Rabu, 13 Desember 2017

Genggaman


Sejak kecil saya dilatih untuk mandiri, tidak merengek saat meminta sesuatu. Kadang satu dua kali, Bapak memang sengaja membelikan hadiah saat saya mendapat prestasi. Namun, untuk menyoal segala permintaan harus ada hal yang dapat ditukar dengan keinginan itu. Tak serta merta langsung dibelikan. Ya, didikan orang tua mengajarkan saat ini kepada saya untuk terus berusaha sendiri tanpa menyusahkan orang tua. Mungkin dulu saya tak pernah berpikir, saya akan menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin dulu hanya terlintas di benak saya bahwa Bapak akan tetap hidup hingga semua anak-anaknya menjadi “orang” – dalam artian berkeluarga. Ya, masih ditemani Bapak hingga punya rumah sendiri, punya cucu, dan akan berkumpul bersama setiap kali lebaran. Sayangnya, itu hanya impian sewaktu kecil. Tuhan berkata lain. Bapak dipanggil lebih dulu di tahun 2014, sebelum saya mewujudkan cita-cita beliau, lulus wisuda tepat waktu. Satu hal terberat dan sebuah penyesalan saya kala itu. Ah, mungkin Allah punya cara tersendiri untuk hamba-Nya. Biarkan waktu berlalu lebih cepat untuk memperbaiki diri di kemudian.

***

Menjadi anak perempuan sekaligus anak pertama membuat saya lebih kuat. Dulu saya paling tak suka menjadi anak pertama. Selain tugas utama lebih berat dari adik-adiknya, anak pertama memang harus menjadi contoh yang baik. Menjadi peringkat kelas terus? Tak cukup! Hidup tak hanya sampai sekolah menengah atas. Bahkan sampai di usia 25 tahun, saya masih memiliki tugas untuk menjadi contoh yang baik untuk adik-adik saya.

Sepeninggalan Bapak, banyak hal tak terduga yang hadir di kehidupan saya. Ibu menikah lagi, adik menikah muda, dan adik saya yang kecil belum ingin bekerja. Ada beberapa tanggungan yang harus saya tanggung untuk beberapa tahun yang akan datang. Kadang saya ingin sekali mengeluh, tapi saya sadar mengeluh saja tak akan menyelesaikan permasalahan. Saya harus berjuang keras. Berjuang untuk menyelesaikan apa yang harus terselesaikan tepat waktu. Jujur, saya adalah tipe orang yang tak enakan. Bahkan untuk meminta sesuatu, saya tak ingin membebani orang lain. Selama saya masih mampu, saya pikir, mengorbankan diri adalah jalan satu-satunya. Tapi saya memang harus kuat, harus bisa hidup sendiri dan menghidupi ibu serta adik-adik saya.

Kadang jika saya sedih sendirian, saya bertanya, apakah mereka juga peduli? Apakah mereka juga memikirkan bahwa saya sedang apa-apa atau tidak apa-apa? Apakah adik-adik saya juga berpikiran yang sama dan punya keinginan untuk membantu orang tua? Apakah ketika adik-adik saya sudah menikah, mereka tetap memikirkan Ibu? Banyak pertanyaan yang terlintas tapi saya sulit menemukan jawaban. Apakah adik-adik saya juga memikirkan tentang tanggungan-tanggungan yang saya tanggung saat ini? Bahkan saya tak berani menanyakannya.


Entah mengapa saya kadang jenuh dengan pertanyaan Pak Dhe saya yang selalu seperti meratapi nasib keponakanannya yang tak kunjung menikah di usia 25 tahunnya. Setiap kali dibahas, saya selalu terasa teriris, tiba-tiba saya rapuh. Bukan karena saya belum memiliki pasangan, tapi karena saya selalu teringat Bapak saya. Saya tak tahu, kenapa paman saya sebegitu teganya selalu menanyakan hal yang sama dan terasa menyudutkan bahwa saya tak memikirkan jodoh! Jika boleh saya jelaskan, saya tak tahu apakah orang-orang seperti itu mampu mengerti atau tidak. Mereka hanya tahu, saya sudah bekerja di Jakarta, punya uang banyak, dan belum menikah! Hanya itu! Apakah mereka pernah bertanya tentang banyak hal yang saya alami sepeninggalan Bapak? Apakah mereka pernah ingin tahu tentang apa saja yang telah saya lakukan untuk lebih baik? Menjadi tulang punggung keluarga bukanlah hal mudah membalikkan kedua telapak tangan, tapi di sinilah begitu perjuangan, ikut merasakan bahwa menjadi orang tua tak mudah.

***

Ada beberapa pilihan menjadi anak yang dituakan: menghindar pura-pura tak tahu atau memperjuangkan. Sempat saya berdiskusi dengan beberapa teman yang senasib seperjuangan. Sepeninggalan Bapak, dituntut untuk menjadi sosok yang tegar menopang hidup keluarga. Tak hanya anak pertama, tetapi juga anak tengah ternyata mengalami hal yang sama. Kami dituntut untuk bisa menyelesaikan seorang diri. Sempat berpikir untuk menunda kesenangan diri sendiri untuk seorang Ibu. Kami setuju bahwa kehidupan sudah diatur sedemikian rupa, juga hal-hal yang kita alami sudah jadi garis tangan masing-masing. Hanya saja, satu hal yang kami sayangkan, mengapa saudara-saudara kami tak berusaha ikut membantu, malah mengambil kesempatan dalam dunia materi? Ah, satu hal yang saya sayangkan pula. Jika seseorang telah menikah dan berkeluarga, apakah tujuan dan tanggung jawabnya pupus kepada orang tua? Lalu, seakan kami yang belum berkeluarga menjadi pasokan utama dalam hal memenuhi kebutuhan hidup. Apakah setelah menikah, saudara telah menjadi benar-benar orang lain? Hingga mengesampingkan ego bahwa kita pernah hidup bersama-sama di waktu kecil. Apakah seorang kakak masih menggantungkan hidupnya ke adik – yang telah menjadi tulang punggung keluarga?

Jika ditanya emang nggak mau nikah? Kapan nikah? Nikah? Maulah! Siapa sih yang tak punya keinginan untuk menikah? Pastilah ada. Namun, untuk saat ini, target bukan untuk diri sendiri. Ada target yang harus diselesaikan terlebih dahulu, kebutuhan di atas kebutuhan pribadi. Bukankah bisa dibicarakan kalau sudah menikah? Siapa yang berani tanggung jawab tentang urusan kita setelah kita menikah terhadap target-target kita? Saya masih berusaha memperbaiki diri. Memperbaiki kehidupan Ibu dengan suami barunya. Memperbaiki kehidupan adik dengan keluarga barunya. Kehidupan adik yang masih mencari jati dirinya. Semua itu masih saya tanggung. Saya masih belum bisa melepaskan semua itu. Saya tahu, Tuhan akan membukakan jalan dan mungkin ketika kita menikah, suami kita akan membantu mencarikan solusi bersama. Hanya saja, saya masih belum yakin dan percaya kepada orang lain. Saya masih takut kalau semua tak seindah yang kita bayangkan.

Ada orang yang memang bekerja untuk dirinya sendiri, tanpa tanggungan. Mungkin mereka akan merasa ingin cepat menikah di usia 25 tahun. Semua itu pilihan dan saya juga punya pilihan. Saya lebih setuju ke pendapat dua teman saya yang menurut saya seperjuangan. Bapak kami sama-sama sudah dipanggil oleh Tuhan duluan. Kondisi keluarga kami masih tahap perbaikan baik dari segi ekonomi maupun tanggung jawab seorang tulang punggung keluarga. Dari beberapa saudara kami, mungkin bisa dikatakan bahwa kamilah yang harus menopang hidup mereka. Bekerja jauh dari orang tua, mencoba untuk menutup segala kekurangan. Ada beberapa target yang ingin kami gapai walau pada akhirnya kebahagiaan kami yang harus dinomorsekiankan. Mungkin karir adalah hal penting yang harus kami perjuangkan untuk saat ini. Karena mau tak mau, hidup membutuhkan uang daripada hanya cinta. Kalau ditanya soal percintaan, mungkin fase kegalauan kami sudah berakhir. Ada tugas yang jauh lebih harus diselesaikan daripada menyoal galau jodoh. Saya percaya kalau kita sudah pantas, Allah akan memberi jodoh kepada kita. Mungkin ini tahap memantaskan diri! Karena berkeluarga bukan atas sebuah pelarian, melainkan tugas ke depan akan semakin berat! Kita tak pernah tahu jalan hidup seseorang. So, hargailah perjuangan seseorang dalam menjalani hidupnya!

2 komentar:

  1. Wow, I always like your writing. Dan,
    Menjalani kehidupan itu seperti berkendara di perjalanan. Masing-masing punya tujuannya masing-masing tergantung keinginan dan kebutuhannya. Juga, masing-masing memilih untuk melalui jalur-jalur tertentu yang berbeda antara satu dan lainnya, tergantung berbagai pertimbangan yang dimiliki; mungkin terburu-buru karena khawatir terlambat, mungkin santai karena masih ada banyak waktu, mungkin ingin mampir dulu di beberapa tempat. Apakah semua tujuannya harus sama? Tidak. Apakah semuanya harus melewati jalur yang sama? Tidak. Tapi pada akhirnya kita semua akan sampai selama kita terus yakin dan bergerak untuk menujunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, setiap orang punya jalan masing2 yg wajib diperjuangkan! ❤❤❤❤

      Hapus