Tampilkan postingan dengan label #Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Jogja. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

Hari ini Pasar Senin Legi di sekolah. Sa memilih untuk berjualan lagi. Kali ini sa berjualan cukup laris "es teh buah". Semua bahan dan persiapan sudah oke, tapi tetep aja ada yang tertinggal. Yups, madunya tertinggal di meja dapur. Alhasil sa beli gula pasir untuk pemanis.

Lumayanlah hasilnya untuk memeriahkan Pasar Senin Legi. Walaupun jenis makanan yang dijual kurang beragam karena ternyata banyak yang jual es buah dan buah-buahan. :) Karena temanya warna-warni alami mungkin ya jadi semua jual buah dan jelly. >.< Lain kali sepertinya harus putar otak lagi buat nyari ide yang lebih menarik untuk jualan.

Kali ini sa dibantu sama Bu Wo. Lalu anak-anak antusias juga membantu. Pagi-pagi datang sudah disambut anak-anak dengan pertanyaan "Mbak, jualan apa?" Terus beberapa anak bantu bawa barang bawaan. Yo bantu buat tempelan harga dibantu sama Ken. Aby bantu ambilkan gelas kelas untuk jualan. Yo juga bantu jualan ambilkan es dan buah. Bu Wo jadi kasir. Semua senang. Walaupun pulang-pulang rasanya lelah banget. Tapi happy!

Nah, ada kejadian tidak sesuai rencana kali ini. Pagi tadi Bu Er izin tidak masuk sekolah dan memang jadwal Mas And off hari Senin. Alhasil sa cukup kuwalahan. Setelah selesai pasaran, sa baru ingat kelas ada makan siang. Ternyata belum masak nasi. :) Anak-anak yang piket lupa masak nasi. Akhirnya dibantu Titi masak nasi. Sa bilang ke Titi masak nasi 6 cup saja karena 3 orang tidak masuk. Dan ok, nasi dimasak. Waktu sa tanya di kelas siapa yang bawa makan siang, ternyata Aro. Dan... dia lupa bilang kalau makan siangnya mau ke warung Ken. Lah, nasi sudah dimasak. Sedangkan menu makan siang di warung Ken ada bakso, mie ayam, ayam pokpok. 

Diskusilah kami mencari solusi bagaimana cara menghabiskan nasi yang terlanjur dimasak. Gen mengusulkan kalau masing-masing membawa nasi pulang. Namun, cara tersebut belum diterima karena wadah bekal anak-anak masih penuh snack. Ada lagi yang mengusulkan untuk menanyakan kelas lain yang membutuhkan. Terulah, beberapa perwakilan tanya satu-satu ke kelas 1-6. Alhasil hasilnya tidak ada yang membutuhkan nasi. Info yang didapat karena masing-masing kelas ada yang tidak ada jadwal makan siang, jadi tidak membutuhkan nasi. Kelas 2 mengatakan kalau kami menginfokan terlambat 10 menit. Andaikan 10 menit itu kami sudah menginfokan, mungkin nasi tersebut bisa untuk kelas 2. Jadilah kami mencari ide lain. Yups, makan bakso sama nasi, makan mie ayam sama nasi (buat yang mau aja). Sisanya bagaimana? Muncullah ide dibawa pulang fasi terus dibawa lagi besoknya dibuat onigiri. Deal, sa yang akan membuat isian ayam, dicetak di sekolah bersama-sama.

Jalanlah kami ke warung Ken dan memesan makanan. Sa beli bakso tanpa mie agar bisa makan nasi juga. Itung-itung mengurangi nasi yang sudah dimasak. Yo juga nambah nasi. Tar juga nambah nasi. Ab pun juga ikutan makan nasi. Aby juga ikut makan nasi. Lalu, kami diskusi nasi yang masih ada besok dibuat onigiri di sekolah. Pembagian alat sudah disetujui. Tiba-tiba ada telepon dari kelas 2, mereka kekurangan nasi. Dan nasi kelas pun akhirnya untuk kelas 2. Alhamdulillah. Batal deh kami membuat onigiri. Jadi akan kami tunda untuk kegiatan kelas berikutnya. Problem solved!

Sa pulang dengan lebih lelah, namun harus kerja tambahan sampai jam setengah 9 malam. Permasalahan Hasse Diagram pun terselesaikan tepat waktu. Tapi masih ada PR untuk belajar lagi tentang Diagram Transisi DFA. Sa masih perlu waktu untuk memahaminya. 

Hari sudah mulai sibuk. Jadi cukup hectic untuk urusan diri sendiri. Mari fokus ke diri sendiri dan membangun relasi.

Jumat, 26 Desember 2025

Sadar "Ada Hal yang Perlu Dibenahi"

 Hi, lama tak menulis di sini. Hari ini terketuk hati sa untuk menulis lagi. Mungkin akan sedikit membingungkan kata-katanya karena sudah lama tidak menulis lagi.

Jadi ceritanya, mulai tanggal 20 Desember 2025, sa mengurangi penggunaan WhatsApp. Bukan kenapa-kenapa, hanya butuh 'me time' tanpa mikir kerjaan. Jadi selama liburan itu, sa bener-bener gak buka WA group atau WA chat dari teman-teman di sekolah. Sa hanya menghubungi 2 orang saja, Fitri dan Nafis. Selain itu gak buka WA, kalau ada yang urgent baru membalas. Memang sudah niat dari awal liburan, mau mengurangi interaksi dengan banyak orang.

Beberapa hari yang lalu, teman kerja WA, namun tak sa balas. Terakhir kali sa dapat WA, tawaran kerjaan, tapi sa tunda. Ada ortu yang WA, sa balas, tapi dengan jeda. Sebenarnya, sa tahu, ini kurang baik, apalagi menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lalu, teman kerja WA lagi, dan kali ini meminta bantuan teman-teman lain untuk menghubungi sa. Lagi-lagi sa tak jawab telepon maupun jawab pesan. Walaupun sebenarnya, sa ingin sekali balas dan bilang kalau sa butuh waktu sendiri, namun sa urungkan. Sa bilang ke Fitri kalau sa sedang mengurangi interaksi dengan rekan-rekan di sekolah maupun kerjaan. Namun, ternyata kehidupan sosial di Indonesia sangatlah kuat. Rekan kerja rasa saudara dan kadang apa-apa perlu diketahui lainnya. Sebenarnya, sa mencoba pasang boundaries. Ada beberapa hal yang tak bisa sa jelaskan begitu saja ke semua orang. Dalam hal ini, sa bisa dikatakan "cukup mampu" menangani hal ini.

Sa pikir, sampai di situ saja cukup. Ternyata tidak. Hari ini teman sa datang ke rumah dengan kekhawatirannya. Khawatir sa kenapa-kenapa. Khawatir sa tidak baik-baik saja. Awalnya, sa mau tak buka pintu, tapi tak tega. Sudah jauh-jauh ke rumah buat cek kondisi sa yang tak menjawab telepon maupun chat, ya masak tidak sa temui? :"( Lantas, sa buka pintu. Sontak kekhawatiran mereka pun hilang dan merasa lega. Dalam otak sa berkecamuk, kenapa mereka datang dengan kekhawatiran seperti ini? Perasaan macam apa ini? Sa mencoba memproses. 

Bu Er cerita kalau dulu pernah diceritain, salah satu teman. Ada teman dari temannya yang tidak ada kabar. Kondisinya mungkin mirip saya, tinggal seorang diri, merantau. Namun, tidak ada yang tahu kalau ternyata sudah meninggal beberapa hari di kontrakannya tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Mungkin, Bu Er tidak mengalami secara langsung, tapi pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika ada temannya yang tidak seperti biasa tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, menghilang....

Sampai cerita tersebut diceritakan, sa mencoba mencerna dan berpikir. Sa sudah salah dan membuat beberapa orang khawatir. Sa sadar dan mencoba belajar kembali tentang perasaan aneh yang muncul selama proses ini.

Sa bercerita ke kawan tentang kejadian ini. Ada satu benang merah yang bisa sa gali dan sa sambungkan. Sa sadari perasaan kesal, sedih, senang, aneh yang muncul satu per satu. Kenapa sa sedih? Kesal karena merasa liburan sa terganggu. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang khawatir di balik itu semua. Mungkin beda lagi ketika sa dari awal memberitahu kalau selama liburan sa tidak pegang HP, mungkin mereka akan lebih berlapang. Sa merasa sedih, senang dan aneh bercampur jadi satu. Perasaan campur aduk ini muncul karena merasa ada yang perhatian dan ada yang khawatir dengan sa. Terasa asing. Rasa yang sulit sa deteksi. Seharusnya sa bahagia ya karena ada yang peduli, tapi di sisi lain sa merasa perlakuan ini 'too much' dalam pertemanan. Tapi, setelah sa gali lebih dalam muncullah statement dari diri sa "aneh karena tidak familiar dengan perlakuan dicintai". Ternyata sa perlu belajar satu hal "perasaan dicintai, dipedulikan".

Setelah sa telusuri jauh ke masa lalu, pola asuh seperti apa yang membuat sa terasa asing seperti ini? Sepertinya karena dari kecil sebagai anak pertama, sa selalu dididik dengan berbagai macam tuntutan: harus mandiri, harus menjadi contoh adik-adik, harus apa-apa bisa sendiri, harus berbagi ke orang lain, harus memberi dan membagi cinta ke orang lain. Dan tidak diajari untuk menerima cinta dari orang lain atau perasaan dicintai itu sendiri. Selama ini, sa hidup dalam perasaan harus mencintai daripada dicintai. Merasa berhasil mengambil kontrol dari sesuatu tindakan. Mungkin juga takut ditinggalkan maupun tidak diterima. Sehingga sejauh ini, sa lebih familiar dengan perasaan mencintai daripada dicintai.

Dari kejadian ini, sa perlu belajar untuk tidak harus selalu memberi, tetapi "menerima" pun juga tidak apa-apa. Belajar menerima cinta dan dicintai orang lain. Belajar untuk menerima tanpa ada tuntutan untuk mengembalikan.

Afirmasi yang perlu sa ulangi seperti kata Bunda Shada:
"Aku layak menerima bantuan dengan hati terbuka. Aku terhubung dengan jiwa-jiwa baik yang melindungiku. Aku berjalan menuju masa depan yang stabil, kuat, penuh berkah, bahagia, dan berkelimpakan. Aku layak dicintai dan menerima cinta yang membahagiakan."

Minggu, 12 Mei 2024

#44 Menaikkan Vibrasi Diri

Hari ini saya bangun pagi karena ada ngajar jam 3 pagi lanjut saya mau renang pagi juga. Janjian sama Mbak Raras jam 6 pagi buat renang di Biru. Setelah ngajar Pascal sekitar 1 jam, saya pun siap-siap. Untungnya, semalamnya sudah saya siapkan perlengkapan renangnya. Lalu, jam 5 pagi, saya menghubungi Anees, tapi sepertinya dia tidak bangun. Ya sudah, saya tinggal saja.

Saya sampai di Biru sekitar jam setengah 6, jalanan lancar dan saya tidak nyasar. Saya menunggu Mbak Raras sampai, katanya nyasar karena diarahkan ke kiri sama googleMaps. Padahal seharusnya ke kanan. Ya sudah nungguin di luar. Sesampainya Mbk Raras, kami pun masuk dengan membayar tiket Rp15.000 per orang. Siap-siap renang. Kondisi kolam sudah ramai. Beberapa ada yang latihan untuk profesional, sebagian ada yang hanya berendam kayak saya. Hahaha, efek saya tidak bisa renang, tapi dikit-dikitlah bisa.

Kami renang sekitar 1 jam. lanjut nyari tempat nongkrong dan ketemulah warmindo Sukarasa. Kami nongkrong dan makan di sana. Sampai berpiring-piring dan bergelas-gelas habisnya. Mas-masnya juga ramah-ramah. Semua request-an saya dibuatkan dengan baik. Rasa masakannya juga enak. Sop dan sambalnya enak juga. Pokoknya, warmindo ini sudah jadi basecamp kami buat nongkrong. Kami makan bermacam-macam dan minum bermacam-macam pula, hanya habis Rp70.000 berdua. Sampai saya bertanya berulang kali lagi ke Masnya, apa sudah semua dihitung. Murah sekali ini untuk sebanyak itu makanan. :D Alhamdulillah....

Lalu, Mbak Raras bilang kalau mau menaikkan vibrasi kita, bisa nongkrong di mall atau restoran hotel atau cafe Prawirotaman sekali-kali. Bisa juga renang di pagi atau malam hari karena biasanya orang-orang yang settle akan renang di jam-jam itu. Kadang kita perlu berada di dekat orang-orang dengan vibrasi tinggi agar ikut terpapar vibrasi baiknya. Hmmm, menarik. Saya jadi ingat saat saya di Jakarta, tiap hari ngajar di cafe dan benar juga rejeki lancar dan ada saja keberuntungannya. Sepertinya memang salah satunya karena tiap hari saya berkumpul dengan orang-orang berekonomi menengah ke atas. Paparan vibrasinya kuat. Sepertinya perlu dicoba lagi.

Terus ada pesan dari Mbak Raras tentang masa lalu saya yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu. Salah satunya kebencian saya dengan bapak sambung saya selama ini yang masih membekas di deretan masa lalu saya. Kata Mbak Raras, saya perlu memaafkan dan meminta maaf agar jalan saya ke depan lebih baik. Apa salahnya berdamai dengan masa lalu? Toh itu semua untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Ya, memang perjalanan spiritual saya saat ini memang cukup membuat saya banyak belajar. Terutama untuk diri sendiri. Salah satunya bermeditasi, memaafkan dan dimaafkan. Karena saya perlu menabur hal-hal baik untuk diri sendiri. Sebagai pemutus karma leluhur selama ini. Bahagia seluruh makhluk....

Sabtu, 11 Mei 2024

#43 Tenang Seimbang, Datar Saja

Hari ini Kuro belum pulang juga. Entah kemana perginya. Saya hanya bisa bersikap tenang saja. Semoga baik-baik saja dan bahagia selalu. Saya belajar untuk merelakan sesuatu yang di luar kontrol saya, seperti sesuatu yang pergi dan tak kembali, ya saya perlu merelakannya. Jika dia kembali, tentunya puji syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan kedua untuk bersama lagi. Ya, saya belajar untuk tidak bereaksi apa pun, datar saja, karena semua sudah ada jalannya. Begitu pula saat Kuro tak pulang, saya tetap tenang, datar saja. Semua akan kembali seperti biasa, tak perlu terlalu berlebihan sedih, terlalu senang, atau terlalu benci. Itu yang saya pelajari.

Seperti halnya, saya sempat benci sekali dengan nama Anis semenjak huru-hara ibukota yang membuat saya lumayan trauma dengan identitas Islam. Sebenarnya, saya tahu betul itu hanya sebagian saja, toh masih banyak kyai atau pemeluk Islam yang mengayomi dan tenang damai. Namun, sejujurnya, tetap kejadian yang ada di Jakarta dulu membuat saya trauma. Saking bencinya saya dengan nama Anis, sampai akhirnya saya tidak suka ketika ada nama Anis, entah itu disebutkan orang atau saya membaca sesuatu yang berhubungan dengan kata itu. Dan semesta pun sangat adil dan mengingatkan saya untuk tidak membenci.

Dan tahu apa yang terjadi? Semesta mengirimkan teman bernama Anees. Lha kok bisa? Ya, begitulah cara semesta mengingatkan kita untuk tetap sesuai jalur kehidupan. Kan kalau seperti ini, interaksi saya bersama nama Anees semakin banyak dan mau nggak mau saya harus terbiasa dan tidak boleh berlebihan dalam membenci maupun menyukai sesuatu. Intinya adalah sedatar-datarnya, sewajarnya, dan tak perlu berlebihan.

Makanya, saya sekarang tidak mau ambil pusing dengan kedatangan maupun kepergian sesuatu. Kalau datang ya saya hargai. Kalau pergi ya saya biarkan pergi dan saya lepaskan. Tak perlu berlebihan mencintai atau membenci. Belajar untuk melepas kemelekatan karena hidup datang dan pergi. Tetap fokus ke diri sendiri. Tetap tenang seimbang. Fokus ke diri sendiri dan perbaiki diri. Dan ini sudah hampir satu bulan saya mengkonsumsi sesuatu non hewani. Ternyata saya bisa bertahan juga. Lalu, konsisten untuk tetap menjaga diri dengan olahraga dan beberapa kegiatan lainnya. Semesta sangat baik ya ke diri ini. Kadang manusianya saja yang terlalu banyak mengeluh dan memprotes. Padahal semesta sudah memberi yang terbaik untuk kita. Mari berbahagia.... 

Rabu, 08 Mei 2024

#40 Perpanjang Paspor di Jogja

Pagi ini jadwal saya ngurus paspor di kantor imigrasi. Saya memilih kantor imigrasi yang ada di Lippo karena itu tempat yang paling dekat dengan kos. Hari sebelumnya saya bertanya untuk memastikan dokumen yang dibutuhkan ke Kak Tina, seorang teman petugas imigrasi. Semua dokumen saya lengkapi: 
1. Fotokopi KTP (bawa juga yang asli)
2. Fotokopi KK (bawa juga yang asli)
3. Fotokopi Akte Kelahiran (bawa juga yang asli)
4. Paspor asli
+ materai 10.000 (tapi saya lupa bawa)
+ print lembar permohonan download dari aplikasi M-Paspor

Tapi waktu saya mau berangkat, saya baru ingat harus print lembar permohonan yang dapat didownload dari aplikasi permohonan paspor M-Paspor. Untungnya saya berangkat lebih awal sekitar jam 9, jadi masih bisa print dulu. Sebelum berangkat, saya pun print di fotokopian dekat kos, lalu lanjut ke Lippo. Sampai di Lippo masih jam 9.30 pagi dan lokasi kantornya ternyata di lantai 1, jadi harus naik dulu lewat pintu samping karena pintu depan belum buka mall-nya.

Setelah sampai di depan kantor imigrasinya, ternyata sudah antre lumayan banyak. Tapi kantornya baru buka jam 10. Saya menunggu sekitar 30 menit dan itu pun antrenya tidak sesuai jam kedatangan. Saya ambil map dan diminta isi formulir dulu. Lha, ternyata ada satu yang terlupa, yaitu materai 10.000. Saya lupa beli dan tidak ingat kalau harus membawa materai. Ada hal lucu yang tadi terjadi....

Saya kan lupa bawa materai terus kata petugas imigrasi di toko depan ada tapi belum buka tokonya.... Saya cuma tenang saja.... Pokoknya nggakpanik, sudah tenang saja. Ibu-ibu samping saya sudah heboh marah-marahin anaknya karena tidak mengecek lagi dan lupa bawa beberapa dokumen dan materai kurang satu.... Terus saya cuma senyumin saja.... Sebenernya ada pilihan buat turun keluar mall terus nyari di fotokopian... Tapi saya memilih untuk nunggu 10 menitan toko buka.... Menurut info dari bapak-bapak yang tahu, paling sekitar 10 menitan orangnya yang jual datang. Ya, saya percaya saja dan kalau misal nggak datang-datang, ya nantilah dipikir lagi untuk keluar mall. Terus nunggu 10 menit, gak lama tokonya buka.... Langsung diserbu beberapa orang yang lupa membawa materai. Terus saya belilah materai di situ.... Harganya Rp15.000, ya lumayanlah, tapi bapaknya baik, jadi nggak papa harga segitu. Tanpa harus turun naik tangga lagi pula....

Dokumen pun lengkap, ngantri, nunggunya gak lama, terus pas di loket dokumen lancar, ditanya-tanya kerja dimana, di Jogja kegiatannya apa, saya bilang kuliah dan kasih kartu KTM. Lalu, lanjut ke loket foto. Pas saya ambil foto, biasanya saya itu akan diem aja gitu, tapi saya coba untuk ngajak bercanda petugasnya, terus bapaknya ikutan ngakak karena saya foto berkali-kali tapi telinga kananku gak keliatan 🤣🤣 terus akhirnya ya udah dipilih yang bagus, saya bilang ke bapaknya, pak foto yang cantik ya pak... Bapaknya ketawa 🤣 sambil nyodorin tisu karena melihat dahi saya yang penuh keringat karena abis naik eskalator yang mati karena mall belum buka tadi pagi. Ternyata ketawa itu nular ya... 😬😬😬

Terus, tadi saya tanya ke bapak yang bagian foto, apa saja yang perlu dibawa saat pengambilan paspor. Bapaknya bilang bawa bukti pengambilan dan bukti pembayaran tercetak. Lalu, saya tanya kenapa fotokopian masih perlu banyak untuk persyaratan dokumen, terus bapaknya curhat malah, katanya orang-orang kadang upload dokumen itu ngasal dan foto aja ada yang upload foto keluarga, foto kucing, terus ngakak bareng lah malah. Nah, satu lagi, khusus penggantian paspor lama ke paspor baru, hanya dibutuhkan KTP asli yang akan ditanyakan selain dokumen fotokopian ya.... Tapi bawa aja semua dokumen untuk jaga-jaga. Kemarin sih saya hanya perlu ktp aslinya saja yang dicek, sedangkan dokumen asli yang lain tidak dicek karena saya perpanjang paspor.

Lalu, sudah deh nunggu seminggu untuk pengambilan paspor barunya. Yey, paspor baru jadi, semoga makin semangat untuk jalan-jalan lagi.... :D Mari berbahagia!

Selasa, 07 Mei 2024

#39 Keputusan dan Keikhlasan

Hari ini saya janjian sama Bang Limin dan Tace untuk makan siang bareng setelah sekian lama tidak berjumpa di kampus. Saya mengajak juga mbak Alia tapi tidak bisa ikut. Anees juga saya ajak, tapi dia ikut kelas BIPA dan baru selesai jam 12.50. Sedangkan Bang Limin ada kelas lagi jam 1. Jadi saya memutuskan untuk tidak menunggu Anees dan pulang setelah jam 1. Lalu, setelah sampai kos, ternyata Anees menyusul ke kantin FMIPA dan akhirnya kami tidak bisa bertemu. Saya bilang lain kali saja karena saya sudah pulang. Saya tawarkan dia mau ditemani makan siang, tapi dia menjawab sudah makan.

Saya pun lanjut ke Bank Mandiri untuk mengurus AXA Mandiri. Ternyata produk lama itu membuat saya malah rugi selama 5 tahun belakangan ini. Rugi hampir 10jt, dengan biaya admin yang ternyata gede. Alhasil saya pun cerita ke Mbak Raras, dan hasil diskusi kami adalah saya cut saja asuransi itu dan ikhlaskan kerugiannya selama ini. Nanti juga akan ada gantinya yang lain. Akhirnya saya cut off AXA Mandiri saya dan tidak tertarik untuk ikut lagi walaupun produk barunya tanpa biaya admin, tapi tetap saja, saya rada trauma dengan yang namanya asuransi.

Ya, dulu kenapa saya ikut asuransi, karena berpikir saya kerja di Jakarta dan kerjaan saya mobile, kalau sewaktu-waktu saya kenapa-napa, minimal ibu saya punya uang. Makanya nama penerima dana itu adalah ibu saya. Lalu, sekarang ibu saya sudah tidak ada, jadi ya sudah mari hidup seperti biasa dan serahkan takdir kepada Tuhan saja. Lain kali mungkin bisa ya saya pikir-pikir ulang tentang asuransi.

Terus, sorenya, saya nonton Totto-Chan: The Little Girl at the Window sama Tace dan Bang Limin di bioskop Lippo. Salah satu novel yang saya suka dari dulu tentang sekolah yang beda dari yang lain. Saya menemukan sekolah serupa di Salam. Entah kenapa membuat saya seperti berada di dalam film itu saat saya mengajar di Salam. Totto-Chan, salah satu inspirasi saya di dunia pendidikan. Filmnya sedih tapi bagus! Novelnya tambah bagus lagi. :)

Dulu saya pernah punya mimpi untuk membangun sekolah seperti Sekolah Tomoe. Sekolah yang mengajarkan tentang hidup dan bahagia. Menerima segala karakteristik anak, tak ada anak yang bodoh, tak ada anak yang nakal, semua istimewa. Mungkin itu jadi salah satu semangat kenapa saya tetap di pendidikan. Ya, salah satu impian saya pun bisa mengajar di daerah pedalaman. Entah, dimana pun itu. Semoga bisa terwujud.... Aamiin....

Pulang nonton, saya dan Tace makan nasi padang. Saya makan terong dan tempe goreng. Lanjut mampir beli keripik singkong 1 porsi Rp6.000 di dekat fakultas teknik. Lalu pulang. Hari yang cukup padat. 

Senin, 06 Mei 2024

#38 Panen sayur dari Teras

Pagi ini saya panen daun pepaya jepang dari teras. Saya masak tumis kering dengan lauk tempe. Sederhana tapi enak. :D Tak lupa saya juga pamerin ke Fitri. Hahaha.

Saya mulai senang lagi masak makanan rumahan daripada beli jadi. Menurut saya ketika saya masak, itu salah satu healing untuk saya. Semua indera bekerja. Penglihatan sangat dibutuhkan untuk memilah bahan-bahan dan juga menentukan apakah masakan sudah matang atau belum. Pendengaran tentu, memanaskan air pun berbunyi tanda mendidih. Peraba, dibutuhkan saat kita memotong bahan. Kontak langsung dengan bahan-bahan tentunya membuat indera kita semakin terasah. Penciuman, ini salah satu indera penting untuk menentukan aroma layak atau tidaknya makanan untuk dikonsumsi. Pengecap, ini utama dari penentuan rasa apakah manis, kurang bumbu, atau keasinan. Lalu, memasak adalah salah satu kegiatan yang bisa mengasah semua indera tubuh manusia, menurut saya seperti itu.

Terus lagi, kegiatan masak juga membantu saya mengurangi overthinking karena lebih fokus ke diri sendiri. Terlebih lagi, membantu untuk mengelola emosi. Memasak adalah kegiatan kedua saya setelah bersih-bersih kamar dengan tujuan untuk healing. :D Tetap cara healing utama saya adalah bersih-bersih kamar dan kos. Hehehe. Memasak juga membantu saya memanggil kembali memori masa lalu, seperti memori indah bersama ibu dan bapak saat masak dan makan bersama. Memori bukan untuk dilupakan kan? Tapi sebaliknya, memori masa lalu akan memberi kita pembelajaran, entah itu baik atau buruk. Kita bisa belajar tentang itu.

Bahkan saat saya masak daun pepaya jepang ini, ada memori dari ibu, dulu ibu sempat tak mengizinkan saya memasak pepaya jepang tanpa menjelaskan alasan. Sampai sekarang pun saya tidak tahu alasannya. Dulu ibu hanya bilang nanti kena penyakit, tapi saya tidak tahu penyakit apa dan kandungan apa yang menyebabkan penyakit itu. Saya baru mengetahui kalau pepaya jepang ini salah satu tanaman superfood. Dan enak ketika ditumis, tidak pahit. Kalau ada yang tahu tentang kandungan pepaya jepang, bisa komen di sini ya.... Mungkin ada yang tahu kenapa pepaya jepang tidak boleh dikonsumsi? 

Minggu, 05 Mei 2024

#37 Jogja National Museum

Pagi ini saya pergi ke Pasar Kranggan untuk makan kembang tahu dan beli lopis. Saya beli juga nasi pecel di dekat kembang tahu. Lalu, pulang dan beres-beres kos. Akhirnya, alhamdulillah bisa merasakan lopis pasar Kranggan yang ngehits itu setelah berkali-kali ke sana tidak dapat antrian. Harganya Rp10.000, yang jualan simbah-simbah dan 2 anaknya. Antriannya 1 sampai 50, kalau jualan masih, antrian akan mengulang kembali. Rasanya enak, tapi isinya kurang banyak. :D

Lalu, sore harinya saya pergi ke JNM bareng Anees. Sebenarnya, saya mengajak dia ke Pasar Kranggan juga tapi tidak jadi ikut karena dia tidak bisa bangun pagi. Ya, sudah.... Saya menjemputnya jam 3 sore. Ada kejadian kocak saat saya menunggu dia keluar kos. Saya sudah menunggunya, dia bilang sudah di pinggir jalan, tapi kami tidak bertemu. Hahaha. Ternyata saya salah berhenti, titik temunya kurang beberapa meter ke depan. Hahaha. Pantesan tidak ketemu. 

Kami pergi sekitar 15 menit sampai lokasi. Kami parkir di parkiran yang sudah disediakan. Pembayarannya di awal masuk sebesar Rp3.000 untuk biaya parkir. Saya ribet nyari dompet di tas, ternyata Anees sudah mengeluarkan Rp5.000 untuk parkir. Terima kasih ya Anees.

Kami pun masuk ke museum. Untuk tarif mahasiswa Rp15.000 per orang. Acaranya barengan dengan Pasar Jembar. Anees dan saya pun masuk ke museum terlebih dahulu. Pamerannya bagus. Banyak bahasa Jawa yang ditulis arab. Anees pun membaca tulisan arab itu sambil menceritakan tentang tulisan arab tanpa harokat. Saya hanya menyimak karena saya tidak bisa baca tulisan arab tanpa harokat. :") Katanya, tulisannya itu lebih ke makna spiritual dan proses mengenal Tuhan dengan berbagai perjalanan spiritual seseorang. Terus lagi juga tentang kisah Nabi Khidir. Menarik....

Setelah selesai melihat-lihat museum, kami pun pergi ke Pasar Jembar. Lokasinya di halaman museum. Ada beberapa yang jual makanan dan pernak-pernik handmade gitu. Saya beli lopis dan buko pandan buat Anees. Biar dia merasakan makanan tradisional Indonesia. Lalu, beli mochi dan brownies buatan muridku. Terus, kami nonton tarian anak-anak dari kelas minat Tari Salam. Salam juga tampil beberapa lagu dari gitar kecil. 

Saya bertemu Nara, Sofi, Bening dan tim tari lainnya. Saya memperkenalkan Anees ke murid-murid saya. :D Dia pusing mengingat nama anak-anak yang tidak biasa di telinga dia dan kata-kata yang susah diingat. Hahaha. Lain kali saya ajak ke sekolahku ya.... Terus selesai penampilan Salam, saya mengajak dia pulang karena saya harus mengajar. Sebelum pulang saya janjian ke dia untuk makan malam bareng nasi padang deket UGM. Baiklah, kami pun pulang.

Lalu, setelah ngajar, saya kembali menjemput Anees dan makan nasi padang. Saya hanya makan tahu dan bakwan karena saya sedang mengurangi protein hewani. Dia hanya makan nasi, rendang dan kuah tanpa sayuran. Saya kutanya kenapa nggak ambil sayur, katanya sayurannya tanpa bumbu jadi itu aneh buat dia. Ya sudah. Hahaha. Dia makan sampai nambah dua kali. hahahaha. Setelah makan, kami ngobrol sebentar lalu kami pulang karena warungnya mau tutup. Kami pulang dan merencanakan pertemuan selanjutnya. Entah kapan lagi. Hahaha.


Kamis, 02 Mei 2024

#34 Sesuatu Pasti Ada Tujuannya

Hari ini saya coba apply salah satu company di US. Salah satu aplikasi yang sering saya gunakan untuk belajar tetapi ini yang produk baru berkaitan dengan math. Setelah sekian lama, saya pun memperbaharui CV dan Application letter dengan data terbaru. Saya bilang ke Fitri, saya mau coba hal baru. Hahaha, saya coba saja dulu, toh apa pun hasilnya yang penting sudah saya coba. Biar saja semesta yang menghendaki, mari tetap berenergi positif ke semesta. :D

Ini kali pertama di tahun ini, saya mencoba lagi apply beberapa kesempatan. Lalu teringat salah satu teman yang bekerja dan study di US. Kadang dia chat menceritakan tentang aktivitasnya di US, bekerja dan belajar. Saya senang ketika mendapat kabar baik itu. Kadang saya share agenda masak-masak saya ke dia. Saya bilang hari ini saya masak ini lho.... Sampai-sampai dia bilang kalau saya chef. :D Padahal mah yang saya masak hanya masakan rumahan dan sayur serta lauk nabati saja kalau nggak tahu ya tempe ya jamur. >.< Wkwkwk.... Tapi saya juga bangga sih sama diri sendiri atas salah satu kemampuan yang diturunkan oleh ibu yaitu bisa masak. Walaupun rasanya tergantung mood harian. Hahaha.

Jadi inget sih, dulu waktu SMP sampai SMA, tiap hari Minggu atau liburan sekolah agenda utama saya adalah cuci baju seluruh keluarga yang terdiri dari 5 orang dan masak. Hanya saja beberapa resep ibu, saya lupa karena bertahun-tahun hidup di Jakarta dan jarang masak makanan seperti di rumah. Kadang kalau saya pulang ke rumah dan masak, adek-adekku akan bilang kalau masakan saya sama persis seperti masakan ibuk. Pernah masak nasi goreng kampung, adek langsung komen, kok masakmu kayak masakan ibuk, langsung dia nambah banyak. Itulah kenapa saya bersyukur. Ya, dulu sih saya sering mengeluh karena kenapa selalu saya yang diminta bantu-bantu ibuk, kenapa nggak adek-adek. Tapi setelah kedua orang tua telah tiada, saya sadar betul bahwa orang tua saya telah melakukan yang terbaik untuk saya. Mereka mendidik saya untuk tetap menjadi perempuan mandiri dan tahan banting terhadap segala situasi.

Gak salah, bapak dulu selalu meminta saya menjadi contoh adik-adik untuk berprestasi di sekolah. Dan itu benar-benar membantu saya saat ini untuk melanjutkan hidup. Terima kasih ya Bapak & Ibu, saya bangga menjadi bagian dari hidup Bapak dan Ibu! Bahagia selalu di surga....

Oh iya, hari ini adalah ulang tahun adikku yang pertama. Happy birthday ya Adik! Sukses dan bahagia selalu ya! :D

Kamis, 25 April 2024

#27 Coba Menu Baru

Hari ini hari kedua saya makan sayur dan protein nabati tanpa protein hewani. Tahu apa yang kumasak hari ini? Yups, sate jamur tanpa tusuk. Kemarin sengaja beli jamur, tapi bingung mau dimasak apa. Teringat waktu vipassana ada salah satu menu sate jamur yang menurutku enak. Lalulah saya cari resepnya di cookpad. Sampai saat ini, cookpad masih menjadi website masak-masak andalan saya. Hahaha. Semua resep ada dan banyak pilihan. :)

Menu makan kali ini adalah nasi, sate jamur tanpa tusuk, selada, sama pepaya potong. Oh iya, saya biasanya itu tidak suka makan pepaya karena harus kupas dan menurut saya ribet. Kalau di rumah biasanya ibu saya selalu sedia pepaya di kulkas, tapi tak pernah saya sentuh karena kudu ngupas dulu sebelum makannya. Biasanya ibu yang akan mengupasnya lalu makan di depan saya dan membuat saya kepengen. Lalulah saya yang akan minta pepaya yang dimakan ibu itu. Dengan senangnya, ibu akan mengupas dan memotongkannya lagi. Ahh, kangen ibu! Al Fatehah. :D Love you ibu!

Nah, siang kemarin saya beli pepaya di ibu sayur. Pepayanya ditimbang dulu, nggak tah berapa kilo, tapi harganya Rp10.000. Pulang dari warung, saya biarkan tergeletak di meja belum saya sentuh. Hahaha. Masih mager kupas. Lalu keesokannya, hari ini saya baru kupas dan potong. Pas saya coba rasanya lha kok manis. Alhamdulillah. Enak banget. Lalu, saya makan beberapa potong, sisanya saya potong dan masukkan ke wadah dan taruh kulkas. :D

Terus, saya makan, tapi sebelum makan, biasa pamerin dulu menu kali ini ke Fitri. Hahaha. Nasi, selada, daun bawang mentah, sate jamur tanpa tusuk, lalu pepaya. So nyummy! Walaupun sate jamurnya kebanyakan ketumbar, jadi rasanya lumayan strong dan sebenarnya ganggu banget rasa ketumbarnya. Hahaha. Efek saya tak kira-kira masukin ketumbarnya dan ngulegnya kurang lembut. Nah, ginilah kalau masak, kadang butuh kira-kira dalam membuat bumbu. Memang keterampilan yang perlu diasah. Dan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya kenapa kalau kita masak dengan hati gembira itu pasti makanannya enak. :))) Tapi kalau kita masak pakai hati yang nggak senang, pasti makanannya rasanya juga nggak jelas. :D Begitulah kira-kira edisi masak kali ini. Besok masak apa lagi ya? Hahaha....

Selasa, 23 April 2024

#25 Revolver yang Kendor

Agenda hari ini adalah mengamati benda-benda di sekitar dengan mikroskop. Ya, mikroskop baru yang kami terima, masih kondisi yang excited. Masih ada rasa penasaran kami. Terlebih lagi, ini adalah pertama kalinya kami belajar dengan menggunakan mikroskop. Saya sendiri juga sudah belasan tahun tidak pegang mikroskop. :D Terakhir kali eksperimen dengan mikroskop itu saat saya masih SMA tahun 2008-2009 lah. Lama sekali yak! Hahaha

Hari ini jam pertama diisi dengan membaca cerita liburan. Awalnya memang mau menjadikan opsi terakhir cerita liburan itu, tapi saya memilih untuk tetap menyelesaikan cerita liburan walaupun anak-anak sudah komplain karena ingin segera bereksperimen. Akhirnya, kami menyelesaikan cerita liburan dengan kebosanan. Saya pun menyadari hal itu. :D Cerita liburan pun selesai.

Kami persiapan alat dan bahan untuk eksperimen. Lalu, salah satu anak menyiapkan mikroskop. Anak-anak yang lain mencari sampel dari lingkungan sekitar, boleh daun, bunga, air sawah, lumpur sawah, dan lainnya. Setelah kembali, ada salah satu anak membawa ikan kecil dari kali dekat sekolah. Saya lihat masih hidup. Sontak saya kasihan dengan ikan itu, alhasil saya bilang ke anak itu kalau saya kasihan melihat ikan itu kalau masih hidup. :D Haha bukan guru sains, jadi gak tega liat ikan masih hidup harus dilukai. :X

Kemudian, ada kejadian yang membuat kelas tidak kondusif. Yups! Mikroskopnya kendor revolver-nya, tapi saya tidak bisa membetulkannya. Awalnya, saya panik, tapi saya atur napas agar saya tidak panik karena kelas harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Saya mengatakan, "Ya nggak papa, ini nanti tinggal diservis dulu, tapi ini masih bisa digunakan, yuk coba kita gunakan."

Beberapa anak tampak kecewa. Baru juga sehari, masak mikroskopnya rusak. :P Lalu, saya mencoba berpikir positif agar suasana tetap kondusif. Siapa sangka kalau kerusakan itu, ternyata membuat kami berdiskusi tentang sikap apa saja yang sebaiknya dilakukan ketika berada di laboratorium. Kami juga belajar tentang bagian-bagaian mikroskop. Beberapa anak juga semangat untuk menyetel mikroskop agar teman-temannya yang lain bisa melihat objek dengan jelas. Kelas hari ini diakhiri dengan diskusi yang menyenangkan. Belajar dari sebuah kesalahan dan belajar untuk respect di kelas.

Sepulang dari sekolah, saya lanjut ke tempat servis mikroskop di daerah utara, sekitar satu jam dari Bantul. Di tengah perjalanan, hujan deras, tapi saya tetap paksakan lanjut perjalanan. Sampai di suatu kondisi, saya memutuskan untuk berhenti ngiup di bengkel pojok karena baju saya sudah basah walaupun menggunakan mantel. Hujannya juga dibarengi dengan petir. Ini pertama kalinya saya menerobos hujan lebat selama di Jogja. Saya berusaha untuk tetap tenang. Sambil menunggu hujan sedikit reda, saya tak berani buka HP karena kilatan petir dimana-mana. Saya hanya duduk diam. Mengamati air hujan turun deras. Sesekali memperhatikan orang-orang lewat yang ikut ngiup di seberang jalan. Air jalanan yang meluber dan membuat cipratan saat kendaraan lewat. Saya benar-benar hanya mengamati. Bayangan saya mengembara membuat kemungkinan-kemungkinan terjadi. Misalnya tadi saya tidak pergi ke tempat servis pasti saya bisa tidur di kos. Beberapa pikiran serupa muncul begitu saja. Tapi saya kembali tersadar bahwa saya menikmati perjalanan ini. Saya menikmati air hujan yang membasahi pakaian saya. Saya menikmati hawa dingin yang melewati muka saya. Saya menyadari semua itu. Kapan lagi saya bisa hujan-hujanan ya kan? Semua itu saya coba sadari kembali dengan tidak menyangkal dengan segala kemungkinan kalau ini ya ini kalau itu ya itu. Semua perlu disadari keberadaannya.

Hujan mulai reda, tetapi masih gerimis. Saya pun berpamitan dengan bapak yang dari tadi duduk di kursi sebelah, saya berterima kasih sudah bertemu orang baik yang mengizinkan saya ikut duduk ngiup. Setelah mengecek google maps, jaraknya tinggal beberapa menit saja. Lalu, saya putar motor dan melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari sana, motor saya memasuki jalanan yang cekung sepertinya masuk sebagian ke got. Saya langsung tancap gas, dalam hati, ayo bisa yok, jangan terperosok. Saya kurang hati-hati memilih jalan dan terlalu ke pinggir. Ada genangan air yang ternyata parit. Untungnya, motor saya aman dan saya masih bisa melanjutkan perjalanan. Memang harus banyak-banyak bersyukur.

Sampai di lokasi, saya sudah basah pakaian saya. Sampai bisa diperas airnya. Lalu, saya masuk ke tempat servis. Ada mbak-mbak yang menyambut saya dan mempersilakan saya masuk. Saya sudah bilang kalau saya basah, dan katanya tidak apa-apa. Di sana kursinya sofa, jadi saya memilih duduk di lantai sambil membuka mikroskop. Lalu mas teknisi datang dan langsung menanyakan keluhan mikroskopnya apa. Saya bilang kalau revolvernya kendor, entah patah entah gimana, lalu masnya hanya bilang kalau ini hanya kendor, lalu diperbaiki. Masnya mempersilakan ke saya duduk di sofa saja, tapi saya memilih tetap di lantai. Ya karena benar-benar basah baju saya. :") Sambil uji coba mikroskop, mas nya tanya dari mana, saya jawab, dari Bantul. Saya bercerita tentang sekolah saya dan menceritakan pula kronologinya. Lalu saya tanya tentang kantornya ini hanya servis atau jual juga, ternyata tempat servis ini untuk pengadaan barang-barang laboratorium baik bijian maupun jumlah besar. Selesai servis, masnya bilang kalau simpan saja nomornya agar kalau ada apa-apa saya bisa menghubungi tanpa harus ke kantornya. Ternyata rumah masnya di daerah Godean, jadi kadang kerjanya muter-muter ngecek dari satu lab ke lab lainnya. Wah, dengan senang hati kalau begitu, tidak perlu jauh-jauh lagi ke sini untuk servis. 

Satu hal yang saya pelajari hari ini, semua yang datang hari ini pasti ada pembelajaran, jadi tetap tenang dan nikmati prosesnya. Mari selalu bersyukur!


Sabtu, 13 April 2024

#15 Teman yang Moody-an

Sebenarnya beberapa hari ini saya sedang banyak pikiran. Beberapa hal yang sejak beberapa minggu lalu mengganggu pikiran, tapi belum juga bisa saya lepaskan. Bahkan saya kembali bermimpi, entah itu sebuah ketakutan-ketakutan selama ini, entah sebuah pengingat. Saya sempat bermimpi kembali ke kampung halaman. Saya, almarhum ibu, dan adik saya sedang mengumpulkan telur ayam di sawah belakang rumah. Memori sawah belakang rumah itu cukup tercampur dengan kondisi saat ini. Gambaran masa lalu, belakang rumah yang masih penuh dengan sawah, dan juga bangunan baru milik tetangga yang memang sudah dibangun beberapa tahun belakangan. Sepertinya alam bawah sadar saya muncul dan membuat memori campur aduk. Sepertinya memang benar-benar pikiran saya sedang tidak baik-baik saja.

Dalam mimpi itu, saya berjalan sendirian mengikuti jalanan kecil di sawah, memisahkan diri dari ibu dan adik saya. Saya terus berjalan ke arah utara dan menemukan sebuah gua. bangunan sederhana dari luar tapi terlihat bersih. Lalu, saya masuk ke dalamnya, saya dapati sebuah tempat sembahyang. Di sana ada patung Yesus berdiri tegak dengan beberapa lilin di sekitarnya. Saya meilhatnya, seperti tempat ibadah yang megah. Beberapa saat kemudian, ada seorang ibu dan anak perempuannya datang untuk sembahyang. Saya melihatnya, mereka berdoa dengan khusyuk. Lalu, saya keluar gua. Di langit, saya melihat lukisan Yesus dengan sangat megahnya. Di sana, saya sangat kagum dengan lukisan itu. Benar-benar lukisan dari kumpulan awan dan juga pantulan cahaya yang indah. Dalam mimpi, saya sempat menelepon Romo, kawan kampus saya. Saya mengambil video lukisan di langit itu dan mengatakan kepada Romo, "Romo, lukisan Yesus ada di langit, indah sekali. Romo harus lihat." Entah reaksi Romo saat itu seperti apa, saya tidak ingat. Sepertinya, mimpi saya terputus di situ.

Saya terbangun dengan sedikit lelah. dalam hati, masih bertanya-tanya tentang hal tersebut. Saya mempercayainya sebagai hanya sebuah mimpi, bunga tidur. Walaupun pada kenyataannya saya kepikiran tentang hal itu. Lalu, saya menceritakan ke Romo apa yang terjadi di dalam mimpi itu. Romo hanya berpesan, "Perbanyak sholat...." Saya mengiyakan.

Sebenarnya, saya masih lelah usai bertemu banyak orang di Malioboro. Mungkin bisa dikatakan energi saya cukup terkuras ketika bertemu banyak orang. Tapi saya juga kurang peduli hal tersebut ditambah banyak pikiran akhir-akhir ini membuat mood saya mudah goyah dan berubah drastis.

Pagi itu, saya mengajak Novi ke Pasar Kranggan untuk beli kembang tahu dan wisata kuliner. Kami coba di beberapa tempat, tapi semua tutup karena masih lebaran dan juga habis karena sudah siang. Akhirnya kami putar balik dan nyari nasi pecel. Tapi nasi pecel pun juga masih tutup. Kami pun pergi beli mie ayam untuk makan pagi yang sudah memasuki makan siang. Kami memutuskan untuk beli mie ayam bakso ceker di tempat Pak Supri, langganan saya beli mie. Sepulang dari beli mie, saya dan Novi pun rehat sebentar dan merencanakan mau pergi ke candi saat sunset.

Jam sudah menunjukkan jam 3 sore, kami siap-siap dan rencana berangkat jam 4. Saya sempat bertanya ke Novi apakah dia benar-benar ingin ke candi Ijo atau pilihan lain candi Boko. Novi menjawab iya. Saya pun akhirnya tetap berangkat walaupun sebenarnya saya setengah hati, tapi kalau saya batalkan, kasihan Novi juga jauh-jauh dari Jakarta ke Jogja, mau jalan-jalan juga. Jadi saya tetap berangkat dan mencoba menikmati perjalanan. 

Di perjalanan ke Candi Boko, ternyata jalanan macet. Banyak orang berlalu-lalang. Ternyata itu juga sangat menguras energi saya. Ditambah lagi saat di tiket masuk, harus nunggu mas-masnya nyari kembalian parkiran, padahal waktu kunjungan tinggal 45 menit. Novi, sudah beberapa kali mengatakan pakai uangnya saja untuk parkir biar tidak nunggu-nunggu, tapi saya tidak mengiyakan. Alhasil, kami harus menunggu beberapa menit untuk hal kembalian uang parkiran. Saat itu yang saya pikirkan adalah, ya sudah biarkan masnya bertanggung jawab dalam tugasnya. Sepertinya pikiran yang gelap ya! Kurang efektif dan efisien lebih tepatnya. Memang berpikir di saat pikiran runyam itu tidak bisa clear, pasti ada hal-hal yang tidak sesuai ekspektasi. Makanya, kadang saya tidak ingin berekspektasi karena akan membuat kecewa.

Lalu, kami pun masuk ke area candi dengan tergesa-gesa karena bentar lagi mau tutup. Pengunjungnya lumayan banyak dan banyak orang yang berfoto di area candi. Mood saya bagaimana? Sudah tidak terkontrol. Novi mencoba membujuk saya untuk tersenyum, tapi jawaban saya tidak mengenakkan dia. Maaf ya Novi! Pastilah membuat suasana yang seharusnya happy, jadi runyam karena saya.

Akhirnya kami pulang dengan perasaan masing-masing. Saya diam, Novi juga diam. Tapi saya menyadari bahwa emosi saya sedang tidak baik-baik saja. Penyebabnya pun juga dapat saya identifikasi karena beberapa hari ini saya banyak pikiran dan bertemu banyak orang, ditambah mimpi yang aneh-aneh. Sepertinya saya sedang di titik lelah.

Kami pulang. Saya langsung mandi dan berpesan ke Novi kalau saya butuh waktu satu jam untuk meredakan emosi sebelum kami makan. Novi pun menunggu sambil kelaparan di pojokan dan penuh kebingungan pasti saat menghadapi saya. Dalam kondisi sadar bahwa saya sebaiknya mengatur napas dan melakukan meditasi di ruang tamu. Saya mencoba release emosi dengan meditasi, mengelola napas, dan menyembuhkan diri sendiri. Satu jam kemudian, saya kembali menghampiri Novi, dan meminta maaf kalau emosi saya sedang tidak stabil. Kemudian kami langjut makan, nyari warung makan yang buka, tapi karena kondisi lebaran, salah satu langganan saya belum buka. Kami nyari sepanjang jalan Selokan Mataram dan menemukan warung lesehan penyetan ayam. Kami pun makan dengan agak canggung. Pulangnya, Novi ingin beli buah dan kami mampir ke toko buah dekat kos. Dia membeli jeruk. Lalu, kami istirahat dengan pikiran dan kelelahan masing-masing. Maaf ya Novi! Semoga lain kali kita bisa maen bareng lagi dan no drama-drama. :D Mungkin saat ini, saya masih jadi teman yang moody-an.... Masih proses belajar menjadi lebih baik.

Minggu, 07 April 2024

#9 Buka Bersama

Buka bersama Ramadan tahun ini, saya hanya punya dua agenda bukber. Pertama, bukber bareng anak-anak kelas 5 dan yang kedua, bukber bareng keluarga Woro. Nah, bagian yang ingin saya ceritakan adalah bukber yang kedua. 

Hari ini adalah hari kedua saya di Klaten. Woro bilang kalau agenda hari ini adalah bukber dan masak-masak. Saya bangun sahur bareng Mbak Sum, dimasakin telur dadar, enak banget rasanya. Terus, setelah sahur kok ya saya tidak bisa tidur lagi. Alhasil, saya pun hanya duduk-duduk di depan TV, terus sholat, meditasi sebentar, lanjut nunggu matahari terbit. Cuacanya dingin banget, teruslah entah di menit berapa saya ketiduran. Bangun-bangun udah terbit mataharinya. Rencana awal mau yoga, tapi kedinginan, alhasil hanya sebentar, gak full.

Lalu, Woro bangun, kami nongkrong-nongkrong di teras depan. Nggak jadi juga ternyata lihat Merapinya. :D Hanya sebatas wacana. Mau ngerjain thesis tapi nggak ada sinyal. Sebenarnya, kondisi tanpa sinyal itu bisa membuat saya lebih banyak berefleksi, menikmati hari, dan hidup menyenangkan sih. :D 

Lalu, lanjut rencanain mau masak apa. Mbak Sumi sudah siap sedia masak daging sapi, mau dibuat gule. Saya kepikiran, kalau saya makan daging saja, nanti bisa-bisa kolesterol. Maklum, mantan penyitas kolesterol. Terus, entah kenapa kepikiran bikin urap. Kata Woro, kelapa muda tinggal petik di kebun sekalian mau ambil kelapa untuk bikin es buah. Wah, menarik!

Saya dan Woro pun pergi ke pasar nyari buah dan sayuran. Beberapa buah sudah dibelikan ibu sepulang dari pasar. Tinggal nyari sayuran sama buah naga, dan beberapa titipan saudara-saudara Woro. Pergilah kami ke pasar. Saya beli sawi putih, cabai, wortel, tauge. Woro nyari buah naga nggak ketemu. Waktu lewat penjual jus, ada buah naga, lalu saya bilang ke Woro, "Wo, itu ada buah naga, kita beli aja di sana, beli jus buah naga tapi gak usah diblender." Woro langsung menentang ide saya, yang waktu itu saya rasa fine-fine saja kalau beli buah di sana. Toh, hak banyak yang dibutuhin kan, buat syarat saja. Tapi Woro tetap tidak setuju. Ya sudah.... Teruslah kami tetap mencari buah naga. Mampir toko dulu buat belanja es krim. Sepulang dari toko pun masih nyari buah naga. hahaha. Saya bilang ke Woro kalau semakin kita fokus nyari sesuatu, mata kita akan semakin jeli nemuinnya. Kayak ini nih, buah naga. Dannn, beneran lho, kami nemuin buah naga walaupun cuma setengah di penjual buah. Itu pun buah naganya udah dikupas dan satu-satunya buah naga yang dijual. Langsung ambil. Misi tercapai. Kami pulang dan tidak penasaran lagi.

Sesampai di rumah, saya mulai membuat urap, Woro membuat es buah. Kata Woro es buah di rumahnya dibuat dari air kelapa tanpa campuran air. Di pikiran saya, kelapa yang dimaksud adalah kelapa kuning, lha, ternyata beneran kelapa hijau. Mantap kali ini hidup di desa, segalanya ada, tinggal petik.

Masakan semuanya matang tepat waktu. Menu berbuka kali ini, nasi, gule sapi, urap, sambel belut, tempe goreng, pisang goreng, pete, dan es buah. Tentu saya makan urap dulu sebelum nasi dan gule. Alhamdulillah, semua terlihat bahagia, makan bersama dengan lahapnya.

Kamis, 04 April 2024

#6 Hari Terakhir Sebelum Liburan

Hari terakhir sebelum liburan, kami punya agenda membahas riset salah satu teman kecil di kelas. Risetnya tentang Candi Gedongsongo. 

Pagi itu saya datang mepet jam masuk karena mengantar Tace terlebih dahulu ke fotokopian. Sampai di sekolah, saya langsung persiapan untuk agenda pagi itu. Kelas pindah ke ruangan kelas 6 karena kami butuh screen dan proyektor untuk nonton bareng.

Saya disambut oleh teman-teman kecil dengan berbagai cerita paginya. Ada yang bercerita tentang jadwal piket yang belum ada temannya, ada yang cerita kalau oleh-oleh mencatat provinsi di Indonesia, bahkan ada yang menggambar peta Indonesia dengan bagusnya. Saya sungguh menikmatinya. Hariku bahagia bukan? Tentu!

Kami memulai kegiatan kelas dengan berdoa, "Tuhanku, terima kasih atas pagi yang cerah ini, berkati kegiatan kami hari ini. Aamiin." Saya butuh satu semester untuk mengingat doa pagi, doa makan, doa pulang. :'') Kelas dibuka dengan laporan masing-masing anak atas tugasnya. Kami membahas 38 provinsi di Indonesia, pulau-pulau di Indonesia, lokasi Sabang dan Merauke, juga kota-kota yang pernah kami kunjungi. Saya bercerita kalau saya pernah ke NTT dan NTB, pengalaman naik kapal 4 hari 3 malam, nonton bioskop di kapal, dan keajaiban-keajaiban yang saya dapatkan selama perjalanan. Semoga teman-teman kecil ini juga dapat kesempatan untuk menjelajah dunia lebih jauh lagi ya! Aamiin.

Saya jadi teringat salah satu kawan saya dari Malaysia. Hampir tiap kali dia liburan selalu diisi dengan keliling dunia. Saya senang melihat postingan-postingan telegramnya penuh dengan trip ke berbagai belahan dunia. Dia cerita kalau dia baru saja liburan di Hawaii. Dia mengirimi saya cuplikan video di pantai. Cuacanya bagus katanya. Saya senang mendengarkan cerita-cerita perjalanannya. Semoga di lain kesempatan, dia bisa datang ke Jogja dan mengunjungi sekolah tempat saya belajar ini. Aamiin.

Kegiatan selanjutnya adalah nonton youtube tentang Candi Gedongsongo. Candi ini berada di kawasan Ungaran, Jawa Tengah. Saya sendiri belum pernah ke sana, tapi melihat videonya, di sana tempatnya sepertinya menarik. Makin ke sini, saya makin menyukai sejarah. Kalau dulu saat sekolah, saya tidak suka sejarah karena harus menghafal, Padahal belajar sejarah tidak hanya menghafal lho, dengan kita berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, kita bisa belajar banyak di sana. Dan saya bersyukur, saya bisa belajar di salah satu sekolah nonformal di Jogja ini. Terima kasih Tuhan.

Kelas dilanjutkan menonton Avatar di netflix. Teman-teman kecil semangat menontonnya. Saya juga senang melihat mereka tumbuh menjadi pribadi masing-masing dengan keunikannya sendiri-sendiri.

Jam 12 tiba, kami menutup kelas dengan berdoa, "Tuhanku terima kasih kami sudah bermain dan belajar, kami akan pulang, berkatilah...." Aamiin. Tiba-tiba ada yang punya usulan, sebelum kami pulang, mari bersalam-salaman. Kami berbaris memutar, bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Selamat lebaran dan berkumpul dengan keluarga! 

Senin, 29 Maret 2021

#29 Mari Luruskan Niat!

Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.

Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.

Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?

Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?

Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."

Semoga ada jalan.... Aamiin....

Minggu, 28 Maret 2021

#28 Terima Kasih!

Beberapa waktu yang lalu, Kak Rosa mengajak saya untuk terlibat Elege Inone, sebuah komunitas peduli pendidikan anak-anak Papua yang Kak Rosa dirikan bersama teman-temannya. Setelah bertemu Yesman dan Endi, saya memiliki kesempatan bertemu pula dengan Demite. Trio Kogoya ini sangat menginspirasi saya untuk bermimpi tentang Papua kembali.

Saya sangat senang saat Kak Rosa mengajak saya untuk ikut mengurus @magebaga IG @magebaga, salah satu brand Demite yang menjual barang-barang handmade seperti noken atau sulaman tangan Demite atau juga hasil desain Yesman. Tunggu produk-produk baru kami ya.... :)

Nah, kali ini ada 9 noken, 8 kiriman dari orang tua Demite untuk mendukung pendidikan Demite dan Yesman. Alhamdulillah, noken jualan kami habis. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membeli. :) Untuk kamu yang ketinggalan, tunggu info terbaru kami ya! Kamu juga bisa ikut membantu lho untuk pendidikan anak-anak Papua melalui @Elege Inone di link Elege Inone. Terima kasih :)


Catatan: Tulisan direvisi tanggal 11/4/2021



Sabtu, 27 Maret 2021

#27 Daun Dala - Mengenali Diri Sendiri Melalui Melukis di Tulang Daun

Daun Dala! Awalnya saya tertarik dengan namanya, bagus! Cerita yang baru saya tahu, Daun Dala adalah singkatan dari Daun Mandala. Bagus ya!

Nah, pertemuan saya dengan kak Prapti atau yang sering dipanggil kak Plap ini juga dari pertemanan Kak Rosa. Berasa banget dunia makin sempit lingkup pertemanan ini. Ya itu lagi itu lagi kalau kita bergerak di satu bidang. Seperti ada benang merah yang menghubungkan kami semua. Ya, seperti teman-teman saya di instagram ternyata ada mutualan sama kak Plap di bidang penguasaan diri dan pengenalan diri sendiri. Pas cerita-cerita, lah ternyata saya tahu beberapa kenalan Kak Plap dan saya ada ketertarikan di bidang yang kak Plap geluti. Hahaha, kadang itu membuat kami tertawa sambil berkata, lah ternyata kenal juga to? Iyak, segitu kocaknya hidup ini.

Di sesi bersama Daun Dala ini, saya belajar kembali menemukan diri sendiri. Ternyata apa yang dibilang kak Plap benar, sempat kak Plap bilang kalau dirinya akan berbeda saat mengisi sesi sama saat dirinya main bareng. Ya, kebetulan sempat ketemu sekali di tempat kak Rosa. Oh, bukan kebetulan ding, tapi itu memang jalan semesta tentang pertemuan kami. Tak ada yang kebetulan! Tambah lagi muatan positif dari jiwa-jiwa berenergi positif lagi dari Kak Plap dan Kak Rangga, plus teman baru Kak Mila, kawan satu kos Kak Juni.

Sebuah refleksi saya setelah mengikuti sesi Daun Dala. Kadang kita lupa membahagiakan diri sendiri dan lebih fokus untuk selalu membahagiakan orang lain. Kita juga lupa menghargai waktu dan energi untuk diri sendiri. Kadang pula saya pun masih memikirkan apa kata orang lain. Padahal yang bisa kita kontrol itu adalah respon kita terhadap orang lain. Kadang memori buruk selalu membayangi kita. Padahal sebenarnya kita punya banyak memori bahagia yang tersimpan dan itu yang membuat kita terus termotivasi. Dan satu hal yang membuat hidup bahagia, terencana tapi juga harus tetap fleksibel. Kenapa? Ketika kita saklek dengan rencana-rencana kita, ketika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai rencana mungkin itu akan menjadi penghambat kita untuk tetap menuju tujuan. Selain itu, terencana tapi tetap fleksibel ini artinya kita tetap menuju tujuan yang ingin kita dapatkan walaupun dalam prosesnya kita melalui jalan yang berbeda. Bisa jadi kita malah menemukan jalan baru yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Lalu, pertemuan saya dengan Kak Plap juga mengajarkan kepada saya untuk kembali ke alam. Sejatinya seperti proses perendaman daun dengan menggunakan air biasa. Mungkin menggunakan zat kimia akan cepat proses perendaman, tapi ketika kita mengikuti saja proses alam, itu akan memberi banyak kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Seperti contohnya, proses perendaman daun akan memakan waktu yang cukup lama jika kita menggunakan air biasa. Proses inilah yang akan melatih kesabaran diri. Selain itu, kita juga bisa menikmati prosesnya, kalau kata kak Plap, nikmati saja sesuai indera yang kita punya. Misalnya saja, indera pembau atau penciuman, nikmati saja bau tak sedap dari proses perendaman daun itu yang nantinya aroma itu akan sedikit demi sedikit pudar. Indera pendengaran, saat kita menyikat daun itu, kita akan lebih peka pada kapan kita harus berhenti, kapan kita harus terus menggosok daunnya agar daun tetap bagus dan tidak robek. Lalu indera penglihatan, daun hijau yang kita rendam beberapa waktu, kita akan amati selang beberapa waktu, warna hijaunya akan pudar dan berganti menjadi warna tulang daun yang transparan. Ini proses menarik menurut saya. Indera peraba, kita bisa merasakan bagian daun yang kasar dan daun yang halus, kapan kita menggunakan power maksimal atau sedang-sedang saja saat menyikat daun itu. Setiap daun kita tidak bisa melakukan atau memberi treatment yang sama karena karakteristik beda-beda. Begitu pula saat kita berteman atau bertemu dengan orang lain, tak semua orang bisa kita pukul rata kemampuan untuk merespon diri kita. Ya, kalau tidak mau patah atau rusak, ya kita harus tetap waras untuk berpikir dalam menanggapi respon orang lain. Ya, pada akhirnya walaupun kita sudah berhati-hati, tetap saja ada gesekan dengan orang lain. Tapi tergantung kita menyikapinya, mau tetap waraskah? Atau malah ikut berburuk sangka padahal alam pun sudah mengajarkan yang terbaik.

Ya, tak dipungkiri juga semakin kita dewasa semakin banyak sekali excuse dan pikiran yang ada di otak kita. Kita sibuk mencari alasan untuk tidak berani mengambil langkah atau mencoba sesuatu. Seperti di dalam pikiran kita itu gimana-gimana-gimana, gimana kalau gagal? Gimana kalau diomongin orang? Dan lain sebagainya. Sudah saatnya kita menandai hal-hal yang mengganggu dan tetap berpikir positif. Hal yang kita bisa kontrol adalah diri sendiri dan respon kita terhadap orang lain. Saya juga masih belajar tentang ini.... Bagaimana mengenali diri sendiri lebih dalam lagi....

Apakah kamu sudah mengenali diri sendiri dengan baik?

Tim belajar bareng Daun Dala


Cantik sekali daun bodi ini dan hasil karya kami


Tempat baru yang ternyata memang dijodohkan dengan tempat ini


Penjelasan tentang proses perendaman daun


Serius mikir ini sambil mengingat-ingat momen yang sudah-sudah




Jumat, 26 Maret 2021

#26 Mari Kita Potong Sudah!

Pagi-pagi anak-anak sudah ribut di depan gerbang. Memanggil-manggil saya yang masih juga baru bangkit dari rebahan. "Lah, memang hari ini kita belajar?" tanya saya. "Kita kan mau potong sabun hari ini!" balas mereka bersemangat.

Oh iya, lupa saya!

Sungguh semangat mereka belajar luar biasa. Langsunglah saya mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu dan saya bergegas mengambil sabun. Anak-anak itu pun girang melihat sabun mereka sudah mengeras dan siap dipotong. Sebenarnya banyak foto-foto yang kami dapatkan di hari sebelumnya, sayangnya hp saya tiba-tiba error dan beberapa memori foto yang kami punya hilang sudah. Sedih? Iya sih tapi ya sudah. Bukankah momen lebih melekat di hati daripada hanya sebuah foto. Ya kadang memang perlu suatu momen tanpa ada foto, ya nikmati saja begitu, bukan malah sibuk ambil foto sana ambil foto sini. Ya walaupun tak dipungkiri, pengambilan momen menggunakan foto akan mudah diingat kembali dan paling banter ya upload di social media. Ini sih yang masih sulit dihindari! Social media masih menjadi wadah untuk menyimpan foto-foto kenangan dan terkadang niatnya hanya untuk dapat like atau ajang woro-woro memberitahukan segala aktivitas ke teman-teman dunia maya. Jujur itu masih menjadi hal yang cukup sulit dihindari. Padahal kawan-kawan dunia maya kita itu 'they do not care about your life!' Ya, benar. Saya juga masih belajar untuk menangani hal ini.

Ya, kembali lagi ke cerita hari ini pemotongan sabun ya. Topiknya ini tuh kemana-mana. Hahaha. Maaf! Proses pemotongan menggunakan pisau. Anak-anak saya minta berpikir sebaiknya dipotong jadi berapa agar semua kebagian. Ada yang punya usul, "Duh, sayang dipotong sabunnya! Biar gitu sajalah kayak kue ulang tahun. Kalau mau pake dicolek saja!" Hahaha. Saya juga maunya gitu, sayang dipotong, habis bentuknya lucu! Hahaha Akhirnya kami bersepakat akan memotong menjadi 16 untuk yang block.

Usai potong-potong sabun, beberapa anak masih semangat belajar. Lalu saya minta saja mereka mengerjakan tugas dari sekolahnya. Nah, Aufar, salah satu anak mengambillah LKS sekolahnya. Dibukalah LKS dan mulai mengerjakan soal matematika. Topiknya adalah simetri lipat dan simetri putar. Aufar dengan cepatnya menyelesaikan soal-soal itu dan tibalah di soal tentang gambar baju dan diminta untuk mencari jumlah simetri lipat. Dia berpikir sambil mengingat-ngingat momen dimana dia lipat baju. Saat saya tahu kalau anak ini butuh visualnya, saya pun langsung mengambil kaos yang saya punya di lemari dan memberikan kaos itu kepada Aufar. Langsunglah dia mengeksekusi lipat baju! Ada 3 lipatan, katanya! Lalu saya pun mengajukan beberapa pertanyaan lanjutan. Saya minta tunjukkan simetri lipat itu seperti apa. Ternyata dia berpikir bahwa simetri lipat itu sama seperti saat kita melipat baju, ya karena kebetulan soalnya tentang baju. Duhhh!!! Masuk diakal sih ya, melipat baju ini. >.< Akhirnya saya jelaskan lagi konsep simetri putar dan simetri lipat.

Berlanjut, setelah saya belajar dengan anak-anak, saya jemput Kuro-chan dari klinik. Alhamdulillah, sudah bisa pulang ini anak kicik. :)


Kamis, 25 Maret 2021

#25 Membuat Sabun Ala Pandawa Lima

Pagi ini kami berkumpul kembali dengan ide membuat sabun. Ide ini tercetus setelah saya belajar dengan Ibu Guru Rosa beberapa hari yang lalu. Yak, sepertinya mudah jika diaplikasikan ke anak-anak. Baiklah! Yuk, buat!

Bahan-bahannya cukup mudah dan saya masih punya sisa praktik di kelas Kuri Rosa. Ada minyak kelapa, minyak zaitun, saya tambah minyak kelapa sawit (uji coba), air putih saya pakai air galon, soda api, pewangi saya pakai vanili, dan kunyit untuk pewarna alami. Ukuran-ukurannya saya sesuaikan dengan bahan minyak. Anak-anak menimbang sendiri bahan-bahannya dengan pantauan saya. Saya memperingatkan pada mereka kalau soda api berbahaya jika kena kulit karena bisa membuat kulit melepuh. Mereka pun sangat berhati-hati.

Mereka mengamati bagaimana proses mendidihnya campuran soda api dan air yang membuat mata perih, lalu mengamati panasnya baskom sampai menunggu dingin. Sungguhlah itu pengalaman pertama mereka mengenal beberapa jenis minyak goreng, soda api dan pembuatan sabun.

Setelah bahan-bahan sesuai hitungan Aufar, di sini Aufar menjadi tim hitung karena diyakini dia yang paling jago matematika. Hahaha, sesuai tugas ya! Prosesnya dimulai campur-campur bahan, lalu aduk-aduk dengan menggunakan hand blender. Walaupun ini pertama kalinya mereka menggunakan hand blender, tapi mereka cukup lihai lho! Mudah mengarahkan mereka untuk menggunakannya dengan hati-hati.

Refleksi saya, mereka itu anak-anak yang cerdas, rasa ingin tahunya tinggi, dan bertanggung jawab. Satu per satu akhirnya saya bisa tahu karakter masing-masing anak. Ya, mereka sungguhlah anak-anak yang membanggakan! Senang belajar dan antusias tinggi. Bahkan kalau sudah ke kosan saya, mereka tidak mau pulang! Hahaha.

Sabun kami jadi, dicetak dan besok siap dipotong! Terima kasih Pandawa Lima!

Rabu, 24 Maret 2021

#24 Menikmati Setiap Momen "Pecel dan Tempe"

Agenda berubah! Pagi ini saya bergegas pergi ke warung sayur. Saya pikir saya akan bertemu anak-anak pagi itu, tapi ternyata tak ada satu pun anak-anak yang menghampiri. Mungkin karena saya sudah bilang kalau hari ini libur sehari sebelumnya. Ya mungkin!

Awalnya, saya mau mengajak anak-anak sekalian belanja di warung, memilih bahan sendiri, memilah bahan, dan sepertinya seru jika ada bagian berbelanjanya. Tapi ya itu, ketika saya berangkat ke warung, tak ada satu pun anak-anak yang muncul di hadapan saya. Baiklah! Tidak apa-apa, mungkin bisa buat besok saja, begitu pikir saya sambil menenteng kardus yang penuh dengan belanjaan sayur-mayur.

Beberapa langkah sebelum memasuki gerbang kos, saya berpapasan dengan Febrian salah satu murid Pandawa Lima yang sedang santai sepedahan. Saya langsung saja menyapanya dan mengajak membuat tempe goreng hari ini saja. Lantas apa tanggapan anak itu? Dia sedikit tak percaya dan memastikan lagi ajakan saya itu sebelum akhirnya dia bergegas pergi menghampiri kawan-kawannya yang lain. Tak sulit mengumpulkan mereka sebenarnya. Kalau ketemu satu saja, dia akan segera memanggil yang lain. Terbukti, selang beberapa detik saja, anak-anak sudah berkumpul di depan gerbang kos. Alamakkk, cepat sekali rupanya mereka berkumpul. Okaylah! Baikkk!!!

Saya langsung segera mengajak mereka mempersiapkan bahan-bahan yang baru saya beli tadi keluar dari kardus. "Bayam, ini ambil saja daunnya, petik saja ya!" pintaku dengan memberi contoh. Mereka berebut bayam dan segera menyelesaikan petikan-petikan daunnya. Saya tanya iseng, kalian pernah petik bayam tidak? Mereka kompak jawab, belum pernah. Baik, jadi ini pengalaman pertama mereka masak-masak. Menu hari ini adalah pecel dan tempe goreng Pandawa Lima. Yak, tempe yang 2 hari lalu kami buat itu sudah matang dan siap digoreng. Berhasil jadi juragan tempe kita! Serius banyak, ada kali 50 biji sendiri itu tempe. Hahaha. Kalap!

"Daun bawang, kupas saja, terus potong-potong," mintaku. Kali ini Ridho dan Aufar bertugas. Teman yang lain buka-buka tempe daun. Belum juga selesai potong-potong, tetiba Aufar berkata, "Mbak, aku nangis! Pedes banget ini daun bawangnya." Ridho ikut menimpali. Kulihat keduanya dengan mata berkaca-kaca, nangis karena pedas dan bawang. Lucu sekali liat mereka! Ini pastinya membuat pengalaman pertama mereka iris daun bawang dan nangis. Hahaha.

Berlanjutlah kami mengocok telur dan membuat bumbu tepung untuk goreng tempe. Semuanya kami bekerja dalam tim. Ada yang aduk-aduk, ada yang kasih bumbu, ada yang memantau, lengkap sudah. Satu hal yang saya pelajari, ternyata handle mereka cukup sulit di awal-awal. Energi mereka seakan berlebih, kinestetik sekali. Satu dipanggil, yang lain kabur entah kemana. Saya sering sekali peringatkan untuk tidak lari-larian di dalam rumah, tapi gagal. Cara itu tidak mempan. Hahaha. Lalu saya pun memakai cara lain agar mereka tetap terkontrol. Yak, kasih tanggung jawab saja mereka! Dua anak yang paling anteng adalah Febrian dan Rafqi, keduanya dari awal paling banyak membantu urusan menggoreng dan merebus. Aman! Ridho, Hanan, dan Aufar? Jangan tanya, mereka berlarian! Hahaha. Alhasil saya selalu panggil nama mereka satu per satu untuk mengemban beberapa tugas, seperti cuci piring, aduk telur, goreng tempe, atau yang paling ngena, akhirnya Hanan lebih aktif dan rajin membantu mengurus tempe goreng kesayangannya. :) Aufar menyelesaikan tugasnya cuci piring, dan Ridho mencicip makanan. :) Semua sesuai porsinya masing-masing.

Tempe goreng dapat satu bakul hahaha. Telur dadas satu wajan teflon, nasi sudah matang, sambal satu mangkok yang ngaduknya membuat Febrian dan Hanan pegal-pegal tangannya, sayuran bayam dan tauge matang dari awal. Sudahlah, lengkap! Ohhh, satu lagi, daun pisang untuk makan tugas Aufar ambil di kebunnya. Dia lihai ambil sendiri daun pisangnya tanpa bantuan, tiba-tiba bawa pisau, langsung potong, dapatlah daun pisang segar. Asyik!!!

Kami menggelar makan bersama di teras kos. Satu daun pisang dibuat alas, makan bersama ala-ala hajatan. Mantap!!! Hari ini kami punya perut kenyang sudah!