Selasa, 03 November 2015

Belajar Menjaga Hati

Allah selalu punya cara tersendiri yang terbaik untuk hamba-Nya. Kadangkala kita berencana satu hal, tapi Allah ternyata punya kehendak yang jauh lebih baik dari yang kita rencanakan. Begitulah....

Aku tak pernah tahu apa jadinya aku, apa jadinya hubungan kami, apa jadinya rasa yang seharusnya terjaga dengan rapi di hati itu jika aku terlalu ceroboh. Apa jadinya? Mungkin tak akan sejalan seperti ini. 

Surat itu sudah kutulis. Sudah kubingkai dengan amplop. Sudah kutulis nama si penerima. Semua sudah! Sayangnya, Allah tak pernah mengizinkan surat itu sampai pada orang yang tepat.

***

Kupikir, saat itu adalah moment yang tepat untuk bertemu dan bertatap muka. Moment dimana sesuatu membolak-balikkan isi hati. Aku masih sangat ingat. Jelas!

Malam itu, seseorang yang selalu mengayomiku, seseorang yang selalu mengajarkan banyak hal di sebuah organisasi, seseorang yang selalu memberi semangat saat aku bingung atau panik. Ah, ternyata dia juga lebih panik dariku. Sangat panik malahan.

Malam itu, baru pertama kalinya kurasakan sebuah pelukan seorang kakak kepada adiknya. Lumayan canggung, tapi perpisahan itu tak dapat diabaikan. Perpisahan yang sangat mengharukan. Betapa kehilangannya orang-orang yang sangat baik dan kuat. Formasi kami berubah setelah kepergian mereka. Kadang rindu itu mulai merasuk kalbu. Hanya meninggalkan jejak kenangan. Ya, kenangan yang membuatku belajar banyak hal. Belajar untuk tak ceroboh!

***

Kabar pernikahanmu sudah dekat Kak. Sangat dekat malahan. Hidup bahagialah dengannya. Semoga kalian bahagia. Semoga aku bisa datang di acara pernikahan kalian tahun depan.

***

Surat itu sudah lama. Mungkin tintanya sudah lusuh dan aku lupa menaruhnya. Biar saja termakan oleh waktu. Aku pun mulai hidup baru dengan beberapa target ke depan: Papua dan Pedalaman Indonesia! Mengapa harus Papua? Entahlah, aku hanya mengikuti kata hati. Mungkin di sanalah ada sherpa! Belajar menjaga hati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar