Tampilkan postingan dengan label #TentangPendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #TentangPendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2024

#25 Revolver yang Kendor

Agenda hari ini adalah mengamati benda-benda di sekitar dengan mikroskop. Ya, mikroskop baru yang kami terima, masih kondisi yang excited. Masih ada rasa penasaran kami. Terlebih lagi, ini adalah pertama kalinya kami belajar dengan menggunakan mikroskop. Saya sendiri juga sudah belasan tahun tidak pegang mikroskop. :D Terakhir kali eksperimen dengan mikroskop itu saat saya masih SMA tahun 2008-2009 lah. Lama sekali yak! Hahaha

Hari ini jam pertama diisi dengan membaca cerita liburan. Awalnya memang mau menjadikan opsi terakhir cerita liburan itu, tapi saya memilih untuk tetap menyelesaikan cerita liburan walaupun anak-anak sudah komplain karena ingin segera bereksperimen. Akhirnya, kami menyelesaikan cerita liburan dengan kebosanan. Saya pun menyadari hal itu. :D Cerita liburan pun selesai.

Kami persiapan alat dan bahan untuk eksperimen. Lalu, salah satu anak menyiapkan mikroskop. Anak-anak yang lain mencari sampel dari lingkungan sekitar, boleh daun, bunga, air sawah, lumpur sawah, dan lainnya. Setelah kembali, ada salah satu anak membawa ikan kecil dari kali dekat sekolah. Saya lihat masih hidup. Sontak saya kasihan dengan ikan itu, alhasil saya bilang ke anak itu kalau saya kasihan melihat ikan itu kalau masih hidup. :D Haha bukan guru sains, jadi gak tega liat ikan masih hidup harus dilukai. :X

Kemudian, ada kejadian yang membuat kelas tidak kondusif. Yups! Mikroskopnya kendor revolver-nya, tapi saya tidak bisa membetulkannya. Awalnya, saya panik, tapi saya atur napas agar saya tidak panik karena kelas harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Saya mengatakan, "Ya nggak papa, ini nanti tinggal diservis dulu, tapi ini masih bisa digunakan, yuk coba kita gunakan."

Beberapa anak tampak kecewa. Baru juga sehari, masak mikroskopnya rusak. :P Lalu, saya mencoba berpikir positif agar suasana tetap kondusif. Siapa sangka kalau kerusakan itu, ternyata membuat kami berdiskusi tentang sikap apa saja yang sebaiknya dilakukan ketika berada di laboratorium. Kami juga belajar tentang bagian-bagaian mikroskop. Beberapa anak juga semangat untuk menyetel mikroskop agar teman-temannya yang lain bisa melihat objek dengan jelas. Kelas hari ini diakhiri dengan diskusi yang menyenangkan. Belajar dari sebuah kesalahan dan belajar untuk respect di kelas.

Sepulang dari sekolah, saya lanjut ke tempat servis mikroskop di daerah utara, sekitar satu jam dari Bantul. Di tengah perjalanan, hujan deras, tapi saya tetap paksakan lanjut perjalanan. Sampai di suatu kondisi, saya memutuskan untuk berhenti ngiup di bengkel pojok karena baju saya sudah basah walaupun menggunakan mantel. Hujannya juga dibarengi dengan petir. Ini pertama kalinya saya menerobos hujan lebat selama di Jogja. Saya berusaha untuk tetap tenang. Sambil menunggu hujan sedikit reda, saya tak berani buka HP karena kilatan petir dimana-mana. Saya hanya duduk diam. Mengamati air hujan turun deras. Sesekali memperhatikan orang-orang lewat yang ikut ngiup di seberang jalan. Air jalanan yang meluber dan membuat cipratan saat kendaraan lewat. Saya benar-benar hanya mengamati. Bayangan saya mengembara membuat kemungkinan-kemungkinan terjadi. Misalnya tadi saya tidak pergi ke tempat servis pasti saya bisa tidur di kos. Beberapa pikiran serupa muncul begitu saja. Tapi saya kembali tersadar bahwa saya menikmati perjalanan ini. Saya menikmati air hujan yang membasahi pakaian saya. Saya menikmati hawa dingin yang melewati muka saya. Saya menyadari semua itu. Kapan lagi saya bisa hujan-hujanan ya kan? Semua itu saya coba sadari kembali dengan tidak menyangkal dengan segala kemungkinan kalau ini ya ini kalau itu ya itu. Semua perlu disadari keberadaannya.

Hujan mulai reda, tetapi masih gerimis. Saya pun berpamitan dengan bapak yang dari tadi duduk di kursi sebelah, saya berterima kasih sudah bertemu orang baik yang mengizinkan saya ikut duduk ngiup. Setelah mengecek google maps, jaraknya tinggal beberapa menit saja. Lalu, saya putar motor dan melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari sana, motor saya memasuki jalanan yang cekung sepertinya masuk sebagian ke got. Saya langsung tancap gas, dalam hati, ayo bisa yok, jangan terperosok. Saya kurang hati-hati memilih jalan dan terlalu ke pinggir. Ada genangan air yang ternyata parit. Untungnya, motor saya aman dan saya masih bisa melanjutkan perjalanan. Memang harus banyak-banyak bersyukur.

Sampai di lokasi, saya sudah basah pakaian saya. Sampai bisa diperas airnya. Lalu, saya masuk ke tempat servis. Ada mbak-mbak yang menyambut saya dan mempersilakan saya masuk. Saya sudah bilang kalau saya basah, dan katanya tidak apa-apa. Di sana kursinya sofa, jadi saya memilih duduk di lantai sambil membuka mikroskop. Lalu mas teknisi datang dan langsung menanyakan keluhan mikroskopnya apa. Saya bilang kalau revolvernya kendor, entah patah entah gimana, lalu masnya hanya bilang kalau ini hanya kendor, lalu diperbaiki. Masnya mempersilakan ke saya duduk di sofa saja, tapi saya memilih tetap di lantai. Ya karena benar-benar basah baju saya. :") Sambil uji coba mikroskop, mas nya tanya dari mana, saya jawab, dari Bantul. Saya bercerita tentang sekolah saya dan menceritakan pula kronologinya. Lalu saya tanya tentang kantornya ini hanya servis atau jual juga, ternyata tempat servis ini untuk pengadaan barang-barang laboratorium baik bijian maupun jumlah besar. Selesai servis, masnya bilang kalau simpan saja nomornya agar kalau ada apa-apa saya bisa menghubungi tanpa harus ke kantornya. Ternyata rumah masnya di daerah Godean, jadi kadang kerjanya muter-muter ngecek dari satu lab ke lab lainnya. Wah, dengan senang hati kalau begitu, tidak perlu jauh-jauh lagi ke sini untuk servis. 

Satu hal yang saya pelajari hari ini, semua yang datang hari ini pasti ada pembelajaran, jadi tetap tenang dan nikmati prosesnya. Mari selalu bersyukur!


Senin, 22 April 2024

#24 Hari Pertama Sekolah

Hari pertama masuk sekolah! Agenda hari ini adalah menyiapkan kelas. Ada alat-alat baru dari Ozan, ada peta dunia dan peta Indonesia, lalu ada mini lab dan mikroskop baru. Anak-anak sangat senang mendapatkan hal-hal baru itu. Terima kasih ya Ozan!

Kami makan bersama snack lebaran yang telah kami bawa, kalau Bu Er bilang, itu adalah THR (Turahan Hari Raya). Kami duduk melingkar sambil menikmati jajanan lebaran, Ada dodol, selondok, sale pisang, biskuit, puding, dan beberapa makanan lainnya. Saya membawa permen warna-warni dan permen jelly, anak-anak suka dan alhamdulillah habis juga akhirnya setelah beberapa hari nganggur di kosan. Semua senang, semua punya cerita, dan bahagia selalu.

Lalu, ada hal yang membuat saya kagum. Salah satu anak di kelas kami, sangat penasaran dengan mikroskop yang saya bawa itu. Dia mengutak-atik mikroskop yang dari kemarin-kemarin gagal saya operasikan. Saya kasih satu sampel lapisan bawang merah di kaca objeknya. Entah, detik ke berapa dia sangat excited menunjukkan ke saya kalau setting objeknya sudah benar. Saya langsung menghampirinya dan benar saja, untuk pertama kalinya objeknya terlihat. Ahhh, saya bangga sama ini anak. Dia berhasil! Lalu saya mengajak anak-anak yang lain untuk mengamati objek tadi bergantian. Mikroskop diputar ke seluruh anak di kelas. Lalu kami menyebutnya sebagai Professor Earth. :D Panggilan yang sangat cocok untuk anak ini. Saya pun tambah kagum dengan cara kerja dia. Anak yang istimewa. Dia sangat suka hal-hal yang detail seperti bongkar pasang dan hal-hal teknis. Saya salut dengannya!

Memang ya, di kelas ini saya bertemu dengan anak-anak yang sangat unik dan istimewa. Dan memang pada kenyataannya setiap anak adalah istimewa. Saya belajar banyak hal di sini. Ternyata sudah hampir satu tahun saya menjadi volunteer di tempat ajaib ini. Saya belum memutuskan apakah semester depan masih lanjut ataukah tidak. Saya belum menentukan pilihan dan belum ada rencana ke depan seperti apa. Satu hal yang saya harus selesaikan adalah thesis saya. Ayolah semangat untuk diriku! Kita bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu! Ayo, bisa!

Saya bersyukur untuk diri saya saat ini. Saya bersyukur berada di lingkungan yang mendukung. Saya bersyukur dipertemukan orang-orang baik. Saya bersyukur untuk hidup saya saat ini. Terima kasih Tuhan atas kemudahan dan keberuntungan yang telah saya dapatkan saat ini. Mari bahagia!

Jumat, 19 April 2024

#21 Teman Baik Adalah Rezeki

Beberapa hari yang lalu, Ozan menawarkan bantuan apa yang dibutuhkan anak-anak. Lalu saya berkata, kami membutuhkan peta Indonesia dan peta dunia, saya juga ingin ada lab sains di kelas. Lalu, Ozan menanyakan berapa biaya untuk membuat itu semua. Saya langsung bilang kalau saya akan menghitungnya terlebih dahulu. Ozan pun mengiyakan.

Alhamdulillah ya, punya teman-teman baik itu salah satu hal yang wajib disyukuri. Semua itu rezeki dari Tuhan untuk kita. Beberapa bulan lalu, saya bermimpi memiliki perpus di kelas 5 dengan buku-buku bacaan pilihan anak-anak. Lalu, Ozan menawarkan bantuan sehingga perpustakaan kelas 5 pun terealisasi dengan baik. Terima kasih Ozan, terima kasih sudah membantu merealisasikan mimpi kecil saya dan anak-anak. :D

Lalu, beberapa bulan lalu, kelas kami membutuhkan peta untuk belajar ilmu sosial. Tapi kelas 5 belum punya peta. Alhasil, kami pinjam peta di kelas 3 untuk belajar peta. Sebenarnya, ini sudah jadi kegelisahan saya beberapa waktu lalu saat kami menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke, tapi saat saya tanya dimana itu Sabang? dimana itu Merauke, hanya sebagian yang bisa menjawab benar, tapi mereka pun tidak yakin. Lalu, pencarian harga peta yang sesuai dengan kantong pun dimulai. Tapi belum juga beli karena harganya cukup mahal dengan kualitas yang cukup bagus. Masih mempertimbangkan harga yang lebih ramah di kantong. Hehe.

Sebenarnya Ozan sudah beberapa kali menanyakan, anak-anak butuh apa, tapi saya selalu jawab belum ada lagi yang dibutuhkan. Saat Ozan bertanya lagi, momennya sangat pas, saya pun memberanikan diri untuk mengatakan kebutuhan anak-anak. Dan sepertinya memang Ozan adalah orang baik yang dikirim Tuhan untuk membantu saya. Terima kasih ya Ozan, ladang pahala untukmu. Aamiin.

Dan hubungannya sama hari ini adalah beberapa pesanan untuk persiapan kelas ilmu sosial dan kelas sains, sudah datang ke kos saya. Senang akhirnya kelas 5 punya peta baru. Mikroskop juga sudah datang, saya masih mencoba mengingat pengalaman SMA saya dulu mengoperasikan mikroskop. Ini masih jadi PR saya untuk mempelajarinya dan mengajarkan ke anak-anak cara mengoperasikannya. :D Perlengkapan mini lab masih ada yang di tahap pengiriman. Yey!

Lalu, saya membuka atlas peta Eropa, saya lihat beberapa negara yang jadi impian saya. Saya berkata ke Fitri, entah kenapa saat saya melihat peta Eropa, saya merasa yakin bahwa saya bisa tinggal di sana juga. Aamiin. Fitri pun mengamini. Dan, mulai lagi saya membuka buku impian saya, membaca ulang mimpi-mimpi itu lagi. Semangat melanjutkan hidup muncul lagi. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang hebat dan selalu menginspirasi. Terima kasih ya Fitri dan Ozan, sudah mendukung saya. Semoga bahagia dan keberlimpahan keberuntungan selalu menyertai kita semua. Salam bahagia dan damai!

Selasa, 30 Maret 2021

#30 Alasan yang Hilang

"Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka - itu hanya menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka." - Lao Tzu (link)

Ya, belakangan ini saya sedang kembali menemukan alasan yang hilang tentang beberapa hal yang ingin saya capai. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap menjaga semangat dan niat hati untuk terus bermimpi. Dan mungkinkah semangat itu akan roboh begitu saja saat ada orang yang mengatakan, "Kenapa harus Papua?" Lagi-lagi saya kehilangan alasan yang kuat mengapa harus Papua!

Entahlah, tapi pencarian tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di televisi saat saya masih SMP atau SMA. Saya lupa! Entah itu mungkin malah sewaktu kuliah. Saya tak ingat. Ada sebuah acara semacam jejak petualang atau pengenalan budaya Indonesia. Ya, saya tiba-tiba ingat itu. Hal yang masih sangat saya ingat adalah tentang Papua, kehidupan Mama-Mama Papua. Menanam ubi, berjalan jauh ke pasar untuk menjajakan sayuran. Bagaimana menghuni rumah dengan atap jerami dengan tungku di tengahnya. Sepertinya itu gambaran yang pernah terekam dalam memori saya mengenai Papua. 

Lalu, ditambah lagi saya sangat suka film Laskah Pelangi dan Alangkah Lucunya Negeri Ini saat saya kuliah. Sepertinya, gambaran tentang kehidupan daerah pedalaman menyisakan memori yang sungguh dalam di ingatan saya. Dan keinginan untuk mengunjungi dan tinggal di pedalaman pun tumbuh seiring waktu. Ah, apakah impian saya itu terlalu muluk-muluk? Entahlah....

Bahkan ketika ada pertanyaan yang muncul mengapa saya tak menjadi guru sekolah di Jakarta dan malah memilih menjadi pekerja lepas, saya selalu menjawab, saya tak ingin menghabiskan banyak waktu di jalan karena macetnya Jakarta, jika saya ingin menjadi guru sekolah, saya ingin menjadi guru di pedalaman. Dan itu impian yang hingga saat ini masih saya pupuk, masih saya perjuangkan.

Tahun ini menurut saya adalah waktu yang cocok untuk kembali memperjuangkan mimpi itu setelah 8 tahun mati suri. Kesempatan yang pas di saat semua yang dulu-dulu menjadi penghambat, di tahun ini pula sudah tuntas terselesaikan dengan baik. Jika memang tahun ini tahun baik untuk saya pergi dan mewujudkan impian saya itu, semoga Tuhan memberi rencana yang terbaik. Jika memang belum, saya mungkin perlu belajar lagi lebih banyak hingga saya siap untuk pergi sesuai rencana Tuhan.

Ahhh, terima kasih semesta sudah membawa saya sejauh ini!



Senin, 29 Maret 2021

#29 Mari Luruskan Niat!

Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.

Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.

Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?

Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?

Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."

Semoga ada jalan.... Aamiin....

Minggu, 28 Maret 2021

#28 Terima Kasih!

Beberapa waktu yang lalu, Kak Rosa mengajak saya untuk terlibat Elege Inone, sebuah komunitas peduli pendidikan anak-anak Papua yang Kak Rosa dirikan bersama teman-temannya. Setelah bertemu Yesman dan Endi, saya memiliki kesempatan bertemu pula dengan Demite. Trio Kogoya ini sangat menginspirasi saya untuk bermimpi tentang Papua kembali.

Saya sangat senang saat Kak Rosa mengajak saya untuk ikut mengurus @magebaga IG @magebaga, salah satu brand Demite yang menjual barang-barang handmade seperti noken atau sulaman tangan Demite atau juga hasil desain Yesman. Tunggu produk-produk baru kami ya.... :)

Nah, kali ini ada 9 noken, 8 kiriman dari orang tua Demite untuk mendukung pendidikan Demite dan Yesman. Alhamdulillah, noken jualan kami habis. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membeli. :) Untuk kamu yang ketinggalan, tunggu info terbaru kami ya! Kamu juga bisa ikut membantu lho untuk pendidikan anak-anak Papua melalui @Elege Inone di link Elege Inone. Terima kasih :)


Catatan: Tulisan direvisi tanggal 11/4/2021



Sabtu, 27 Maret 2021

#27 Daun Dala - Mengenali Diri Sendiri Melalui Melukis di Tulang Daun

Daun Dala! Awalnya saya tertarik dengan namanya, bagus! Cerita yang baru saya tahu, Daun Dala adalah singkatan dari Daun Mandala. Bagus ya!

Nah, pertemuan saya dengan kak Prapti atau yang sering dipanggil kak Plap ini juga dari pertemanan Kak Rosa. Berasa banget dunia makin sempit lingkup pertemanan ini. Ya itu lagi itu lagi kalau kita bergerak di satu bidang. Seperti ada benang merah yang menghubungkan kami semua. Ya, seperti teman-teman saya di instagram ternyata ada mutualan sama kak Plap di bidang penguasaan diri dan pengenalan diri sendiri. Pas cerita-cerita, lah ternyata saya tahu beberapa kenalan Kak Plap dan saya ada ketertarikan di bidang yang kak Plap geluti. Hahaha, kadang itu membuat kami tertawa sambil berkata, lah ternyata kenal juga to? Iyak, segitu kocaknya hidup ini.

Di sesi bersama Daun Dala ini, saya belajar kembali menemukan diri sendiri. Ternyata apa yang dibilang kak Plap benar, sempat kak Plap bilang kalau dirinya akan berbeda saat mengisi sesi sama saat dirinya main bareng. Ya, kebetulan sempat ketemu sekali di tempat kak Rosa. Oh, bukan kebetulan ding, tapi itu memang jalan semesta tentang pertemuan kami. Tak ada yang kebetulan! Tambah lagi muatan positif dari jiwa-jiwa berenergi positif lagi dari Kak Plap dan Kak Rangga, plus teman baru Kak Mila, kawan satu kos Kak Juni.

Sebuah refleksi saya setelah mengikuti sesi Daun Dala. Kadang kita lupa membahagiakan diri sendiri dan lebih fokus untuk selalu membahagiakan orang lain. Kita juga lupa menghargai waktu dan energi untuk diri sendiri. Kadang pula saya pun masih memikirkan apa kata orang lain. Padahal yang bisa kita kontrol itu adalah respon kita terhadap orang lain. Kadang memori buruk selalu membayangi kita. Padahal sebenarnya kita punya banyak memori bahagia yang tersimpan dan itu yang membuat kita terus termotivasi. Dan satu hal yang membuat hidup bahagia, terencana tapi juga harus tetap fleksibel. Kenapa? Ketika kita saklek dengan rencana-rencana kita, ketika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai rencana mungkin itu akan menjadi penghambat kita untuk tetap menuju tujuan. Selain itu, terencana tapi tetap fleksibel ini artinya kita tetap menuju tujuan yang ingin kita dapatkan walaupun dalam prosesnya kita melalui jalan yang berbeda. Bisa jadi kita malah menemukan jalan baru yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Lalu, pertemuan saya dengan Kak Plap juga mengajarkan kepada saya untuk kembali ke alam. Sejatinya seperti proses perendaman daun dengan menggunakan air biasa. Mungkin menggunakan zat kimia akan cepat proses perendaman, tapi ketika kita mengikuti saja proses alam, itu akan memberi banyak kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Seperti contohnya, proses perendaman daun akan memakan waktu yang cukup lama jika kita menggunakan air biasa. Proses inilah yang akan melatih kesabaran diri. Selain itu, kita juga bisa menikmati prosesnya, kalau kata kak Plap, nikmati saja sesuai indera yang kita punya. Misalnya saja, indera pembau atau penciuman, nikmati saja bau tak sedap dari proses perendaman daun itu yang nantinya aroma itu akan sedikit demi sedikit pudar. Indera pendengaran, saat kita menyikat daun itu, kita akan lebih peka pada kapan kita harus berhenti, kapan kita harus terus menggosok daunnya agar daun tetap bagus dan tidak robek. Lalu indera penglihatan, daun hijau yang kita rendam beberapa waktu, kita akan amati selang beberapa waktu, warna hijaunya akan pudar dan berganti menjadi warna tulang daun yang transparan. Ini proses menarik menurut saya. Indera peraba, kita bisa merasakan bagian daun yang kasar dan daun yang halus, kapan kita menggunakan power maksimal atau sedang-sedang saja saat menyikat daun itu. Setiap daun kita tidak bisa melakukan atau memberi treatment yang sama karena karakteristik beda-beda. Begitu pula saat kita berteman atau bertemu dengan orang lain, tak semua orang bisa kita pukul rata kemampuan untuk merespon diri kita. Ya, kalau tidak mau patah atau rusak, ya kita harus tetap waras untuk berpikir dalam menanggapi respon orang lain. Ya, pada akhirnya walaupun kita sudah berhati-hati, tetap saja ada gesekan dengan orang lain. Tapi tergantung kita menyikapinya, mau tetap waraskah? Atau malah ikut berburuk sangka padahal alam pun sudah mengajarkan yang terbaik.

Ya, tak dipungkiri juga semakin kita dewasa semakin banyak sekali excuse dan pikiran yang ada di otak kita. Kita sibuk mencari alasan untuk tidak berani mengambil langkah atau mencoba sesuatu. Seperti di dalam pikiran kita itu gimana-gimana-gimana, gimana kalau gagal? Gimana kalau diomongin orang? Dan lain sebagainya. Sudah saatnya kita menandai hal-hal yang mengganggu dan tetap berpikir positif. Hal yang kita bisa kontrol adalah diri sendiri dan respon kita terhadap orang lain. Saya juga masih belajar tentang ini.... Bagaimana mengenali diri sendiri lebih dalam lagi....

Apakah kamu sudah mengenali diri sendiri dengan baik?

Tim belajar bareng Daun Dala


Cantik sekali daun bodi ini dan hasil karya kami


Tempat baru yang ternyata memang dijodohkan dengan tempat ini


Penjelasan tentang proses perendaman daun


Serius mikir ini sambil mengingat-ingat momen yang sudah-sudah




Jumat, 26 Maret 2021

#26 Mari Kita Potong Sudah!

Pagi-pagi anak-anak sudah ribut di depan gerbang. Memanggil-manggil saya yang masih juga baru bangkit dari rebahan. "Lah, memang hari ini kita belajar?" tanya saya. "Kita kan mau potong sabun hari ini!" balas mereka bersemangat.

Oh iya, lupa saya!

Sungguh semangat mereka belajar luar biasa. Langsunglah saya mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu dan saya bergegas mengambil sabun. Anak-anak itu pun girang melihat sabun mereka sudah mengeras dan siap dipotong. Sebenarnya banyak foto-foto yang kami dapatkan di hari sebelumnya, sayangnya hp saya tiba-tiba error dan beberapa memori foto yang kami punya hilang sudah. Sedih? Iya sih tapi ya sudah. Bukankah momen lebih melekat di hati daripada hanya sebuah foto. Ya kadang memang perlu suatu momen tanpa ada foto, ya nikmati saja begitu, bukan malah sibuk ambil foto sana ambil foto sini. Ya walaupun tak dipungkiri, pengambilan momen menggunakan foto akan mudah diingat kembali dan paling banter ya upload di social media. Ini sih yang masih sulit dihindari! Social media masih menjadi wadah untuk menyimpan foto-foto kenangan dan terkadang niatnya hanya untuk dapat like atau ajang woro-woro memberitahukan segala aktivitas ke teman-teman dunia maya. Jujur itu masih menjadi hal yang cukup sulit dihindari. Padahal kawan-kawan dunia maya kita itu 'they do not care about your life!' Ya, benar. Saya juga masih belajar untuk menangani hal ini.

Ya, kembali lagi ke cerita hari ini pemotongan sabun ya. Topiknya ini tuh kemana-mana. Hahaha. Maaf! Proses pemotongan menggunakan pisau. Anak-anak saya minta berpikir sebaiknya dipotong jadi berapa agar semua kebagian. Ada yang punya usul, "Duh, sayang dipotong sabunnya! Biar gitu sajalah kayak kue ulang tahun. Kalau mau pake dicolek saja!" Hahaha. Saya juga maunya gitu, sayang dipotong, habis bentuknya lucu! Hahaha Akhirnya kami bersepakat akan memotong menjadi 16 untuk yang block.

Usai potong-potong sabun, beberapa anak masih semangat belajar. Lalu saya minta saja mereka mengerjakan tugas dari sekolahnya. Nah, Aufar, salah satu anak mengambillah LKS sekolahnya. Dibukalah LKS dan mulai mengerjakan soal matematika. Topiknya adalah simetri lipat dan simetri putar. Aufar dengan cepatnya menyelesaikan soal-soal itu dan tibalah di soal tentang gambar baju dan diminta untuk mencari jumlah simetri lipat. Dia berpikir sambil mengingat-ngingat momen dimana dia lipat baju. Saat saya tahu kalau anak ini butuh visualnya, saya pun langsung mengambil kaos yang saya punya di lemari dan memberikan kaos itu kepada Aufar. Langsunglah dia mengeksekusi lipat baju! Ada 3 lipatan, katanya! Lalu saya pun mengajukan beberapa pertanyaan lanjutan. Saya minta tunjukkan simetri lipat itu seperti apa. Ternyata dia berpikir bahwa simetri lipat itu sama seperti saat kita melipat baju, ya karena kebetulan soalnya tentang baju. Duhhh!!! Masuk diakal sih ya, melipat baju ini. >.< Akhirnya saya jelaskan lagi konsep simetri putar dan simetri lipat.

Berlanjut, setelah saya belajar dengan anak-anak, saya jemput Kuro-chan dari klinik. Alhamdulillah, sudah bisa pulang ini anak kicik. :)


Kamis, 25 Maret 2021

#25 Membuat Sabun Ala Pandawa Lima

Pagi ini kami berkumpul kembali dengan ide membuat sabun. Ide ini tercetus setelah saya belajar dengan Ibu Guru Rosa beberapa hari yang lalu. Yak, sepertinya mudah jika diaplikasikan ke anak-anak. Baiklah! Yuk, buat!

Bahan-bahannya cukup mudah dan saya masih punya sisa praktik di kelas Kuri Rosa. Ada minyak kelapa, minyak zaitun, saya tambah minyak kelapa sawit (uji coba), air putih saya pakai air galon, soda api, pewangi saya pakai vanili, dan kunyit untuk pewarna alami. Ukuran-ukurannya saya sesuaikan dengan bahan minyak. Anak-anak menimbang sendiri bahan-bahannya dengan pantauan saya. Saya memperingatkan pada mereka kalau soda api berbahaya jika kena kulit karena bisa membuat kulit melepuh. Mereka pun sangat berhati-hati.

Mereka mengamati bagaimana proses mendidihnya campuran soda api dan air yang membuat mata perih, lalu mengamati panasnya baskom sampai menunggu dingin. Sungguhlah itu pengalaman pertama mereka mengenal beberapa jenis minyak goreng, soda api dan pembuatan sabun.

Setelah bahan-bahan sesuai hitungan Aufar, di sini Aufar menjadi tim hitung karena diyakini dia yang paling jago matematika. Hahaha, sesuai tugas ya! Prosesnya dimulai campur-campur bahan, lalu aduk-aduk dengan menggunakan hand blender. Walaupun ini pertama kalinya mereka menggunakan hand blender, tapi mereka cukup lihai lho! Mudah mengarahkan mereka untuk menggunakannya dengan hati-hati.

Refleksi saya, mereka itu anak-anak yang cerdas, rasa ingin tahunya tinggi, dan bertanggung jawab. Satu per satu akhirnya saya bisa tahu karakter masing-masing anak. Ya, mereka sungguhlah anak-anak yang membanggakan! Senang belajar dan antusias tinggi. Bahkan kalau sudah ke kosan saya, mereka tidak mau pulang! Hahaha.

Sabun kami jadi, dicetak dan besok siap dipotong! Terima kasih Pandawa Lima!

Rabu, 24 Maret 2021

#24 Menikmati Setiap Momen "Pecel dan Tempe"

Agenda berubah! Pagi ini saya bergegas pergi ke warung sayur. Saya pikir saya akan bertemu anak-anak pagi itu, tapi ternyata tak ada satu pun anak-anak yang menghampiri. Mungkin karena saya sudah bilang kalau hari ini libur sehari sebelumnya. Ya mungkin!

Awalnya, saya mau mengajak anak-anak sekalian belanja di warung, memilih bahan sendiri, memilah bahan, dan sepertinya seru jika ada bagian berbelanjanya. Tapi ya itu, ketika saya berangkat ke warung, tak ada satu pun anak-anak yang muncul di hadapan saya. Baiklah! Tidak apa-apa, mungkin bisa buat besok saja, begitu pikir saya sambil menenteng kardus yang penuh dengan belanjaan sayur-mayur.

Beberapa langkah sebelum memasuki gerbang kos, saya berpapasan dengan Febrian salah satu murid Pandawa Lima yang sedang santai sepedahan. Saya langsung saja menyapanya dan mengajak membuat tempe goreng hari ini saja. Lantas apa tanggapan anak itu? Dia sedikit tak percaya dan memastikan lagi ajakan saya itu sebelum akhirnya dia bergegas pergi menghampiri kawan-kawannya yang lain. Tak sulit mengumpulkan mereka sebenarnya. Kalau ketemu satu saja, dia akan segera memanggil yang lain. Terbukti, selang beberapa detik saja, anak-anak sudah berkumpul di depan gerbang kos. Alamakkk, cepat sekali rupanya mereka berkumpul. Okaylah! Baikkk!!!

Saya langsung segera mengajak mereka mempersiapkan bahan-bahan yang baru saya beli tadi keluar dari kardus. "Bayam, ini ambil saja daunnya, petik saja ya!" pintaku dengan memberi contoh. Mereka berebut bayam dan segera menyelesaikan petikan-petikan daunnya. Saya tanya iseng, kalian pernah petik bayam tidak? Mereka kompak jawab, belum pernah. Baik, jadi ini pengalaman pertama mereka masak-masak. Menu hari ini adalah pecel dan tempe goreng Pandawa Lima. Yak, tempe yang 2 hari lalu kami buat itu sudah matang dan siap digoreng. Berhasil jadi juragan tempe kita! Serius banyak, ada kali 50 biji sendiri itu tempe. Hahaha. Kalap!

"Daun bawang, kupas saja, terus potong-potong," mintaku. Kali ini Ridho dan Aufar bertugas. Teman yang lain buka-buka tempe daun. Belum juga selesai potong-potong, tetiba Aufar berkata, "Mbak, aku nangis! Pedes banget ini daun bawangnya." Ridho ikut menimpali. Kulihat keduanya dengan mata berkaca-kaca, nangis karena pedas dan bawang. Lucu sekali liat mereka! Ini pastinya membuat pengalaman pertama mereka iris daun bawang dan nangis. Hahaha.

Berlanjutlah kami mengocok telur dan membuat bumbu tepung untuk goreng tempe. Semuanya kami bekerja dalam tim. Ada yang aduk-aduk, ada yang kasih bumbu, ada yang memantau, lengkap sudah. Satu hal yang saya pelajari, ternyata handle mereka cukup sulit di awal-awal. Energi mereka seakan berlebih, kinestetik sekali. Satu dipanggil, yang lain kabur entah kemana. Saya sering sekali peringatkan untuk tidak lari-larian di dalam rumah, tapi gagal. Cara itu tidak mempan. Hahaha. Lalu saya pun memakai cara lain agar mereka tetap terkontrol. Yak, kasih tanggung jawab saja mereka! Dua anak yang paling anteng adalah Febrian dan Rafqi, keduanya dari awal paling banyak membantu urusan menggoreng dan merebus. Aman! Ridho, Hanan, dan Aufar? Jangan tanya, mereka berlarian! Hahaha. Alhasil saya selalu panggil nama mereka satu per satu untuk mengemban beberapa tugas, seperti cuci piring, aduk telur, goreng tempe, atau yang paling ngena, akhirnya Hanan lebih aktif dan rajin membantu mengurus tempe goreng kesayangannya. :) Aufar menyelesaikan tugasnya cuci piring, dan Ridho mencicip makanan. :) Semua sesuai porsinya masing-masing.

Tempe goreng dapat satu bakul hahaha. Telur dadas satu wajan teflon, nasi sudah matang, sambal satu mangkok yang ngaduknya membuat Febrian dan Hanan pegal-pegal tangannya, sayuran bayam dan tauge matang dari awal. Sudahlah, lengkap! Ohhh, satu lagi, daun pisang untuk makan tugas Aufar ambil di kebunnya. Dia lihai ambil sendiri daun pisangnya tanpa bantuan, tiba-tiba bawa pisau, langsung potong, dapatlah daun pisang segar. Asyik!!!

Kami menggelar makan bersama di teras kos. Satu daun pisang dibuat alas, makan bersama ala-ala hajatan. Mantap!!! Hari ini kami punya perut kenyang sudah!

Selasa, 23 Maret 2021

#23 Belajar Membuat Eco-Enzyme

Pagi itu anak-anak sudah berkumpul di depan gerbang pagi sekali. "Belajar apa hari ini?" ucap mereka.

Okay, baik! Saya langsung putar otak kira-kira apa yang bisa dilakukan hari ini. Melihat sisa sayuran dan kulit buah sisa kemarin masih ada di kulkas, yang memang saya suka mengumpulkan untuk persiapan pembuatan eco enzyme, baiklah mari kita eksekusi saja! Yak, mari kita belajar eco-enzyme sudah!

Anak-anak pun sedikit banyak sudah mendapat bocoran eco-enzyme seperti apa. Beberapa hari yang lalu mereka ingin tahu toples berisi air berwarna coklat dengan kulit jeruk yang mengapung-apung di halaman belakang itu apa namanya. Mereka kita itu ikan. :) Ya memang dari kejauhan seperti ada ikannya, tapi itu bukan ikan. Itu adalah hasil eksperimen pertama yang saya buat setelah mengikuti workshop pembuatan eco-enzyme bersama Pak Aang, salah satu aktivis peduli lingkungan.

Bahan-bahan hanya ada 3, yaitu kulit buah dan sisa sayuran dengan kondisi yang tidak busuk, air keran, gula merah. Perbandingannya air adalah 60% dari volume wadah. Kemudian kita ukur gula merah 1/10 dari volume air. Lalu sisa sayuran atau kulit buahnya 3 kali ukuran gula merah. Nah, untuk eco enzyme sendiri, semakin banyak varian sayuran atau kulit buahnya, semakin bagus dan kaya akan nutrisi. Hal yang perlu diingat dalam pemilihan kulit buah atau sisa sayuran tidak boleh yang bergetah, bau menyengat, busuk, berulat, berjamur, kulit keras, beberapa daun pepohonan tidak bisa, ranting, atau bahan-bahan yang dimasak. Sebaiknya juga dicacah lembut semakin bagus. Untuk air yang mengandung kaporit sebaiknya diendapkan terlebih dahulu, lalu gunakan wadah plastik yang mulut botolnya lebar karena rawan meledak. Hati-hati ya!

Nah, kali ini anak-anak benar-benar mulai dari awal langkah-langkah pembuatan. Mulai dari mengumpulkan sisa-sisa buah dan sayur sehari sebelumnya, mereka juga mulai memotong kulit buah dan sayuran menjadi potongan kecil sendiri. Bahkan mereka juga mencari toples bekas dari warung sekitar kosan sendiri lho! Mempersiapkan bahan-bahan saya bantu sedikit-sedikit, ditambah ukuran saya jelaskan juga sedikit. Mereka yang menimbang dan memperkirakan sendiri. Lalu juga, mereka menjumlahkan beberapa perhitungan untuk menambahkan beberapa bahan ke dalam adonan. 

Yak, dan berhasil mencampur adonan sesuai ukuran. Tinggal kasih penanggalan, kita tunggu 7 hari kemudian. Yak, semoga jadi! Terima kasih untuk kelas hari ini Pandawa Lima! Semangat terus belajarnya ya!

Proses potong-potong bahan


Masih proses potong-potong


Ini hasil karya anak-anak hari ini


Tim lengkap!


Foto dulu pokoknya! Hasil menyusul...


Bahn sisa-sisa kulit buah dan sayuran


Timbang-meningbang dulu ya


Bahagia cukup sesederhana ini



Senin, 22 Maret 2021

#22 Membuat Tempe Ala Pandawa Lima

Pertemuan saya dengan anak-anak tetangga kos kali ini dimulai dari Kuro-chan, artis idola kampung kami. Hampir semua anak tahu siapa itu Kuro-chan. Yak, benar! Artis idola itu adalah kucing saya alias big boss saya. :) :)

Kala itu saya sedang menyapu di halaman bersama Kuro chan. Beberapa anak tetangga lewat dan berhenti di depan gerbang sambil memanggil Kuro. Saya pun langsung mengajak mereka masuk untuk duduk di teras. Kami mengobrol beberapa hal tentang sekolah mereka dan cara belajar mereka. Tiba-tiba tercetuslah ide, "Yuk buat tempe yuk!" Lantas, kami pun membuat rencana. "Saya siapkan dulu kedelainya ya, harus direndam 24 jam dulu baru bisa dibuat tempe. Besok saya beli kedelai dulu di pasar," janjian kami ditutup 'deal!'. Kita buat tempe!

Yak, benar saja, saya beli kedelai di pasar Bantul, lalu rendam selama 24 jam. Baru keesokannya kami buat tempe. Caranya pun cukup mudah diikuti anak-anak. Ada 5 orang yang datang, Aufar, Ridho, Febrian, Hanan, Rafqi. Mereka adalah anak-anak saya yang pertama di sekitaran kos. :) :) :)

Bagaimana prosesnya? Anak-anak sudah datang pagi-pagi bahkan saya belum mandi. Saya ambilkan kedelai yang sudah direndam untuk dibersihkan kulit arinya. Prosesnya lama, tapi anak-anak semangat mengupas kedelai sampai-sampai saya tinggal mandi pun, mereka tetap bertanggung jawab menyelesaikan tugas penting itu. Ahhh, saya bangga pada mereka!

Usai kulit ari bersih, kami pun mulai mengukus tempe lumayan lama. Sembari menunggu kedelai matang, kami membuat rujak, yang semua bahannya mereka bagi tugas. Ada yang beli buah, nyari buah ke warung sendiri, sampai nguleg sambalnya sendiri. Mereka anak-anak laki-laki tapi jago masak dan nguleg! Luar biasa! Mereka pun bereksperimen dengan berbagai macam sambal yang terasa pedas itu, kebanyakan cabe setan pula. Lidah kami sepertinya tak cocok untuk porsi rujak pedas macam sengir itu. Hahaha. Alhasil mereka tambah sendiri gula, nanas, dan terakhir keju. Lumayan mengubah rasa yang sebelumnya sengir jadi cocok di lidah kami. Hahaha, luar biasa mereka!

Lanjut, setelah kedelai matang, mulai proses pendinginan. Tetep nunggu dingin kami terus menikmati rujak buah bengkoang, mentimun, dan nanas. Sungguhlah surga! Usai panas, saya pun mengajari mereka cara dan porsi membubuhkan ragi ke kedelai tersebut lantas aduk-aduk hingga rata. Nah, ini! Daun pisang pun mereka bergantian lap dan buat tali untuk ikat. Saya beri tahu contoh satu saja, mereka tirukan. Dan apa yang terjadi? Hasil bungkus mereka bagus!!! Walaupun ada beberapa daun yang mudah sobek, alhasil kami lapisi dengan koran. Saya kira mereka akan kesulitan bungkus, ternyata sampai habis mereka selesaikan dengan sangat baik, malah di atas ekspektasi saya dalam urusan bungkus-membungkus daun pisang!

Setelah selesai semua, saya bilang ke mereka untuk menunggu 2 sampai 3 hari tempe jadi. Dan tiap hari mereka ke rumah buat cek tempe jadi atau tidak. Rumah saya pun ramai tiap hari. Di hari pertama sudah muncul serabut-serabut tipis cikal bakal tempe matang, lalu hari kedua pun hasilnya mantap, sempurna matang! Saya beri tahu anak-anak kalau tempe sudah jadi, mereka sangat senang dan tak sabar untuk menggoreng tempe dan makan-makan tempe sampai puas! Alamakkk!!!

Muka bahagia kami berhasil membungkus tempe!


Proses membuat rujak sambil nunggu kedelai dingin


Jagoan nguleg sambel!


Ayo... ayo... kupas kulit ari kedelainya!


Tempe garit ala anak-anak Pandawa Lima


Tempe daun yang bungkusnya cantik-cantik gini, ada yang mau beli?

Tim Dokumentasi: Rifa


Sabtu, 13 Maret 2021

#13 Sabun Organik (Resep Menyusul)

Sebenarnya pembuatan sabun organik ini sudah lama direncanakan oleh Kak Rosa, Kak Juni, dan saya sebelum mengantar Endi kembali ke Papua. Namun, rencana itu terkendala karena tempat belajar sabun membatasi peserta kelas karena masa covid, yang hanya diperbolehkan hanya satu peserta. Alhasil, kami memutuskan untuk Kak Rosa belajar duluan membuat sabun sebelum kembali ke Asmat. Setidaknya lebih urgent lah daripada kami yang tinggal di Jawa, lebih mudah untuk ikut kelas selanjutnya.

Nah, ternyata kerandoman kami pun mulai haus akan ilmu baru. Jadilah Kak Rosa menginisiasi kelas baru tongkrongan yang udah macem ibu-ibu PKK. Awalnya, rencana cuma bertiga, tapi nambah personel ada Metri, Alfi (saudara Metri), Jane (yang katanya saudara Kak Juni, iyaaa, sodara sebangsa dan setanah air dari Sabang sampai Merauke :)))) Nah, ternyata lingkup pertemanan kami seputaran daun kelor. Pas saling ketemu, ehhh, ternyata saling punya mutual friend-an. Ya, begitulah Tuhan menakdirkan kita untuk sebuah pertemuan.

Kehebohan kami sore itu seputar minyak kelapa, olive oil, soda api, dan rujak. Jadilah kami buat sabun dipandu oleh Ibu Guru Rosa dengan murid-muridnya yang kayak kami semua.... Hahaha. Heboh dalam segala macam hal.

Nah, kami pun membuat sabun dengan 5 jenis variasi, ada kopi, rujak (aneka buah rujak), pepaya, kunyit, dan lidah buaya. Semuanya kami buat bersama-sama, ada yang blender buah, ada yang blender adonan, ada yang cairin soda api, ada yang nimbang minyak, semua berkat tim kerja yang solid, sudah siap direkrut kerja pokoknya. :) :) :)

Resep nanti menyusul ya, saya lupa taruh catatan dimana. :) Harus hitung ulang soalnya. Saya kasih fotonya saja ya.... :)

Tampilan sabun di cetakan dengan 5 varian: rujak, kopi, kunyit, pepaya, lidah buaya


Varian rujak yang sudah dipotong-potong


Sabun dengan varian rujak yang baru saja keluar dari cetakan


Tim kerja-kerja-kerja PKK 123 Random Club


Tim kerja-kerja-kerja PKK 123 Random Club dengan segala keribetannya


Entah ini sabun bagian yang ke sekian dibuat


Adonan sabun kopi siap masuk ke cetakan


Video full team PKK 123 Random Club

Full Team & Hasil Karya



Full Team dari Belakang: Kak Juni, Kak Rosa, Jane, Saya, Alfi, Metri


Terima kasih Kak Rosa, sudah mengajari kami dengan sangat sabar... Semangat belajar!

Foto: Kak Rosa & Metri





Rabu, 10 Maret 2021

#10 Pendidikan Daerah Terpencil

Masalah pendidikan di Indonesia, terutama di daerah terpencil, masih menjadi momok bagi pemerataan pendidikan di Indonesia. Ada 3 aspek permasalahan mendasar, yaitu masalah sumber daya manusia, masalah akses sarana prasarana, dan masalah lingkungan masyarakat. Ketiga permasalahan tersebut bisa diatasi dengan kerjasama berbagai pihak, baik individu, komunitas, dan juga pemerintah.

Pertama, masalah sumber daya manusia terutama para guru di daerah terpencil memiliki kapasitas yang terbatas. Hal ini dikarenakan kurangnya kesempatan para guru untuk mengikuti training dan pengembangan diri. Di kenyataannya, para guru yang mendapat kesempatan pelatihan pun kurang mendapatkan pembinaan sebagai upaya tindak lanjut maupun evaluasi penerapan hasil pelatihan tersebut. Alhasil, pelatihan kepada guru-guru hanya sampai kepada materi saja, belum sampai ke evaluasi implementasi di lapangan. Padahal, jika kita tengok kembali, pelatihan terhadap guru-guru tersebut seharusnya tepat sasaran dan berguna untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar di kelas sehingga secara tidak langsung, pelatihan memiliki dampak positif kepada anak didik.

Kedua, masalah krusial pendidikan di daerah terpencil adalah tidak tercukupinya literatur atau media pembelajaran. Kurangnya buku-buku kontekstual di berbagai daerah pun masih menjadi faktor utama kurangnya literatur yang sesuai untuk daerah terpencil. Kadangkala adanya penyeragaman literatur maupun buku cetak seluruh Indonesia, padahal tidak memenuhi kesesuaian konteks masing-masing daerah. Seperti contohnya, daerah pulau terpencil diberi buku paket yang isinya membahas tentang kereta, ya tidak sesuai konteks, belum tentu anak-anak tahu bentuk dan seperti apa kereta api itu. Materi bahan ajar yang tidak disesuaikan konteks atau kehidupan sehari-hari, apa yang bisa dilihat, ditemukan, maupun yang dekat dengan anak-anak inilah yang akan mempersulit tersampaikannya materi dengan baik. Selain itu, media pembelajaran atau literatur yang tidak cocok dengan konteks kehidupan sekitar juga akan memberi jarak apa yang dipelajari di sekolah dengan apa yang dipelajari di sekitar.

Ketiga, dukungan orang tua terhadap kemajuan pendidikan anaknya kurang. Dalam kenyataannya di daerah terpencil, pendidikan formal masih belum mampu memenuhi tuntutan komunitas itu sendiri. Tak jarang jika anak-anak di daerah pedalaman lebih memilih bekerja membantu orang tua daripada sekolah dari pagi sampai sore setiap hari. Orang tua pun pada akhirnya memilih tidak menyekolahkan anak-anak mereka karena tanpa sekolah pun mereka bisa "bahagia" dengan cara mereka sendiri.

Dari ketiga permasalahan tersebut, pendidikan alternatif hadir untuk menjadi salah satu solusi pendidikan di daerah pedalaman. Apa itu pendidikan alternatif? Mari kita bahas di tulisan selanjutnya ya!