Senin, 19 Januari 2026
Senin, 19 Januari 2026
Jumat, 26 Desember 2025
Sadar "Ada Hal yang Perlu Dibenahi"
Hi, lama tak menulis di sini. Hari ini terketuk hati sa untuk menulis lagi. Mungkin akan sedikit membingungkan kata-katanya karena sudah lama tidak menulis lagi.
Jadi ceritanya, mulai tanggal 20 Desember 2025, sa mengurangi penggunaan WhatsApp. Bukan kenapa-kenapa, hanya butuh 'me time' tanpa mikir kerjaan. Jadi selama liburan itu, sa bener-bener gak buka WA group atau WA chat dari teman-teman di sekolah. Sa hanya menghubungi 2 orang saja, Fitri dan Nafis. Selain itu gak buka WA, kalau ada yang urgent baru membalas. Memang sudah niat dari awal liburan, mau mengurangi interaksi dengan banyak orang.
Beberapa hari yang lalu, teman kerja WA, namun tak sa balas. Terakhir kali sa dapat WA, tawaran kerjaan, tapi sa tunda. Ada ortu yang WA, sa balas, tapi dengan jeda. Sebenarnya, sa tahu, ini kurang baik, apalagi menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lalu, teman kerja WA lagi, dan kali ini meminta bantuan teman-teman lain untuk menghubungi sa. Lagi-lagi sa tak jawab telepon maupun jawab pesan. Walaupun sebenarnya, sa ingin sekali balas dan bilang kalau sa butuh waktu sendiri, namun sa urungkan. Sa bilang ke Fitri kalau sa sedang mengurangi interaksi dengan rekan-rekan di sekolah maupun kerjaan. Namun, ternyata kehidupan sosial di Indonesia sangatlah kuat. Rekan kerja rasa saudara dan kadang apa-apa perlu diketahui lainnya. Sebenarnya, sa mencoba pasang boundaries. Ada beberapa hal yang tak bisa sa jelaskan begitu saja ke semua orang. Dalam hal ini, sa bisa dikatakan "cukup mampu" menangani hal ini.
Sa pikir, sampai di situ saja cukup. Ternyata tidak. Hari ini teman sa datang ke rumah dengan kekhawatirannya. Khawatir sa kenapa-kenapa. Khawatir sa tidak baik-baik saja. Awalnya, sa mau tak buka pintu, tapi tak tega. Sudah jauh-jauh ke rumah buat cek kondisi sa yang tak menjawab telepon maupun chat, ya masak tidak sa temui? :"( Lantas, sa buka pintu. Sontak kekhawatiran mereka pun hilang dan merasa lega. Dalam otak sa berkecamuk, kenapa mereka datang dengan kekhawatiran seperti ini? Perasaan macam apa ini? Sa mencoba memproses.
Bu Er cerita kalau dulu pernah diceritain, salah satu teman. Ada teman dari temannya yang tidak ada kabar. Kondisinya mungkin mirip saya, tinggal seorang diri, merantau. Namun, tidak ada yang tahu kalau ternyata sudah meninggal beberapa hari di kontrakannya tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Mungkin, Bu Er tidak mengalami secara langsung, tapi pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika ada temannya yang tidak seperti biasa tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, menghilang....
Sampai cerita tersebut diceritakan, sa mencoba mencerna dan berpikir. Sa sudah salah dan membuat beberapa orang khawatir. Sa sadar dan mencoba belajar kembali tentang perasaan aneh yang muncul selama proses ini.
Sa bercerita ke kawan tentang kejadian ini. Ada satu benang merah yang bisa sa gali dan sa sambungkan. Sa sadari perasaan kesal, sedih, senang, aneh yang muncul satu per satu. Kenapa sa sedih? Kesal karena merasa liburan sa terganggu. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang khawatir di balik itu semua. Mungkin beda lagi ketika sa dari awal memberitahu kalau selama liburan sa tidak pegang HP, mungkin mereka akan lebih berlapang. Sa merasa sedih, senang dan aneh bercampur jadi satu. Perasaan campur aduk ini muncul karena merasa ada yang perhatian dan ada yang khawatir dengan sa. Terasa asing. Rasa yang sulit sa deteksi. Seharusnya sa bahagia ya karena ada yang peduli, tapi di sisi lain sa merasa perlakuan ini 'too much' dalam pertemanan. Tapi, setelah sa gali lebih dalam muncullah statement dari diri sa "aneh karena tidak familiar dengan perlakuan dicintai". Ternyata sa perlu belajar satu hal "perasaan dicintai, dipedulikan".
Setelah sa telusuri jauh ke masa lalu, pola asuh seperti apa yang membuat sa terasa asing seperti ini? Sepertinya karena dari kecil sebagai anak pertama, sa selalu dididik dengan berbagai macam tuntutan: harus mandiri, harus menjadi contoh adik-adik, harus apa-apa bisa sendiri, harus berbagi ke orang lain, harus memberi dan membagi cinta ke orang lain. Dan tidak diajari untuk menerima cinta dari orang lain atau perasaan dicintai itu sendiri. Selama ini, sa hidup dalam perasaan harus mencintai daripada dicintai. Merasa berhasil mengambil kontrol dari sesuatu tindakan. Mungkin juga takut ditinggalkan maupun tidak diterima. Sehingga sejauh ini, sa lebih familiar dengan perasaan mencintai daripada dicintai.
Dari kejadian ini, sa perlu belajar untuk tidak harus selalu memberi, tetapi "menerima" pun juga tidak apa-apa. Belajar menerima cinta dan dicintai orang lain. Belajar untuk menerima tanpa ada tuntutan untuk mengembalikan.
Afirmasi yang perlu sa ulangi seperti kata Bunda Shada:
"Aku layak menerima bantuan dengan hati terbuka. Aku terhubung dengan jiwa-jiwa baik yang melindungiku. Aku berjalan menuju masa depan yang stabil, kuat, penuh berkah, bahagia, dan berkelimpakan. Aku layak dicintai dan menerima cinta yang membahagiakan."
Minggu, 12 Mei 2024
#44 Menaikkan Vibrasi Diri
Sabtu, 11 Mei 2024
#43 Tenang Seimbang, Datar Saja
Rabu, 08 Mei 2024
#40 Perpanjang Paspor di Jogja

terus akhirnya ya udah dipilih yang bagus, saya bilang ke bapaknya, pak foto yang cantik ya pak... Bapaknya ketawa
sambil nyodorin tisu karena melihat dahi saya yang penuh keringat karena abis naik eskalator yang mati karena mall belum buka tadi pagi. Ternyata ketawa itu nular ya... 


Selasa, 07 Mei 2024
#39 Keputusan dan Keikhlasan
Senin, 06 Mei 2024
#38 Panen sayur dari Teras
Minggu, 05 Mei 2024
#37 Jogja National Museum
Kamis, 02 Mei 2024
#34 Sesuatu Pasti Ada Tujuannya
Kamis, 25 April 2024
#27 Coba Menu Baru
Hari ini hari kedua saya makan sayur dan protein nabati tanpa protein hewani. Tahu apa yang kumasak hari ini? Yups, sate jamur tanpa tusuk. Kemarin sengaja beli jamur, tapi bingung mau dimasak apa. Teringat waktu vipassana ada salah satu menu sate jamur yang menurutku enak. Lalulah saya cari resepnya di cookpad. Sampai saat ini, cookpad masih menjadi website masak-masak andalan saya. Hahaha. Semua resep ada dan banyak pilihan. :)
Menu makan kali ini adalah nasi, sate jamur tanpa tusuk, selada, sama pepaya potong. Oh iya, saya biasanya itu tidak suka makan pepaya karena harus kupas dan menurut saya ribet. Kalau di rumah biasanya ibu saya selalu sedia pepaya di kulkas, tapi tak pernah saya sentuh karena kudu ngupas dulu sebelum makannya. Biasanya ibu yang akan mengupasnya lalu makan di depan saya dan membuat saya kepengen. Lalulah saya yang akan minta pepaya yang dimakan ibu itu. Dengan senangnya, ibu akan mengupas dan memotongkannya lagi. Ahh, kangen ibu! Al Fatehah. :D Love you ibu!
Nah, siang kemarin saya beli pepaya di ibu sayur. Pepayanya ditimbang dulu, nggak tah berapa kilo, tapi harganya Rp10.000. Pulang dari warung, saya biarkan tergeletak di meja belum saya sentuh. Hahaha. Masih mager kupas. Lalu keesokannya, hari ini saya baru kupas dan potong. Pas saya coba rasanya lha kok manis. Alhamdulillah. Enak banget. Lalu, saya makan beberapa potong, sisanya saya potong dan masukkan ke wadah dan taruh kulkas. :D
Terus, saya makan, tapi sebelum makan, biasa pamerin dulu menu kali ini ke Fitri. Hahaha. Nasi, selada, daun bawang mentah, sate jamur tanpa tusuk, lalu pepaya. So nyummy! Walaupun sate jamurnya kebanyakan ketumbar, jadi rasanya lumayan strong dan sebenarnya ganggu banget rasa ketumbarnya. Hahaha. Efek saya tak kira-kira masukin ketumbarnya dan ngulegnya kurang lembut. Nah, ginilah kalau masak, kadang butuh kira-kira dalam membuat bumbu. Memang keterampilan yang perlu diasah. Dan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya kenapa kalau kita masak dengan hati gembira itu pasti makanannya enak. :))) Tapi kalau kita masak pakai hati yang nggak senang, pasti makanannya rasanya juga nggak jelas. :D Begitulah kira-kira edisi masak kali ini. Besok masak apa lagi ya? Hahaha....
Selasa, 23 April 2024
#25 Revolver yang Kendor
Sabtu, 13 April 2024
#15 Teman yang Moody-an
Minggu, 07 April 2024
#9 Buka Bersama
Buka bersama Ramadan tahun ini, saya hanya punya dua agenda bukber. Pertama, bukber bareng anak-anak kelas 5 dan yang kedua, bukber bareng keluarga Woro. Nah, bagian yang ingin saya ceritakan adalah bukber yang kedua.
Hari ini adalah hari kedua saya di Klaten. Woro bilang kalau agenda hari ini adalah bukber dan masak-masak. Saya bangun sahur bareng Mbak Sum, dimasakin telur dadar, enak banget rasanya. Terus, setelah sahur kok ya saya tidak bisa tidur lagi. Alhasil, saya pun hanya duduk-duduk di depan TV, terus sholat, meditasi sebentar, lanjut nunggu matahari terbit. Cuacanya dingin banget, teruslah entah di menit berapa saya ketiduran. Bangun-bangun udah terbit mataharinya. Rencana awal mau yoga, tapi kedinginan, alhasil hanya sebentar, gak full.
Lalu, Woro bangun, kami nongkrong-nongkrong di teras depan. Nggak jadi juga ternyata lihat Merapinya. :D Hanya sebatas wacana. Mau ngerjain thesis tapi nggak ada sinyal. Sebenarnya, kondisi tanpa sinyal itu bisa membuat saya lebih banyak berefleksi, menikmati hari, dan hidup menyenangkan sih. :D
Lalu, lanjut rencanain mau masak apa. Mbak Sumi sudah siap sedia masak daging sapi, mau dibuat gule. Saya kepikiran, kalau saya makan daging saja, nanti bisa-bisa kolesterol. Maklum, mantan penyitas kolesterol. Terus, entah kenapa kepikiran bikin urap. Kata Woro, kelapa muda tinggal petik di kebun sekalian mau ambil kelapa untuk bikin es buah. Wah, menarik!
Saya dan Woro pun pergi ke pasar nyari buah dan sayuran. Beberapa buah sudah dibelikan ibu sepulang dari pasar. Tinggal nyari sayuran sama buah naga, dan beberapa titipan saudara-saudara Woro. Pergilah kami ke pasar. Saya beli sawi putih, cabai, wortel, tauge. Woro nyari buah naga nggak ketemu. Waktu lewat penjual jus, ada buah naga, lalu saya bilang ke Woro, "Wo, itu ada buah naga, kita beli aja di sana, beli jus buah naga tapi gak usah diblender." Woro langsung menentang ide saya, yang waktu itu saya rasa fine-fine saja kalau beli buah di sana. Toh, hak banyak yang dibutuhin kan, buat syarat saja. Tapi Woro tetap tidak setuju. Ya sudah.... Teruslah kami tetap mencari buah naga. Mampir toko dulu buat belanja es krim. Sepulang dari toko pun masih nyari buah naga. hahaha. Saya bilang ke Woro kalau semakin kita fokus nyari sesuatu, mata kita akan semakin jeli nemuinnya. Kayak ini nih, buah naga. Dannn, beneran lho, kami nemuin buah naga walaupun cuma setengah di penjual buah. Itu pun buah naganya udah dikupas dan satu-satunya buah naga yang dijual. Langsung ambil. Misi tercapai. Kami pulang dan tidak penasaran lagi.
Sesampai di rumah, saya mulai membuat urap, Woro membuat es buah. Kata Woro es buah di rumahnya dibuat dari air kelapa tanpa campuran air. Di pikiran saya, kelapa yang dimaksud adalah kelapa kuning, lha, ternyata beneran kelapa hijau. Mantap kali ini hidup di desa, segalanya ada, tinggal petik.
Masakan semuanya matang tepat waktu. Menu berbuka kali ini, nasi, gule sapi, urap, sambel belut, tempe goreng, pisang goreng, pete, dan es buah. Tentu saya makan urap dulu sebelum nasi dan gule. Alhamdulillah, semua terlihat bahagia, makan bersama dengan lahapnya.
Kamis, 04 April 2024
#6 Hari Terakhir Sebelum Liburan
Hari terakhir sebelum liburan, kami punya agenda membahas riset salah satu teman kecil di kelas. Risetnya tentang Candi Gedongsongo.
Pagi itu saya datang mepet jam masuk karena mengantar Tace terlebih dahulu ke fotokopian. Sampai di sekolah, saya langsung persiapan untuk agenda pagi itu. Kelas pindah ke ruangan kelas 6 karena kami butuh screen dan proyektor untuk nonton bareng.
Saya disambut oleh teman-teman kecil dengan berbagai cerita paginya. Ada yang bercerita tentang jadwal piket yang belum ada temannya, ada yang cerita kalau oleh-oleh mencatat provinsi di Indonesia, bahkan ada yang menggambar peta Indonesia dengan bagusnya. Saya sungguh menikmatinya. Hariku bahagia bukan? Tentu!
Kami memulai kegiatan kelas dengan berdoa, "Tuhanku, terima kasih atas pagi yang cerah ini, berkati kegiatan kami hari ini. Aamiin." Saya butuh satu semester untuk mengingat doa pagi, doa makan, doa pulang. :'') Kelas dibuka dengan laporan masing-masing anak atas tugasnya. Kami membahas 38 provinsi di Indonesia, pulau-pulau di Indonesia, lokasi Sabang dan Merauke, juga kota-kota yang pernah kami kunjungi. Saya bercerita kalau saya pernah ke NTT dan NTB, pengalaman naik kapal 4 hari 3 malam, nonton bioskop di kapal, dan keajaiban-keajaiban yang saya dapatkan selama perjalanan. Semoga teman-teman kecil ini juga dapat kesempatan untuk menjelajah dunia lebih jauh lagi ya! Aamiin.
Saya jadi teringat salah satu kawan saya dari Malaysia. Hampir tiap kali dia liburan selalu diisi dengan keliling dunia. Saya senang melihat postingan-postingan telegramnya penuh dengan trip ke berbagai belahan dunia. Dia cerita kalau dia baru saja liburan di Hawaii. Dia mengirimi saya cuplikan video di pantai. Cuacanya bagus katanya. Saya senang mendengarkan cerita-cerita perjalanannya. Semoga di lain kesempatan, dia bisa datang ke Jogja dan mengunjungi sekolah tempat saya belajar ini. Aamiin.
Kegiatan selanjutnya adalah nonton youtube tentang Candi Gedongsongo. Candi ini berada di kawasan Ungaran, Jawa Tengah. Saya sendiri belum pernah ke sana, tapi melihat videonya, di sana tempatnya sepertinya menarik. Makin ke sini, saya makin menyukai sejarah. Kalau dulu saat sekolah, saya tidak suka sejarah karena harus menghafal, Padahal belajar sejarah tidak hanya menghafal lho, dengan kita berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, kita bisa belajar banyak di sana. Dan saya bersyukur, saya bisa belajar di salah satu sekolah nonformal di Jogja ini. Terima kasih Tuhan.
Kelas dilanjutkan menonton Avatar di netflix. Teman-teman kecil semangat menontonnya. Saya juga senang melihat mereka tumbuh menjadi pribadi masing-masing dengan keunikannya sendiri-sendiri.
Jam 12 tiba, kami menutup kelas dengan berdoa, "Tuhanku terima kasih kami sudah bermain dan belajar, kami akan pulang, berkatilah...." Aamiin. Tiba-tiba ada yang punya usulan, sebelum kami pulang, mari bersalam-salaman. Kami berbaris memutar, bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Selamat lebaran dan berkumpul dengan keluarga!
Senin, 29 Maret 2021
#29 Mari Luruskan Niat!
Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.
Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.
Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?
Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?
Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."
Semoga ada jalan.... Aamiin....
Minggu, 28 Maret 2021
#28 Terima Kasih!
Beberapa waktu yang lalu, Kak Rosa mengajak saya untuk terlibat Elege Inone, sebuah komunitas peduli pendidikan anak-anak Papua yang Kak Rosa dirikan bersama teman-temannya. Setelah bertemu Yesman dan Endi, saya memiliki kesempatan bertemu pula dengan Demite. Trio Kogoya ini sangat menginspirasi saya untuk bermimpi tentang Papua kembali.
Saya sangat senang saat Kak Rosa mengajak saya untuk ikut mengurus @magebaga IG @magebaga, salah satu brand Demite yang menjual barang-barang handmade seperti noken atau sulaman tangan Demite atau juga hasil desain Yesman. Tunggu produk-produk baru kami ya.... :)
Nah, kali ini ada 9 noken, 8 kiriman dari orang tua Demite untuk mendukung pendidikan Demite dan Yesman. Alhamdulillah, noken jualan kami habis. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membeli. :) Untuk kamu yang ketinggalan, tunggu info terbaru kami ya! Kamu juga bisa ikut membantu lho untuk pendidikan anak-anak Papua melalui @Elege Inone di link Elege Inone. Terima kasih :)
Sabtu, 27 Maret 2021
#27 Daun Dala - Mengenali Diri Sendiri Melalui Melukis di Tulang Daun
Jumat, 26 Maret 2021
#26 Mari Kita Potong Sudah!
Pagi-pagi anak-anak sudah ribut di depan gerbang. Memanggil-manggil saya yang masih juga baru bangkit dari rebahan. "Lah, memang hari ini kita belajar?" tanya saya. "Kita kan mau potong sabun hari ini!" balas mereka bersemangat.
Oh iya, lupa saya!
Sungguh semangat mereka belajar luar biasa. Langsunglah saya mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu dan saya bergegas mengambil sabun. Anak-anak itu pun girang melihat sabun mereka sudah mengeras dan siap dipotong. Sebenarnya banyak foto-foto yang kami dapatkan di hari sebelumnya, sayangnya hp saya tiba-tiba error dan beberapa memori foto yang kami punya hilang sudah. Sedih? Iya sih tapi ya sudah. Bukankah momen lebih melekat di hati daripada hanya sebuah foto. Ya kadang memang perlu suatu momen tanpa ada foto, ya nikmati saja begitu, bukan malah sibuk ambil foto sana ambil foto sini. Ya walaupun tak dipungkiri, pengambilan momen menggunakan foto akan mudah diingat kembali dan paling banter ya upload di social media. Ini sih yang masih sulit dihindari! Social media masih menjadi wadah untuk menyimpan foto-foto kenangan dan terkadang niatnya hanya untuk dapat like atau ajang woro-woro memberitahukan segala aktivitas ke teman-teman dunia maya. Jujur itu masih menjadi hal yang cukup sulit dihindari. Padahal kawan-kawan dunia maya kita itu 'they do not care about your life!' Ya, benar. Saya juga masih belajar untuk menangani hal ini.
Ya, kembali lagi ke cerita hari ini pemotongan sabun ya. Topiknya ini tuh kemana-mana. Hahaha. Maaf! Proses pemotongan menggunakan pisau. Anak-anak saya minta berpikir sebaiknya dipotong jadi berapa agar semua kebagian. Ada yang punya usul, "Duh, sayang dipotong sabunnya! Biar gitu sajalah kayak kue ulang tahun. Kalau mau pake dicolek saja!" Hahaha. Saya juga maunya gitu, sayang dipotong, habis bentuknya lucu! Hahaha Akhirnya kami bersepakat akan memotong menjadi 16 untuk yang block.
Usai potong-potong sabun, beberapa anak masih semangat belajar. Lalu saya minta saja mereka mengerjakan tugas dari sekolahnya. Nah, Aufar, salah satu anak mengambillah LKS sekolahnya. Dibukalah LKS dan mulai mengerjakan soal matematika. Topiknya adalah simetri lipat dan simetri putar. Aufar dengan cepatnya menyelesaikan soal-soal itu dan tibalah di soal tentang gambar baju dan diminta untuk mencari jumlah simetri lipat. Dia berpikir sambil mengingat-ngingat momen dimana dia lipat baju. Saat saya tahu kalau anak ini butuh visualnya, saya pun langsung mengambil kaos yang saya punya di lemari dan memberikan kaos itu kepada Aufar. Langsunglah dia mengeksekusi lipat baju! Ada 3 lipatan, katanya! Lalu saya pun mengajukan beberapa pertanyaan lanjutan. Saya minta tunjukkan simetri lipat itu seperti apa. Ternyata dia berpikir bahwa simetri lipat itu sama seperti saat kita melipat baju, ya karena kebetulan soalnya tentang baju. Duhhh!!! Masuk diakal sih ya, melipat baju ini. >.< Akhirnya saya jelaskan lagi konsep simetri putar dan simetri lipat.
Berlanjut, setelah saya belajar dengan anak-anak, saya jemput Kuro-chan dari klinik. Alhamdulillah, sudah bisa pulang ini anak kicik. :)
Kamis, 25 Maret 2021
#25 Membuat Sabun Ala Pandawa Lima
Pagi ini kami berkumpul kembali dengan ide membuat sabun. Ide ini tercetus setelah saya belajar dengan Ibu Guru Rosa beberapa hari yang lalu. Yak, sepertinya mudah jika diaplikasikan ke anak-anak. Baiklah! Yuk, buat!
Bahan-bahannya cukup mudah dan saya masih punya sisa praktik di kelas Kuri Rosa. Ada minyak kelapa, minyak zaitun, saya tambah minyak kelapa sawit (uji coba), air putih saya pakai air galon, soda api, pewangi saya pakai vanili, dan kunyit untuk pewarna alami. Ukuran-ukurannya saya sesuaikan dengan bahan minyak. Anak-anak menimbang sendiri bahan-bahannya dengan pantauan saya. Saya memperingatkan pada mereka kalau soda api berbahaya jika kena kulit karena bisa membuat kulit melepuh. Mereka pun sangat berhati-hati.
Mereka mengamati bagaimana proses mendidihnya campuran soda api dan air yang membuat mata perih, lalu mengamati panasnya baskom sampai menunggu dingin. Sungguhlah itu pengalaman pertama mereka mengenal beberapa jenis minyak goreng, soda api dan pembuatan sabun.
Setelah bahan-bahan sesuai hitungan Aufar, di sini Aufar menjadi tim hitung karena diyakini dia yang paling jago matematika. Hahaha, sesuai tugas ya! Prosesnya dimulai campur-campur bahan, lalu aduk-aduk dengan menggunakan hand blender. Walaupun ini pertama kalinya mereka menggunakan hand blender, tapi mereka cukup lihai lho! Mudah mengarahkan mereka untuk menggunakannya dengan hati-hati.
Refleksi saya, mereka itu anak-anak yang cerdas, rasa ingin tahunya tinggi, dan bertanggung jawab. Satu per satu akhirnya saya bisa tahu karakter masing-masing anak. Ya, mereka sungguhlah anak-anak yang membanggakan! Senang belajar dan antusias tinggi. Bahkan kalau sudah ke kosan saya, mereka tidak mau pulang! Hahaha.
Sabun kami jadi, dicetak dan besok siap dipotong! Terima kasih Pandawa Lima!




