Senin, 19 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

Hari ini Pasar Senin Legi di sekolah. Sa memilih untuk berjualan lagi. Kali ini sa berjualan cukup laris "es teh buah". Semua bahan dan persiapan sudah oke, tapi tetep aja ada yang tertinggal. Yups, madunya tertinggal di meja dapur. Alhasil sa beli gula pasir untuk pemanis.

Lumayanlah hasilnya untuk memeriahkan Pasar Senin Legi. Walaupun jenis makanan yang dijual kurang beragam karena ternyata banyak yang jual es buah dan buah-buahan. :) Karena temanya warna-warni alami mungkin ya jadi semua jual buah dan jelly. >.< Lain kali sepertinya harus putar otak lagi buat nyari ide yang lebih menarik untuk jualan.

Kali ini sa dibantu sama Bu Wo. Lalu anak-anak antusias juga membantu. Pagi-pagi datang sudah disambut anak-anak dengan pertanyaan "Mbak, jualan apa?" Terus beberapa anak bantu bawa barang bawaan. Yo bantu buat tempelan harga dibantu sama Ken. Aby bantu ambilkan gelas kelas untuk jualan. Yo juga bantu jualan ambilkan es dan buah. Bu Wo jadi kasir. Semua senang. Walaupun pulang-pulang rasanya lelah banget. Tapi happy!

Nah, ada kejadian tidak sesuai rencana kali ini. Pagi tadi Bu Er izin tidak masuk sekolah dan memang jadwal Mas And off hari Senin. Alhasil sa cukup kuwalahan. Setelah selesai pasaran, sa baru ingat kelas ada makan siang. Ternyata belum masak nasi. :) Anak-anak yang piket lupa masak nasi. Akhirnya dibantu Titi masak nasi. Sa bilang ke Titi masak nasi 6 cup saja karena 3 orang tidak masuk. Dan ok, nasi dimasak. Waktu sa tanya di kelas siapa yang bawa makan siang, ternyata Aro. Dan... dia lupa bilang kalau makan siangnya mau ke warung Ken. Lah, nasi sudah dimasak. Sedangkan menu makan siang di warung Ken ada bakso, mie ayam, ayam pokpok. 

Diskusilah kami mencari solusi bagaimana cara menghabiskan nasi yang terlanjur dimasak. Gen mengusulkan kalau masing-masing membawa nasi pulang. Namun, cara tersebut belum diterima karena wadah bekal anak-anak masih penuh snack. Ada lagi yang mengusulkan untuk menanyakan kelas lain yang membutuhkan. Terulah, beberapa perwakilan tanya satu-satu ke kelas 1-6. Alhasil hasilnya tidak ada yang membutuhkan nasi. Info yang didapat karena masing-masing kelas ada yang tidak ada jadwal makan siang, jadi tidak membutuhkan nasi. Kelas 2 mengatakan kalau kami menginfokan terlambat 10 menit. Andaikan 10 menit itu kami sudah menginfokan, mungkin nasi tersebut bisa untuk kelas 2. Jadilah kami mencari ide lain. Yups, makan bakso sama nasi, makan mie ayam sama nasi (buat yang mau aja). Sisanya bagaimana? Muncullah ide dibawa pulang fasi terus dibawa lagi besoknya dibuat onigiri. Deal, sa yang akan membuat isian ayam, dicetak di sekolah bersama-sama.

Jalanlah kami ke warung Ken dan memesan makanan. Sa beli bakso tanpa mie agar bisa makan nasi juga. Itung-itung mengurangi nasi yang sudah dimasak. Yo juga nambah nasi. Tar juga nambah nasi. Ab pun juga ikutan makan nasi. Aby juga ikut makan nasi. Lalu, kami diskusi nasi yang masih ada besok dibuat onigiri di sekolah. Pembagian alat sudah disetujui. Tiba-tiba ada telepon dari kelas 2, mereka kekurangan nasi. Dan nasi kelas pun akhirnya untuk kelas 2. Alhamdulillah. Batal deh kami membuat onigiri. Jadi akan kami tunda untuk kegiatan kelas berikutnya. Problem solved!

Sa pulang dengan lebih lelah, namun harus kerja tambahan sampai jam setengah 9 malam. Permasalahan Hasse Diagram pun terselesaikan tepat waktu. Tapi masih ada PR untuk belajar lagi tentang Diagram Transisi DFA. Sa masih perlu waktu untuk memahaminya. 

Hari sudah mulai sibuk. Jadi cukup hectic untuk urusan diri sendiri. Mari fokus ke diri sendiri dan membangun relasi.

Jumat, 26 Desember 2025

Sadar "Ada Hal yang Perlu Dibenahi"

 Hi, lama tak menulis di sini. Hari ini terketuk hati sa untuk menulis lagi. Mungkin akan sedikit membingungkan kata-katanya karena sudah lama tidak menulis lagi.

Jadi ceritanya, mulai tanggal 20 Desember 2025, sa mengurangi penggunaan WhatsApp. Bukan kenapa-kenapa, hanya butuh 'me time' tanpa mikir kerjaan. Jadi selama liburan itu, sa bener-bener gak buka WA group atau WA chat dari teman-teman di sekolah. Sa hanya menghubungi 2 orang saja, Fitri dan Nafis. Selain itu gak buka WA, kalau ada yang urgent baru membalas. Memang sudah niat dari awal liburan, mau mengurangi interaksi dengan banyak orang.

Beberapa hari yang lalu, teman kerja WA, namun tak sa balas. Terakhir kali sa dapat WA, tawaran kerjaan, tapi sa tunda. Ada ortu yang WA, sa balas, tapi dengan jeda. Sebenarnya, sa tahu, ini kurang baik, apalagi menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lalu, teman kerja WA lagi, dan kali ini meminta bantuan teman-teman lain untuk menghubungi sa. Lagi-lagi sa tak jawab telepon maupun jawab pesan. Walaupun sebenarnya, sa ingin sekali balas dan bilang kalau sa butuh waktu sendiri, namun sa urungkan. Sa bilang ke Fitri kalau sa sedang mengurangi interaksi dengan rekan-rekan di sekolah maupun kerjaan. Namun, ternyata kehidupan sosial di Indonesia sangatlah kuat. Rekan kerja rasa saudara dan kadang apa-apa perlu diketahui lainnya. Sebenarnya, sa mencoba pasang boundaries. Ada beberapa hal yang tak bisa sa jelaskan begitu saja ke semua orang. Dalam hal ini, sa bisa dikatakan "cukup mampu" menangani hal ini.

Sa pikir, sampai di situ saja cukup. Ternyata tidak. Hari ini teman sa datang ke rumah dengan kekhawatirannya. Khawatir sa kenapa-kenapa. Khawatir sa tidak baik-baik saja. Awalnya, sa mau tak buka pintu, tapi tak tega. Sudah jauh-jauh ke rumah buat cek kondisi sa yang tak menjawab telepon maupun chat, ya masak tidak sa temui? :"( Lantas, sa buka pintu. Sontak kekhawatiran mereka pun hilang dan merasa lega. Dalam otak sa berkecamuk, kenapa mereka datang dengan kekhawatiran seperti ini? Perasaan macam apa ini? Sa mencoba memproses. 

Bu Er cerita kalau dulu pernah diceritain, salah satu teman. Ada teman dari temannya yang tidak ada kabar. Kondisinya mungkin mirip saya, tinggal seorang diri, merantau. Namun, tidak ada yang tahu kalau ternyata sudah meninggal beberapa hari di kontrakannya tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Mungkin, Bu Er tidak mengalami secara langsung, tapi pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika ada temannya yang tidak seperti biasa tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, menghilang....

Sampai cerita tersebut diceritakan, sa mencoba mencerna dan berpikir. Sa sudah salah dan membuat beberapa orang khawatir. Sa sadar dan mencoba belajar kembali tentang perasaan aneh yang muncul selama proses ini.

Sa bercerita ke kawan tentang kejadian ini. Ada satu benang merah yang bisa sa gali dan sa sambungkan. Sa sadari perasaan kesal, sedih, senang, aneh yang muncul satu per satu. Kenapa sa sedih? Kesal karena merasa liburan sa terganggu. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang khawatir di balik itu semua. Mungkin beda lagi ketika sa dari awal memberitahu kalau selama liburan sa tidak pegang HP, mungkin mereka akan lebih berlapang. Sa merasa sedih, senang dan aneh bercampur jadi satu. Perasaan campur aduk ini muncul karena merasa ada yang perhatian dan ada yang khawatir dengan sa. Terasa asing. Rasa yang sulit sa deteksi. Seharusnya sa bahagia ya karena ada yang peduli, tapi di sisi lain sa merasa perlakuan ini 'too much' dalam pertemanan. Tapi, setelah sa gali lebih dalam muncullah statement dari diri sa "aneh karena tidak familiar dengan perlakuan dicintai". Ternyata sa perlu belajar satu hal "perasaan dicintai, dipedulikan".

Setelah sa telusuri jauh ke masa lalu, pola asuh seperti apa yang membuat sa terasa asing seperti ini? Sepertinya karena dari kecil sebagai anak pertama, sa selalu dididik dengan berbagai macam tuntutan: harus mandiri, harus menjadi contoh adik-adik, harus apa-apa bisa sendiri, harus berbagi ke orang lain, harus memberi dan membagi cinta ke orang lain. Dan tidak diajari untuk menerima cinta dari orang lain atau perasaan dicintai itu sendiri. Selama ini, sa hidup dalam perasaan harus mencintai daripada dicintai. Merasa berhasil mengambil kontrol dari sesuatu tindakan. Mungkin juga takut ditinggalkan maupun tidak diterima. Sehingga sejauh ini, sa lebih familiar dengan perasaan mencintai daripada dicintai.

Dari kejadian ini, sa perlu belajar untuk tidak harus selalu memberi, tetapi "menerima" pun juga tidak apa-apa. Belajar menerima cinta dan dicintai orang lain. Belajar untuk menerima tanpa ada tuntutan untuk mengembalikan.

Afirmasi yang perlu sa ulangi seperti kata Bunda Shada:
"Aku layak menerima bantuan dengan hati terbuka. Aku terhubung dengan jiwa-jiwa baik yang melindungiku. Aku berjalan menuju masa depan yang stabil, kuat, penuh berkah, bahagia, dan berkelimpakan. Aku layak dicintai dan menerima cinta yang membahagiakan."

Minggu, 05 Januari 2025

#5 Buat Komitmen

Hari ini saya masak sayur sawi dan ikan cakalang. Tidak banyak yang saya lakukan hari ini. Hanya bersih-bersih rumah, nyuci baju, dan jemur bantal. Hari ini ada Mbk S dari grup pola makan sehat tiba-tiba chat saya tanya tips agar BB turun. Saya jawab ikuti tips yang diberikan coach. Ya memang begitu.

Hari ini saya berkomitmen untuk mengatur kembali keuangan. Beberapa hal perlu diubah. Menenangkan diri untuk tetap fokus pada kebahagiaan diri dan self love. Semangat ya kamu yang tengah belajar.... 

Sabtu, 04 Januari 2025

#4 Rutinitas Beberes Rumah

 Hari ini masak sayur sop dan ayam suwir. Saya sudah terbiasa tidak sarapan dan makan siang jam 12, lanjut makan malam sebelum jam 6 malam. Setelah masak, lanjut nyapu dan ngepel rumah. Ditambah nyuci baju.

Rencana awal mau ke bengkel, tapi gak jadi. Sore jam 3, akhirnya ngajar K 1,5 jam terhenti karena wifi K yang error. Lalu, lanjut beres-beres rumah lagi sebentar. Makan malam tapi hanya makan sayur karena masih terasa kenyang. Saya lupa minum vitamin. 😅

Lanjut, beres-beres lagi. Seperti ini ya kehidupan IRT, beres-beres mulu kerjaannya. Terus siap-siap istirahat. Jam 9 malam pun udah mulai ngantuk. Istirahat....

Jumat, 03 Januari 2025

#3 Hidup Penuh Kesadaran

 Hari ini saya ke sekolah setelah libur 2 minggu. Tidak banyak yang datang. Mungkin saya termasuk yang awal datangnya. Saya kira saya datang terlambat, ternyata acara belum dimulai.

Sempat saya ngobrol dengan Bu Umi dan bilang kalau saya tadi di jalan buru-buru tapi saya sadar kalau saya buru-buru juga tidak mengubah banyak hal. Saya teringat kata-kata Mbak Raras. Pernah saya cerita suatu pagi saya buru-buru ke sekolah. Naik motor dengan ugal-ugalan. Lantas, Mbak Raras tanya, "Emang kenapa buru-buru?" Saya jawab, "Takut telat." Lalu Mbak Raras menimpali lagi, "Kalau telat memangnya kenapa?" Saya tidak bisa menjawab. Mbak Raras bilang, "Yang tenang... Hidup nggak perlu buru-buru." Sampai saat ini saya mengingat terus kata-kata itu. Saat saya merasa akan terlambat berangkat ke sekolah, saya langsung berbicara pada diri sendiri, "Ya, ini tadi saya memang bangun kesiangan dan lama melakukan ini itu, jadi besok lagi bangun lebih awal. Pelan-pelan saja di jalan, jangan grusa-grusu. Kalau terjadi sesuatu kan yang merasakan diri sendiri. Jadi tetap fokus di jalan dan jangan gegabah."

Saya jadi ingat, tiap kali di jalan terjadi sesuatu misalnya saja ada orang nyebrang tidak hati-hati, kalau dulu saya akan misuh. Tapi sekarang, saya melakukan hal lain yaitu lebih sadar dan berhati-hati di jalan, meyakini bahwa orang tersebut menjadi pengingat saya agar saya lebih berhati-hati lagi. Hal itu adalah cara Tuhan untuk menyelamatkan saya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitulah percakapan saya dengan diri sendiri. Dan saya bersyukur telah diberikan selamat selama perjalanan.

Begitu pula dengan kata-kata Bu Umi kepada saya. Kalau buru-buru di jalan, ya itu jadi pengingat untuk diri sendiri bukan untuk orang lain. Berarti kalau besok-besok lagi datang lebih awal dan berangkat lebih awal. Semua fokus dan balik lagi ke diri sendiri, bukan untuk maupun karena orang lain. Begitulah nasihat Bu Umi hari ini.

Lalu, saat kegiatan dimulai, kami diskusi untuk game pagi hari pertama. Saya mengusulkan dance dengan gerakan yang mudah, lalu teman-teman sepakat. Dance itu saya cari dari youtube saat di kegiatan sebelumnya untuk backup partner kelas kalau sewaktu-waktu dia tidak masuk, sehingga saya sudah punya backup an kegiatan. Ternyata seru juga. Saya juga memberanikan diri untuk usulan beberapa kegiatan dan aktif dalam kegiatan contoh gerakan. Semoga di semester ini saya lebih aktif lagi ya....

Setelah kegiatan, saya makan bersama teman-teman yang datang. Menu yang disiapkan lebih banyak dari jumlah yang datang sehingga lebih banyak dan kami boleh membawa pulang. Saya ambil semangkok sayur asem dan sambel. Cukup itu saja. Karena di sana juga saya sudah makan nasi, sayur asem, ayam, ikan asin, sambal. Ditambah lagi saya sedang mengikuti program IF Mbak Raras mulai dari tahun baru kemarin. Jadi memang harus jaga pola makan. Kalau dulu semua hal saya makan, sekarang saya sudah pelan-pelan menjaga makan saya. Sebenarnya, sudah setahun ini sih saya mengatur pola makan. :) Hasilnya luar biasa, emosi dapat terkontrol, kalau dulu sukanya galau, sekarang lebih ke hidup dengan penuh kesadaran.

Sampai rumah, saya ngajar Krish. Selesai ngajar, beres-beres rumah. Hobi baru saya adalah menjaga rumah sehingga tetap bersih dan rapi. Momen yang saya tunggu adalah buka pintu saat Subuh. :) Lalu, saya juga rutin mengikuti afirmasi positif. Semoga tahun ini hidup lebih melimpah dan bahagia selalu. Aamiin....

Kamis, 02 Januari 2025

#2 Semua Indah Tepat Pada Waktunya....

 Semua indah tepat pada waktunya....

Ya, benar sekali. Seperti setahun belakangan ini. Banyak hal yang membuat saya sadar dan belajar untuk memahami setiap hal yang terjadi. Di saat semester 4 master saya, sudah pasti ada keinginan lulus tepat waktu. Tepatnya Agustus tahun lalu, saya memutuskan untuk memperpanjang semester saya ke semester berikutnya. Ya, keputusan yang tak pernah saya sesali, tapi sebaliknya, saya merasa keputusan itu tepat. Begitu pula saat target yudisium September lagi-lagi keputusan saya menambah waktu lagi. Semua berjalan dengan lancar. Bahkan ada hal yang membuat saya bersyukur atas keputusan itu. Semua selesai dengan baik dan alhamdulillah lancar.

Di momen pendaftaran yudisium November, saya juga memutuskan lagi mengundurnya. Walaupun saat itu, sebenarnya sudah lengkap dan tinggal daftar yudisium dan wisuda November. Namun, ada beberapa pertimbangan yang membuat saya memutuskan itu. Dan keputusan saya wisuda tahun 2025 saja. 😊 

Di bulan Desember 2024, saya pun memutuskan lagi ambil yudisium Desember. Saya bersyukur keputusan-keputusan yang telah saya buat, semua itu telah ditakdirkan untuk saya. Jadi hal yang terlintas di pikiran saya adalah, tetap melakukan yang terbaik dan menerima hal-hal yang terjadi. Saya belajar tentang acceptance. Dan tidak perlu disesali. Saya belajar untuk tidak mengulang takdir. Karena cara memutus takdir adalah dengan menghadapinya dengan cara berbeda. Pola yang sama akan berulang, jadi perlu pola baru. Saya masih belajar untuk beraksi dan mengurangi reaksi. 😊

Tanggal 2 Januari 2025, semua tepat pada waktunya. Saya bisa lulus S2 dengan baik. Alhamdulillah....

Begitu pula dengan hubungan dengan teman-teman, sudah membaik setelah saya memutuskan untuk pindah kos. Kami bertemu kembali dan makan bersama. Untuk sampai di fase ini tentunya banyak hal yang telah saya lalui dan belajar dari pengalaman. Saya belajar untuk diam dan beraksi, bukan seperti dulu yang bereaksi, galau, dan gak jelas alurnya. Dengan menghadapi masalahnya, bukan kabur menghindari. Itu salah satu hal yang saya pelajari dari konflik yang ada. Semua pasti berlalu....

Rabu, 01 Januari 2025

#1 Mari Mengawali

Selamat datang tahun 2025. Saya bersyukur atas kebahagiaan, keberlimpahan, dan kedamaian harmonis hari ini dan seterusnya.

Hari ini diawali dengan mendengarkan hal baik-baik. Salah satu lagu yang sering saya dengarkan adalah Mantra Uang dan Mantra Cinta oleh Aviwkila. Jadi ingat pesan Mbk Raras tentang berdoa saat bangun tidur dan sebelum tidur. Jadi  rutinitas doa khusus pagi dan malam saya tambah. Lalu, afirmasi baik saya tambah.

Hal baik selalu menyertai hari ini dan seterusnya....

Agenda tahun baru, gak banyak. Hanya belanja sayur dan lauk, terus ngangetin soto semalam. Hari ini mulai IF jadi tambahan telur. Sedang mengurangi bumbu yang rasanya kuat. Lebih suka yang light soal rasa.

Tahun baru kali ini di rumah aja sambil beberes rumah. Oh iya, tempat tinggal yang sekarang jauh dari kota. Suasana banyak pohon jati. Saya senang bisa tinggal di sini. Anak-anak juga senang. Mereka bebas masuk hutan dan semak-semak. Tetangga juga jarang, jadi jarang berinteraksi. Paling teman anak-anak yang suka datang pagi, siang, sore, malam. Kadang Subuh mereka sudah manggil-manggil kalo gak ya masuk dari jendela. Minta makan. 😅 Tapi memang rezeki mereka atas kepindahanku. Ayam-ayam pun juga ikutan minta makan. Alhamdulillah bisa berbagi dengan semua makhluk.

Tahun baru ngapain? Tidur cepat 🤣 Iya beneran. Soalnya perlu tidur 8 jam dan perlu bagi waktu. 

Sudah itu aja.... 😊

Kebahagiaan, keharmonisan, kedamaian, keberlimpahan menyertai seluruh makhluk.... 😊


Selasa, 31 Desember 2024

Terima Kasih

 Terima kasih Tuhan untuk segala takdir yang telah Engkau berikan untukku di tahun 2024...

Terima kasih alam semesta telah membersamaiku di tahun 2024...

Terima kasih diriku, telah berusaha menjadi lebih baik dan mau belajar untuk hidup sehat, bahagia, damai, berkelimpahan, dan harmonis...

Kadang lucu ya hidup ini. Semua tepat pada waktunya. Alam semesta memang tidak pernah tergesa-gesa dan semuanya berjalan sesuai jalannya. Seperti kata-kata Lao Tzu, "Alam tidak terburu-buru, namun semuanya tercapai."

Terima kasih Tuhan, aku bahagia... 

Terima kasih atas keberlimpahan di tahun 2024 ini dan di tahun-tahun seterusnya... 

Minggu, 12 Mei 2024

#44 Menaikkan Vibrasi Diri

Hari ini saya bangun pagi karena ada ngajar jam 3 pagi lanjut saya mau renang pagi juga. Janjian sama Mbak Raras jam 6 pagi buat renang di Biru. Setelah ngajar Pascal sekitar 1 jam, saya pun siap-siap. Untungnya, semalamnya sudah saya siapkan perlengkapan renangnya. Lalu, jam 5 pagi, saya menghubungi Anees, tapi sepertinya dia tidak bangun. Ya sudah, saya tinggal saja.

Saya sampai di Biru sekitar jam setengah 6, jalanan lancar dan saya tidak nyasar. Saya menunggu Mbak Raras sampai, katanya nyasar karena diarahkan ke kiri sama googleMaps. Padahal seharusnya ke kanan. Ya sudah nungguin di luar. Sesampainya Mbk Raras, kami pun masuk dengan membayar tiket Rp15.000 per orang. Siap-siap renang. Kondisi kolam sudah ramai. Beberapa ada yang latihan untuk profesional, sebagian ada yang hanya berendam kayak saya. Hahaha, efek saya tidak bisa renang, tapi dikit-dikitlah bisa.

Kami renang sekitar 1 jam. lanjut nyari tempat nongkrong dan ketemulah warmindo Sukarasa. Kami nongkrong dan makan di sana. Sampai berpiring-piring dan bergelas-gelas habisnya. Mas-masnya juga ramah-ramah. Semua request-an saya dibuatkan dengan baik. Rasa masakannya juga enak. Sop dan sambalnya enak juga. Pokoknya, warmindo ini sudah jadi basecamp kami buat nongkrong. Kami makan bermacam-macam dan minum bermacam-macam pula, hanya habis Rp70.000 berdua. Sampai saya bertanya berulang kali lagi ke Masnya, apa sudah semua dihitung. Murah sekali ini untuk sebanyak itu makanan. :D Alhamdulillah....

Lalu, Mbak Raras bilang kalau mau menaikkan vibrasi kita, bisa nongkrong di mall atau restoran hotel atau cafe Prawirotaman sekali-kali. Bisa juga renang di pagi atau malam hari karena biasanya orang-orang yang settle akan renang di jam-jam itu. Kadang kita perlu berada di dekat orang-orang dengan vibrasi tinggi agar ikut terpapar vibrasi baiknya. Hmmm, menarik. Saya jadi ingat saat saya di Jakarta, tiap hari ngajar di cafe dan benar juga rejeki lancar dan ada saja keberuntungannya. Sepertinya memang salah satunya karena tiap hari saya berkumpul dengan orang-orang berekonomi menengah ke atas. Paparan vibrasinya kuat. Sepertinya perlu dicoba lagi.

Terus ada pesan dari Mbak Raras tentang masa lalu saya yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu. Salah satunya kebencian saya dengan bapak sambung saya selama ini yang masih membekas di deretan masa lalu saya. Kata Mbak Raras, saya perlu memaafkan dan meminta maaf agar jalan saya ke depan lebih baik. Apa salahnya berdamai dengan masa lalu? Toh itu semua untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Ya, memang perjalanan spiritual saya saat ini memang cukup membuat saya banyak belajar. Terutama untuk diri sendiri. Salah satunya bermeditasi, memaafkan dan dimaafkan. Karena saya perlu menabur hal-hal baik untuk diri sendiri. Sebagai pemutus karma leluhur selama ini. Bahagia seluruh makhluk....

Sabtu, 11 Mei 2024

#43 Tenang Seimbang, Datar Saja

Hari ini Kuro belum pulang juga. Entah kemana perginya. Saya hanya bisa bersikap tenang saja. Semoga baik-baik saja dan bahagia selalu. Saya belajar untuk merelakan sesuatu yang di luar kontrol saya, seperti sesuatu yang pergi dan tak kembali, ya saya perlu merelakannya. Jika dia kembali, tentunya puji syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan kedua untuk bersama lagi. Ya, saya belajar untuk tidak bereaksi apa pun, datar saja, karena semua sudah ada jalannya. Begitu pula saat Kuro tak pulang, saya tetap tenang, datar saja. Semua akan kembali seperti biasa, tak perlu terlalu berlebihan sedih, terlalu senang, atau terlalu benci. Itu yang saya pelajari.

Seperti halnya, saya sempat benci sekali dengan nama Anis semenjak huru-hara ibukota yang membuat saya lumayan trauma dengan identitas Islam. Sebenarnya, saya tahu betul itu hanya sebagian saja, toh masih banyak kyai atau pemeluk Islam yang mengayomi dan tenang damai. Namun, sejujurnya, tetap kejadian yang ada di Jakarta dulu membuat saya trauma. Saking bencinya saya dengan nama Anis, sampai akhirnya saya tidak suka ketika ada nama Anis, entah itu disebutkan orang atau saya membaca sesuatu yang berhubungan dengan kata itu. Dan semesta pun sangat adil dan mengingatkan saya untuk tidak membenci.

Dan tahu apa yang terjadi? Semesta mengirimkan teman bernama Anees. Lha kok bisa? Ya, begitulah cara semesta mengingatkan kita untuk tetap sesuai jalur kehidupan. Kan kalau seperti ini, interaksi saya bersama nama Anees semakin banyak dan mau nggak mau saya harus terbiasa dan tidak boleh berlebihan dalam membenci maupun menyukai sesuatu. Intinya adalah sedatar-datarnya, sewajarnya, dan tak perlu berlebihan.

Makanya, saya sekarang tidak mau ambil pusing dengan kedatangan maupun kepergian sesuatu. Kalau datang ya saya hargai. Kalau pergi ya saya biarkan pergi dan saya lepaskan. Tak perlu berlebihan mencintai atau membenci. Belajar untuk melepas kemelekatan karena hidup datang dan pergi. Tetap fokus ke diri sendiri. Tetap tenang seimbang. Fokus ke diri sendiri dan perbaiki diri. Dan ini sudah hampir satu bulan saya mengkonsumsi sesuatu non hewani. Ternyata saya bisa bertahan juga. Lalu, konsisten untuk tetap menjaga diri dengan olahraga dan beberapa kegiatan lainnya. Semesta sangat baik ya ke diri ini. Kadang manusianya saja yang terlalu banyak mengeluh dan memprotes. Padahal semesta sudah memberi yang terbaik untuk kita. Mari berbahagia.... 

Jumat, 10 Mei 2024

#42 Kuro Tak Pulang!

Hari ini tepat 3 hari Kuro tidak pulang. Biasanya dia akan turun dari atap saat pagi minta sarapan dan sore saat menjelang makan malam. Setiap pagi juga dia menunggui saya cardio. Tidur di sebelah kaki saya bersama Usrok dan Oyen. Dia selalu tahu dan berlari mengejar saya ketika kami berpapasan. Dia selalu pulang! Walaupun kadang hanya untuk say hello!

Selama tinggal bersama saya, Kuro hanya pernah tidak pulang dua kali. Pertama, saat dia kecelakaan tertabrak motor sewaktu kecil. Dia bersembunyi di semak-semak yang akhirnya saya temukan pagi harinya. Feeling saya kuat saat itu kalau saya akan bertemu kembali dengan Kuro. Dan benar saja, pagi harinya saya beranikan diri masuk ke pekarangan tetangga yang terbengkalai. Saya mendapati dia sedang menggulungkan tubuhnya lemas karena luka di muka di antara tumpukan kayu-kayu dan semak-semak. Ya, saya menemukannya!

Lalu, kedua, saat dia terluka kakinya di sekat rumah tetangga. Saat itu saya baru pindah kos. Selang beberapa hari, dia keluar rumah dan saya biarkan karena dia sudah hapal rumah. Tapi beberapa hari dia tak pulang. Saya pergi mencarinya berkeliling kompleks dan tanya ke tetangga-tetangga juga tanya ke kucing-kucing yang saya temui di jalan. Setelah berputar-putar mencari tetap nihil. Kuro tidak saya temukan. Lalu, lagi-lagi feeling saya kuat kalau saya panggil-panggil lagi pasti Kuro akan mendengar dan memberi tahu keberadaannya. Setelah keliling kompleks, saya masuk ke kos, entah kenapa feeling saya kuat kalau saya harus memanggilnya sekali lagi. Saya panggil lagi namanya dan benar! Kuro menyahut dan mengeong menunjukkan keberadaannya. Dia ada di sela-sela tembok tetangga, tidak bisa turun. Lantas, saya berusaha mengambilnya, tapi tembok terlalu tinggi. Saya tunggu dia sampai jam 2 pagi, tapi akhirnya saya memintanya untuk menunggu pagi hari. Setelah pagi, saya minta bantuan ke tetangga untuk mengambilkan Kuro dengan tangga. Alhamdulillah, bapak tukangnya mau bantu. Saya pun bertemu Kuro kembali. Kakinya bengkak karena luka, badannya demam sehingga dia tidak mau makan dan hanya tidur sepanjang hari. Saya membawanya ke Rumah Sakit Hewan UGM dan segera ditangani dokter. Pulang-pulang dikasih antibiotik dan obat agar segera sehat. Beberapa hari kemudian Kuro kembali sehat! Alhamdulillah....

Ini ketiga kali Kuro tidak pulang. Saya sudah berusaha cari keliling kampung dan tanya ke tetangga. Setiap ada kucing tetangga, saya juga tanyakan dan titip pesan kalau mereka bertemu Kuro, si hitam dengan ekor panjang, suruh pulang karena dicari ibuk. Saya masih menunggunya pulang.... Anak ibuk! Dan kali ini saya tidak punya feeling apa-apa.... Saya masih berharap Kuro kembali dengan sehat.... Aamiin....

Pagi tadi setelah cardio, saya meditasi untuk mengurangi overthinking karena semalam saya tidur dengan tidak nyaman dan sangat mengharapkan Kuro pulang. Setelah meditasi, saya lebih tenang. Dan saya mengurangi ekspektasi saya terhadap apa yang terjadi. Saya ingat, dulu saya pernah bilang ke Kuro, kalau suatu hari nanti Kuro ingin pergi duluan, nggak papa, ibu ikhlas, ibuk bahagia karena Kuro sudah menemani ibuk dan sayang sama ibuk selama ini. Jangan terbebani ya Kuro, sayangnya ibuk! Kalau suatu saat ibuk duluan yang pergi, Kuro juga nggak boleh nungguin Ibuk terus ya.... Ibuk sayang sama Kuro! Terima kasih ya sudah sayang sama ibuk dan selalu menemani ibuk! Sayang sama mamas Kuro.... Itulah, sesungguhnya hidup ini memang perlu merelakan dan menerima. Semeleh dengan apa yang terjadi. Tidak perlu memberontak atau berekspektasi. Semua akan indah tepat pada waktunya. Jika pun berpisah, itu artinya memang sudah selesai sampai di sini, sesuatu itu datang di hidup kita dan kita pun memang harus mengikhlaskan.

Kuro, anak baik! Love you! Terima kasih ya sudah sayang dan menemani Ibuk selama ini.... Di mana pun kamu berada, ibuk sayang sama mamas Kuro. Love you! Alhamdulillah, ibu bersyukur karena sudah dipertemukan dengan mamas Kuro.... Ibu bahagia selama ini hidup bersama sama Mamas Kuro! Baik-baik ya Nak! Love you! 

Untukmu yang terbaik, Mamas Kuro, kucing hitam berekor panjang dengan warna putih di dada. Love you!

Kamis, 09 Mei 2024

#41 Happy Birthday!

Happy birthday to you! 9 Mei!

Apa kabar kamu? Sehat selalu ya.... Dua hari yang lalu, tak sengaja aku melihat postinganmu di salah satu grup facebook. Ternyata kita beririsan di grup itu. Kamu berbagi cerita tentang perjalananmu ke Jepang. Nice! Setelah lebih dari 3 minggu ini saya berusaha untuk tidak kepoin kamu, aku senang mendapat kabarmu lagi walau hanya lewat social media. Aku tak perlu tanya kabar kamu lagi kan? Dan aku tidak perlu khawatir lagi karena kamu masih sehat dan bahagia....

Lalu, hari ini kamu ulang tahun ya.... Aku sengaja tak mengucapkan langsung ke kamu. Cukuplah di tulisan sini saja dan dalam doa baik. Aku tak mau mengganggu hidupmu lagi. Biar kamu bahagia dengan caramu sendiri. Dan aku juga bahagia dengan caraku sendiri. Terima kasih ya, sudah mengajarkan bagaimana cara membahagiakan diri sendiri. Terima kasih sudah mengajarkan apa itu kasih sayang dan cinta. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana cara mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Terima kasih ya sudah pernah datang di dalam cerita hidupku sejauh ini. Aku belajar untuk merelakan dan menerima. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana bersikap dewasa dan menjadi teman yang baik.

Di tahun ini, aku belajar memperbaiki diri dan belajar mengenali diri sendiri. Aku belajar untuk mengambil sikap. Aku memilah hal mana saja yang perlu aku pertahankan dan mana yang perlu aku tinggalkan. Aku belajar untuk merelakan dan melepas segala sesuatu yang memang ingin pergi. Terima kasih ya sudah menyadarkan aku tentang arti hidup menerima dan memberi.

Teruntuk kamu, sehat-sehat ya.... Bahagia selalu.... Aku berhenti untuk tanya kabarmu.... Aku berhenti untuk mau tahu urusanmu.... Aku berhenti untuk menghubungimu.... Aku berhenti untuk meresponmu.... Aku berhenti untuk memikirkanmu.... Bukan berarti aku benci, bukan.... Aku hanya memberi waktu untuk diriku sendiri. Fokus pada diriku yang selama ini aku fokus pada orang lain. Aku kembali fokus pada goals dan hidupku.... Pergilah dengan bahagia!

Suatu hari nanti ketika kita bertemu kembali, mari bercerita banyak hal.... Suatu hari nanti ya! Bahagia dan damai selalu.... Selamat ulang tahun ya.... Doa-doa baik untukmu.... Thank you!

Rabu, 08 Mei 2024

#40 Perpanjang Paspor di Jogja

Pagi ini jadwal saya ngurus paspor di kantor imigrasi. Saya memilih kantor imigrasi yang ada di Lippo karena itu tempat yang paling dekat dengan kos. Hari sebelumnya saya bertanya untuk memastikan dokumen yang dibutuhkan ke Kak Tina, seorang teman petugas imigrasi. Semua dokumen saya lengkapi: 
1. Fotokopi KTP (bawa juga yang asli)
2. Fotokopi KK (bawa juga yang asli)
3. Fotokopi Akte Kelahiran (bawa juga yang asli)
4. Paspor asli
+ materai 10.000 (tapi saya lupa bawa)
+ print lembar permohonan download dari aplikasi M-Paspor

Tapi waktu saya mau berangkat, saya baru ingat harus print lembar permohonan yang dapat didownload dari aplikasi permohonan paspor M-Paspor. Untungnya saya berangkat lebih awal sekitar jam 9, jadi masih bisa print dulu. Sebelum berangkat, saya pun print di fotokopian dekat kos, lalu lanjut ke Lippo. Sampai di Lippo masih jam 9.30 pagi dan lokasi kantornya ternyata di lantai 1, jadi harus naik dulu lewat pintu samping karena pintu depan belum buka mall-nya.

Setelah sampai di depan kantor imigrasinya, ternyata sudah antre lumayan banyak. Tapi kantornya baru buka jam 10. Saya menunggu sekitar 30 menit dan itu pun antrenya tidak sesuai jam kedatangan. Saya ambil map dan diminta isi formulir dulu. Lha, ternyata ada satu yang terlupa, yaitu materai 10.000. Saya lupa beli dan tidak ingat kalau harus membawa materai. Ada hal lucu yang tadi terjadi....

Saya kan lupa bawa materai terus kata petugas imigrasi di toko depan ada tapi belum buka tokonya.... Saya cuma tenang saja.... Pokoknya nggakpanik, sudah tenang saja. Ibu-ibu samping saya sudah heboh marah-marahin anaknya karena tidak mengecek lagi dan lupa bawa beberapa dokumen dan materai kurang satu.... Terus saya cuma senyumin saja.... Sebenernya ada pilihan buat turun keluar mall terus nyari di fotokopian... Tapi saya memilih untuk nunggu 10 menitan toko buka.... Menurut info dari bapak-bapak yang tahu, paling sekitar 10 menitan orangnya yang jual datang. Ya, saya percaya saja dan kalau misal nggak datang-datang, ya nantilah dipikir lagi untuk keluar mall. Terus nunggu 10 menit, gak lama tokonya buka.... Langsung diserbu beberapa orang yang lupa membawa materai. Terus saya belilah materai di situ.... Harganya Rp15.000, ya lumayanlah, tapi bapaknya baik, jadi nggak papa harga segitu. Tanpa harus turun naik tangga lagi pula....

Dokumen pun lengkap, ngantri, nunggunya gak lama, terus pas di loket dokumen lancar, ditanya-tanya kerja dimana, di Jogja kegiatannya apa, saya bilang kuliah dan kasih kartu KTM. Lalu, lanjut ke loket foto. Pas saya ambil foto, biasanya saya itu akan diem aja gitu, tapi saya coba untuk ngajak bercanda petugasnya, terus bapaknya ikutan ngakak karena saya foto berkali-kali tapi telinga kananku gak keliatan 🤣🤣 terus akhirnya ya udah dipilih yang bagus, saya bilang ke bapaknya, pak foto yang cantik ya pak... Bapaknya ketawa 🤣 sambil nyodorin tisu karena melihat dahi saya yang penuh keringat karena abis naik eskalator yang mati karena mall belum buka tadi pagi. Ternyata ketawa itu nular ya... 😬😬😬

Terus, tadi saya tanya ke bapak yang bagian foto, apa saja yang perlu dibawa saat pengambilan paspor. Bapaknya bilang bawa bukti pengambilan dan bukti pembayaran tercetak. Lalu, saya tanya kenapa fotokopian masih perlu banyak untuk persyaratan dokumen, terus bapaknya curhat malah, katanya orang-orang kadang upload dokumen itu ngasal dan foto aja ada yang upload foto keluarga, foto kucing, terus ngakak bareng lah malah. Nah, satu lagi, khusus penggantian paspor lama ke paspor baru, hanya dibutuhkan KTP asli yang akan ditanyakan selain dokumen fotokopian ya.... Tapi bawa aja semua dokumen untuk jaga-jaga. Kemarin sih saya hanya perlu ktp aslinya saja yang dicek, sedangkan dokumen asli yang lain tidak dicek karena saya perpanjang paspor.

Lalu, sudah deh nunggu seminggu untuk pengambilan paspor barunya. Yey, paspor baru jadi, semoga makin semangat untuk jalan-jalan lagi.... :D Mari berbahagia!

Selasa, 07 Mei 2024

#39 Keputusan dan Keikhlasan

Hari ini saya janjian sama Bang Limin dan Tace untuk makan siang bareng setelah sekian lama tidak berjumpa di kampus. Saya mengajak juga mbak Alia tapi tidak bisa ikut. Anees juga saya ajak, tapi dia ikut kelas BIPA dan baru selesai jam 12.50. Sedangkan Bang Limin ada kelas lagi jam 1. Jadi saya memutuskan untuk tidak menunggu Anees dan pulang setelah jam 1. Lalu, setelah sampai kos, ternyata Anees menyusul ke kantin FMIPA dan akhirnya kami tidak bisa bertemu. Saya bilang lain kali saja karena saya sudah pulang. Saya tawarkan dia mau ditemani makan siang, tapi dia menjawab sudah makan.

Saya pun lanjut ke Bank Mandiri untuk mengurus AXA Mandiri. Ternyata produk lama itu membuat saya malah rugi selama 5 tahun belakangan ini. Rugi hampir 10jt, dengan biaya admin yang ternyata gede. Alhasil saya pun cerita ke Mbak Raras, dan hasil diskusi kami adalah saya cut saja asuransi itu dan ikhlaskan kerugiannya selama ini. Nanti juga akan ada gantinya yang lain. Akhirnya saya cut off AXA Mandiri saya dan tidak tertarik untuk ikut lagi walaupun produk barunya tanpa biaya admin, tapi tetap saja, saya rada trauma dengan yang namanya asuransi.

Ya, dulu kenapa saya ikut asuransi, karena berpikir saya kerja di Jakarta dan kerjaan saya mobile, kalau sewaktu-waktu saya kenapa-napa, minimal ibu saya punya uang. Makanya nama penerima dana itu adalah ibu saya. Lalu, sekarang ibu saya sudah tidak ada, jadi ya sudah mari hidup seperti biasa dan serahkan takdir kepada Tuhan saja. Lain kali mungkin bisa ya saya pikir-pikir ulang tentang asuransi.

Terus, sorenya, saya nonton Totto-Chan: The Little Girl at the Window sama Tace dan Bang Limin di bioskop Lippo. Salah satu novel yang saya suka dari dulu tentang sekolah yang beda dari yang lain. Saya menemukan sekolah serupa di Salam. Entah kenapa membuat saya seperti berada di dalam film itu saat saya mengajar di Salam. Totto-Chan, salah satu inspirasi saya di dunia pendidikan. Filmnya sedih tapi bagus! Novelnya tambah bagus lagi. :)

Dulu saya pernah punya mimpi untuk membangun sekolah seperti Sekolah Tomoe. Sekolah yang mengajarkan tentang hidup dan bahagia. Menerima segala karakteristik anak, tak ada anak yang bodoh, tak ada anak yang nakal, semua istimewa. Mungkin itu jadi salah satu semangat kenapa saya tetap di pendidikan. Ya, salah satu impian saya pun bisa mengajar di daerah pedalaman. Entah, dimana pun itu. Semoga bisa terwujud.... Aamiin....

Pulang nonton, saya dan Tace makan nasi padang. Saya makan terong dan tempe goreng. Lanjut mampir beli keripik singkong 1 porsi Rp6.000 di dekat fakultas teknik. Lalu pulang. Hari yang cukup padat. 

Senin, 06 Mei 2024

#38 Panen sayur dari Teras

Pagi ini saya panen daun pepaya jepang dari teras. Saya masak tumis kering dengan lauk tempe. Sederhana tapi enak. :D Tak lupa saya juga pamerin ke Fitri. Hahaha.

Saya mulai senang lagi masak makanan rumahan daripada beli jadi. Menurut saya ketika saya masak, itu salah satu healing untuk saya. Semua indera bekerja. Penglihatan sangat dibutuhkan untuk memilah bahan-bahan dan juga menentukan apakah masakan sudah matang atau belum. Pendengaran tentu, memanaskan air pun berbunyi tanda mendidih. Peraba, dibutuhkan saat kita memotong bahan. Kontak langsung dengan bahan-bahan tentunya membuat indera kita semakin terasah. Penciuman, ini salah satu indera penting untuk menentukan aroma layak atau tidaknya makanan untuk dikonsumsi. Pengecap, ini utama dari penentuan rasa apakah manis, kurang bumbu, atau keasinan. Lalu, memasak adalah salah satu kegiatan yang bisa mengasah semua indera tubuh manusia, menurut saya seperti itu.

Terus lagi, kegiatan masak juga membantu saya mengurangi overthinking karena lebih fokus ke diri sendiri. Terlebih lagi, membantu untuk mengelola emosi. Memasak adalah kegiatan kedua saya setelah bersih-bersih kamar dengan tujuan untuk healing. :D Tetap cara healing utama saya adalah bersih-bersih kamar dan kos. Hehehe. Memasak juga membantu saya memanggil kembali memori masa lalu, seperti memori indah bersama ibu dan bapak saat masak dan makan bersama. Memori bukan untuk dilupakan kan? Tapi sebaliknya, memori masa lalu akan memberi kita pembelajaran, entah itu baik atau buruk. Kita bisa belajar tentang itu.

Bahkan saat saya masak daun pepaya jepang ini, ada memori dari ibu, dulu ibu sempat tak mengizinkan saya memasak pepaya jepang tanpa menjelaskan alasan. Sampai sekarang pun saya tidak tahu alasannya. Dulu ibu hanya bilang nanti kena penyakit, tapi saya tidak tahu penyakit apa dan kandungan apa yang menyebabkan penyakit itu. Saya baru mengetahui kalau pepaya jepang ini salah satu tanaman superfood. Dan enak ketika ditumis, tidak pahit. Kalau ada yang tahu tentang kandungan pepaya jepang, bisa komen di sini ya.... Mungkin ada yang tahu kenapa pepaya jepang tidak boleh dikonsumsi? 

Minggu, 05 Mei 2024

#37 Jogja National Museum

Pagi ini saya pergi ke Pasar Kranggan untuk makan kembang tahu dan beli lopis. Saya beli juga nasi pecel di dekat kembang tahu. Lalu, pulang dan beres-beres kos. Akhirnya, alhamdulillah bisa merasakan lopis pasar Kranggan yang ngehits itu setelah berkali-kali ke sana tidak dapat antrian. Harganya Rp10.000, yang jualan simbah-simbah dan 2 anaknya. Antriannya 1 sampai 50, kalau jualan masih, antrian akan mengulang kembali. Rasanya enak, tapi isinya kurang banyak. :D

Lalu, sore harinya saya pergi ke JNM bareng Anees. Sebenarnya, saya mengajak dia ke Pasar Kranggan juga tapi tidak jadi ikut karena dia tidak bisa bangun pagi. Ya, sudah.... Saya menjemputnya jam 3 sore. Ada kejadian kocak saat saya menunggu dia keluar kos. Saya sudah menunggunya, dia bilang sudah di pinggir jalan, tapi kami tidak bertemu. Hahaha. Ternyata saya salah berhenti, titik temunya kurang beberapa meter ke depan. Hahaha. Pantesan tidak ketemu. 

Kami pergi sekitar 15 menit sampai lokasi. Kami parkir di parkiran yang sudah disediakan. Pembayarannya di awal masuk sebesar Rp3.000 untuk biaya parkir. Saya ribet nyari dompet di tas, ternyata Anees sudah mengeluarkan Rp5.000 untuk parkir. Terima kasih ya Anees.

Kami pun masuk ke museum. Untuk tarif mahasiswa Rp15.000 per orang. Acaranya barengan dengan Pasar Jembar. Anees dan saya pun masuk ke museum terlebih dahulu. Pamerannya bagus. Banyak bahasa Jawa yang ditulis arab. Anees pun membaca tulisan arab itu sambil menceritakan tentang tulisan arab tanpa harokat. Saya hanya menyimak karena saya tidak bisa baca tulisan arab tanpa harokat. :") Katanya, tulisannya itu lebih ke makna spiritual dan proses mengenal Tuhan dengan berbagai perjalanan spiritual seseorang. Terus lagi juga tentang kisah Nabi Khidir. Menarik....

Setelah selesai melihat-lihat museum, kami pun pergi ke Pasar Jembar. Lokasinya di halaman museum. Ada beberapa yang jual makanan dan pernak-pernik handmade gitu. Saya beli lopis dan buko pandan buat Anees. Biar dia merasakan makanan tradisional Indonesia. Lalu, beli mochi dan brownies buatan muridku. Terus, kami nonton tarian anak-anak dari kelas minat Tari Salam. Salam juga tampil beberapa lagu dari gitar kecil. 

Saya bertemu Nara, Sofi, Bening dan tim tari lainnya. Saya memperkenalkan Anees ke murid-murid saya. :D Dia pusing mengingat nama anak-anak yang tidak biasa di telinga dia dan kata-kata yang susah diingat. Hahaha. Lain kali saya ajak ke sekolahku ya.... Terus selesai penampilan Salam, saya mengajak dia pulang karena saya harus mengajar. Sebelum pulang saya janjian ke dia untuk makan malam bareng nasi padang deket UGM. Baiklah, kami pun pulang.

Lalu, setelah ngajar, saya kembali menjemput Anees dan makan nasi padang. Saya hanya makan tahu dan bakwan karena saya sedang mengurangi protein hewani. Dia hanya makan nasi, rendang dan kuah tanpa sayuran. Saya kutanya kenapa nggak ambil sayur, katanya sayurannya tanpa bumbu jadi itu aneh buat dia. Ya sudah. Hahaha. Dia makan sampai nambah dua kali. hahahaha. Setelah makan, kami ngobrol sebentar lalu kami pulang karena warungnya mau tutup. Kami pulang dan merencanakan pertemuan selanjutnya. Entah kapan lagi. Hahaha.


Sabtu, 04 Mei 2024

#36 Netralkan Energi Tubuh

Pagi ini saya petik daun ginseng dari teras kos. Hari kemarin saya petik daun kelor dari sekolah. Kok enak ya tinggal di Indonesia! Apa-apa tinggal petik.

Itulah pesan pagi yang saya sampaikan ke Mbak Raras. Lalu Mbak Raras bilang, "Senetral itu energimu sekarang. Pelan maknai pahami ilmu diri. Lepas semua kemelekatan. Kita itu diberi terus oleh Tuhan."

Alhamdulillah. saya pun menyadari saat ini saya lebih sering merasa nyaman dengan diri sendiri. Misalnya saja saat saya ngaca, saya senang melihat diri saya, cantik! Senyumannya saya sukai. Rambut, saya sukai. Semua saya sukai. Kalau dulu saat saya bercermin, biasanya saya tidak suka berlama-lama.... Tapi sekarang, tiap pagi saya ngaca dan saya merasa sennag. :D

Lalu, satu hal lagi yang saya sadari tentang menghadapi energi negatif dari orang lain. Sekarang saya sudah bisa kontrol diri untuk tidak terkontaminasi energi buruk. Saya sudah bisa memilah mana yang perlu saya keep dan mana yang perlu saya abaikan. Ya, masih tahap belajar ya... hehhehe. Kadang masih terbawa situasi sih tapi tidak separah dulu. Kalau dulu diceritain hal-hal negatif tentang orang lain, alam bawah sadar saya merespon ikut membenci hal-hal tersebut. Tapi sekarang, ya biasa saja. Netral. Ikuti alam semesta bertindak saja. Kalau sudah tidak perlu membicarakan sesuatu lagi, ya sudah diam. Tetap tenang dan seimbang. :)

Kayaknya sekarang saya jarang deh curhat ke Fitri tentang hal-hal buruk. Sekarang kebanyakan hal-hal bahagia dan yang baik-baik saja. Hahaha.... Mari berbahagia!

Jumat, 03 Mei 2024

#35 Jalan Semesta

Hari ini ada silat di sekolah. Seperti biasa saya ikut jalan puter kampung sama anak-anak. Biasanya saya selalu di deretan paling terakhir karena nggak kuat lari, jadi tertinggal di belakang. Nah, hari ini entah gimana ceritanya, saya pun semangat untuk silat. Saya ikut lari kecil bersama anak-anak cewek, tapi lama-lama mereka maunya jalan saja, ya sudah saya ikut jalan di paling belakang. Biasanya kan saya di urutan belakang karena saya nggak kuat ya, tapi hari ini saya di urutan belakang bukan kareana saya tidak kuat, tetapi saya sengaja di deretan belakang untuk memantau anak-anak selamat sampai sekolah lagi. Gerakan saya juga lebih ringan, kaki-kaki saya juga semakin kuat. Alhamdulillah....

Energi saya benar-benar berbeda setelah saya rutin cardio tiap pagi. Saya cerita ke Mbak Raras, selaku mentor dan guruku. Lalu, mbak Raras bilang kalau semesta memberi cara untukku menjadi lebih baik dan mengenal diri sendiri lagi. Melalui Vipassana, lalu bertemu Mbak Raras. Sebenarnya, sudah lama saya tahu Vipassana tapi saya selalu tidak jadi ikut karena jadwal yang bentrok. Nah, mungkin memang jalannya ya.... Vipassana Desember lalu saya bisa ikut. Memang sudah berjodoh dan ada jalan dari Tuhan. Kebetulan, Mbak Raras ini samping kamar saya waktu vipassana. Orangnya rajin dan saya sempat kesal karena ditegur rambut rontok yang tidak tahu itu rambut siapa. Wkwkwkwk.... Terus, awalnya sih saya tidak terlalu banyak bicara sama Mbak Raras, ya karena memang tidak boleh berbicara dengan sesama siswa. Terus pas hari terakhir, kami boleh berbicara dengan teman, akhirnya saya ikut gabung dengan siswa-siswa baru yang sedang ngobrol di kamar. Berujung pada dipijit sama Mbak Raras.

Awalnya, saya menginfokan kalau saya sempat kolesterol, lalu Mbak Raras ngecek telapak tangan saya, dikasih tahu beberapa gejala penyakit yang ada potensi saya derita kalau pola makan dan hidup tidak benar. Dari rambut rontok sampai darah tinggi dan lain-lain. Lalu cerita banyak hal dan setelah sehari pulang dari Vipassana, mbak Raras tiba-tiba WA, ngajakin olahraga. Aku terharu.... :')

Lalu, saya bergabung di grup LOA Mbak Raras, isinya sangat positif, banyak ilmu yang saya dapatkan dan bagaimana bisa mencintai diri sendiri. Mbak Raras kalau punya ilmu nggak pelit, diajarin, dibimbing. Lalu beberapa kali saya bertemu lagi ikut meditasi tiap hari Jumat. Selesai meditasi, kami ngobrol tentang hidup. Mbak Raras, pernah bilang, kalau beliau sudah bertemu orang dan berinteraksi sama orang itu pasti ada tujuan semesta yang ingin disampaikan lewat Mbak Raras. Dan salah satunya pesan semesta untuk saya.

Saya bersyukur.... Saya rajin cardio tiap pagi sekarang. Bahkan saat energi saya kecewa dan saya cerita ke Mbak Raras, energi saya seperti kembali netral. Saya juga sedang menjalani pola makan tanpa produk hewani. Dan saya merasa lebih baik. Kata Mbak Raras, programnya minimal 3 bulan yang harus saya selesaikan. Baiklah.... Saya senang menjalaninya.... Hal baik yang saya rasakan adalah saya menjadi lebih baik dari segi perasaan, emosi, dan juga kondisi fisik. Alhamdulillah ya.... Semoga semua makhluk berbahagia, damai dan harmonis.... :)

Kamis, 02 Mei 2024

#34 Sesuatu Pasti Ada Tujuannya

Hari ini saya coba apply salah satu company di US. Salah satu aplikasi yang sering saya gunakan untuk belajar tetapi ini yang produk baru berkaitan dengan math. Setelah sekian lama, saya pun memperbaharui CV dan Application letter dengan data terbaru. Saya bilang ke Fitri, saya mau coba hal baru. Hahaha, saya coba saja dulu, toh apa pun hasilnya yang penting sudah saya coba. Biar saja semesta yang menghendaki, mari tetap berenergi positif ke semesta. :D

Ini kali pertama di tahun ini, saya mencoba lagi apply beberapa kesempatan. Lalu teringat salah satu teman yang bekerja dan study di US. Kadang dia chat menceritakan tentang aktivitasnya di US, bekerja dan belajar. Saya senang ketika mendapat kabar baik itu. Kadang saya share agenda masak-masak saya ke dia. Saya bilang hari ini saya masak ini lho.... Sampai-sampai dia bilang kalau saya chef. :D Padahal mah yang saya masak hanya masakan rumahan dan sayur serta lauk nabati saja kalau nggak tahu ya tempe ya jamur. >.< Wkwkwk.... Tapi saya juga bangga sih sama diri sendiri atas salah satu kemampuan yang diturunkan oleh ibu yaitu bisa masak. Walaupun rasanya tergantung mood harian. Hahaha.

Jadi inget sih, dulu waktu SMP sampai SMA, tiap hari Minggu atau liburan sekolah agenda utama saya adalah cuci baju seluruh keluarga yang terdiri dari 5 orang dan masak. Hanya saja beberapa resep ibu, saya lupa karena bertahun-tahun hidup di Jakarta dan jarang masak makanan seperti di rumah. Kadang kalau saya pulang ke rumah dan masak, adek-adekku akan bilang kalau masakan saya sama persis seperti masakan ibuk. Pernah masak nasi goreng kampung, adek langsung komen, kok masakmu kayak masakan ibuk, langsung dia nambah banyak. Itulah kenapa saya bersyukur. Ya, dulu sih saya sering mengeluh karena kenapa selalu saya yang diminta bantu-bantu ibuk, kenapa nggak adek-adek. Tapi setelah kedua orang tua telah tiada, saya sadar betul bahwa orang tua saya telah melakukan yang terbaik untuk saya. Mereka mendidik saya untuk tetap menjadi perempuan mandiri dan tahan banting terhadap segala situasi.

Gak salah, bapak dulu selalu meminta saya menjadi contoh adik-adik untuk berprestasi di sekolah. Dan itu benar-benar membantu saya saat ini untuk melanjutkan hidup. Terima kasih ya Bapak & Ibu, saya bangga menjadi bagian dari hidup Bapak dan Ibu! Bahagia selalu di surga....

Oh iya, hari ini adalah ulang tahun adikku yang pertama. Happy birthday ya Adik! Sukses dan bahagia selalu ya! :D

Rabu, 01 Mei 2024

#33 Berbagi Makanan

Hari ini saya masak-masak untuk mengisi hari libur. Saya masak kering tempe, tumis pokcoy, beli semangka. Lalu, saya cerita ke Mbak Raras tentang efek dari skip cardio kemarin. Dan memang ya sengaruh itu, tapi ya kudu bisa tetap tenang. Lalu, Mbak Raras bilang, masak bagi ke Anees biar dia nyobain masakan Indonesia. Tapi sebenarnya awalnya saya tidak yakin sama masakan sendiri. Alhasil, saya bilang ke Mbak Raras, nanti kalau jadi kukabari.

Terus, lanjut masak-masak. Setelah selesai lha kok makanannya kayaknya enak. Hahhaa. Emang enak sih. Saya saja seneng makannya. Lalu, saya bilang lagi ke Mbak Raras, Anees di kos nggak, terus tiba-tiba Anees WA. :D Sekocak itu pertemanan kami. Hahaha... Saya pun janjian ke Anees, mau bagi makan siang. Siap-siap dan kos dia hanya sekitar 5 menit naik motor dari kos saya. Semoga nggak kepedesan ya, sengaja kering tempenya kubuat manis. Hahaha.... Anees kan nggak suka pedas. >.<

Kami bertemu setelah pertemuan makan pizza malam itu. Kali ini saya bagi makanan hasil masak-masak hari ini. :D Terus, saya balik ke kosan. Lanjut makan siang. Sekocak itu ya, saya bersyukur punya support system seperti Mbak Raras yang membimbing saya untuk kembali ke diri sendiri. Cara ngajarinnya juga kalau iya iya kalau enggak ya enggak.... Begitulah.... Kadang membuat saya berpikir dan belajar bagaimana mencintai diri sendiri. Saya bersyukur.... Tetap tenang dan bahagia dalam menghadapi hidup. Terutama untuk hal-hal yang di luar kontrol kita. Saya bersyukur menjadi diri saya saat ini. :D Bahagia selalu diriku!