Tampilkan postingan dengan label #TentangPapua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #TentangPapua. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Maret 2021

#30 Alasan yang Hilang

"Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka - itu hanya menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka." - Lao Tzu (link)

Ya, belakangan ini saya sedang kembali menemukan alasan yang hilang tentang beberapa hal yang ingin saya capai. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap menjaga semangat dan niat hati untuk terus bermimpi. Dan mungkinkah semangat itu akan roboh begitu saja saat ada orang yang mengatakan, "Kenapa harus Papua?" Lagi-lagi saya kehilangan alasan yang kuat mengapa harus Papua!

Entahlah, tapi pencarian tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di televisi saat saya masih SMP atau SMA. Saya lupa! Entah itu mungkin malah sewaktu kuliah. Saya tak ingat. Ada sebuah acara semacam jejak petualang atau pengenalan budaya Indonesia. Ya, saya tiba-tiba ingat itu. Hal yang masih sangat saya ingat adalah tentang Papua, kehidupan Mama-Mama Papua. Menanam ubi, berjalan jauh ke pasar untuk menjajakan sayuran. Bagaimana menghuni rumah dengan atap jerami dengan tungku di tengahnya. Sepertinya itu gambaran yang pernah terekam dalam memori saya mengenai Papua. 

Lalu, ditambah lagi saya sangat suka film Laskah Pelangi dan Alangkah Lucunya Negeri Ini saat saya kuliah. Sepertinya, gambaran tentang kehidupan daerah pedalaman menyisakan memori yang sungguh dalam di ingatan saya. Dan keinginan untuk mengunjungi dan tinggal di pedalaman pun tumbuh seiring waktu. Ah, apakah impian saya itu terlalu muluk-muluk? Entahlah....

Bahkan ketika ada pertanyaan yang muncul mengapa saya tak menjadi guru sekolah di Jakarta dan malah memilih menjadi pekerja lepas, saya selalu menjawab, saya tak ingin menghabiskan banyak waktu di jalan karena macetnya Jakarta, jika saya ingin menjadi guru sekolah, saya ingin menjadi guru di pedalaman. Dan itu impian yang hingga saat ini masih saya pupuk, masih saya perjuangkan.

Tahun ini menurut saya adalah waktu yang cocok untuk kembali memperjuangkan mimpi itu setelah 8 tahun mati suri. Kesempatan yang pas di saat semua yang dulu-dulu menjadi penghambat, di tahun ini pula sudah tuntas terselesaikan dengan baik. Jika memang tahun ini tahun baik untuk saya pergi dan mewujudkan impian saya itu, semoga Tuhan memberi rencana yang terbaik. Jika memang belum, saya mungkin perlu belajar lagi lebih banyak hingga saya siap untuk pergi sesuai rencana Tuhan.

Ahhh, terima kasih semesta sudah membawa saya sejauh ini!



Senin, 29 Maret 2021

#29 Mari Luruskan Niat!

Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.

Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.

Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?

Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?

Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."

Semoga ada jalan.... Aamiin....

Minggu, 28 Maret 2021

#28 Terima Kasih!

Beberapa waktu yang lalu, Kak Rosa mengajak saya untuk terlibat Elege Inone, sebuah komunitas peduli pendidikan anak-anak Papua yang Kak Rosa dirikan bersama teman-temannya. Setelah bertemu Yesman dan Endi, saya memiliki kesempatan bertemu pula dengan Demite. Trio Kogoya ini sangat menginspirasi saya untuk bermimpi tentang Papua kembali.

Saya sangat senang saat Kak Rosa mengajak saya untuk ikut mengurus @magebaga IG @magebaga, salah satu brand Demite yang menjual barang-barang handmade seperti noken atau sulaman tangan Demite atau juga hasil desain Yesman. Tunggu produk-produk baru kami ya.... :)

Nah, kali ini ada 9 noken, 8 kiriman dari orang tua Demite untuk mendukung pendidikan Demite dan Yesman. Alhamdulillah, noken jualan kami habis. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membeli. :) Untuk kamu yang ketinggalan, tunggu info terbaru kami ya! Kamu juga bisa ikut membantu lho untuk pendidikan anak-anak Papua melalui @Elege Inone di link Elege Inone. Terima kasih :)


Catatan: Tulisan direvisi tanggal 11/4/2021



Kamis, 18 Maret 2021

#18 Tuhan Lebih Tahu Kapan Waktu yang Tepat

Impian itu selangkah lebih dekat! Impian yang telah saya tangguhkan sejak 2013 lalu. Beberapa kali saya mendaftar beberapa kesempatan, tapi gagal. Alasannya macam-macam. Mungkin memang Tuhan belum menjodohkan saya dengan mimpi itu atau juga Tuhan punya rencana lebih indah dari rencana saya.

Suatu waktu saya termenung, memikirkan benang merah semua kejadian yang saya alami akhir-akhir ini. Seperti satu per satu memiliki ikatan satu sama lainnya. Sangat erat! Apakah Tuhan sedang berpihak pada saya tahun ini? Mungkin! Dan semoga saja! Aamiin.

Nanti saya akan ceritakan impian itu jika memang semuanya sudah fix. Masih dalam proses dan tinggal selangkah lagi, tapi saya tidak boleh terlalu berharap. Jika memang jalannya lewat jalan itu, saya akan mendapatkannya, tapi jika memang belum jalannya, saya akan merelakan, setidaknya saya sudah berjuang sedemikian rupa melakukan yang terbaik. Urusan berhasil atau tidaknya, biarkan Tuhan yang mengatur. Sesungguhnya, Tuhan lebih tahu waktu kapan yang tepat untuk kita mendapatkan sesuatu.

Semesta akan memilih pemilik kaki yang dikehendaki. Katanya, pulaulah yang memilih takdir orang-orang yang menghuninya. Dan biarkan itu menjadi keberkahan dari Tuhan. 

Senin, 08 Maret 2021

#8 Jika Gagal, Mari Kita Coba Lagi!

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan info dari Kak Rosa ada sebuah yayasan yang mencari guru untuk anak-anak Papua. Sebenarnya ini cukup membuat saya senang bercampur takut. Saya senang karena ada kesempatan lagi untuk mencoba daftar menjadi guru di Papua, tapi sekaligus takut, takut kalau saya gagal lagi.

Tapi akhirnya saya memutuskan untuk mencobanya. Jika gagal pun setidaknya saya menjadi tahu kapasitas saya sebenarnya sejauh mana. Dan mari kita coba lagi. Ya, kalau lolos, berarti Tuhan memang sudah menakdirkan jalan saya seperti itu. Ikuti saja Tuhan punya jalan....

8 Maret 2021. Pagi itu saya ngebut buat application letter, beberapa hari yang lalu saya belum ada ide untuk menulis dan bingung mau menulis apa. Alhasil, pembuatan application letter saya tunda hingga waktu yang belum jelas kapan menyempatkan diri untuk menulis. Dan entah apa yang membuat saya bersemangat hari itu. Saya benar-benar fokuskan diri untuk mempersiapkannya. Saya butuh berjam-jam hanya untuk menulis application letter 1 halaman. Benar saja! Ini sungguhlah menguras raga dan pikiran. Benar sekali, seperti saat saya mau daftar beasiswa, ya walaupun akhirnya tak lolos, tapi bisa melewatinya itu adalah sebuah tantangan dan sekaligus keberhasilan: mengalahkan diri sendiri. Dan ini yang kadangkala kita lupakan.

Sering sekali kita berusaha mengupayakan segala macam untuk mendapatkan impian kita, tapi kadang kita lupa sebenarnya tujuan kita itu bukanlah benar-benar tujuan yang kita inginkan. Kadang pula kita kecewa karena hasilnya tidak sesuai harapan. Jadi, setelah merenung beberapa hari, saya kembali memantapkan hati dan kembali mempertanyakan tujuan saya untuk apa memilih Papua sebagai jalan berikutnya. Dan biarkan jalan Tuhan yang bertindak, kirim, berdoa, lalu lupakan sejenak. Bukankah itu yang saya selalu gunakan saat saya menulis untuk media maupun lomba? Kirim, lalu lupakan!

Saya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mendukung mimpi-mimpi saya. Salah satunya adalah Fitri, kawan yang telah berbagi pengalaman dengan saya selama 10 tahun terakhir. Ya, Fitri mendukung impian saya menjadi guru di pedalaman Papua. Bahkan dia juga membantu mengecek application letter saya. Entah mengapa ketika saya berdiskusi dengannya, selalu saja banyak hal yang bisa kami dapatkan. Ada saja ilmu yang bisa dipelajari dalam hidup masing-masing. Benar saja, di saat kita bermain di dekat penjual minyak wangi, kita akan mendapat wanginya, ketika kita dekat-dekat dengan api, maka kita akan kena apinya. Ya, begitulah, ketika kita berteman dengan orang-orang yang berpikir positif, kita akan ikut berpikir positif, dan ketika kita berdekatan dengan orang-orang yang suka mengeluh, maka kita akan ikut mengeluh. Terima kasih Fitri sudah selalu menyemangati untuk impian kita masing-masing. Sehat-sehat selalu ya!

Dan jika memang berjodoh dengan tanah Papua, kita akan bertemu, Papua!

Sabtu, 06 Maret 2021

#6 Hidup untuk Belajar

Apa cita-citamu? Guru!

Kenapa kau ingin jadi guru? Pertanyaan ini sungguh menggelitik yang kadangkala saya tak tahu harus menjawab seperti apa. Alasan konyol yang saya ingat dulu waktu SD kelas 3 saya ingin menjadi guru karena orang tua salah satu teman yang saya kagumi berprofesi guru. Dan sepertinya dulu menurut saya profesi guru memberikan kehidupan yang sangat layak di kampung. Ya, maklum saya lahir dari keluarga sederhana dengan penghasilan tak tetap dan mungkin saat itu saya berpikir penghasilan tetap dan rumah bagus adalah mimpi anak desa seperti saya. Namun, alasan itu berubah seiring berjalannya waktu. Alasan yang sulit saya jelaskan saat ada yang bertanya mengapa harus guru!

Bahkan sampai saat ini, saya tetap tak mampu menjelaskan mengapa saya begitu ingin menjadi guru... Ya, biar saya tambahi lagi kalimatnya... guru pedalaman, yang mungkin sangat jarang orang lain memimpikannya. Saya tak ingat sejak kapan impian ingin pergi ke pedalaman itu muncul. Yang pasti saya pernah mendaftar beberapa kali Indonesia Mengajar, tapi gagal. Saya juga sempat mendaftar beberapa kesempatan lain, tapi juga tak membuahkan hasil. Dan itu saat saya sedang bergejolak ingin sekali ke Papua, tapi tak ada siapa-siapa yang kutahu di sana, tepatnya tahun 2013-2016 an lah kira-kira. Sampai akhirnya, setelah Bapak saya meninggal dan tanggung jawab keluarga harus saya selesaikan sebagai anak pertama. Saya harus hidup realistis dan mengejar ketertinggalan finansial agar kehidupan keluarga saya tetap berlanjut. Akhirnya, saya menyimpan impian saya untuk belajar di Papua sedini mungkin dan saya melanjutkan kehidupan kota kembali.

Apakah saya melupakan impian saya untuk mengajar di pedalaman? Tidak! Saya tetap berusaha ikut kegiatan di beberapa daerah terpencil di sela-sela kehidupan di kota. Beberapa kali saya ikut terlibat di Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) yang fokus di daerah Kepulauan Seribu, Banten, dan juga Karimun Jawa. Ada 3 aspek yang kami usung, yaitu sekolah, masyarakat, dan lingkungan. Aspek sekolah, kami membagi cerita dan pengalaman dengan cara memperkenalkan profesi masing-masing dan juga menebar inspirasi untuk anak-anak pulau. Aspek masyarakat lebih kepada pendekatan kepada masyarakat dan saling bertukar ilmu dengan pemuda-pemudi setempat maupun orang tua untuk meningkatkan skills yang nantinya bisa digunakan untuk membantu perekonomian masyarakat itu sendiri. Aspek lingkungan, kami bersama warga setempat berbagi skills untuk mengolah dan menjaga alam, misalnya saja pengolahan limbah plastik yang banyak kita temui di pantai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Bertemu dengan keluarga baru di KIJP memberi peluang kepada saya bahwa hidup tak hanya sekadar bekerja memperkaya diri, tetapi juga berbagi dengan orang lain, apa pun itu bentuknya. Kira-kira kurang lebih 4 tahun saya aktif di KIJP, bahkan sampai saat ini pun saya masih sering berinteraksi dengan kawan-kawan KIJP.

Semangat KIJP pun menambah semangat saya untuk ikut serta mengajar sehari Kelas Inspirasi. Saya pernah mengikuti Kelas Inspirasi Sukabumi 1 dan juga Kelas Inspirasi Bandung #5. Mengajar di daerah dengan kultur yang berbeda dari segi bahasa daerah yang berbeda membuat saya belajar hal-hal baru. Tak hanya itu, perjalanan saya juga dibarengi dengan pertemanan kawan-kawan yang punya semangat berbagi. Dan Kelas Inspirasi terakhir yang saya ikuti adalah Kelas Inspirasi Blora #3 tahun 2019. Blora adalah kota kelahiran saya dan baru saat itu saya putuskan untuk kembali berbagi dengan anak-anak di kota kelahiran saya itu. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengikuti Kelas Inspirasi di Blora, tapi belum ada waktu yang pas dan kemarin adalah jalan Tuhan telah merencanakan hal indah di waktu yang tepat.

Kegiatan kerelawanan saya berlanjut di pertengahan tahun 2019. Saya mendaftar kegiatan Vietnam Summer Camp. Ini pertama kalinya saya mengajar anak-anak Vietnam. Sungguh, culture yang berbeda selalu memberi banyak inspirasi dan pembelajaran. Saya bisa belajar tentang pendidikan di Vietnam dan bertemu berbagai tipe orang dengan background berbeda-beda.

Kemudian, saya juga ikut RuBI (Ruang Berbagi Ilmu) di Toraja. Saya menjadi relawan narasumber untuk mengisi materi MBK Matematika untuk training guru-guru di Toraja. Bertemu pendidik di daerah jauh dari pulau Jawa membuat saya berefleksi diri, seperti ada suntikan semangat bahwa saya harus melakukan "sesuatu" untuk daerah pedalaman yang tak lain adalah salah satu impian saya yang selama ini tengah mati suri. Semangat belajar Bapak dan Ibu guru di Toraja menginspirasi saya untuk terus belajar kembali.

Akhir tahun 2019, saya mendaftar kegiatan Socio traveling Labuan Bajo dan lolos menjadi satu-satunya peserta yang paling tua di antara anak-anak mahasiswa yang tengah semangat-semangatnya berbagi. Hal itu tidak membuat saya merasa paling tua, bahkan saya belajar dari semangat mereka yang tengah membara. Ini adalah Indonesia bagian timur kedua yang telah saya kunjungi setelah Toraja. Tepatnya di desa Satar Lenda, daerah tanpa listrik dan sinyal. Tapi saya malah menemukan arti hidup yang sebenarnya. Budaya dan adat istiadat yang melindungi alam sendiri. Ada hal yang membuat saya jatuh hati pada tempat seperti ini: kesederhanaan. Semoga saya bisa kembali menyapa keluarga di Satar Lenda. Aamiin.

Nah, selama pandemi ini saya belum ikut lagi kegiatan offline. Tapi, saya saat ini ikut aktif di kegiatan Gernas Tastaka. Beberapa kali saya mengisi materi training of trainers (ToT) daring dengan peserta teman-teman mahasiswa dan juga Ibu-Bapak guru. Di Gernas Tastaka inilah saya mulai lagi belajar lebih dalam lagi tentang pengembangan materi matematika untuk level sekolah dasar. Ternyata banyak hal yang menarik untuk dipelajari lagi. Ya, sebagai guru, seharusnya kita terus belajar dan mengembangkan diri to? Semangat selalu walaupun pandemi! Semoga segera berakhir! Aamiin.

Lalu, di awal tahun 2021 ada harapan kembali untuk mimpi-mimpi saya menjadi guru di pedalaman. Nanti akan saya ceritakan lagi tentang bagian ini. Walaupun pada akhirnya saya belum menjadi guru seperti impian saya, tapi saya tetap bersyukur bahwa saya masih diberi kesempatan untuk terus belajar. Hal yang pasti, saya belajar banyak hal dari orang-orang dan lingkungan baru yang saya temui di tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya. Kita lakukan saja yang terbaik! Yang terpenting adalah jangan berhenti bermimpi! Dan ikuti saja alur semesta membawa hidup ini! Semoga semesta mendukung!




Rabu, 03 Maret 2021

#3 Pertemuan di Saat yang Tepat

 Ada satu impianku terwujud di tahun 2021 ini setelah aku pindah ke Jogja. Apa itu? Yup, punya kucing di kosan. hehehe Sesederhana itu. Awalnya, aku mencari kos yang memang boleh piara hewan seperti kucing. Beberapa tempat menyatakan tidak boleh membawa hewan. Lalulah ketemu dengan satu tempat yang aku suka karena kasurnya gede. Lalu iseng kutanya apakah boleh piara kucing kepada pemiliknya. Lantas, pemilik mengatakan boleh. :) Langsunglah aku DP kosan itu. Hahaha. Ya kan untuk apa aku pindah kalau hanya untuk pindah tidur saja? Harus ada hal baru yang bisa kudapatkan di lingkungan baru. Hehe

Sebenarnya sudah sejak dulu kos di Jakarta aku ingin memelihara kucing, tapi selalu tak ada kesempatan baik. Hanya 2 kali kucing liar yang masuk ke kosan, kuanggap dia kucingku. Hahaha. Kalau masuk kosanku ya kukasih makan dia. Bahkan mereka suka menunggu di depan kamar, menunggu sampai selarut apa pun aku pulang kerja. Ahh, I miss you, Ana dan Belang! Ana meninggaltertubruk motor yang tubuhnya baru kutemukan sehari setelah dia tak ada kabar ke kos. Itu pun saat ulang tahunku, dia pergi. Sedih? Sedih sekali! Ana pergi masih mau menyapaku saat ulang tahunku. Padahal sehari sebelumnya, aku mencarinya karena seharian tak ada kabar. Kutanya Mbak Was, salah satu tetangga kamar kos yang juga penyuka kucing, tapi Mbak Was tak tahu kabar Ana. Yah, begitu ya hidup dan mati kita tak pernah tahu kapan akan tiba.

Ana, kucing penurut dan menunggu hingga aku ulang tahun. :'')

Lalu, kedua Belang, kucing Betina yang punya anak banyak. Belum juga kusteril, dia sudah hamil lagi. Belang memiliki warna belang tiga di tubuhnya. Awal bertemu dengannya di parkiran kos, lalu kupanggil dan kukasih makan. Ehh, tiap hari dia datang. Sayangnya, Belang sepertinya punya trauma tersendiri sama ganggang sapu atau sesuatu yang berbentuk seperti sapu dan dia tak mau dipegang. Sepertinya pernah ada yang tega memukulnya sampai-sampai dia takut dengan orang. Terakhir kutinggal ke Jogja, Belang habis melahirkan banyak anak dan anaknya disembunyikan di kamar paling ujung dekat balkon, lalu dipindahkan lagi entah kemana. Semoga baik-baik saja dia dan anak-anaknya.


Belang dan anak-anaknya (2020): Belung, Belong, Beling, Beleng

Anak Belang yang pertama selamat hanya 1 dari 4 bersaudara, Kunamai Belung namanya. Pernah suatu hari, Belung meang-meong di parkiran, lalu kupungutlah dia. Ceritanya deramakkk sekali ini, kapan-kapan aku ceritakan. Singkat cerita Belung akhirnya kukembalikan ke Belang dan hidup sampai sekarang. Akhirnya Belung dipelihara oleh Mbak Dina, tetangga kosan yang suka kucing. Dan sekarang Belung badannya gemuk lalu berganti nama menjadi Milo. :)

Belung kecil yang kuselamatkan dari parkiran, sepertinya jatuh dari atap


Belung setelah kukembalikan ke Belang


Belung diajak Emaknya Kosan tour setelah beberapa waktu kukembalikan ke Belang


Belung setelah berganti nama menjadi Milo, sudah besar dia!


Ini foto terakhir yang kudapatkan sebelum pindah ke Jogja. Malam itu Belung (Milo) yang jarang ke lantai 2, dia tiba-tiba saja main di deket kamarku. Sepertinya dia tahu kalau aku akan pindah dan memang beberapa hari sebelum aku pindah aku ingin sekali bisa ketemu Belung lagi. Dan Tuhan maha baik, memberi kesempatan itu walau hanya sebentar. :)

21 Februari 2021

Pagi itu salah satu kawan, Fitri namanya, mengirimkan foto Moki, kucing kesayangannya lewat WA. Aku pun berkomentar kalau kucingnya lucu dan aku ingin memiliki kucing. Lantas aku bilang berharap ada kucing nyarang di halaman n cowo. Baru juga selesai mengetikkan itu, tiba-tiba ibu-ibu penginap malam ini mengabarkan padaku, "Dek, kok ada kucing masuk? Memang suka ada kucing masuk ya?" Aku yang awalnya rebahan, langsung bangkit, benar saja kulihat kucing putih dengan corak hitam di beberapa bagian tubuhnya. Kuajak dia keluar, sangat jinak, kuberi dia makan dan akhirnya kami bermain bersama. Ada luka di telinganya, aku ingin merawatnya, tapi sepertinya kucing tetangga. Ya sudah, Fitri bilang kalau dia main ya biarkan saja dan kasih makan, kalau dia gak main ya sudah jangan dicari.

Pertemuan pertama dengan Nyanko (Bin)


Nyanko (Bin)


Lalulah, aku pagi itu puas-puasin main sama kucing itu. Oh iya, kukasih nama dia Nyanko. Menjelang siang, Nyanko masih main di halaman bersamaku. Tetiba mas kos menghampiri kami, "Kucing dari mana Mbak?" "Nggak tahu Mas, tiba-tiba datang. Mungkin kucing tetangga," jawabku. "Manut ya!" tambahnya. "Mas, boleh aku pelihara gak?" mintaku sambil memelas. "Boleh..." balasnya. Kata hatiku teriak "Yesss!!!" Baik! Punya kucing, tapi hati masih setengah-setengah karena gak tahu itu kucing siapa. Nanti kalau dicari yang punya kan kasihan nyariin.

Tapi rencananya aku mau bawa dia ke dokter siang itu. Beberapa petshop sudah kutelpon untuk jadwal pemeriksaan dan vaksin. Siang itu pula aku lanjut ke toko perabot dekat kosan, mau beli carrier box. Entah kenapa setelah beli box-nya aku lanjut pergi ke Alfamart yang cukup jauh 2 km dari kos, maklum tinggalku sekarang di perkampungan ee. Jadi Alfamart jauh. Pulang dari Alfamart, aku mampir beli bensin di warung sayur deket kos. Pas mau bayar, aku lihat ada kucing hitam kecil main-main di pinggir jalan. Aku coba suruh menjauh dari jalan dan Mas warung pun mengambilnya. Keisenganku muncul tiba-tiba bertanya, "Kucing siapa Mas?" "Mbaknya mau?" tanya Mas warung. "Ehh, emang boleh? Tapi kucingnya jantan apa betina?" "Yang ini jantan. Mau? Kucing saya banyak sampai kemarin-kemarin saya tawar-tawarkan ke orang," jelasnya. Lansung saja kujawab, "Mau!!!" Yak akhirnya kucing hitam kecil itu kubawa dan kutaruh di box yang tadi kubeli. Pulang-pulang bawa anak kucing.

Kuro-chan! Setelah putar-putar aku mencarinya sampai keliling perumahan, ternyata dia ada di kursi sedang duduk manis. :) :) :)


Kerjaan Kuro-chan ngerecokin orang lagi buka laptop


Kayak gini nih, sukanya naik di atas laptop


Ini adegan saat aku pulang jam 11 malam, dia nungguin di ruang tamu


Bersantai dulu!


Rebahan...


Kalau makan minta ditungguin. Kalau gak ditungguin dia gak makan banyak. Manjaaa Sekaliii!!!

Yey! Punya teman baru. Nyanko punya teman baru, kunamai kucing hitam itu Kuro-chan. Siang itu pertemuan kami bertiga, aku, Nyanko, dan Kuro. Masih masa-masa pengenalan. Nyanko dan Kuro pun mulai akrab main di halaman, ngejar daun kering atau semut hitam di halaman. Kocak sekali!

Dan mulai saat itu, impianku memelihara kucing pun terwujud! Kuro-chan!!! Lalu, bagaimana dengan Nyanko? Dia sepertinya pulang ke rumahnya. Kadang sesekali main minta makan, lalu pergi lagi. Terakhir kali ketemu Nyanko ternyata benar dia milik salah satu anak tetangga dan ternyata nama asli Nyanko itu adalah Bin. kebetulan si empunya sedang main di rumah depan bareng teman-temannya, anak-anak daerah kosku. Lalulah kami kenalan dan ternyata salah satu anak itu si pemilik Bin.

Ya, begitulah kiranya cerita kali ini. Mari kita coret satu mimpi dari daftar impian! PUNYA KUCING! Terima kasih Tuhan sudah memberi kawan baik seperti Nyanko (Bin) dan Kuro-chan. :))) Kadangkala pertemuan tak terduga selalu datang di saat yang tepat. :)))

Selasa, 02 Maret 2021

#2 Inspirasi dari Timur

Hari ini aku mau cerita tentang salah satu kawan yang selalu menginspirasi, namanya Kak Rosa. Dan bertemu dengannya adalah alasan Tuhan kenapa keputusanku jatuh ke Jogja, bukan kota lain. Ya, sekarang aku punya alasan kepada harus pindah ke Jogja. Ya karena jalan Tuhan selalu menjadi jalan yang paling baik.

Berawal dari menyimak story Instagram Kak Rosa tentang salah satu muridnya, anak Papua, yang sedang bersekolah di Jawa, tengah sakit. Kak Rosa selalu update tentang perkembangan muridnya. Suatu hari, aku beranikan diri untuk DM instagram Kak Rosa dan bertanya tinggal di daerah mana Jogjanya. Dan ternyata hanya 15 menit dari kosan. Kasongan dan Rumah Obit? Deket!

Aku tak pernah berpikir ternyata Kak Rosa membuka pintu dan mempersilakan aku kalau ingin main. Padahal aku belum pernah ketemu sebelumnya. Ya, pertemanan kami hanya sebatas media sosial Facebook saja sebelumnya. Awal mula perkenalan pun kami tak ingat.

Akhir Januari, tanggal 31, aku memberanikan diri WA ke Kak Rosa kalau aku mau main ke rumahnya. Sebenarnya, aku rada khawatir kondisi pandemi seperti ini tak banyak orang yang mau dikunjungi. aku takut berkunjung ke rumah orang apalagi ada orang sakit di rumah, takut kalau aku membawa bibit penyakit lainnya yang aku tak tahu datangnya dari mana. Aku cukup hati-hati meminta izin untuk berkunjung. Ternyata Kak Rosa mengizinkan, tapi aku baru bisa setelah wawancara salah satu event Papua sekitar jam 3 sore. Wawancara lancar dan berharap bisa lolos, tapi ya tidak berharap banget, kalau lolos ya alhamdulillah kalau gak ya sudah, kalau jalannya mah akan ada jalan lain untuk bisa ke Papua. Wawancara selesai, tapi hujan deras Gaesss! Ya sudah nunggu hujan reda sambil pesan ayam goreng mbah Cemplung yang ternyata hanya 5 menit dari kosan. Baru tahu saya! >.<

Singkat cerita, aku datang ke rumah Obit. Di sana aku dapat kenalan baru dan inspirasi baru. Untuk pertama kalinya ketemu langsung Kak Rosa. Dan ternyata setelah beberapa hari kemudian setelah pertemuan itu, ternyata kami baru ingat bahwa kami sudah berteman di facebook sejak Mei 2013. Sudah lama ternyata! >.< Aku juga baru ingat, awal-awal dulu kenapa aku add facebook Kak Rosa. Aku kurang ingat, tapi satu hal yang kuingat, salah satu dosenku ada yang pernah bertemu Kak Rosa di Papua dan ada kemungkinan itu salah satu mutual yang kami punya. Dan mungkin juga impianku tentang Papua sedang butuh asupan motivasi dan Tuhan memberi jalan lewat mengenalkan Kak Rosa dengan berbagai tulisan-tulisan menginspirasinya. Coba saja tengok medsosnya atau googling aja Rosa Dahlia, temukan sendiri sekeren apa Kak Rosa dengan berbagai pengalaman-pengalamannya. :)))

2021


Nah, sekarang pertemananku di Jogja semakin banyak. Memang benar ya, orang baik itu akan dikelilingi orang baik juga. Begitulah kukatakan. Kak Rosa orang baik dan dikelilingi orang-orang baik pula. Kebaikannya menular bersama orang-orang di sekitarnya dan aku salah satu orang yang tertular kebaikannya. :)))

Tak hanya itu, aku juga punya murid baru, anak Papua, Yesman namanya, salah satu anak didik Kak Rosa yang disekolahkan di Jawa juga. Yesman anaknya cerdas! Kalau belajar sebentar saja sudah mengerti. "Yes sudah mengerti kah?" "Iya sudah!" Begitulah kira-kira percakapan kami saat belajar.

Hal-hal kecil yang membuat aku terharu. Pernah suatu ketika aku main ke tempat Kak Rosa, kami makan bersama menikmati bakso Pak Koboi. Lalu setelah makan aku berhenti sejenak sebelum berdiri cuci piring. Tak lama Yesman sudah selesai makan dan hendak cuci piring. Tiba-tiba Kak Rosa berkata, "Yes, sekalian piring ibu guru ko cuci yo!" Yesman pun menghampiri Kak Rosa lalu berkata, "Ibu guru belum selesai." Teruslah spontan Kak Rosa bilang, "Ibu guru yang sana ee" sambil mengarah ke aku. Jujur sa senang dipanggil ibu guru. :) Bahagia sesederhana itu, Kawan! Aahh, bahasa sa campur-campur masa peralihan Jakarta ke Jogja dan campur sama bahasa Papua. Duh, maaf!

Dari mengenal kawan-kawan baru di Jogja memberi inspirasi baru untuk mimpi-mimpi sa yang telah mati suri sekian purnama. Ya, impian tentang Papua. Tunggu saja cerita sa selanjutnya. Ceritanya masih panjang... :) Semoga ada jalan untuk mewujudkannya. Aamiin... Semoga semesta mendukung! Terima kasih Kak Rosa yang selalu menginspirasi! Mari memupuk mimpi!