Senin, 19 Januari 2026
Senin, 19 Januari 2026
Jumat, 26 Desember 2025
Sadar "Ada Hal yang Perlu Dibenahi"
Hi, lama tak menulis di sini. Hari ini terketuk hati sa untuk menulis lagi. Mungkin akan sedikit membingungkan kata-katanya karena sudah lama tidak menulis lagi.
Jadi ceritanya, mulai tanggal 20 Desember 2025, sa mengurangi penggunaan WhatsApp. Bukan kenapa-kenapa, hanya butuh 'me time' tanpa mikir kerjaan. Jadi selama liburan itu, sa bener-bener gak buka WA group atau WA chat dari teman-teman di sekolah. Sa hanya menghubungi 2 orang saja, Fitri dan Nafis. Selain itu gak buka WA, kalau ada yang urgent baru membalas. Memang sudah niat dari awal liburan, mau mengurangi interaksi dengan banyak orang.
Beberapa hari yang lalu, teman kerja WA, namun tak sa balas. Terakhir kali sa dapat WA, tawaran kerjaan, tapi sa tunda. Ada ortu yang WA, sa balas, tapi dengan jeda. Sebenarnya, sa tahu, ini kurang baik, apalagi menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lalu, teman kerja WA lagi, dan kali ini meminta bantuan teman-teman lain untuk menghubungi sa. Lagi-lagi sa tak jawab telepon maupun jawab pesan. Walaupun sebenarnya, sa ingin sekali balas dan bilang kalau sa butuh waktu sendiri, namun sa urungkan. Sa bilang ke Fitri kalau sa sedang mengurangi interaksi dengan rekan-rekan di sekolah maupun kerjaan. Namun, ternyata kehidupan sosial di Indonesia sangatlah kuat. Rekan kerja rasa saudara dan kadang apa-apa perlu diketahui lainnya. Sebenarnya, sa mencoba pasang boundaries. Ada beberapa hal yang tak bisa sa jelaskan begitu saja ke semua orang. Dalam hal ini, sa bisa dikatakan "cukup mampu" menangani hal ini.
Sa pikir, sampai di situ saja cukup. Ternyata tidak. Hari ini teman sa datang ke rumah dengan kekhawatirannya. Khawatir sa kenapa-kenapa. Khawatir sa tidak baik-baik saja. Awalnya, sa mau tak buka pintu, tapi tak tega. Sudah jauh-jauh ke rumah buat cek kondisi sa yang tak menjawab telepon maupun chat, ya masak tidak sa temui? :"( Lantas, sa buka pintu. Sontak kekhawatiran mereka pun hilang dan merasa lega. Dalam otak sa berkecamuk, kenapa mereka datang dengan kekhawatiran seperti ini? Perasaan macam apa ini? Sa mencoba memproses.
Bu Er cerita kalau dulu pernah diceritain, salah satu teman. Ada teman dari temannya yang tidak ada kabar. Kondisinya mungkin mirip saya, tinggal seorang diri, merantau. Namun, tidak ada yang tahu kalau ternyata sudah meninggal beberapa hari di kontrakannya tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Mungkin, Bu Er tidak mengalami secara langsung, tapi pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika ada temannya yang tidak seperti biasa tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, menghilang....
Sampai cerita tersebut diceritakan, sa mencoba mencerna dan berpikir. Sa sudah salah dan membuat beberapa orang khawatir. Sa sadar dan mencoba belajar kembali tentang perasaan aneh yang muncul selama proses ini.
Sa bercerita ke kawan tentang kejadian ini. Ada satu benang merah yang bisa sa gali dan sa sambungkan. Sa sadari perasaan kesal, sedih, senang, aneh yang muncul satu per satu. Kenapa sa sedih? Kesal karena merasa liburan sa terganggu. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang khawatir di balik itu semua. Mungkin beda lagi ketika sa dari awal memberitahu kalau selama liburan sa tidak pegang HP, mungkin mereka akan lebih berlapang. Sa merasa sedih, senang dan aneh bercampur jadi satu. Perasaan campur aduk ini muncul karena merasa ada yang perhatian dan ada yang khawatir dengan sa. Terasa asing. Rasa yang sulit sa deteksi. Seharusnya sa bahagia ya karena ada yang peduli, tapi di sisi lain sa merasa perlakuan ini 'too much' dalam pertemanan. Tapi, setelah sa gali lebih dalam muncullah statement dari diri sa "aneh karena tidak familiar dengan perlakuan dicintai". Ternyata sa perlu belajar satu hal "perasaan dicintai, dipedulikan".
Setelah sa telusuri jauh ke masa lalu, pola asuh seperti apa yang membuat sa terasa asing seperti ini? Sepertinya karena dari kecil sebagai anak pertama, sa selalu dididik dengan berbagai macam tuntutan: harus mandiri, harus menjadi contoh adik-adik, harus apa-apa bisa sendiri, harus berbagi ke orang lain, harus memberi dan membagi cinta ke orang lain. Dan tidak diajari untuk menerima cinta dari orang lain atau perasaan dicintai itu sendiri. Selama ini, sa hidup dalam perasaan harus mencintai daripada dicintai. Merasa berhasil mengambil kontrol dari sesuatu tindakan. Mungkin juga takut ditinggalkan maupun tidak diterima. Sehingga sejauh ini, sa lebih familiar dengan perasaan mencintai daripada dicintai.
Dari kejadian ini, sa perlu belajar untuk tidak harus selalu memberi, tetapi "menerima" pun juga tidak apa-apa. Belajar menerima cinta dan dicintai orang lain. Belajar untuk menerima tanpa ada tuntutan untuk mengembalikan.
Afirmasi yang perlu sa ulangi seperti kata Bunda Shada:
"Aku layak menerima bantuan dengan hati terbuka. Aku terhubung dengan jiwa-jiwa baik yang melindungiku. Aku berjalan menuju masa depan yang stabil, kuat, penuh berkah, bahagia, dan berkelimpakan. Aku layak dicintai dan menerima cinta yang membahagiakan."
Minggu, 05 Januari 2025
#5 Buat Komitmen
Hari ini saya masak sayur sawi dan ikan cakalang. Tidak banyak yang saya lakukan hari ini. Hanya bersih-bersih rumah, nyuci baju, dan jemur bantal. Hari ini ada Mbk S dari grup pola makan sehat tiba-tiba chat saya tanya tips agar BB turun. Saya jawab ikuti tips yang diberikan coach. Ya memang begitu.
Hari ini saya berkomitmen untuk mengatur kembali keuangan. Beberapa hal perlu diubah. Menenangkan diri untuk tetap fokus pada kebahagiaan diri dan self love. Semangat ya kamu yang tengah belajar....
Minggu, 12 Mei 2024
#44 Menaikkan Vibrasi Diri
Sabtu, 11 Mei 2024
#43 Tenang Seimbang, Datar Saja
Jumat, 10 Mei 2024
#42 Kuro Tak Pulang!
Rabu, 08 Mei 2024
#40 Perpanjang Paspor di Jogja

terus akhirnya ya udah dipilih yang bagus, saya bilang ke bapaknya, pak foto yang cantik ya pak... Bapaknya ketawa
sambil nyodorin tisu karena melihat dahi saya yang penuh keringat karena abis naik eskalator yang mati karena mall belum buka tadi pagi. Ternyata ketawa itu nular ya... 


Selasa, 07 Mei 2024
#39 Keputusan dan Keikhlasan
Sabtu, 04 Mei 2024
#36 Netralkan Energi Tubuh
Jumat, 03 Mei 2024
#35 Jalan Semesta
Kamis, 02 Mei 2024
#34 Sesuatu Pasti Ada Tujuannya
Rabu, 01 Mei 2024
#33 Berbagi Makanan
Selasa, 30 April 2024
#32 Overthinking Kambuh
Hari ini saya ke sekolah seperti biasa. Sebelum ke sekolah saya selesaikan edit cerpen Jalu terlebih dahulu sampai lupa waktu dan skip cardio pagi. Ya, saya menjalani rutinitas seperti biasa, ke sekolah, lalu pulang. Sampai di kos, entah kenapa saya merasa lelah sekali dan ingin tidur tapi tidak bisa. Mood saya berubah dengan cepat dan benar-benar pikiran kemana-mana. Sepertinya overthinking kambuh!
Saya mencoba untuk tidur, tetap saja tidak bisa. Saya pun seharian tutup pintu kamar karena tidak ingin diganggu siapa pun. Lalu malamnya saya ngajar, lanjut tidur lagi dengan pikiran tidak tenang. Sampai tengah malam pun belum juga sembuh. Waduh! Bahaya!
Sekarang saya lebih menyadari emosi yang muncul seperti apa dan trigger-nya apa. Biasanya kalau sudah seperti itu, saya akan mencoba menemukan apa yang membuat emosi lalu menyadari perasaan dan emosi yang muncul. Kemudian, mengatur napas dan mengatur pikiran.
Bener-bener, proses ini kadang membuat saya geleng-geleng karena berefek sekali ke pikiran. Biasanya pagi saya cardio, lalu kalau skip cardio, ternyata efeknya ke overthinking yang kumat. Bisa begitu ya? Efeknya sungguh nyata lho! Harus rajin dan konsisten memang.... Semangattt untuk diri sendiri!
Minggu, 28 April 2024
#30 Kurangi Ekspektasi
Jumat, 26 April 2024
#28 Jalan Semesta
Hari ini ada acara Syawalan di sekolah. Saya berangkat jam sembilan pagi kurang. Hari ini keluarga besar Salam berkumpul di halaman sekolah. Saya membawa snack batagor yang beli di abang-abang gerobak di jalan menuju sekolah. Awalnya, saya kira itu adalah penjual gorengan, ternyata siomay dan batagor. :D Karena sudah terlanjur berhenti, saya belilah batagor. Saya bawa wadah sendiri, sambal dipisah, mas-mas yang jual juga ramah. Awalnya mau beli 10ribu, tapi kutambah lagi 5rb, jadi 15rb. Lalu, setelah selesai dibungkusin batagor, saya melanjutkan perjalanan.
Sampai di sekolah, halaman sudah banyak orang. Jiwa introvert saya memilih untuk masuk ke kelas, nyari yang sepi. Lalu diikuti teman-teman kelas 5, saya pun bertanya apakah kotak makan teman-teman sudah ditaruh di meja SD besar atau belum. Beberapa ada yang sudah, tapi sebagian besar belum. Saya pun mengajak mereka untuk memberi nama di kotak makan masing-masing. Saya potong kertas dan ambil lakban bening. Anak-anak menulis nama dan kelas masing-masing. Lalu, saya tanya lagi, "Apakah pada bawa snack?" Beberapa menjawab kalau snack dibawa ortu. Kemudian saya mengeluarkan batagor dari tas. Beberapa dari mereka pengen nyoba. Alhasil, batagornya kami makan bersama di kelas. :D Sampai habis. :D Alhamdulillah.
Setelah makan batagor, kami turun ke halaman dan nyari tempat duduk di halaman. Acara pun dimulai, Bu Er pun maju jadi MC dadakan karena gemes teman-teman yang lain tidak segera menempati tempat yang sudah disediakan. Hahaha. Saya mengkoordinir teman-teman kelas 5, alhamdulillah mereka masih aman untuk diajak kerja sama. :D
Tapi memang sih, karakter anak-anak kelas 5 ini rajin, ontime, teratur, dan saling mengingatkan kalau ada peristiwa. Jadi sebenarnya, saya yang belajar dari mereka.
Menu makan siangnya ada lontong, opor ayam dan telur, sayur krecek dan sayuran sama kerupuk. Saya berusaha komitmen tentang makanan yang saya konsumsi. Telur dan ayamnya saya kasihkan ke Sandhi, kreceknya pedes, jadi saya kasih ke Bu Er. Sampai Sandhi kenyang banget karena dapet tambahan lauk dari saya. Hahaha. Terima kasih ya Sandhi sudah mau bantu saya. Terus saya makan apa? Saya makan lontong, kuah sayur, sama kerupuk. :D
Ya awalnya sih mereka bertanya-tanya kenapa saya tidak makan daging dan protein hewani. Saya bilang, sedang diet protein hewani. Hahaha. Ya memang bener. Hahaha. Saya sedang mencoba makan non hewani dan turunannya untuk mengontrol emosi, pikiran dan energi tubuh. Ya, semoga konsisten ini membuahkan hasil lebih baik ya. Aamiin.
Pulang dari Salam, saya janjian sama Mbak Raras, mau nemenin Mbak Raras ketemu sama salah satu temennya. Saya ke rumah Mbak Raras jam 5 sore. Tetep ya, saya nyasar pas sudah sampai lokasi. Haha. Hanya beda gang sih tapi ya begitu, daya ingat saya lumayan buruk untuk mengingat lokasi atau maps. Ya, ngobrol-ngobrol bentar sama Mbak Raras, terus kami berangkat. Kami menuju Pizza Nanami yang ada di daerah Ngadipuran kalau nggak salah. Kami datang lebih awal dan memesan minuman terlebih dahulu. Masih nunggu Pungki dan Anees. Keduanya belum saya kenal sebelumnya.
Lalu, ada kejadian kocak. Ternyata Anees kuliah di kampus yang sama dengan saya. Hahaha hanya saja beda jurusan. :D Lalu, ternyata dia sedang main sama temennya di deket kos saya. :D Lha, kok kocak! Ternyata eh ternyata, beneran itu alamat kos temennya itu deket banget dengan kosan saya dan sering saya lewati. Ampun deh... Hahaha.... Jauh-jauh ke Ngadipuran ternyata ketemunya sama tetangga kosan. Hahaha. Sekocak itu hidup.
Setelah datang semua, kami kenalan. Ternyata itu juga hari pertama Mbak Raras ketemu sama Anees, tapi mereka sudah sering ngobrol lewat telpon. Dan ada hal yang menarik lagi yang menurut saya ternyata bener-bener ya kalau kita sinkronisasi energi dengan semesta, semesta itu akan menjawab apa yang kita inginkan. Beberapa hari yang lalu, saya berpikir dan ngebatin, ngelist teman-teman saya yang jurusan sains, tapi nggak inget. Rencana mau kuajak ke sekolah dan biar murid-muridku bisa belajar dari mereka. Kucari-cari kok gak nemu, nggak inget kalau ada Galih dan Vincent tapi kayaknya mereka sibuk. Hahaha. Terus, tahu apa yang terjadi di pertemuan itu? Anees ternyata jurusan biologi dan dia punya teman jurusan kimia juga. Dia menawarkan kalau saya perlu dikenalkan sama anak kimia, dia bisa bantu. Ahhh, alhamdulillah, masyaAllah ya....
Sekeren itu alam semesta ini membuat skenario baiknya. Dan pertemuan saya dengan Mbak Raras juga pasti ada alasannya. Semua yang datang ke hidup ini pasti punya alasan. Entah hanya sekadar kenal atau yang kenal dekat. Pasti ada rencana semesta yang sedang berjalan dan menjalankan misinya. Terima kasih Tuhan atas kasih dan sayang-Mu. Semoga semua makhluk berbahagia dan damai harmonis.... Aamiin. Salam kenal ya Pungki dan Anees! Thank you Mbak Raras!
Kamis, 25 April 2024
#27 Coba Menu Baru
Hari ini hari kedua saya makan sayur dan protein nabati tanpa protein hewani. Tahu apa yang kumasak hari ini? Yups, sate jamur tanpa tusuk. Kemarin sengaja beli jamur, tapi bingung mau dimasak apa. Teringat waktu vipassana ada salah satu menu sate jamur yang menurutku enak. Lalulah saya cari resepnya di cookpad. Sampai saat ini, cookpad masih menjadi website masak-masak andalan saya. Hahaha. Semua resep ada dan banyak pilihan. :)
Menu makan kali ini adalah nasi, sate jamur tanpa tusuk, selada, sama pepaya potong. Oh iya, saya biasanya itu tidak suka makan pepaya karena harus kupas dan menurut saya ribet. Kalau di rumah biasanya ibu saya selalu sedia pepaya di kulkas, tapi tak pernah saya sentuh karena kudu ngupas dulu sebelum makannya. Biasanya ibu yang akan mengupasnya lalu makan di depan saya dan membuat saya kepengen. Lalulah saya yang akan minta pepaya yang dimakan ibu itu. Dengan senangnya, ibu akan mengupas dan memotongkannya lagi. Ahh, kangen ibu! Al Fatehah. :D Love you ibu!
Nah, siang kemarin saya beli pepaya di ibu sayur. Pepayanya ditimbang dulu, nggak tah berapa kilo, tapi harganya Rp10.000. Pulang dari warung, saya biarkan tergeletak di meja belum saya sentuh. Hahaha. Masih mager kupas. Lalu keesokannya, hari ini saya baru kupas dan potong. Pas saya coba rasanya lha kok manis. Alhamdulillah. Enak banget. Lalu, saya makan beberapa potong, sisanya saya potong dan masukkan ke wadah dan taruh kulkas. :D
Terus, saya makan, tapi sebelum makan, biasa pamerin dulu menu kali ini ke Fitri. Hahaha. Nasi, selada, daun bawang mentah, sate jamur tanpa tusuk, lalu pepaya. So nyummy! Walaupun sate jamurnya kebanyakan ketumbar, jadi rasanya lumayan strong dan sebenarnya ganggu banget rasa ketumbarnya. Hahaha. Efek saya tak kira-kira masukin ketumbarnya dan ngulegnya kurang lembut. Nah, ginilah kalau masak, kadang butuh kira-kira dalam membuat bumbu. Memang keterampilan yang perlu diasah. Dan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya kenapa kalau kita masak dengan hati gembira itu pasti makanannya enak. :))) Tapi kalau kita masak pakai hati yang nggak senang, pasti makanannya rasanya juga nggak jelas. :D Begitulah kira-kira edisi masak kali ini. Besok masak apa lagi ya? Hahaha....
Rabu, 24 April 2024
#26 Pergi Bukan Berarti Membenci
Selasa, 30 Maret 2021
#30 Alasan yang Hilang
"Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka - itu hanya menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka." - Lao Tzu (link)
Ya, belakangan ini saya sedang kembali menemukan alasan yang hilang tentang beberapa hal yang ingin saya capai. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap menjaga semangat dan niat hati untuk terus bermimpi. Dan mungkinkah semangat itu akan roboh begitu saja saat ada orang yang mengatakan, "Kenapa harus Papua?" Lagi-lagi saya kehilangan alasan yang kuat mengapa harus Papua!
Entahlah, tapi pencarian tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di televisi saat saya masih SMP atau SMA. Saya lupa! Entah itu mungkin malah sewaktu kuliah. Saya tak ingat. Ada sebuah acara semacam jejak petualang atau pengenalan budaya Indonesia. Ya, saya tiba-tiba ingat itu. Hal yang masih sangat saya ingat adalah tentang Papua, kehidupan Mama-Mama Papua. Menanam ubi, berjalan jauh ke pasar untuk menjajakan sayuran. Bagaimana menghuni rumah dengan atap jerami dengan tungku di tengahnya. Sepertinya itu gambaran yang pernah terekam dalam memori saya mengenai Papua.
Lalu, ditambah lagi saya sangat suka film Laskah Pelangi dan Alangkah Lucunya Negeri Ini saat saya kuliah. Sepertinya, gambaran tentang kehidupan daerah pedalaman menyisakan memori yang sungguh dalam di ingatan saya. Dan keinginan untuk mengunjungi dan tinggal di pedalaman pun tumbuh seiring waktu. Ah, apakah impian saya itu terlalu muluk-muluk? Entahlah....
Bahkan ketika ada pertanyaan yang muncul mengapa saya tak menjadi guru sekolah di Jakarta dan malah memilih menjadi pekerja lepas, saya selalu menjawab, saya tak ingin menghabiskan banyak waktu di jalan karena macetnya Jakarta, jika saya ingin menjadi guru sekolah, saya ingin menjadi guru di pedalaman. Dan itu impian yang hingga saat ini masih saya pupuk, masih saya perjuangkan.
Tahun ini menurut saya adalah waktu yang cocok untuk kembali memperjuangkan mimpi itu setelah 8 tahun mati suri. Kesempatan yang pas di saat semua yang dulu-dulu menjadi penghambat, di tahun ini pula sudah tuntas terselesaikan dengan baik. Jika memang tahun ini tahun baik untuk saya pergi dan mewujudkan impian saya itu, semoga Tuhan memberi rencana yang terbaik. Jika memang belum, saya mungkin perlu belajar lagi lebih banyak hingga saya siap untuk pergi sesuai rencana Tuhan.
Ahhh, terima kasih semesta sudah membawa saya sejauh ini!
Senin, 29 Maret 2021
#29 Mari Luruskan Niat!
Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.
Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.
Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?
Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?
Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."
Semoga ada jalan.... Aamiin....




