Tampilkan postingan dengan label #TentangPerbedaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #TentangPerbedaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2024

#41 Happy Birthday!

Happy birthday to you! 9 Mei!

Apa kabar kamu? Sehat selalu ya.... Dua hari yang lalu, tak sengaja aku melihat postinganmu di salah satu grup facebook. Ternyata kita beririsan di grup itu. Kamu berbagi cerita tentang perjalananmu ke Jepang. Nice! Setelah lebih dari 3 minggu ini saya berusaha untuk tidak kepoin kamu, aku senang mendapat kabarmu lagi walau hanya lewat social media. Aku tak perlu tanya kabar kamu lagi kan? Dan aku tidak perlu khawatir lagi karena kamu masih sehat dan bahagia....

Lalu, hari ini kamu ulang tahun ya.... Aku sengaja tak mengucapkan langsung ke kamu. Cukuplah di tulisan sini saja dan dalam doa baik. Aku tak mau mengganggu hidupmu lagi. Biar kamu bahagia dengan caramu sendiri. Dan aku juga bahagia dengan caraku sendiri. Terima kasih ya, sudah mengajarkan bagaimana cara membahagiakan diri sendiri. Terima kasih sudah mengajarkan apa itu kasih sayang dan cinta. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana cara mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Terima kasih ya sudah pernah datang di dalam cerita hidupku sejauh ini. Aku belajar untuk merelakan dan menerima. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana bersikap dewasa dan menjadi teman yang baik.

Di tahun ini, aku belajar memperbaiki diri dan belajar mengenali diri sendiri. Aku belajar untuk mengambil sikap. Aku memilah hal mana saja yang perlu aku pertahankan dan mana yang perlu aku tinggalkan. Aku belajar untuk merelakan dan melepas segala sesuatu yang memang ingin pergi. Terima kasih ya sudah menyadarkan aku tentang arti hidup menerima dan memberi.

Teruntuk kamu, sehat-sehat ya.... Bahagia selalu.... Aku berhenti untuk tanya kabarmu.... Aku berhenti untuk mau tahu urusanmu.... Aku berhenti untuk menghubungimu.... Aku berhenti untuk meresponmu.... Aku berhenti untuk memikirkanmu.... Bukan berarti aku benci, bukan.... Aku hanya memberi waktu untuk diriku sendiri. Fokus pada diriku yang selama ini aku fokus pada orang lain. Aku kembali fokus pada goals dan hidupku.... Pergilah dengan bahagia!

Suatu hari nanti ketika kita bertemu kembali, mari bercerita banyak hal.... Suatu hari nanti ya! Bahagia dan damai selalu.... Selamat ulang tahun ya.... Doa-doa baik untukmu.... Thank you!

Senin, 29 Maret 2021

#29 Mari Luruskan Niat!

Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.

Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.

Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?

Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?

Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."

Semoga ada jalan.... Aamiin....

Sabtu, 27 Maret 2021

#27 Daun Dala - Mengenali Diri Sendiri Melalui Melukis di Tulang Daun

Daun Dala! Awalnya saya tertarik dengan namanya, bagus! Cerita yang baru saya tahu, Daun Dala adalah singkatan dari Daun Mandala. Bagus ya!

Nah, pertemuan saya dengan kak Prapti atau yang sering dipanggil kak Plap ini juga dari pertemanan Kak Rosa. Berasa banget dunia makin sempit lingkup pertemanan ini. Ya itu lagi itu lagi kalau kita bergerak di satu bidang. Seperti ada benang merah yang menghubungkan kami semua. Ya, seperti teman-teman saya di instagram ternyata ada mutualan sama kak Plap di bidang penguasaan diri dan pengenalan diri sendiri. Pas cerita-cerita, lah ternyata saya tahu beberapa kenalan Kak Plap dan saya ada ketertarikan di bidang yang kak Plap geluti. Hahaha, kadang itu membuat kami tertawa sambil berkata, lah ternyata kenal juga to? Iyak, segitu kocaknya hidup ini.

Di sesi bersama Daun Dala ini, saya belajar kembali menemukan diri sendiri. Ternyata apa yang dibilang kak Plap benar, sempat kak Plap bilang kalau dirinya akan berbeda saat mengisi sesi sama saat dirinya main bareng. Ya, kebetulan sempat ketemu sekali di tempat kak Rosa. Oh, bukan kebetulan ding, tapi itu memang jalan semesta tentang pertemuan kami. Tak ada yang kebetulan! Tambah lagi muatan positif dari jiwa-jiwa berenergi positif lagi dari Kak Plap dan Kak Rangga, plus teman baru Kak Mila, kawan satu kos Kak Juni.

Sebuah refleksi saya setelah mengikuti sesi Daun Dala. Kadang kita lupa membahagiakan diri sendiri dan lebih fokus untuk selalu membahagiakan orang lain. Kita juga lupa menghargai waktu dan energi untuk diri sendiri. Kadang pula saya pun masih memikirkan apa kata orang lain. Padahal yang bisa kita kontrol itu adalah respon kita terhadap orang lain. Kadang memori buruk selalu membayangi kita. Padahal sebenarnya kita punya banyak memori bahagia yang tersimpan dan itu yang membuat kita terus termotivasi. Dan satu hal yang membuat hidup bahagia, terencana tapi juga harus tetap fleksibel. Kenapa? Ketika kita saklek dengan rencana-rencana kita, ketika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai rencana mungkin itu akan menjadi penghambat kita untuk tetap menuju tujuan. Selain itu, terencana tapi tetap fleksibel ini artinya kita tetap menuju tujuan yang ingin kita dapatkan walaupun dalam prosesnya kita melalui jalan yang berbeda. Bisa jadi kita malah menemukan jalan baru yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Lalu, pertemuan saya dengan Kak Plap juga mengajarkan kepada saya untuk kembali ke alam. Sejatinya seperti proses perendaman daun dengan menggunakan air biasa. Mungkin menggunakan zat kimia akan cepat proses perendaman, tapi ketika kita mengikuti saja proses alam, itu akan memberi banyak kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Seperti contohnya, proses perendaman daun akan memakan waktu yang cukup lama jika kita menggunakan air biasa. Proses inilah yang akan melatih kesabaran diri. Selain itu, kita juga bisa menikmati prosesnya, kalau kata kak Plap, nikmati saja sesuai indera yang kita punya. Misalnya saja, indera pembau atau penciuman, nikmati saja bau tak sedap dari proses perendaman daun itu yang nantinya aroma itu akan sedikit demi sedikit pudar. Indera pendengaran, saat kita menyikat daun itu, kita akan lebih peka pada kapan kita harus berhenti, kapan kita harus terus menggosok daunnya agar daun tetap bagus dan tidak robek. Lalu indera penglihatan, daun hijau yang kita rendam beberapa waktu, kita akan amati selang beberapa waktu, warna hijaunya akan pudar dan berganti menjadi warna tulang daun yang transparan. Ini proses menarik menurut saya. Indera peraba, kita bisa merasakan bagian daun yang kasar dan daun yang halus, kapan kita menggunakan power maksimal atau sedang-sedang saja saat menyikat daun itu. Setiap daun kita tidak bisa melakukan atau memberi treatment yang sama karena karakteristik beda-beda. Begitu pula saat kita berteman atau bertemu dengan orang lain, tak semua orang bisa kita pukul rata kemampuan untuk merespon diri kita. Ya, kalau tidak mau patah atau rusak, ya kita harus tetap waras untuk berpikir dalam menanggapi respon orang lain. Ya, pada akhirnya walaupun kita sudah berhati-hati, tetap saja ada gesekan dengan orang lain. Tapi tergantung kita menyikapinya, mau tetap waraskah? Atau malah ikut berburuk sangka padahal alam pun sudah mengajarkan yang terbaik.

Ya, tak dipungkiri juga semakin kita dewasa semakin banyak sekali excuse dan pikiran yang ada di otak kita. Kita sibuk mencari alasan untuk tidak berani mengambil langkah atau mencoba sesuatu. Seperti di dalam pikiran kita itu gimana-gimana-gimana, gimana kalau gagal? Gimana kalau diomongin orang? Dan lain sebagainya. Sudah saatnya kita menandai hal-hal yang mengganggu dan tetap berpikir positif. Hal yang kita bisa kontrol adalah diri sendiri dan respon kita terhadap orang lain. Saya juga masih belajar tentang ini.... Bagaimana mengenali diri sendiri lebih dalam lagi....

Apakah kamu sudah mengenali diri sendiri dengan baik?

Tim belajar bareng Daun Dala


Cantik sekali daun bodi ini dan hasil karya kami


Tempat baru yang ternyata memang dijodohkan dengan tempat ini


Penjelasan tentang proses perendaman daun


Serius mikir ini sambil mengingat-ingat momen yang sudah-sudah




Minggu, 14 Maret 2021

#14 Kedamaian di Tengah Perbedaan

 Ini kali pertama saya ke Ganjuran. Itu pun diajak Kak Rosa karena awalnya aku ingin juga ke sana dan kebetulan Kak Rosa juga ingin ke sana. Ya sudah ikut!

Kami berangkat setengah tujuh malam. Kak Rosa menjemput saya di kosan walaupun ada agenda nyasar nyari alamat saya. Memang kos saya di daerah perkampungan yang masuk gang, tak sedikit teman yang nyasar ke kos saya. Baiklah, kami berangkat dengan vespa milik Kak Rosa yang walaupun 2 tahun tak dipakai, habis servis, mesinnya pun tetap bagus.

Jadi ingat vespa milik keluarga saya sewaktu saya masih kecil. Dulu bapak pernah punya vespa warna biru. Vespa itu masih melekat erat dalam ingatan saya, ya mungkin karena berkesan di hati, apalagi sama bapak, pastilah masih terekam baik di kepala saya. Ya, masih ingat, dulu bapak sering mengantar ke sekolah naik vespa. Bahkan saya masih ingat sewaktu TK, saya nangis gak mau sekolah karena tidak dinaikkan ke kelas satu dengan alasan belum cukup umur diantar naik vespa itu. Lalu aku teringat lagi memori hampir jatuh di selokan jembatan kecil hanya muat satu motor, itu pun licin, saat pulang dari rumah nenek, digonceng ibu. Ya maklum, motor vespa kan gede bentuknya, sedangkan ibu nyetir dengan membawa 3 anak, 2 di depan, dan saya di belakang. Hal yang saya ingat waktu menyeberang jalan kecil itu, ibu oleng karena tikungannya memang cukup curam ditambah habis hujan. Tapi saya tidak ingat jatuhnya ditolongin orang atau nggak, yang pasti belum sampai jatuh ke selokan. Itu jembatan kecil bikin saya trauma. Ingat betul tiap lewat jalan itu, saya selalu pejamkan mata, takut jatuh. Terus juga saya ingat kenangan sewaktu kecil tentang vespa. Vespa bapak juga pernah dipakai jalan jauh Blora-Purwodadi ke rumah Pak Dhe. Keluarga saya berlima, bisa dibayangkan seperti apa itu vespa dipakai buat berlima. Saya dan adik saya di depan, terus bapak, terus ibu sambil gendong adik saya paling kecil. :) Setelah saya pikir-pikir, ternyata kuat juga itu vespa. Terus lagi, vespa juga mengingatkan saya belajar menyebutkan huruf "R". Setiap kali pulang dari rumah embah, sepanjang jalan saya disuruh berlatih menyebutkan huruf "R" oleh Bapak. :) Banyak kenangan ternyata sama vespa. :)

Saya tak ingat kenapa vespa Bapak dijual. Mungkin perawatannya mahal kali ya.... Entahlah.... Dan ini, setelah hampir 25 tahun, saya baru kali kemarin naik vespa lagi. Walaupun kaki saya tidak nyampe buat taruh di sandaran kaki. Ngakak sepanjang jalan, menertawakan diri sendiri karena kaki gak sampe itu. 😅😅😅

Nah, akhirnya kami sampai juga di Gereja & Candi Ganjuran. Hari Minggu malam ramai karena orang-orang pulang Misa. Hawanya enak sekali, mungkin perlu dicoba ke Ganjuran tapi bukan hari Minggu, sepertinya lebih tenang. Kami masuk dengan berbagai pengecekan suhu badan dan cuci tangan. Kak Rosa mengajak saya ke salah satu mata air yang dibuat pancuran. Katanya, airnya memiliki kandungan zat-zat menyehatkan. Makanya, tiap ke tempat ini, Kak Rosa dan beberapa pengunjung bawa botol minum. Airnya segar, saya minum juga dari kerannya langsung. Cuci muka dan basuh tangan kaki.

Lalu dilanjutkan kami berdiam diri di salah satu tempat tenang di salah satu pojok bangunan. Entah mengapa saya langsung teringat kunjungan saya ke salah satu candi di Sri Lanka. Aroma dupa dan lilin-lilin yang menyala di dua tempatnya. Lalu, saya mulai berdoa dan berefleksi diri. Cukup dengan berdiam diri saja, entah mengapa saya menitikkan air mata. Lagi-lagi saya sedih karena sebagian dari kita saling mencerca agama lain. Padahal, menurut saya tiap agama selalu mengajarkan kedamaian. Ahhh, semoga dunia tetap menebar kedamaian. Aamiin. Rasa itu muncul lagi persis seperti saat saya menangis di salah satu gereja di Satar Lenda. Rasa yang sulit dideskripsikan, hanya saja berada di tengah-tengah perbedaan rasanya begitu damai!

Bukankah perbedaan seharusnya saling melengkapi? Kapan-kapan aku mau ke Ganjuran lagi!