kita minimalkan. Atau jika kesalahannya kepada orang lain, dengan seenaknya saya masih suka menyalahkan orang lain tersebut. Menyalahkan keteledorannya karena seharusnya itu bisa diusahakan untuk tidak salah. Menyayangkan apa-apa yang salah dan menyesal kenapa tidak melakukan perbaikan di saat kita tahu itu mendekati salah. Saya pun masih belajar tentang ini. Belajar untuk ikhlas bahwa sesuatunya itu telah ditetapkan Tuhan. Pasti Tuhan punya alasan mengapa harus berjalan seperti itu. Kadang saat saya berefleksi, saya pun pada akhirnya memaklumi semua yang telah terjadi. Memaklumi setiap kesalahan itu adalah bagian dari jalan Tuhan. Dan pada akhirnya kita mencoba untuk mengikhlaskannya dan mengupayakan semeleh. Kenapa kita memakluminya? Ya, biar kita tak menjadi gila karena hal itu. Jika kita terus-terusan menyesal dan tak mengikhlaskannya, mau sampai kapan kita akan terus memikirkan satu masalah? Hidup sudah pasti banyak masalah yang akan kita lalui di depan mata. Kalau energi kita habis untuk satu masalah saja, mau hidup seperti apa? Take our time! Istirahat sebentar tidak apa-apa sambil cari solusi di saat pikiran jernih. :) Ya seperti ini contohnya, menulis dan journaling menjadi salah satu media untuk saya menjernihkan otak!



Selasa, 30 Maret 2021

#30 Alasan yang Hilang

"Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka - itu hanya menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka." - Lao Tzu (link)

Ya, belakangan ini saya sedang kembali menemukan alasan yang hilang tentang beberapa hal yang ingin saya capai. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap menjaga semangat dan niat hati untuk terus bermimpi. Dan mungkinkah semangat itu akan roboh begitu saja saat ada orang yang mengatakan, "Kenapa harus Papua?" Lagi-lagi saya kehilangan alasan yang kuat mengapa harus Papua!

Entahlah, tapi pencarian tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di televisi saat saya masih SMP atau SMA. Saya lupa! Entah itu mungkin malah sewaktu kuliah. Saya tak ingat. Ada sebuah acara semacam jejak petualang atau pengenalan budaya Indonesia. Ya, saya tiba-tiba ingat itu. Hal yang masih sangat saya ingat adalah tentang Papua, kehidupan Mama-Mama Papua. Menanam ubi, berjalan jauh ke pasar untuk menjajakan sayuran. Bagaimana menghuni rumah dengan atap jerami dengan tungku di tengahnya. Sepertinya itu gambaran yang pernah terekam dalam memori saya mengenai Papua. 

Lalu, ditambah lagi saya sangat suka film Laskah Pelangi dan Alangkah Lucunya Negeri Ini saat saya kuliah. Sepertinya, gambaran tentang kehidupan daerah pedalaman menyisakan memori yang sungguh dalam di ingatan saya. Dan keinginan untuk mengunjungi dan tinggal di pedalaman pun tumbuh seiring waktu. Ah, apakah impian saya itu terlalu muluk-muluk? Entahlah....

Bahkan ketika ada pertanyaan yang muncul mengapa saya tak menjadi guru sekolah di Jakarta dan malah memilih menjadi pekerja lepas, saya selalu menjawab, saya tak ingin menghabiskan banyak waktu di jalan karena macetnya Jakarta, jika saya ingin menjadi guru sekolah, saya ingin menjadi guru di pedalaman. Dan itu impian yang hingga saat ini masih saya pupuk, masih saya perjuangkan.

Tahun ini menurut saya adalah waktu yang cocok untuk kembali memperjuangkan mimpi itu setelah 8 tahun mati suri. Kesempatan yang pas di saat semua yang dulu-dulu menjadi penghambat, di tahun ini pula sudah tuntas terselesaikan dengan baik. Jika memang tahun ini tahun baik untuk saya pergi dan mewujudkan impian saya itu, semoga Tuhan memberi rencana yang terbaik. Jika memang belum, saya mungkin perlu belajar lagi lebih banyak hingga saya siap untuk pergi sesuai rencana Tuhan.

Ahhh, terima kasih semesta sudah membawa saya sejauh ini!



Senin, 29 Maret 2021

#29 Mari Luruskan Niat!

Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.

Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.

Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?

Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?

Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."

Semoga ada jalan.... Aamiin....

Jumat, 26 Maret 2021

#26 Mari Kita Potong Sudah!

Pagi-pagi anak-anak sudah ribut di depan gerbang. Memanggil-manggil saya yang masih juga baru bangkit dari rebahan. "Lah, memang hari ini kita belajar?" tanya saya. "Kita kan mau potong sabun hari ini!" balas mereka bersemangat.

Oh iya, lupa saya!

Sungguh semangat mereka belajar luar biasa. Langsunglah saya mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu dan saya bergegas mengambil sabun. Anak-anak itu pun girang melihat sabun mereka sudah mengeras dan siap dipotong. Sebenarnya banyak foto-foto yang kami dapatkan di hari sebelumnya, sayangnya hp saya tiba-tiba error dan beberapa memori foto yang kami punya hilang sudah. Sedih? Iya sih tapi ya sudah. Bukankah momen lebih melekat di hati daripada hanya sebuah foto. Ya kadang memang perlu suatu momen tanpa ada foto, ya nikmati saja begitu, bukan malah sibuk ambil foto sana ambil foto sini. Ya walaupun tak dipungkiri, pengambilan momen menggunakan foto akan mudah diingat kembali dan paling banter ya upload di social media. Ini sih yang masih sulit dihindari! Social media masih menjadi wadah untuk menyimpan foto-foto kenangan dan terkadang niatnya hanya untuk dapat like atau ajang woro-woro memberitahukan segala aktivitas ke teman-teman dunia maya. Jujur itu masih menjadi hal yang cukup sulit dihindari. Padahal kawan-kawan dunia maya kita itu 'they do not care about your life!' Ya, benar. Saya juga masih belajar untuk menangani hal ini.

Ya, kembali lagi ke cerita hari ini pemotongan sabun ya. Topiknya ini tuh kemana-mana. Hahaha. Maaf! Proses pemotongan menggunakan pisau. Anak-anak saya minta berpikir sebaiknya dipotong jadi berapa agar semua kebagian. Ada yang punya usul, "Duh, sayang dipotong sabunnya! Biar gitu sajalah kayak kue ulang tahun. Kalau mau pake dicolek saja!" Hahaha. Saya juga maunya gitu, sayang dipotong, habis bentuknya lucu! Hahaha Akhirnya kami bersepakat akan memotong menjadi 16 untuk yang block.

Usai potong-potong sabun, beberapa anak masih semangat belajar. Lalu saya minta saja mereka mengerjakan tugas dari sekolahnya. Nah, Aufar, salah satu anak mengambillah LKS sekolahnya. Dibukalah LKS dan mulai mengerjakan soal matematika. Topiknya adalah simetri lipat dan simetri putar. Aufar dengan cepatnya menyelesaikan soal-soal itu dan tibalah di soal tentang gambar baju dan diminta untuk mencari jumlah simetri lipat. Dia berpikir sambil mengingat-ngingat momen dimana dia lipat baju. Saat saya tahu kalau anak ini butuh visualnya, saya pun langsung mengambil kaos yang saya punya di lemari dan memberikan kaos itu kepada Aufar. Langsunglah dia mengeksekusi lipat baju! Ada 3 lipatan, katanya! Lalu saya pun mengajukan beberapa pertanyaan lanjutan. Saya minta tunjukkan simetri lipat itu seperti apa. Ternyata dia berpikir bahwa simetri lipat itu sama seperti saat kita melipat baju, ya karena kebetulan soalnya tentang baju. Duhhh!!! Masuk diakal sih ya, melipat baju ini. >.< Akhirnya saya jelaskan lagi konsep simetri putar dan simetri lipat.

Berlanjut, setelah saya belajar dengan anak-anak, saya jemput Kuro-chan dari klinik. Alhamdulillah, sudah bisa pulang ini anak kicik. :)


Kamis, 25 Maret 2021

#25 Membuat Sabun Ala Pandawa Lima

Pagi ini kami berkumpul kembali dengan ide membuat sabun. Ide ini tercetus setelah saya belajar dengan Ibu Guru Rosa beberapa hari yang lalu. Yak, sepertinya mudah jika diaplikasikan ke anak-anak. Baiklah! Yuk, buat!

Bahan-bahannya cukup mudah dan saya masih punya sisa praktik di kelas Kuri Rosa. Ada minyak kelapa, minyak zaitun, saya tambah minyak kelapa sawit (uji coba), air putih saya pakai air galon, soda api, pewangi saya pakai vanili, dan kunyit untuk pewarna alami. Ukuran-ukurannya saya sesuaikan dengan bahan minyak. Anak-anak menimbang sendiri bahan-bahannya dengan pantauan saya. Saya memperingatkan pada mereka kalau soda api berbahaya jika kena kulit karena bisa membuat kulit melepuh. Mereka pun sangat berhati-hati.

Mereka mengamati bagaimana proses mendidihnya campuran soda api dan air yang membuat mata perih, lalu mengamati panasnya baskom sampai menunggu dingin. Sungguhlah itu pengalaman pertama mereka mengenal beberapa jenis minyak goreng, soda api dan pembuatan sabun.

Setelah bahan-bahan sesuai hitungan Aufar, di sini Aufar menjadi tim hitung karena diyakini dia yang paling jago matematika. Hahaha, sesuai tugas ya! Prosesnya dimulai campur-campur bahan, lalu aduk-aduk dengan menggunakan hand blender. Walaupun ini pertama kalinya mereka menggunakan hand blender, tapi mereka cukup lihai lho! Mudah mengarahkan mereka untuk menggunakannya dengan hati-hati.

Refleksi saya, mereka itu anak-anak yang cerdas, rasa ingin tahunya tinggi, dan bertanggung jawab. Satu per satu akhirnya saya bisa tahu karakter masing-masing anak. Ya, mereka sungguhlah anak-anak yang membanggakan! Senang belajar dan antusias tinggi. Bahkan kalau sudah ke kosan saya, mereka tidak mau pulang! Hahaha.

Sabun kami jadi, dicetak dan besok siap dipotong! Terima kasih Pandawa Lima!

Selasa, 23 Maret 2021

#23 Belajar Membuat Eco-Enzyme

Pagi itu anak-anak sudah berkumpul di depan gerbang pagi sekali. "Belajar apa hari ini?" ucap mereka.

Okay, baik! Saya langsung putar otak kira-kira apa yang bisa dilakukan hari ini. Melihat sisa sayuran dan kulit buah sisa kemarin masih ada di kulkas, yang memang saya suka mengumpulkan untuk persiapan pembuatan eco enzyme, baiklah mari kita eksekusi saja! Yak, mari kita belajar eco-enzyme sudah!

Anak-anak pun sedikit banyak sudah mendapat bocoran eco-enzyme seperti apa. Beberapa hari yang lalu mereka ingin tahu toples berisi air berwarna coklat dengan kulit jeruk yang mengapung-apung di halaman belakang itu apa namanya. Mereka kita itu ikan. :) Ya memang dari kejauhan seperti ada ikannya, tapi itu bukan ikan. Itu adalah hasil eksperimen pertama yang saya buat setelah mengikuti workshop pembuatan eco-enzyme bersama Pak Aang, salah satu aktivis peduli lingkungan.

Bahan-bahan hanya ada 3, yaitu kulit buah dan sisa sayuran dengan kondisi yang tidak busuk, air keran, gula merah. Perbandingannya air adalah 60% dari volume wadah. Kemudian kita ukur gula merah 1/10 dari volume air. Lalu sisa sayuran atau kulit buahnya 3 kali ukuran gula merah. Nah, untuk eco enzyme sendiri, semakin banyak varian sayuran atau kulit buahnya, semakin bagus dan kaya akan nutrisi. Hal yang perlu diingat dalam pemilihan kulit buah atau sisa sayuran tidak boleh yang bergetah, bau menyengat, busuk, berulat, berjamur, kulit keras, beberapa daun pepohonan tidak bisa, ranting, atau bahan-bahan yang dimasak. Sebaiknya juga dicacah lembut semakin bagus. Untuk air yang mengandung kaporit sebaiknya diendapkan terlebih dahulu, lalu gunakan wadah plastik yang mulut botolnya lebar karena rawan meledak. Hati-hati ya!

Nah, kali ini anak-anak benar-benar mulai dari awal langkah-langkah pembuatan. Mulai dari mengumpulkan sisa-sisa buah dan sayur sehari sebelumnya, mereka juga mulai memotong kulit buah dan sayuran menjadi potongan kecil sendiri. Bahkan mereka juga mencari toples bekas dari warung sekitar kosan sendiri lho! Mempersiapkan bahan-bahan saya bantu sedikit-sedikit, ditambah ukuran saya jelaskan juga sedikit. Mereka yang menimbang dan memperkirakan sendiri. Lalu juga, mereka menjumlahkan beberapa perhitungan untuk menambahkan beberapa bahan ke dalam adonan. 

Yak, dan berhasil mencampur adonan sesuai ukuran. Tinggal kasih penanggalan, kita tunggu 7 hari kemudian. Yak, semoga jadi! Terima kasih untuk kelas hari ini Pandawa Lima! Semangat terus belajarnya ya!

Proses potong-potong bahan


Masih proses potong-potong


Ini hasil karya anak-anak hari ini


Tim lengkap!


Foto dulu pokoknya! Hasil menyusul...


Bahn sisa-sisa kulit buah dan sayuran


Timbang-meningbang dulu ya


Bahagia cukup sesederhana ini



Senin, 22 Maret 2021

#22 Membuat Tempe Ala Pandawa Lima

Pertemuan saya dengan anak-anak tetangga kos kali ini dimulai dari Kuro-chan, artis idola kampung kami. Hampir semua anak tahu siapa itu Kuro-chan. Yak, benar! Artis idola itu adalah kucing saya alias big boss saya. :) :)

Kala itu saya sedang menyapu di halaman bersama Kuro chan. Beberapa anak tetangga lewat dan berhenti di depan gerbang sambil memanggil Kuro. Saya pun langsung mengajak mereka masuk untuk duduk di teras. Kami mengobrol beberapa hal tentang sekolah mereka dan cara belajar mereka. Tiba-tiba tercetuslah ide, "Yuk buat tempe yuk!" Lantas, kami pun membuat rencana. "Saya siapkan dulu kedelainya ya, harus direndam 24 jam dulu baru bisa dibuat tempe. Besok saya beli kedelai dulu di pasar," janjian kami ditutup 'deal!'. Kita buat tempe!

Yak, benar saja, saya beli kedelai di pasar Bantul, lalu rendam selama 24 jam. Baru keesokannya kami buat tempe. Caranya pun cukup mudah diikuti anak-anak. Ada 5 orang yang datang, Aufar, Ridho, Febrian, Hanan, Rafqi. Mereka adalah anak-anak saya yang pertama di sekitaran kos. :) :) :)

Bagaimana prosesnya? Anak-anak sudah datang pagi-pagi bahkan saya belum mandi. Saya ambilkan kedelai yang sudah direndam untuk dibersihkan kulit arinya. Prosesnya lama, tapi anak-anak semangat mengupas kedelai sampai-sampai saya tinggal mandi pun, mereka tetap bertanggung jawab menyelesaikan tugas penting itu. Ahhh, saya bangga pada mereka!

Usai kulit ari bersih, kami pun mulai mengukus tempe lumayan lama. Sembari menunggu kedelai matang, kami membuat rujak, yang semua bahannya mereka bagi tugas. Ada yang beli buah, nyari buah ke warung sendiri, sampai nguleg sambalnya sendiri. Mereka anak-anak laki-laki tapi jago masak dan nguleg! Luar biasa! Mereka pun bereksperimen dengan berbagai macam sambal yang terasa pedas itu, kebanyakan cabe setan pula. Lidah kami sepertinya tak cocok untuk porsi rujak pedas macam sengir itu. Hahaha. Alhasil mereka tambah sendiri gula, nanas, dan terakhir keju. Lumayan mengubah rasa yang sebelumnya sengir jadi cocok di lidah kami. Hahaha, luar biasa mereka!

Lanjut, setelah kedelai matang, mulai proses pendinginan. Tetep nunggu dingin kami terus menikmati rujak buah bengkoang, mentimun, dan nanas. Sungguhlah surga! Usai panas, saya pun mengajari mereka cara dan porsi membubuhkan ragi ke kedelai tersebut lantas aduk-aduk hingga rata. Nah, ini! Daun pisang pun mereka bergantian lap dan buat tali untuk ikat. Saya beri tahu contoh satu saja, mereka tirukan. Dan apa yang terjadi? Hasil bungkus mereka bagus!!! Walaupun ada beberapa daun yang mudah sobek, alhasil kami lapisi dengan koran. Saya kira mereka akan kesulitan bungkus, ternyata sampai habis mereka selesaikan dengan sangat baik, malah di atas ekspektasi saya dalam urusan bungkus-membungkus daun pisang!

Setelah selesai semua, saya bilang ke mereka untuk menunggu 2 sampai 3 hari tempe jadi. Dan tiap hari mereka ke rumah buat cek tempe jadi atau tidak. Rumah saya pun ramai tiap hari. Di hari pertama sudah muncul serabut-serabut tipis cikal bakal tempe matang, lalu hari kedua pun hasilnya mantap, sempurna matang! Saya beri tahu anak-anak kalau tempe sudah jadi, mereka sangat senang dan tak sabar untuk menggoreng tempe dan makan-makan tempe sampai puas! Alamakkk!!!

Muka bahagia kami berhasil membungkus tempe!


Proses membuat rujak sambil nunggu kedelai dingin


Jagoan nguleg sambel!


Ayo... ayo... kupas kulit ari kedelainya!


Tempe garit ala anak-anak Pandawa Lima


Tempe daun yang bungkusnya cantik-cantik gini, ada yang mau beli?

Tim Dokumentasi: Rifa


Minggu, 21 Maret 2021

#21 Ketika Kuro-Chan Sakit

Hari ini Kuro-chan sakit lagi. Tiba-tiba muntah-muntah dan gak mau makan. Saya khawatir terjadi apa-apa. Tubuhnya pun lebih lemas. Biasanya saat Kuro sakit, dia akan semakin manja, maunya sama emaknya. Kemana pun pergi selalu diikuti, tidur minta dipuk-puk, makan minta ditemenin, sama persis seperti anak kecil.

Saya khawatir betul jika Kuro sakit. Tak tega hati lihat dia lemas. Awalnya saya coba periksakan ke dokter dekat kos. Kata Bu dokter, ini anak cacingan. Yak, cacingan! Kucing memang sangat rentan cacingan apalagi kalau induknya tidak pernah minum obat cacing. Kucing yang masih di dalam perut ibunya pun bisa cacingan. Nah, saya kurang tahu tentang silsilah Kuro-chan. Tapi yang pasti, ini anak saya minta dari pemilik warung sayur yang katanya punya kucing banyak. Itu pun saya minta karena ketemu di pinggir jalan, seperti kucing tak terurus. Perutnya buncit, kurus, aroma tubuhnya macam sangit-sangit gimana gitu.

Nah, ini pertama kalinya kucing yang kurawat yang sampai periksa-periksa ke dokter. Kalau waktu kecil dulu, tiap punya kucing tak pernah ada istilah ke dokter. Ya memang keluarga saya belum terbiasa ke dokter hewan. Atau mungkin memang tidak familiar saja di kehidupan kampung.

Semenjak Kuro sakit, saya banyak-banyak nyari info tentang pelihara kucing yang baik. Saya tanya Fitri juga yang kucingnya dikasih makan royal canin, juga tanya kak Inez yang suka rescue kucing-kucing malang di jalan. Mereka sangat membantu dan memberi gambaran umum bagaimana cara merawat kucing yang baik dan jadwal ke klinik. Menarik! Ini nih, yang dari dulu saya belum bisa membantu kucing-kucing saya di saat kritis. Maaf ya kucing-kucing saya.... Ya, alasannya karena pengetahuan yang kurang dan juga masalah kantong yang tak mendukung. Dan di saat-saat sekarang saya mencoba untuk memberi anggaran perawatan untuk kucing-kucing saya. 

Saya merasa kasihan lihat Kuro-chan yang sakit. Muntah-muntah, harus disuntik paksa, dan pastinya perutnya terasa tak enak akibat terlalu banyak cacing di dalamnya. Rawat inap 4 hari membuat saya benar-benar rindu sama Kuro. Tiap hari saya selalu jenguk dia di klinik. Konsultasi dengan dokternya tentang perkembangan Kuro. Apalagi kalau dokternya bilang, Kuro sempat drop! Alamak, bikin saya sedih dan pengen nangis. Ditambah dokter yang bilang kalau misal saya lebih telaten menjaga dan menangani Kuro, dia akan cepat sembuh dan tak perlu dirawat. Aihhh, itulah alasan saya mengapa membawa Kuro ke klinik, bukannya gak telaten, tapi memang saya takut salah penanganan dengan ilmu cethek yang saya miliki. -_-"

Tapi saya bersyukur, Kuro bisa berangsur-angsur sembuh dan membaik. Di hari pertama dia masih sangat lemas. Di hari kedua, lebih parah karena abis muntah cacing besar kata dokternya. Dan di hari ketiga, Kuro sudah bisa makan sendiri. Saya suapin snack habis 2 porsi! Senang sekali akhirnya dia bisa makan sendiri. Terima kasih Kuro-chan sudah berjuang untuk sembuh! Hari keempat, yak, Kuro sudah bisa pulang. Tak apa banyak biaya yang ibu keluarkan yak, yang penting kamu sembuh Nak! Sehat itu mahal memang!

Perawatan selanjutnya, antibiotik, vitamin, obat cacing, dan nanti vaksin! Sehat-sehat selalu ya Kuro-chan! Love you!

Di kandang tempat perawatan Klinik Baba shop


Muka pengen cepet sembuh ya Nak!


Sabtu, 20 Maret 2021

#20 'Slow Living'? Mari Kita Coba!

Sempat beberapa hari yang lalu Kak Rosa, Kak Juni, Jane dan saya membahas tentang 'slow living'. Sungguhlah menjadi ide baru saya dalam memilih hidup seperti apa. Terlebih lagi di tengah kehidupan yang serba cepat ini, kita dituntut untuk segala sesuatu harus cepat dan instan. Lalu muncullah perkataan, "Kalau ada yang gampang kenapa harus cari yang susah?"

Kadang segalanya yang serba instan dan cepat ini membuat stress tanpa saya sadari. Tuntutan yang tinggi membuat kita jarang sekali memaknai hidup ini terlebih menikmatinya. Ya, seperti saja contohnya, saat makan kita tak fokus dengan makanan apa yang dihidangkan atau menu apa yang kita nikmati kala itu karena tangan dan pikiran juga sibuk dengan bolak-balik memantau social media. Padahal, momen itu kita seharusnya bisa menikmati rasa yang kita rasakan saat mengunyah makanan, menikmati suara piring dan 65sendok yang riuh beradu, atau bahkan merasakan uap panas dari sayur yang baru saja matang dari kompor. Ya, itu, kita mencoba untuk multi tasking tapi lupa menikmati setiap momennya.

Saya pun masih belajar, baru juga mencoba beberapa hal yang masih bisa saya coba lakukan. Seperti fokus satu-satu kegiatan yang ingin saya lakukan dan mencoba menikmati setiap momennya. Berusaha memulai dari nol, dari mulai membaca hal-hal tentang slow living hingga melakukan satu per satu aktivitas yang mendukung. Tak apa, satu hari satu kegiatan yang tercapai, nanti bertambah lagi seiring waktu berjalan. Pelan-pelan saja... Kalau kata Kak Rosa mengutip dari kata-kata Lao Tzu, "Alam tidak pernah terburu-buru, tapi semua tercapai." Ya betul, pupuk saja terus mimpi-mimpi itu, lakukan pelan-pelan, lama-lama akan menjadi terbiasa dan jika waktunya sudah tepat, semesta akan menunjukkan hasilnya.

Berikut ini beberapa artikel yang saya baca mengenai 'slow living' ini.

1. Mengenal Gaya Hidup Slow Living Saat di Kos | RoomMe

2. Tips Menjalani Slow Living bagi Millennial agar Lebih Nikmat (idntimes.com)