Tampilkan postingan dengan label #TentangDiriSendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #TentangDiriSendiri. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

Hari ini Pasar Senin Legi di sekolah. Sa memilih untuk berjualan lagi. Kali ini sa berjualan cukup laris "es teh buah". Semua bahan dan persiapan sudah oke, tapi tetep aja ada yang tertinggal. Yups, madunya tertinggal di meja dapur. Alhasil sa beli gula pasir untuk pemanis.

Lumayanlah hasilnya untuk memeriahkan Pasar Senin Legi. Walaupun jenis makanan yang dijual kurang beragam karena ternyata banyak yang jual es buah dan buah-buahan. :) Karena temanya warna-warni alami mungkin ya jadi semua jual buah dan jelly. >.< Lain kali sepertinya harus putar otak lagi buat nyari ide yang lebih menarik untuk jualan.

Kali ini sa dibantu sama Bu Wo. Lalu anak-anak antusias juga membantu. Pagi-pagi datang sudah disambut anak-anak dengan pertanyaan "Mbak, jualan apa?" Terus beberapa anak bantu bawa barang bawaan. Yo bantu buat tempelan harga dibantu sama Ken. Aby bantu ambilkan gelas kelas untuk jualan. Yo juga bantu jualan ambilkan es dan buah. Bu Wo jadi kasir. Semua senang. Walaupun pulang-pulang rasanya lelah banget. Tapi happy!

Nah, ada kejadian tidak sesuai rencana kali ini. Pagi tadi Bu Er izin tidak masuk sekolah dan memang jadwal Mas And off hari Senin. Alhasil sa cukup kuwalahan. Setelah selesai pasaran, sa baru ingat kelas ada makan siang. Ternyata belum masak nasi. :) Anak-anak yang piket lupa masak nasi. Akhirnya dibantu Titi masak nasi. Sa bilang ke Titi masak nasi 6 cup saja karena 3 orang tidak masuk. Dan ok, nasi dimasak. Waktu sa tanya di kelas siapa yang bawa makan siang, ternyata Aro. Dan... dia lupa bilang kalau makan siangnya mau ke warung Ken. Lah, nasi sudah dimasak. Sedangkan menu makan siang di warung Ken ada bakso, mie ayam, ayam pokpok. 

Diskusilah kami mencari solusi bagaimana cara menghabiskan nasi yang terlanjur dimasak. Gen mengusulkan kalau masing-masing membawa nasi pulang. Namun, cara tersebut belum diterima karena wadah bekal anak-anak masih penuh snack. Ada lagi yang mengusulkan untuk menanyakan kelas lain yang membutuhkan. Terulah, beberapa perwakilan tanya satu-satu ke kelas 1-6. Alhasil hasilnya tidak ada yang membutuhkan nasi. Info yang didapat karena masing-masing kelas ada yang tidak ada jadwal makan siang, jadi tidak membutuhkan nasi. Kelas 2 mengatakan kalau kami menginfokan terlambat 10 menit. Andaikan 10 menit itu kami sudah menginfokan, mungkin nasi tersebut bisa untuk kelas 2. Jadilah kami mencari ide lain. Yups, makan bakso sama nasi, makan mie ayam sama nasi (buat yang mau aja). Sisanya bagaimana? Muncullah ide dibawa pulang fasi terus dibawa lagi besoknya dibuat onigiri. Deal, sa yang akan membuat isian ayam, dicetak di sekolah bersama-sama.

Jalanlah kami ke warung Ken dan memesan makanan. Sa beli bakso tanpa mie agar bisa makan nasi juga. Itung-itung mengurangi nasi yang sudah dimasak. Yo juga nambah nasi. Tar juga nambah nasi. Ab pun juga ikutan makan nasi. Aby juga ikut makan nasi. Lalu, kami diskusi nasi yang masih ada besok dibuat onigiri di sekolah. Pembagian alat sudah disetujui. Tiba-tiba ada telepon dari kelas 2, mereka kekurangan nasi. Dan nasi kelas pun akhirnya untuk kelas 2. Alhamdulillah. Batal deh kami membuat onigiri. Jadi akan kami tunda untuk kegiatan kelas berikutnya. Problem solved!

Sa pulang dengan lebih lelah, namun harus kerja tambahan sampai jam setengah 9 malam. Permasalahan Hasse Diagram pun terselesaikan tepat waktu. Tapi masih ada PR untuk belajar lagi tentang Diagram Transisi DFA. Sa masih perlu waktu untuk memahaminya. 

Hari sudah mulai sibuk. Jadi cukup hectic untuk urusan diri sendiri. Mari fokus ke diri sendiri dan membangun relasi.

Jumat, 26 Desember 2025

Sadar "Ada Hal yang Perlu Dibenahi"

 Hi, lama tak menulis di sini. Hari ini terketuk hati sa untuk menulis lagi. Mungkin akan sedikit membingungkan kata-katanya karena sudah lama tidak menulis lagi.

Jadi ceritanya, mulai tanggal 20 Desember 2025, sa mengurangi penggunaan WhatsApp. Bukan kenapa-kenapa, hanya butuh 'me time' tanpa mikir kerjaan. Jadi selama liburan itu, sa bener-bener gak buka WA group atau WA chat dari teman-teman di sekolah. Sa hanya menghubungi 2 orang saja, Fitri dan Nafis. Selain itu gak buka WA, kalau ada yang urgent baru membalas. Memang sudah niat dari awal liburan, mau mengurangi interaksi dengan banyak orang.

Beberapa hari yang lalu, teman kerja WA, namun tak sa balas. Terakhir kali sa dapat WA, tawaran kerjaan, tapi sa tunda. Ada ortu yang WA, sa balas, tapi dengan jeda. Sebenarnya, sa tahu, ini kurang baik, apalagi menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lalu, teman kerja WA lagi, dan kali ini meminta bantuan teman-teman lain untuk menghubungi sa. Lagi-lagi sa tak jawab telepon maupun jawab pesan. Walaupun sebenarnya, sa ingin sekali balas dan bilang kalau sa butuh waktu sendiri, namun sa urungkan. Sa bilang ke Fitri kalau sa sedang mengurangi interaksi dengan rekan-rekan di sekolah maupun kerjaan. Namun, ternyata kehidupan sosial di Indonesia sangatlah kuat. Rekan kerja rasa saudara dan kadang apa-apa perlu diketahui lainnya. Sebenarnya, sa mencoba pasang boundaries. Ada beberapa hal yang tak bisa sa jelaskan begitu saja ke semua orang. Dalam hal ini, sa bisa dikatakan "cukup mampu" menangani hal ini.

Sa pikir, sampai di situ saja cukup. Ternyata tidak. Hari ini teman sa datang ke rumah dengan kekhawatirannya. Khawatir sa kenapa-kenapa. Khawatir sa tidak baik-baik saja. Awalnya, sa mau tak buka pintu, tapi tak tega. Sudah jauh-jauh ke rumah buat cek kondisi sa yang tak menjawab telepon maupun chat, ya masak tidak sa temui? :"( Lantas, sa buka pintu. Sontak kekhawatiran mereka pun hilang dan merasa lega. Dalam otak sa berkecamuk, kenapa mereka datang dengan kekhawatiran seperti ini? Perasaan macam apa ini? Sa mencoba memproses. 

Bu Er cerita kalau dulu pernah diceritain, salah satu teman. Ada teman dari temannya yang tidak ada kabar. Kondisinya mungkin mirip saya, tinggal seorang diri, merantau. Namun, tidak ada yang tahu kalau ternyata sudah meninggal beberapa hari di kontrakannya tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Mungkin, Bu Er tidak mengalami secara langsung, tapi pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika ada temannya yang tidak seperti biasa tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, menghilang....

Sampai cerita tersebut diceritakan, sa mencoba mencerna dan berpikir. Sa sudah salah dan membuat beberapa orang khawatir. Sa sadar dan mencoba belajar kembali tentang perasaan aneh yang muncul selama proses ini.

Sa bercerita ke kawan tentang kejadian ini. Ada satu benang merah yang bisa sa gali dan sa sambungkan. Sa sadari perasaan kesal, sedih, senang, aneh yang muncul satu per satu. Kenapa sa sedih? Kesal karena merasa liburan sa terganggu. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang khawatir di balik itu semua. Mungkin beda lagi ketika sa dari awal memberitahu kalau selama liburan sa tidak pegang HP, mungkin mereka akan lebih berlapang. Sa merasa sedih, senang dan aneh bercampur jadi satu. Perasaan campur aduk ini muncul karena merasa ada yang perhatian dan ada yang khawatir dengan sa. Terasa asing. Rasa yang sulit sa deteksi. Seharusnya sa bahagia ya karena ada yang peduli, tapi di sisi lain sa merasa perlakuan ini 'too much' dalam pertemanan. Tapi, setelah sa gali lebih dalam muncullah statement dari diri sa "aneh karena tidak familiar dengan perlakuan dicintai". Ternyata sa perlu belajar satu hal "perasaan dicintai, dipedulikan".

Setelah sa telusuri jauh ke masa lalu, pola asuh seperti apa yang membuat sa terasa asing seperti ini? Sepertinya karena dari kecil sebagai anak pertama, sa selalu dididik dengan berbagai macam tuntutan: harus mandiri, harus menjadi contoh adik-adik, harus apa-apa bisa sendiri, harus berbagi ke orang lain, harus memberi dan membagi cinta ke orang lain. Dan tidak diajari untuk menerima cinta dari orang lain atau perasaan dicintai itu sendiri. Selama ini, sa hidup dalam perasaan harus mencintai daripada dicintai. Merasa berhasil mengambil kontrol dari sesuatu tindakan. Mungkin juga takut ditinggalkan maupun tidak diterima. Sehingga sejauh ini, sa lebih familiar dengan perasaan mencintai daripada dicintai.

Dari kejadian ini, sa perlu belajar untuk tidak harus selalu memberi, tetapi "menerima" pun juga tidak apa-apa. Belajar menerima cinta dan dicintai orang lain. Belajar untuk menerima tanpa ada tuntutan untuk mengembalikan.

Afirmasi yang perlu sa ulangi seperti kata Bunda Shada:
"Aku layak menerima bantuan dengan hati terbuka. Aku terhubung dengan jiwa-jiwa baik yang melindungiku. Aku berjalan menuju masa depan yang stabil, kuat, penuh berkah, bahagia, dan berkelimpakan. Aku layak dicintai dan menerima cinta yang membahagiakan."

Minggu, 05 Januari 2025

#5 Buat Komitmen

Hari ini saya masak sayur sawi dan ikan cakalang. Tidak banyak yang saya lakukan hari ini. Hanya bersih-bersih rumah, nyuci baju, dan jemur bantal. Hari ini ada Mbk S dari grup pola makan sehat tiba-tiba chat saya tanya tips agar BB turun. Saya jawab ikuti tips yang diberikan coach. Ya memang begitu.

Hari ini saya berkomitmen untuk mengatur kembali keuangan. Beberapa hal perlu diubah. Menenangkan diri untuk tetap fokus pada kebahagiaan diri dan self love. Semangat ya kamu yang tengah belajar.... 

Minggu, 12 Mei 2024

#44 Menaikkan Vibrasi Diri

Hari ini saya bangun pagi karena ada ngajar jam 3 pagi lanjut saya mau renang pagi juga. Janjian sama Mbak Raras jam 6 pagi buat renang di Biru. Setelah ngajar Pascal sekitar 1 jam, saya pun siap-siap. Untungnya, semalamnya sudah saya siapkan perlengkapan renangnya. Lalu, jam 5 pagi, saya menghubungi Anees, tapi sepertinya dia tidak bangun. Ya sudah, saya tinggal saja.

Saya sampai di Biru sekitar jam setengah 6, jalanan lancar dan saya tidak nyasar. Saya menunggu Mbak Raras sampai, katanya nyasar karena diarahkan ke kiri sama googleMaps. Padahal seharusnya ke kanan. Ya sudah nungguin di luar. Sesampainya Mbk Raras, kami pun masuk dengan membayar tiket Rp15.000 per orang. Siap-siap renang. Kondisi kolam sudah ramai. Beberapa ada yang latihan untuk profesional, sebagian ada yang hanya berendam kayak saya. Hahaha, efek saya tidak bisa renang, tapi dikit-dikitlah bisa.

Kami renang sekitar 1 jam. lanjut nyari tempat nongkrong dan ketemulah warmindo Sukarasa. Kami nongkrong dan makan di sana. Sampai berpiring-piring dan bergelas-gelas habisnya. Mas-masnya juga ramah-ramah. Semua request-an saya dibuatkan dengan baik. Rasa masakannya juga enak. Sop dan sambalnya enak juga. Pokoknya, warmindo ini sudah jadi basecamp kami buat nongkrong. Kami makan bermacam-macam dan minum bermacam-macam pula, hanya habis Rp70.000 berdua. Sampai saya bertanya berulang kali lagi ke Masnya, apa sudah semua dihitung. Murah sekali ini untuk sebanyak itu makanan. :D Alhamdulillah....

Lalu, Mbak Raras bilang kalau mau menaikkan vibrasi kita, bisa nongkrong di mall atau restoran hotel atau cafe Prawirotaman sekali-kali. Bisa juga renang di pagi atau malam hari karena biasanya orang-orang yang settle akan renang di jam-jam itu. Kadang kita perlu berada di dekat orang-orang dengan vibrasi tinggi agar ikut terpapar vibrasi baiknya. Hmmm, menarik. Saya jadi ingat saat saya di Jakarta, tiap hari ngajar di cafe dan benar juga rejeki lancar dan ada saja keberuntungannya. Sepertinya memang salah satunya karena tiap hari saya berkumpul dengan orang-orang berekonomi menengah ke atas. Paparan vibrasinya kuat. Sepertinya perlu dicoba lagi.

Terus ada pesan dari Mbak Raras tentang masa lalu saya yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu. Salah satunya kebencian saya dengan bapak sambung saya selama ini yang masih membekas di deretan masa lalu saya. Kata Mbak Raras, saya perlu memaafkan dan meminta maaf agar jalan saya ke depan lebih baik. Apa salahnya berdamai dengan masa lalu? Toh itu semua untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Ya, memang perjalanan spiritual saya saat ini memang cukup membuat saya banyak belajar. Terutama untuk diri sendiri. Salah satunya bermeditasi, memaafkan dan dimaafkan. Karena saya perlu menabur hal-hal baik untuk diri sendiri. Sebagai pemutus karma leluhur selama ini. Bahagia seluruh makhluk....

Sabtu, 11 Mei 2024

#43 Tenang Seimbang, Datar Saja

Hari ini Kuro belum pulang juga. Entah kemana perginya. Saya hanya bisa bersikap tenang saja. Semoga baik-baik saja dan bahagia selalu. Saya belajar untuk merelakan sesuatu yang di luar kontrol saya, seperti sesuatu yang pergi dan tak kembali, ya saya perlu merelakannya. Jika dia kembali, tentunya puji syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan kedua untuk bersama lagi. Ya, saya belajar untuk tidak bereaksi apa pun, datar saja, karena semua sudah ada jalannya. Begitu pula saat Kuro tak pulang, saya tetap tenang, datar saja. Semua akan kembali seperti biasa, tak perlu terlalu berlebihan sedih, terlalu senang, atau terlalu benci. Itu yang saya pelajari.

Seperti halnya, saya sempat benci sekali dengan nama Anis semenjak huru-hara ibukota yang membuat saya lumayan trauma dengan identitas Islam. Sebenarnya, saya tahu betul itu hanya sebagian saja, toh masih banyak kyai atau pemeluk Islam yang mengayomi dan tenang damai. Namun, sejujurnya, tetap kejadian yang ada di Jakarta dulu membuat saya trauma. Saking bencinya saya dengan nama Anis, sampai akhirnya saya tidak suka ketika ada nama Anis, entah itu disebutkan orang atau saya membaca sesuatu yang berhubungan dengan kata itu. Dan semesta pun sangat adil dan mengingatkan saya untuk tidak membenci.

Dan tahu apa yang terjadi? Semesta mengirimkan teman bernama Anees. Lha kok bisa? Ya, begitulah cara semesta mengingatkan kita untuk tetap sesuai jalur kehidupan. Kan kalau seperti ini, interaksi saya bersama nama Anees semakin banyak dan mau nggak mau saya harus terbiasa dan tidak boleh berlebihan dalam membenci maupun menyukai sesuatu. Intinya adalah sedatar-datarnya, sewajarnya, dan tak perlu berlebihan.

Makanya, saya sekarang tidak mau ambil pusing dengan kedatangan maupun kepergian sesuatu. Kalau datang ya saya hargai. Kalau pergi ya saya biarkan pergi dan saya lepaskan. Tak perlu berlebihan mencintai atau membenci. Belajar untuk melepas kemelekatan karena hidup datang dan pergi. Tetap fokus ke diri sendiri. Tetap tenang seimbang. Fokus ke diri sendiri dan perbaiki diri. Dan ini sudah hampir satu bulan saya mengkonsumsi sesuatu non hewani. Ternyata saya bisa bertahan juga. Lalu, konsisten untuk tetap menjaga diri dengan olahraga dan beberapa kegiatan lainnya. Semesta sangat baik ya ke diri ini. Kadang manusianya saja yang terlalu banyak mengeluh dan memprotes. Padahal semesta sudah memberi yang terbaik untuk kita. Mari berbahagia.... 

Jumat, 10 Mei 2024

#42 Kuro Tak Pulang!

Hari ini tepat 3 hari Kuro tidak pulang. Biasanya dia akan turun dari atap saat pagi minta sarapan dan sore saat menjelang makan malam. Setiap pagi juga dia menunggui saya cardio. Tidur di sebelah kaki saya bersama Usrok dan Oyen. Dia selalu tahu dan berlari mengejar saya ketika kami berpapasan. Dia selalu pulang! Walaupun kadang hanya untuk say hello!

Selama tinggal bersama saya, Kuro hanya pernah tidak pulang dua kali. Pertama, saat dia kecelakaan tertabrak motor sewaktu kecil. Dia bersembunyi di semak-semak yang akhirnya saya temukan pagi harinya. Feeling saya kuat saat itu kalau saya akan bertemu kembali dengan Kuro. Dan benar saja, pagi harinya saya beranikan diri masuk ke pekarangan tetangga yang terbengkalai. Saya mendapati dia sedang menggulungkan tubuhnya lemas karena luka di muka di antara tumpukan kayu-kayu dan semak-semak. Ya, saya menemukannya!

Lalu, kedua, saat dia terluka kakinya di sekat rumah tetangga. Saat itu saya baru pindah kos. Selang beberapa hari, dia keluar rumah dan saya biarkan karena dia sudah hapal rumah. Tapi beberapa hari dia tak pulang. Saya pergi mencarinya berkeliling kompleks dan tanya ke tetangga-tetangga juga tanya ke kucing-kucing yang saya temui di jalan. Setelah berputar-putar mencari tetap nihil. Kuro tidak saya temukan. Lalu, lagi-lagi feeling saya kuat kalau saya panggil-panggil lagi pasti Kuro akan mendengar dan memberi tahu keberadaannya. Setelah keliling kompleks, saya masuk ke kos, entah kenapa feeling saya kuat kalau saya harus memanggilnya sekali lagi. Saya panggil lagi namanya dan benar! Kuro menyahut dan mengeong menunjukkan keberadaannya. Dia ada di sela-sela tembok tetangga, tidak bisa turun. Lantas, saya berusaha mengambilnya, tapi tembok terlalu tinggi. Saya tunggu dia sampai jam 2 pagi, tapi akhirnya saya memintanya untuk menunggu pagi hari. Setelah pagi, saya minta bantuan ke tetangga untuk mengambilkan Kuro dengan tangga. Alhamdulillah, bapak tukangnya mau bantu. Saya pun bertemu Kuro kembali. Kakinya bengkak karena luka, badannya demam sehingga dia tidak mau makan dan hanya tidur sepanjang hari. Saya membawanya ke Rumah Sakit Hewan UGM dan segera ditangani dokter. Pulang-pulang dikasih antibiotik dan obat agar segera sehat. Beberapa hari kemudian Kuro kembali sehat! Alhamdulillah....

Ini ketiga kali Kuro tidak pulang. Saya sudah berusaha cari keliling kampung dan tanya ke tetangga. Setiap ada kucing tetangga, saya juga tanyakan dan titip pesan kalau mereka bertemu Kuro, si hitam dengan ekor panjang, suruh pulang karena dicari ibuk. Saya masih menunggunya pulang.... Anak ibuk! Dan kali ini saya tidak punya feeling apa-apa.... Saya masih berharap Kuro kembali dengan sehat.... Aamiin....

Pagi tadi setelah cardio, saya meditasi untuk mengurangi overthinking karena semalam saya tidur dengan tidak nyaman dan sangat mengharapkan Kuro pulang. Setelah meditasi, saya lebih tenang. Dan saya mengurangi ekspektasi saya terhadap apa yang terjadi. Saya ingat, dulu saya pernah bilang ke Kuro, kalau suatu hari nanti Kuro ingin pergi duluan, nggak papa, ibu ikhlas, ibuk bahagia karena Kuro sudah menemani ibuk dan sayang sama ibuk selama ini. Jangan terbebani ya Kuro, sayangnya ibuk! Kalau suatu saat ibuk duluan yang pergi, Kuro juga nggak boleh nungguin Ibuk terus ya.... Ibuk sayang sama Kuro! Terima kasih ya sudah sayang sama ibuk dan selalu menemani ibuk! Sayang sama mamas Kuro.... Itulah, sesungguhnya hidup ini memang perlu merelakan dan menerima. Semeleh dengan apa yang terjadi. Tidak perlu memberontak atau berekspektasi. Semua akan indah tepat pada waktunya. Jika pun berpisah, itu artinya memang sudah selesai sampai di sini, sesuatu itu datang di hidup kita dan kita pun memang harus mengikhlaskan.

Kuro, anak baik! Love you! Terima kasih ya sudah sayang dan menemani Ibuk selama ini.... Di mana pun kamu berada, ibuk sayang sama mamas Kuro. Love you! Alhamdulillah, ibu bersyukur karena sudah dipertemukan dengan mamas Kuro.... Ibu bahagia selama ini hidup bersama sama Mamas Kuro! Baik-baik ya Nak! Love you! 

Untukmu yang terbaik, Mamas Kuro, kucing hitam berekor panjang dengan warna putih di dada. Love you!

Rabu, 08 Mei 2024

#40 Perpanjang Paspor di Jogja

Pagi ini jadwal saya ngurus paspor di kantor imigrasi. Saya memilih kantor imigrasi yang ada di Lippo karena itu tempat yang paling dekat dengan kos. Hari sebelumnya saya bertanya untuk memastikan dokumen yang dibutuhkan ke Kak Tina, seorang teman petugas imigrasi. Semua dokumen saya lengkapi: 
1. Fotokopi KTP (bawa juga yang asli)
2. Fotokopi KK (bawa juga yang asli)
3. Fotokopi Akte Kelahiran (bawa juga yang asli)
4. Paspor asli
+ materai 10.000 (tapi saya lupa bawa)
+ print lembar permohonan download dari aplikasi M-Paspor

Tapi waktu saya mau berangkat, saya baru ingat harus print lembar permohonan yang dapat didownload dari aplikasi permohonan paspor M-Paspor. Untungnya saya berangkat lebih awal sekitar jam 9, jadi masih bisa print dulu. Sebelum berangkat, saya pun print di fotokopian dekat kos, lalu lanjut ke Lippo. Sampai di Lippo masih jam 9.30 pagi dan lokasi kantornya ternyata di lantai 1, jadi harus naik dulu lewat pintu samping karena pintu depan belum buka mall-nya.

Setelah sampai di depan kantor imigrasinya, ternyata sudah antre lumayan banyak. Tapi kantornya baru buka jam 10. Saya menunggu sekitar 30 menit dan itu pun antrenya tidak sesuai jam kedatangan. Saya ambil map dan diminta isi formulir dulu. Lha, ternyata ada satu yang terlupa, yaitu materai 10.000. Saya lupa beli dan tidak ingat kalau harus membawa materai. Ada hal lucu yang tadi terjadi....

Saya kan lupa bawa materai terus kata petugas imigrasi di toko depan ada tapi belum buka tokonya.... Saya cuma tenang saja.... Pokoknya nggakpanik, sudah tenang saja. Ibu-ibu samping saya sudah heboh marah-marahin anaknya karena tidak mengecek lagi dan lupa bawa beberapa dokumen dan materai kurang satu.... Terus saya cuma senyumin saja.... Sebenernya ada pilihan buat turun keluar mall terus nyari di fotokopian... Tapi saya memilih untuk nunggu 10 menitan toko buka.... Menurut info dari bapak-bapak yang tahu, paling sekitar 10 menitan orangnya yang jual datang. Ya, saya percaya saja dan kalau misal nggak datang-datang, ya nantilah dipikir lagi untuk keluar mall. Terus nunggu 10 menit, gak lama tokonya buka.... Langsung diserbu beberapa orang yang lupa membawa materai. Terus saya belilah materai di situ.... Harganya Rp15.000, ya lumayanlah, tapi bapaknya baik, jadi nggak papa harga segitu. Tanpa harus turun naik tangga lagi pula....

Dokumen pun lengkap, ngantri, nunggunya gak lama, terus pas di loket dokumen lancar, ditanya-tanya kerja dimana, di Jogja kegiatannya apa, saya bilang kuliah dan kasih kartu KTM. Lalu, lanjut ke loket foto. Pas saya ambil foto, biasanya saya itu akan diem aja gitu, tapi saya coba untuk ngajak bercanda petugasnya, terus bapaknya ikutan ngakak karena saya foto berkali-kali tapi telinga kananku gak keliatan 🤣🤣 terus akhirnya ya udah dipilih yang bagus, saya bilang ke bapaknya, pak foto yang cantik ya pak... Bapaknya ketawa 🤣 sambil nyodorin tisu karena melihat dahi saya yang penuh keringat karena abis naik eskalator yang mati karena mall belum buka tadi pagi. Ternyata ketawa itu nular ya... 😬😬😬

Terus, tadi saya tanya ke bapak yang bagian foto, apa saja yang perlu dibawa saat pengambilan paspor. Bapaknya bilang bawa bukti pengambilan dan bukti pembayaran tercetak. Lalu, saya tanya kenapa fotokopian masih perlu banyak untuk persyaratan dokumen, terus bapaknya curhat malah, katanya orang-orang kadang upload dokumen itu ngasal dan foto aja ada yang upload foto keluarga, foto kucing, terus ngakak bareng lah malah. Nah, satu lagi, khusus penggantian paspor lama ke paspor baru, hanya dibutuhkan KTP asli yang akan ditanyakan selain dokumen fotokopian ya.... Tapi bawa aja semua dokumen untuk jaga-jaga. Kemarin sih saya hanya perlu ktp aslinya saja yang dicek, sedangkan dokumen asli yang lain tidak dicek karena saya perpanjang paspor.

Lalu, sudah deh nunggu seminggu untuk pengambilan paspor barunya. Yey, paspor baru jadi, semoga makin semangat untuk jalan-jalan lagi.... :D Mari berbahagia!

Selasa, 07 Mei 2024

#39 Keputusan dan Keikhlasan

Hari ini saya janjian sama Bang Limin dan Tace untuk makan siang bareng setelah sekian lama tidak berjumpa di kampus. Saya mengajak juga mbak Alia tapi tidak bisa ikut. Anees juga saya ajak, tapi dia ikut kelas BIPA dan baru selesai jam 12.50. Sedangkan Bang Limin ada kelas lagi jam 1. Jadi saya memutuskan untuk tidak menunggu Anees dan pulang setelah jam 1. Lalu, setelah sampai kos, ternyata Anees menyusul ke kantin FMIPA dan akhirnya kami tidak bisa bertemu. Saya bilang lain kali saja karena saya sudah pulang. Saya tawarkan dia mau ditemani makan siang, tapi dia menjawab sudah makan.

Saya pun lanjut ke Bank Mandiri untuk mengurus AXA Mandiri. Ternyata produk lama itu membuat saya malah rugi selama 5 tahun belakangan ini. Rugi hampir 10jt, dengan biaya admin yang ternyata gede. Alhasil saya pun cerita ke Mbak Raras, dan hasil diskusi kami adalah saya cut saja asuransi itu dan ikhlaskan kerugiannya selama ini. Nanti juga akan ada gantinya yang lain. Akhirnya saya cut off AXA Mandiri saya dan tidak tertarik untuk ikut lagi walaupun produk barunya tanpa biaya admin, tapi tetap saja, saya rada trauma dengan yang namanya asuransi.

Ya, dulu kenapa saya ikut asuransi, karena berpikir saya kerja di Jakarta dan kerjaan saya mobile, kalau sewaktu-waktu saya kenapa-napa, minimal ibu saya punya uang. Makanya nama penerima dana itu adalah ibu saya. Lalu, sekarang ibu saya sudah tidak ada, jadi ya sudah mari hidup seperti biasa dan serahkan takdir kepada Tuhan saja. Lain kali mungkin bisa ya saya pikir-pikir ulang tentang asuransi.

Terus, sorenya, saya nonton Totto-Chan: The Little Girl at the Window sama Tace dan Bang Limin di bioskop Lippo. Salah satu novel yang saya suka dari dulu tentang sekolah yang beda dari yang lain. Saya menemukan sekolah serupa di Salam. Entah kenapa membuat saya seperti berada di dalam film itu saat saya mengajar di Salam. Totto-Chan, salah satu inspirasi saya di dunia pendidikan. Filmnya sedih tapi bagus! Novelnya tambah bagus lagi. :)

Dulu saya pernah punya mimpi untuk membangun sekolah seperti Sekolah Tomoe. Sekolah yang mengajarkan tentang hidup dan bahagia. Menerima segala karakteristik anak, tak ada anak yang bodoh, tak ada anak yang nakal, semua istimewa. Mungkin itu jadi salah satu semangat kenapa saya tetap di pendidikan. Ya, salah satu impian saya pun bisa mengajar di daerah pedalaman. Entah, dimana pun itu. Semoga bisa terwujud.... Aamiin....

Pulang nonton, saya dan Tace makan nasi padang. Saya makan terong dan tempe goreng. Lanjut mampir beli keripik singkong 1 porsi Rp6.000 di dekat fakultas teknik. Lalu pulang. Hari yang cukup padat. 

Sabtu, 04 Mei 2024

#36 Netralkan Energi Tubuh

Pagi ini saya petik daun ginseng dari teras kos. Hari kemarin saya petik daun kelor dari sekolah. Kok enak ya tinggal di Indonesia! Apa-apa tinggal petik.

Itulah pesan pagi yang saya sampaikan ke Mbak Raras. Lalu Mbak Raras bilang, "Senetral itu energimu sekarang. Pelan maknai pahami ilmu diri. Lepas semua kemelekatan. Kita itu diberi terus oleh Tuhan."

Alhamdulillah. saya pun menyadari saat ini saya lebih sering merasa nyaman dengan diri sendiri. Misalnya saja saat saya ngaca, saya senang melihat diri saya, cantik! Senyumannya saya sukai. Rambut, saya sukai. Semua saya sukai. Kalau dulu saat saya bercermin, biasanya saya tidak suka berlama-lama.... Tapi sekarang, tiap pagi saya ngaca dan saya merasa sennag. :D

Lalu, satu hal lagi yang saya sadari tentang menghadapi energi negatif dari orang lain. Sekarang saya sudah bisa kontrol diri untuk tidak terkontaminasi energi buruk. Saya sudah bisa memilah mana yang perlu saya keep dan mana yang perlu saya abaikan. Ya, masih tahap belajar ya... hehhehe. Kadang masih terbawa situasi sih tapi tidak separah dulu. Kalau dulu diceritain hal-hal negatif tentang orang lain, alam bawah sadar saya merespon ikut membenci hal-hal tersebut. Tapi sekarang, ya biasa saja. Netral. Ikuti alam semesta bertindak saja. Kalau sudah tidak perlu membicarakan sesuatu lagi, ya sudah diam. Tetap tenang dan seimbang. :)

Kayaknya sekarang saya jarang deh curhat ke Fitri tentang hal-hal buruk. Sekarang kebanyakan hal-hal bahagia dan yang baik-baik saja. Hahaha.... Mari berbahagia!

Jumat, 03 Mei 2024

#35 Jalan Semesta

Hari ini ada silat di sekolah. Seperti biasa saya ikut jalan puter kampung sama anak-anak. Biasanya saya selalu di deretan paling terakhir karena nggak kuat lari, jadi tertinggal di belakang. Nah, hari ini entah gimana ceritanya, saya pun semangat untuk silat. Saya ikut lari kecil bersama anak-anak cewek, tapi lama-lama mereka maunya jalan saja, ya sudah saya ikut jalan di paling belakang. Biasanya kan saya di urutan belakang karena saya nggak kuat ya, tapi hari ini saya di urutan belakang bukan kareana saya tidak kuat, tetapi saya sengaja di deretan belakang untuk memantau anak-anak selamat sampai sekolah lagi. Gerakan saya juga lebih ringan, kaki-kaki saya juga semakin kuat. Alhamdulillah....

Energi saya benar-benar berbeda setelah saya rutin cardio tiap pagi. Saya cerita ke Mbak Raras, selaku mentor dan guruku. Lalu, mbak Raras bilang kalau semesta memberi cara untukku menjadi lebih baik dan mengenal diri sendiri lagi. Melalui Vipassana, lalu bertemu Mbak Raras. Sebenarnya, sudah lama saya tahu Vipassana tapi saya selalu tidak jadi ikut karena jadwal yang bentrok. Nah, mungkin memang jalannya ya.... Vipassana Desember lalu saya bisa ikut. Memang sudah berjodoh dan ada jalan dari Tuhan. Kebetulan, Mbak Raras ini samping kamar saya waktu vipassana. Orangnya rajin dan saya sempat kesal karena ditegur rambut rontok yang tidak tahu itu rambut siapa. Wkwkwkwk.... Terus, awalnya sih saya tidak terlalu banyak bicara sama Mbak Raras, ya karena memang tidak boleh berbicara dengan sesama siswa. Terus pas hari terakhir, kami boleh berbicara dengan teman, akhirnya saya ikut gabung dengan siswa-siswa baru yang sedang ngobrol di kamar. Berujung pada dipijit sama Mbak Raras.

Awalnya, saya menginfokan kalau saya sempat kolesterol, lalu Mbak Raras ngecek telapak tangan saya, dikasih tahu beberapa gejala penyakit yang ada potensi saya derita kalau pola makan dan hidup tidak benar. Dari rambut rontok sampai darah tinggi dan lain-lain. Lalu cerita banyak hal dan setelah sehari pulang dari Vipassana, mbak Raras tiba-tiba WA, ngajakin olahraga. Aku terharu.... :')

Lalu, saya bergabung di grup LOA Mbak Raras, isinya sangat positif, banyak ilmu yang saya dapatkan dan bagaimana bisa mencintai diri sendiri. Mbak Raras kalau punya ilmu nggak pelit, diajarin, dibimbing. Lalu beberapa kali saya bertemu lagi ikut meditasi tiap hari Jumat. Selesai meditasi, kami ngobrol tentang hidup. Mbak Raras, pernah bilang, kalau beliau sudah bertemu orang dan berinteraksi sama orang itu pasti ada tujuan semesta yang ingin disampaikan lewat Mbak Raras. Dan salah satunya pesan semesta untuk saya.

Saya bersyukur.... Saya rajin cardio tiap pagi sekarang. Bahkan saat energi saya kecewa dan saya cerita ke Mbak Raras, energi saya seperti kembali netral. Saya juga sedang menjalani pola makan tanpa produk hewani. Dan saya merasa lebih baik. Kata Mbak Raras, programnya minimal 3 bulan yang harus saya selesaikan. Baiklah.... Saya senang menjalaninya.... Hal baik yang saya rasakan adalah saya menjadi lebih baik dari segi perasaan, emosi, dan juga kondisi fisik. Alhamdulillah ya.... Semoga semua makhluk berbahagia, damai dan harmonis.... :)

Kamis, 02 Mei 2024

#34 Sesuatu Pasti Ada Tujuannya

Hari ini saya coba apply salah satu company di US. Salah satu aplikasi yang sering saya gunakan untuk belajar tetapi ini yang produk baru berkaitan dengan math. Setelah sekian lama, saya pun memperbaharui CV dan Application letter dengan data terbaru. Saya bilang ke Fitri, saya mau coba hal baru. Hahaha, saya coba saja dulu, toh apa pun hasilnya yang penting sudah saya coba. Biar saja semesta yang menghendaki, mari tetap berenergi positif ke semesta. :D

Ini kali pertama di tahun ini, saya mencoba lagi apply beberapa kesempatan. Lalu teringat salah satu teman yang bekerja dan study di US. Kadang dia chat menceritakan tentang aktivitasnya di US, bekerja dan belajar. Saya senang ketika mendapat kabar baik itu. Kadang saya share agenda masak-masak saya ke dia. Saya bilang hari ini saya masak ini lho.... Sampai-sampai dia bilang kalau saya chef. :D Padahal mah yang saya masak hanya masakan rumahan dan sayur serta lauk nabati saja kalau nggak tahu ya tempe ya jamur. >.< Wkwkwk.... Tapi saya juga bangga sih sama diri sendiri atas salah satu kemampuan yang diturunkan oleh ibu yaitu bisa masak. Walaupun rasanya tergantung mood harian. Hahaha.

Jadi inget sih, dulu waktu SMP sampai SMA, tiap hari Minggu atau liburan sekolah agenda utama saya adalah cuci baju seluruh keluarga yang terdiri dari 5 orang dan masak. Hanya saja beberapa resep ibu, saya lupa karena bertahun-tahun hidup di Jakarta dan jarang masak makanan seperti di rumah. Kadang kalau saya pulang ke rumah dan masak, adek-adekku akan bilang kalau masakan saya sama persis seperti masakan ibuk. Pernah masak nasi goreng kampung, adek langsung komen, kok masakmu kayak masakan ibuk, langsung dia nambah banyak. Itulah kenapa saya bersyukur. Ya, dulu sih saya sering mengeluh karena kenapa selalu saya yang diminta bantu-bantu ibuk, kenapa nggak adek-adek. Tapi setelah kedua orang tua telah tiada, saya sadar betul bahwa orang tua saya telah melakukan yang terbaik untuk saya. Mereka mendidik saya untuk tetap menjadi perempuan mandiri dan tahan banting terhadap segala situasi.

Gak salah, bapak dulu selalu meminta saya menjadi contoh adik-adik untuk berprestasi di sekolah. Dan itu benar-benar membantu saya saat ini untuk melanjutkan hidup. Terima kasih ya Bapak & Ibu, saya bangga menjadi bagian dari hidup Bapak dan Ibu! Bahagia selalu di surga....

Oh iya, hari ini adalah ulang tahun adikku yang pertama. Happy birthday ya Adik! Sukses dan bahagia selalu ya! :D

Rabu, 01 Mei 2024

#33 Berbagi Makanan

Hari ini saya masak-masak untuk mengisi hari libur. Saya masak kering tempe, tumis pokcoy, beli semangka. Lalu, saya cerita ke Mbak Raras tentang efek dari skip cardio kemarin. Dan memang ya sengaruh itu, tapi ya kudu bisa tetap tenang. Lalu, Mbak Raras bilang, masak bagi ke Anees biar dia nyobain masakan Indonesia. Tapi sebenarnya awalnya saya tidak yakin sama masakan sendiri. Alhasil, saya bilang ke Mbak Raras, nanti kalau jadi kukabari.

Terus, lanjut masak-masak. Setelah selesai lha kok makanannya kayaknya enak. Hahhaa. Emang enak sih. Saya saja seneng makannya. Lalu, saya bilang lagi ke Mbak Raras, Anees di kos nggak, terus tiba-tiba Anees WA. :D Sekocak itu pertemanan kami. Hahaha... Saya pun janjian ke Anees, mau bagi makan siang. Siap-siap dan kos dia hanya sekitar 5 menit naik motor dari kos saya. Semoga nggak kepedesan ya, sengaja kering tempenya kubuat manis. Hahaha.... Anees kan nggak suka pedas. >.<

Kami bertemu setelah pertemuan makan pizza malam itu. Kali ini saya bagi makanan hasil masak-masak hari ini. :D Terus, saya balik ke kosan. Lanjut makan siang. Sekocak itu ya, saya bersyukur punya support system seperti Mbak Raras yang membimbing saya untuk kembali ke diri sendiri. Cara ngajarinnya juga kalau iya iya kalau enggak ya enggak.... Begitulah.... Kadang membuat saya berpikir dan belajar bagaimana mencintai diri sendiri. Saya bersyukur.... Tetap tenang dan bahagia dalam menghadapi hidup. Terutama untuk hal-hal yang di luar kontrol kita. Saya bersyukur menjadi diri saya saat ini. :D Bahagia selalu diriku!

Selasa, 30 April 2024

#32 Overthinking Kambuh

Hari ini saya ke sekolah seperti biasa. Sebelum ke sekolah saya selesaikan edit cerpen Jalu terlebih dahulu sampai lupa waktu dan skip cardio pagi. Ya, saya menjalani rutinitas seperti biasa, ke sekolah, lalu pulang. Sampai di kos, entah kenapa saya merasa lelah sekali dan ingin tidur tapi tidak bisa. Mood saya berubah dengan cepat dan benar-benar pikiran kemana-mana. Sepertinya overthinking kambuh!

Saya mencoba untuk tidur, tetap saja tidak bisa. Saya pun seharian tutup pintu kamar karena tidak ingin diganggu siapa pun. Lalu malamnya saya ngajar, lanjut tidur lagi dengan pikiran tidak tenang. Sampai tengah malam pun belum juga sembuh. Waduh! Bahaya!

Sekarang saya lebih menyadari emosi yang muncul seperti apa dan trigger-nya apa. Biasanya kalau sudah seperti itu, saya akan mencoba menemukan apa yang membuat emosi lalu menyadari perasaan dan emosi yang muncul. Kemudian, mengatur napas dan mengatur pikiran. 

Bener-bener, proses ini kadang membuat saya geleng-geleng karena berefek sekali ke pikiran. Biasanya pagi saya cardio, lalu kalau skip cardio, ternyata efeknya ke overthinking yang kumat. Bisa begitu ya? Efeknya sungguh nyata lho! Harus rajin dan konsisten memang.... Semangattt untuk diri sendiri!

Minggu, 28 April 2024

#30 Kurangi Ekspektasi

Makin dewasa makin nggak pengen banyak berekspektasi pada sesuatu. Terlebih terhadap sesuatu yang datang dan pergi. Saya bilang ke Fitri kalau saya tidak mau banyak effort untuk urusan hati. Kalau memang seseorang mau hadir ya aku hargai, kalau mau pergi ya silakan pergi, kurelakan. Kalau seseorang itu tidak dapat bersikap, ya sudah biar saya yang bersikap, kasih batasan, karena saya pun layak untuk bahagia. Saya belajar dari Nafis, untuk sebuah batasan, kalau tidak dihargai ya pergi, masih banyak tempat layak untuk diri sendiri. Begitulah kira-kira.

Ya seperti hari ini, saya banyak-banyak merenung. Entah kenapa rasanya ingin saja menangis. Sedih karena betapa sulitnya saya bisa mengontrol diri dan emosi. Saya sadar betul saat saya mulai berekspektasi terhadap sesuatu. Lalu muncullah perasaan takut adanya penolakan atau effort lebih yang saya lakukan untuk sesuatu. Ya, sudah saya katakan di awal, saya tidak ingin effort lebih untuk hal-hal perasaan.

Sesuatu yang pernah terjadi pastinya masih membekas di memori alam bawah sadar. Masih kerasa sampai saat ini perasaan ditolak dan diacuhkan. Lalu, saya masih stay untuk hal-hal seperti itu kemarin-kemarin. Ya, memang kan cinta membuat seseorang bodoh itu pun nyata. Dan anehnya saya selalu bodoh tapi tidak sadar-sadar beberapa tahun belakangan ini. Hahaha. Tenang saya sekarang kembali lagi ke jalan yang benar kok. Ya, nggak bodoh-bodoh banget sekarang. Bisa berpikir dengan sadar dan menentukan solusi dengan lebih baik. Minimal, saya sadar kalau hidup tidak melulu soal cinta. Sekarang tidak pengen banyak-banyak effort mengejar tapi perbanyak mencintai diri sendiri. Lelah banget kalau harus mengejar mulu. 

Ya sekarang sih biasa saja, bener-bener yang biasa saja. Tidak mau banyak berekspektasi juga. Kamu datang ya saya hargai, kamu pergi ya silakan pergi, saya biarkan pergi, kalau kamu tak bisa bersikap ya biar saya yang bersikap, biar saya yang memutuskan. Begitulah kira-kira hari ini. Mari berbahagia!

Jumat, 26 April 2024

#28 Jalan Semesta

Hari ini ada acara Syawalan di sekolah. Saya berangkat jam sembilan pagi kurang. Hari ini keluarga besar Salam berkumpul di halaman sekolah. Saya membawa snack batagor yang beli di abang-abang gerobak di jalan menuju sekolah. Awalnya, saya kira itu adalah penjual gorengan, ternyata siomay dan batagor. :D Karena sudah terlanjur berhenti, saya belilah batagor. Saya bawa wadah sendiri, sambal dipisah, mas-mas yang jual juga ramah. Awalnya mau beli 10ribu, tapi kutambah lagi 5rb, jadi 15rb. Lalu, setelah selesai dibungkusin batagor, saya melanjutkan perjalanan. 

Sampai di sekolah, halaman sudah banyak orang. Jiwa introvert saya memilih untuk masuk ke kelas, nyari yang sepi. Lalu diikuti teman-teman kelas 5, saya pun bertanya apakah kotak makan teman-teman sudah ditaruh di meja SD besar atau belum. Beberapa ada yang sudah, tapi sebagian besar belum. Saya pun mengajak mereka untuk memberi nama di kotak makan masing-masing. Saya potong kertas dan ambil lakban bening. Anak-anak menulis nama dan kelas masing-masing. Lalu, saya tanya lagi, "Apakah pada bawa snack?" Beberapa menjawab kalau snack dibawa ortu. Kemudian saya mengeluarkan batagor dari tas. Beberapa dari mereka pengen nyoba. Alhasil, batagornya kami makan bersama di kelas. :D Sampai habis. :D Alhamdulillah.

Setelah makan batagor, kami turun ke halaman dan nyari tempat duduk di halaman. Acara pun dimulai, Bu Er pun maju jadi MC dadakan karena gemes teman-teman yang lain tidak segera menempati tempat yang sudah disediakan. Hahaha. Saya mengkoordinir teman-teman kelas 5, alhamdulillah mereka masih aman untuk diajak kerja sama. :D

Tapi memang sih, karakter anak-anak kelas 5 ini rajin, ontime, teratur, dan saling mengingatkan kalau ada peristiwa. Jadi sebenarnya, saya yang belajar dari mereka. 

Menu makan siangnya ada lontong, opor ayam dan telur, sayur krecek dan sayuran sama kerupuk. Saya berusaha komitmen tentang makanan yang saya konsumsi. Telur dan ayamnya saya kasihkan ke Sandhi, kreceknya pedes, jadi saya kasih ke Bu Er. Sampai Sandhi kenyang banget karena dapet tambahan lauk dari saya. Hahaha. Terima kasih ya Sandhi sudah mau bantu saya. Terus saya makan apa? Saya makan lontong, kuah sayur, sama kerupuk. :D

Ya awalnya sih mereka bertanya-tanya kenapa saya tidak makan daging dan protein hewani. Saya bilang, sedang diet protein hewani. Hahaha. Ya memang bener. Hahaha. Saya sedang mencoba makan non hewani dan turunannya untuk mengontrol emosi, pikiran dan energi tubuh. Ya, semoga konsisten ini membuahkan hasil lebih baik ya. Aamiin.

Pulang dari Salam, saya janjian sama Mbak Raras, mau nemenin Mbak Raras ketemu sama salah satu temennya. Saya ke rumah Mbak Raras jam 5 sore. Tetep ya, saya nyasar pas sudah sampai lokasi. Haha. Hanya beda gang sih tapi ya begitu, daya ingat saya lumayan buruk untuk mengingat lokasi atau maps. Ya, ngobrol-ngobrol bentar sama Mbak Raras, terus kami berangkat. Kami menuju Pizza Nanami yang ada di daerah Ngadipuran kalau nggak salah. Kami datang lebih awal dan memesan minuman terlebih dahulu. Masih nunggu Pungki dan Anees. Keduanya belum saya kenal sebelumnya.

Lalu, ada kejadian kocak. Ternyata Anees kuliah di kampus yang sama dengan saya. Hahaha hanya saja beda jurusan. :D Lalu, ternyata dia sedang main sama temennya di deket kos saya. :D Lha, kok kocak! Ternyata eh ternyata, beneran itu alamat kos temennya itu deket banget dengan kosan saya dan sering saya lewati. Ampun deh... Hahaha.... Jauh-jauh ke Ngadipuran ternyata ketemunya sama tetangga kosan. Hahaha. Sekocak itu hidup.

Setelah datang semua, kami kenalan. Ternyata itu juga hari pertama Mbak Raras ketemu sama Anees, tapi mereka sudah sering ngobrol lewat telpon. Dan ada hal yang menarik lagi yang menurut saya ternyata bener-bener ya kalau kita sinkronisasi energi dengan semesta, semesta itu akan menjawab apa yang kita inginkan. Beberapa hari yang lalu, saya berpikir dan ngebatin, ngelist teman-teman saya yang jurusan sains, tapi nggak inget. Rencana mau kuajak ke sekolah dan biar murid-muridku bisa belajar dari mereka. Kucari-cari kok gak nemu, nggak inget kalau ada Galih dan Vincent tapi kayaknya mereka sibuk. Hahaha. Terus, tahu apa yang terjadi di pertemuan itu? Anees ternyata jurusan biologi dan dia punya teman jurusan kimia juga. Dia menawarkan kalau saya perlu dikenalkan sama anak kimia, dia bisa bantu. Ahhh, alhamdulillah, masyaAllah ya....

Sekeren itu alam semesta ini membuat skenario baiknya. Dan pertemuan saya dengan Mbak Raras juga pasti ada alasannya. Semua yang datang ke hidup ini pasti punya alasan. Entah hanya sekadar kenal atau yang kenal dekat. Pasti ada rencana semesta yang sedang berjalan dan menjalankan misinya. Terima kasih Tuhan atas kasih dan sayang-Mu. Semoga semua makhluk berbahagia dan damai harmonis.... Aamiin. Salam kenal ya Pungki dan Anees! Thank you Mbak Raras!

Kamis, 25 April 2024

#27 Coba Menu Baru

Hari ini hari kedua saya makan sayur dan protein nabati tanpa protein hewani. Tahu apa yang kumasak hari ini? Yups, sate jamur tanpa tusuk. Kemarin sengaja beli jamur, tapi bingung mau dimasak apa. Teringat waktu vipassana ada salah satu menu sate jamur yang menurutku enak. Lalulah saya cari resepnya di cookpad. Sampai saat ini, cookpad masih menjadi website masak-masak andalan saya. Hahaha. Semua resep ada dan banyak pilihan. :)

Menu makan kali ini adalah nasi, sate jamur tanpa tusuk, selada, sama pepaya potong. Oh iya, saya biasanya itu tidak suka makan pepaya karena harus kupas dan menurut saya ribet. Kalau di rumah biasanya ibu saya selalu sedia pepaya di kulkas, tapi tak pernah saya sentuh karena kudu ngupas dulu sebelum makannya. Biasanya ibu yang akan mengupasnya lalu makan di depan saya dan membuat saya kepengen. Lalulah saya yang akan minta pepaya yang dimakan ibu itu. Dengan senangnya, ibu akan mengupas dan memotongkannya lagi. Ahh, kangen ibu! Al Fatehah. :D Love you ibu!

Nah, siang kemarin saya beli pepaya di ibu sayur. Pepayanya ditimbang dulu, nggak tah berapa kilo, tapi harganya Rp10.000. Pulang dari warung, saya biarkan tergeletak di meja belum saya sentuh. Hahaha. Masih mager kupas. Lalu keesokannya, hari ini saya baru kupas dan potong. Pas saya coba rasanya lha kok manis. Alhamdulillah. Enak banget. Lalu, saya makan beberapa potong, sisanya saya potong dan masukkan ke wadah dan taruh kulkas. :D

Terus, saya makan, tapi sebelum makan, biasa pamerin dulu menu kali ini ke Fitri. Hahaha. Nasi, selada, daun bawang mentah, sate jamur tanpa tusuk, lalu pepaya. So nyummy! Walaupun sate jamurnya kebanyakan ketumbar, jadi rasanya lumayan strong dan sebenarnya ganggu banget rasa ketumbarnya. Hahaha. Efek saya tak kira-kira masukin ketumbarnya dan ngulegnya kurang lembut. Nah, ginilah kalau masak, kadang butuh kira-kira dalam membuat bumbu. Memang keterampilan yang perlu diasah. Dan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya kenapa kalau kita masak dengan hati gembira itu pasti makanannya enak. :))) Tapi kalau kita masak pakai hati yang nggak senang, pasti makanannya rasanya juga nggak jelas. :D Begitulah kira-kira edisi masak kali ini. Besok masak apa lagi ya? Hahaha....

Rabu, 24 April 2024

#26 Pergi Bukan Berarti Membenci

Jika kemarin-kemarin aku block kamu lalu beberapa saat kemudian aku unblock lagi. Begitu berulang-ulang, sampai aku berada di titik ini. Kali ini aku benar-benar block kamu for good. Aku belajar untuk mengikhlaskan. Aku belajar untuk tidak penasaran. Aku belajar untuk menyembuhkan luka masa lalu. Kau tahu?  Cut off kamu bukan karena aku benci, tapi karena demi kebaikan bersama. Aku juga perlu menyayangi diri sendiri. Dan cut off adalah salah satu cara yang aku pilih untuk belajar memikirkan diri sendiri dan memberi kebebasan untukmu melanjutkan hidupmu. Kadang kita terlalu fokus untuk membahagiakan orang lain, sedangkan kita lupa membahagiakan diri sendiri. Kadang kita melukai diri sendiri hanya untuk membuat orang lain tidak terluka.

Kadang kita benar-benar butuh waktu untuk sendiri, fokus pada diri sendiri. Dan kalau boleh jujur, melupakan kamu adalah hal sulit untukku. Tapi lagi-lagi, logikaku harus bertabrakan dengan yang namanya perasaan. Aku harus menerima bahwa dalam kamus hidupmu tidak pernah ada aku. Di tiap harimu tidak pernah teringat diriku. Dalam perjalanan hidupmu, aku hanya pernah singgah dan tak boleh menetap. Pada akhirnya, aku memilih untuk menyudahi segala pikiran tentangmu. Kamu bilang, aku tak perlu khawatir, aku akan ikuti. Tak perlu kukhawatirkan hidupmu. Apa lagi melakukan hal-hal seperti kemarin-kemarin. Aku akan belajar untuk tidak merasa bersalah mengenai perasaan. Aku akan menggunakan logika untuk berpikir.

Jika kamu tidak mau lagi membalas pesanku, tidak apa-apa. Jika kamu tak lagi mau berteman denganku, tak apa-apa, jangan dipaksakan. Jika kamu ingin pergi, silakan pergi. Jika kamu tidak pernah memprioritaskan aku, tak apa-apa, aku juga akan melakukan hal yang sama. Berjuang sendirian, effort lebih sendirian, telah membuat aku sadar, aku bukan siapa-siapa. Semua biar aku permudah, biar aku perjelas, bahwa kita bukan siapa-siapa. Dan aku layak mendapatkan yang lebih baik seperti katamu tempo hari. Semua akan kupermudah jalannya. Kamu tak enak pergi, biar aku yang pergi. Cukup olehku menyakiti diriku sendiri. Terlebih saat aku terlalu berharap semua akan berjalan mulus, padahal tebing sangat tinggi untuk didaki.

Biar aku selesaikan semuanya. Semua kulakukan bukan karena aku benci ya! Aku sadar perasaanku masih ada rasa sayang. Aku sadari itu. Tapi saat ini aku perlu membahagiakan diri sendiri. Aku perlu memikirkan diri sendiri. Aku perlu menyayangi diri sendiri. Biar aku fokus pada diri sendiri dulu.

Dan aku senang dengan rutinitasku saat ini. Aku nulis blog secara konsisten untuk mengungkapkan segala hal yang ada di pikiran maupun perasaan. Aku olahraga setiap hari. Aku makan sayur, protein nabati, dan buah setiap hari. Say no untuk segala daging dan turunannya untuk sementara waktu. Belajar bahasa Spanyol setiap hari. Membangun banyak relasi pertemanan lagi. Merawat anabul-anabulku dan tanaman-tanamanku. Dan aku menikmati prosesnya.

Mari bahagia di jalan masing-masing ya.... Jika nanti kita bertemu lagi, mari bertegur sapa.... Mari kita bercerita banyak hal setelah urusan hati sudah tak saling membebani.... Atau kita pikirkan nanti saja.... Biar Tuhan yang berkehendak. Saat ini mari fokus di hidup masing-masing ya! Semoga kau bahagia selalu, aku pun begitu, aku akan bahagia dengan caraku sendiri. 

Selasa, 30 Maret 2021

#30 Alasan yang Hilang

"Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka - itu hanya menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka." - Lao Tzu (link)

Ya, belakangan ini saya sedang kembali menemukan alasan yang hilang tentang beberapa hal yang ingin saya capai. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap menjaga semangat dan niat hati untuk terus bermimpi. Dan mungkinkah semangat itu akan roboh begitu saja saat ada orang yang mengatakan, "Kenapa harus Papua?" Lagi-lagi saya kehilangan alasan yang kuat mengapa harus Papua!

Entahlah, tapi pencarian tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di televisi saat saya masih SMP atau SMA. Saya lupa! Entah itu mungkin malah sewaktu kuliah. Saya tak ingat. Ada sebuah acara semacam jejak petualang atau pengenalan budaya Indonesia. Ya, saya tiba-tiba ingat itu. Hal yang masih sangat saya ingat adalah tentang Papua, kehidupan Mama-Mama Papua. Menanam ubi, berjalan jauh ke pasar untuk menjajakan sayuran. Bagaimana menghuni rumah dengan atap jerami dengan tungku di tengahnya. Sepertinya itu gambaran yang pernah terekam dalam memori saya mengenai Papua. 

Lalu, ditambah lagi saya sangat suka film Laskah Pelangi dan Alangkah Lucunya Negeri Ini saat saya kuliah. Sepertinya, gambaran tentang kehidupan daerah pedalaman menyisakan memori yang sungguh dalam di ingatan saya. Dan keinginan untuk mengunjungi dan tinggal di pedalaman pun tumbuh seiring waktu. Ah, apakah impian saya itu terlalu muluk-muluk? Entahlah....

Bahkan ketika ada pertanyaan yang muncul mengapa saya tak menjadi guru sekolah di Jakarta dan malah memilih menjadi pekerja lepas, saya selalu menjawab, saya tak ingin menghabiskan banyak waktu di jalan karena macetnya Jakarta, jika saya ingin menjadi guru sekolah, saya ingin menjadi guru di pedalaman. Dan itu impian yang hingga saat ini masih saya pupuk, masih saya perjuangkan.

Tahun ini menurut saya adalah waktu yang cocok untuk kembali memperjuangkan mimpi itu setelah 8 tahun mati suri. Kesempatan yang pas di saat semua yang dulu-dulu menjadi penghambat, di tahun ini pula sudah tuntas terselesaikan dengan baik. Jika memang tahun ini tahun baik untuk saya pergi dan mewujudkan impian saya itu, semoga Tuhan memberi rencana yang terbaik. Jika memang belum, saya mungkin perlu belajar lagi lebih banyak hingga saya siap untuk pergi sesuai rencana Tuhan.

Ahhh, terima kasih semesta sudah membawa saya sejauh ini!



Senin, 29 Maret 2021

#29 Mari Luruskan Niat!

Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.

Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.

Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?

Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?

Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."

Semoga ada jalan.... Aamiin....

Sabtu, 27 Maret 2021

#27 Daun Dala - Mengenali Diri Sendiri Melalui Melukis di Tulang Daun

Daun Dala! Awalnya saya tertarik dengan namanya, bagus! Cerita yang baru saya tahu, Daun Dala adalah singkatan dari Daun Mandala. Bagus ya!

Nah, pertemuan saya dengan kak Prapti atau yang sering dipanggil kak Plap ini juga dari pertemanan Kak Rosa. Berasa banget dunia makin sempit lingkup pertemanan ini. Ya itu lagi itu lagi kalau kita bergerak di satu bidang. Seperti ada benang merah yang menghubungkan kami semua. Ya, seperti teman-teman saya di instagram ternyata ada mutualan sama kak Plap di bidang penguasaan diri dan pengenalan diri sendiri. Pas cerita-cerita, lah ternyata saya tahu beberapa kenalan Kak Plap dan saya ada ketertarikan di bidang yang kak Plap geluti. Hahaha, kadang itu membuat kami tertawa sambil berkata, lah ternyata kenal juga to? Iyak, segitu kocaknya hidup ini.

Di sesi bersama Daun Dala ini, saya belajar kembali menemukan diri sendiri. Ternyata apa yang dibilang kak Plap benar, sempat kak Plap bilang kalau dirinya akan berbeda saat mengisi sesi sama saat dirinya main bareng. Ya, kebetulan sempat ketemu sekali di tempat kak Rosa. Oh, bukan kebetulan ding, tapi itu memang jalan semesta tentang pertemuan kami. Tak ada yang kebetulan! Tambah lagi muatan positif dari jiwa-jiwa berenergi positif lagi dari Kak Plap dan Kak Rangga, plus teman baru Kak Mila, kawan satu kos Kak Juni.

Sebuah refleksi saya setelah mengikuti sesi Daun Dala. Kadang kita lupa membahagiakan diri sendiri dan lebih fokus untuk selalu membahagiakan orang lain. Kita juga lupa menghargai waktu dan energi untuk diri sendiri. Kadang pula saya pun masih memikirkan apa kata orang lain. Padahal yang bisa kita kontrol itu adalah respon kita terhadap orang lain. Kadang memori buruk selalu membayangi kita. Padahal sebenarnya kita punya banyak memori bahagia yang tersimpan dan itu yang membuat kita terus termotivasi. Dan satu hal yang membuat hidup bahagia, terencana tapi juga harus tetap fleksibel. Kenapa? Ketika kita saklek dengan rencana-rencana kita, ketika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai rencana mungkin itu akan menjadi penghambat kita untuk tetap menuju tujuan. Selain itu, terencana tapi tetap fleksibel ini artinya kita tetap menuju tujuan yang ingin kita dapatkan walaupun dalam prosesnya kita melalui jalan yang berbeda. Bisa jadi kita malah menemukan jalan baru yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Lalu, pertemuan saya dengan Kak Plap juga mengajarkan kepada saya untuk kembali ke alam. Sejatinya seperti proses perendaman daun dengan menggunakan air biasa. Mungkin menggunakan zat kimia akan cepat proses perendaman, tapi ketika kita mengikuti saja proses alam, itu akan memberi banyak kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Seperti contohnya, proses perendaman daun akan memakan waktu yang cukup lama jika kita menggunakan air biasa. Proses inilah yang akan melatih kesabaran diri. Selain itu, kita juga bisa menikmati prosesnya, kalau kata kak Plap, nikmati saja sesuai indera yang kita punya. Misalnya saja, indera pembau atau penciuman, nikmati saja bau tak sedap dari proses perendaman daun itu yang nantinya aroma itu akan sedikit demi sedikit pudar. Indera pendengaran, saat kita menyikat daun itu, kita akan lebih peka pada kapan kita harus berhenti, kapan kita harus terus menggosok daunnya agar daun tetap bagus dan tidak robek. Lalu indera penglihatan, daun hijau yang kita rendam beberapa waktu, kita akan amati selang beberapa waktu, warna hijaunya akan pudar dan berganti menjadi warna tulang daun yang transparan. Ini proses menarik menurut saya. Indera peraba, kita bisa merasakan bagian daun yang kasar dan daun yang halus, kapan kita menggunakan power maksimal atau sedang-sedang saja saat menyikat daun itu. Setiap daun kita tidak bisa melakukan atau memberi treatment yang sama karena karakteristik beda-beda. Begitu pula saat kita berteman atau bertemu dengan orang lain, tak semua orang bisa kita pukul rata kemampuan untuk merespon diri kita. Ya, kalau tidak mau patah atau rusak, ya kita harus tetap waras untuk berpikir dalam menanggapi respon orang lain. Ya, pada akhirnya walaupun kita sudah berhati-hati, tetap saja ada gesekan dengan orang lain. Tapi tergantung kita menyikapinya, mau tetap waraskah? Atau malah ikut berburuk sangka padahal alam pun sudah mengajarkan yang terbaik.

Ya, tak dipungkiri juga semakin kita dewasa semakin banyak sekali excuse dan pikiran yang ada di otak kita. Kita sibuk mencari alasan untuk tidak berani mengambil langkah atau mencoba sesuatu. Seperti di dalam pikiran kita itu gimana-gimana-gimana, gimana kalau gagal? Gimana kalau diomongin orang? Dan lain sebagainya. Sudah saatnya kita menandai hal-hal yang mengganggu dan tetap berpikir positif. Hal yang kita bisa kontrol adalah diri sendiri dan respon kita terhadap orang lain. Saya juga masih belajar tentang ini.... Bagaimana mengenali diri sendiri lebih dalam lagi....

Apakah kamu sudah mengenali diri sendiri dengan baik?

Tim belajar bareng Daun Dala


Cantik sekali daun bodi ini dan hasil karya kami


Tempat baru yang ternyata memang dijodohkan dengan tempat ini


Penjelasan tentang proses perendaman daun


Serius mikir ini sambil mengingat-ingat momen yang sudah-sudah