Tampilkan postingan dengan label #TentangHidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #TentangHidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

Hari ini Pasar Senin Legi di sekolah. Sa memilih untuk berjualan lagi. Kali ini sa berjualan cukup laris "es teh buah". Semua bahan dan persiapan sudah oke, tapi tetep aja ada yang tertinggal. Yups, madunya tertinggal di meja dapur. Alhasil sa beli gula pasir untuk pemanis.

Lumayanlah hasilnya untuk memeriahkan Pasar Senin Legi. Walaupun jenis makanan yang dijual kurang beragam karena ternyata banyak yang jual es buah dan buah-buahan. :) Karena temanya warna-warni alami mungkin ya jadi semua jual buah dan jelly. >.< Lain kali sepertinya harus putar otak lagi buat nyari ide yang lebih menarik untuk jualan.

Kali ini sa dibantu sama Bu Wo. Lalu anak-anak antusias juga membantu. Pagi-pagi datang sudah disambut anak-anak dengan pertanyaan "Mbak, jualan apa?" Terus beberapa anak bantu bawa barang bawaan. Yo bantu buat tempelan harga dibantu sama Ken. Aby bantu ambilkan gelas kelas untuk jualan. Yo juga bantu jualan ambilkan es dan buah. Bu Wo jadi kasir. Semua senang. Walaupun pulang-pulang rasanya lelah banget. Tapi happy!

Nah, ada kejadian tidak sesuai rencana kali ini. Pagi tadi Bu Er izin tidak masuk sekolah dan memang jadwal Mas And off hari Senin. Alhasil sa cukup kuwalahan. Setelah selesai pasaran, sa baru ingat kelas ada makan siang. Ternyata belum masak nasi. :) Anak-anak yang piket lupa masak nasi. Akhirnya dibantu Titi masak nasi. Sa bilang ke Titi masak nasi 6 cup saja karena 3 orang tidak masuk. Dan ok, nasi dimasak. Waktu sa tanya di kelas siapa yang bawa makan siang, ternyata Aro. Dan... dia lupa bilang kalau makan siangnya mau ke warung Ken. Lah, nasi sudah dimasak. Sedangkan menu makan siang di warung Ken ada bakso, mie ayam, ayam pokpok. 

Diskusilah kami mencari solusi bagaimana cara menghabiskan nasi yang terlanjur dimasak. Gen mengusulkan kalau masing-masing membawa nasi pulang. Namun, cara tersebut belum diterima karena wadah bekal anak-anak masih penuh snack. Ada lagi yang mengusulkan untuk menanyakan kelas lain yang membutuhkan. Terulah, beberapa perwakilan tanya satu-satu ke kelas 1-6. Alhasil hasilnya tidak ada yang membutuhkan nasi. Info yang didapat karena masing-masing kelas ada yang tidak ada jadwal makan siang, jadi tidak membutuhkan nasi. Kelas 2 mengatakan kalau kami menginfokan terlambat 10 menit. Andaikan 10 menit itu kami sudah menginfokan, mungkin nasi tersebut bisa untuk kelas 2. Jadilah kami mencari ide lain. Yups, makan bakso sama nasi, makan mie ayam sama nasi (buat yang mau aja). Sisanya bagaimana? Muncullah ide dibawa pulang fasi terus dibawa lagi besoknya dibuat onigiri. Deal, sa yang akan membuat isian ayam, dicetak di sekolah bersama-sama.

Jalanlah kami ke warung Ken dan memesan makanan. Sa beli bakso tanpa mie agar bisa makan nasi juga. Itung-itung mengurangi nasi yang sudah dimasak. Yo juga nambah nasi. Tar juga nambah nasi. Ab pun juga ikutan makan nasi. Aby juga ikut makan nasi. Lalu, kami diskusi nasi yang masih ada besok dibuat onigiri di sekolah. Pembagian alat sudah disetujui. Tiba-tiba ada telepon dari kelas 2, mereka kekurangan nasi. Dan nasi kelas pun akhirnya untuk kelas 2. Alhamdulillah. Batal deh kami membuat onigiri. Jadi akan kami tunda untuk kegiatan kelas berikutnya. Problem solved!

Sa pulang dengan lebih lelah, namun harus kerja tambahan sampai jam setengah 9 malam. Permasalahan Hasse Diagram pun terselesaikan tepat waktu. Tapi masih ada PR untuk belajar lagi tentang Diagram Transisi DFA. Sa masih perlu waktu untuk memahaminya. 

Hari sudah mulai sibuk. Jadi cukup hectic untuk urusan diri sendiri. Mari fokus ke diri sendiri dan membangun relasi.

Jumat, 26 Desember 2025

Sadar "Ada Hal yang Perlu Dibenahi"

 Hi, lama tak menulis di sini. Hari ini terketuk hati sa untuk menulis lagi. Mungkin akan sedikit membingungkan kata-katanya karena sudah lama tidak menulis lagi.

Jadi ceritanya, mulai tanggal 20 Desember 2025, sa mengurangi penggunaan WhatsApp. Bukan kenapa-kenapa, hanya butuh 'me time' tanpa mikir kerjaan. Jadi selama liburan itu, sa bener-bener gak buka WA group atau WA chat dari teman-teman di sekolah. Sa hanya menghubungi 2 orang saja, Fitri dan Nafis. Selain itu gak buka WA, kalau ada yang urgent baru membalas. Memang sudah niat dari awal liburan, mau mengurangi interaksi dengan banyak orang.

Beberapa hari yang lalu, teman kerja WA, namun tak sa balas. Terakhir kali sa dapat WA, tawaran kerjaan, tapi sa tunda. Ada ortu yang WA, sa balas, tapi dengan jeda. Sebenarnya, sa tahu, ini kurang baik, apalagi menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lalu, teman kerja WA lagi, dan kali ini meminta bantuan teman-teman lain untuk menghubungi sa. Lagi-lagi sa tak jawab telepon maupun jawab pesan. Walaupun sebenarnya, sa ingin sekali balas dan bilang kalau sa butuh waktu sendiri, namun sa urungkan. Sa bilang ke Fitri kalau sa sedang mengurangi interaksi dengan rekan-rekan di sekolah maupun kerjaan. Namun, ternyata kehidupan sosial di Indonesia sangatlah kuat. Rekan kerja rasa saudara dan kadang apa-apa perlu diketahui lainnya. Sebenarnya, sa mencoba pasang boundaries. Ada beberapa hal yang tak bisa sa jelaskan begitu saja ke semua orang. Dalam hal ini, sa bisa dikatakan "cukup mampu" menangani hal ini.

Sa pikir, sampai di situ saja cukup. Ternyata tidak. Hari ini teman sa datang ke rumah dengan kekhawatirannya. Khawatir sa kenapa-kenapa. Khawatir sa tidak baik-baik saja. Awalnya, sa mau tak buka pintu, tapi tak tega. Sudah jauh-jauh ke rumah buat cek kondisi sa yang tak menjawab telepon maupun chat, ya masak tidak sa temui? :"( Lantas, sa buka pintu. Sontak kekhawatiran mereka pun hilang dan merasa lega. Dalam otak sa berkecamuk, kenapa mereka datang dengan kekhawatiran seperti ini? Perasaan macam apa ini? Sa mencoba memproses. 

Bu Er cerita kalau dulu pernah diceritain, salah satu teman. Ada teman dari temannya yang tidak ada kabar. Kondisinya mungkin mirip saya, tinggal seorang diri, merantau. Namun, tidak ada yang tahu kalau ternyata sudah meninggal beberapa hari di kontrakannya tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Mungkin, Bu Er tidak mengalami secara langsung, tapi pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika ada temannya yang tidak seperti biasa tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, menghilang....

Sampai cerita tersebut diceritakan, sa mencoba mencerna dan berpikir. Sa sudah salah dan membuat beberapa orang khawatir. Sa sadar dan mencoba belajar kembali tentang perasaan aneh yang muncul selama proses ini.

Sa bercerita ke kawan tentang kejadian ini. Ada satu benang merah yang bisa sa gali dan sa sambungkan. Sa sadari perasaan kesal, sedih, senang, aneh yang muncul satu per satu. Kenapa sa sedih? Kesal karena merasa liburan sa terganggu. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang khawatir di balik itu semua. Mungkin beda lagi ketika sa dari awal memberitahu kalau selama liburan sa tidak pegang HP, mungkin mereka akan lebih berlapang. Sa merasa sedih, senang dan aneh bercampur jadi satu. Perasaan campur aduk ini muncul karena merasa ada yang perhatian dan ada yang khawatir dengan sa. Terasa asing. Rasa yang sulit sa deteksi. Seharusnya sa bahagia ya karena ada yang peduli, tapi di sisi lain sa merasa perlakuan ini 'too much' dalam pertemanan. Tapi, setelah sa gali lebih dalam muncullah statement dari diri sa "aneh karena tidak familiar dengan perlakuan dicintai". Ternyata sa perlu belajar satu hal "perasaan dicintai, dipedulikan".

Setelah sa telusuri jauh ke masa lalu, pola asuh seperti apa yang membuat sa terasa asing seperti ini? Sepertinya karena dari kecil sebagai anak pertama, sa selalu dididik dengan berbagai macam tuntutan: harus mandiri, harus menjadi contoh adik-adik, harus apa-apa bisa sendiri, harus berbagi ke orang lain, harus memberi dan membagi cinta ke orang lain. Dan tidak diajari untuk menerima cinta dari orang lain atau perasaan dicintai itu sendiri. Selama ini, sa hidup dalam perasaan harus mencintai daripada dicintai. Merasa berhasil mengambil kontrol dari sesuatu tindakan. Mungkin juga takut ditinggalkan maupun tidak diterima. Sehingga sejauh ini, sa lebih familiar dengan perasaan mencintai daripada dicintai.

Dari kejadian ini, sa perlu belajar untuk tidak harus selalu memberi, tetapi "menerima" pun juga tidak apa-apa. Belajar menerima cinta dan dicintai orang lain. Belajar untuk menerima tanpa ada tuntutan untuk mengembalikan.

Afirmasi yang perlu sa ulangi seperti kata Bunda Shada:
"Aku layak menerima bantuan dengan hati terbuka. Aku terhubung dengan jiwa-jiwa baik yang melindungiku. Aku berjalan menuju masa depan yang stabil, kuat, penuh berkah, bahagia, dan berkelimpakan. Aku layak dicintai dan menerima cinta yang membahagiakan."

Minggu, 12 Mei 2024

#44 Menaikkan Vibrasi Diri

Hari ini saya bangun pagi karena ada ngajar jam 3 pagi lanjut saya mau renang pagi juga. Janjian sama Mbak Raras jam 6 pagi buat renang di Biru. Setelah ngajar Pascal sekitar 1 jam, saya pun siap-siap. Untungnya, semalamnya sudah saya siapkan perlengkapan renangnya. Lalu, jam 5 pagi, saya menghubungi Anees, tapi sepertinya dia tidak bangun. Ya sudah, saya tinggal saja.

Saya sampai di Biru sekitar jam setengah 6, jalanan lancar dan saya tidak nyasar. Saya menunggu Mbak Raras sampai, katanya nyasar karena diarahkan ke kiri sama googleMaps. Padahal seharusnya ke kanan. Ya sudah nungguin di luar. Sesampainya Mbk Raras, kami pun masuk dengan membayar tiket Rp15.000 per orang. Siap-siap renang. Kondisi kolam sudah ramai. Beberapa ada yang latihan untuk profesional, sebagian ada yang hanya berendam kayak saya. Hahaha, efek saya tidak bisa renang, tapi dikit-dikitlah bisa.

Kami renang sekitar 1 jam. lanjut nyari tempat nongkrong dan ketemulah warmindo Sukarasa. Kami nongkrong dan makan di sana. Sampai berpiring-piring dan bergelas-gelas habisnya. Mas-masnya juga ramah-ramah. Semua request-an saya dibuatkan dengan baik. Rasa masakannya juga enak. Sop dan sambalnya enak juga. Pokoknya, warmindo ini sudah jadi basecamp kami buat nongkrong. Kami makan bermacam-macam dan minum bermacam-macam pula, hanya habis Rp70.000 berdua. Sampai saya bertanya berulang kali lagi ke Masnya, apa sudah semua dihitung. Murah sekali ini untuk sebanyak itu makanan. :D Alhamdulillah....

Lalu, Mbak Raras bilang kalau mau menaikkan vibrasi kita, bisa nongkrong di mall atau restoran hotel atau cafe Prawirotaman sekali-kali. Bisa juga renang di pagi atau malam hari karena biasanya orang-orang yang settle akan renang di jam-jam itu. Kadang kita perlu berada di dekat orang-orang dengan vibrasi tinggi agar ikut terpapar vibrasi baiknya. Hmmm, menarik. Saya jadi ingat saat saya di Jakarta, tiap hari ngajar di cafe dan benar juga rejeki lancar dan ada saja keberuntungannya. Sepertinya memang salah satunya karena tiap hari saya berkumpul dengan orang-orang berekonomi menengah ke atas. Paparan vibrasinya kuat. Sepertinya perlu dicoba lagi.

Terus ada pesan dari Mbak Raras tentang masa lalu saya yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu. Salah satunya kebencian saya dengan bapak sambung saya selama ini yang masih membekas di deretan masa lalu saya. Kata Mbak Raras, saya perlu memaafkan dan meminta maaf agar jalan saya ke depan lebih baik. Apa salahnya berdamai dengan masa lalu? Toh itu semua untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Ya, memang perjalanan spiritual saya saat ini memang cukup membuat saya banyak belajar. Terutama untuk diri sendiri. Salah satunya bermeditasi, memaafkan dan dimaafkan. Karena saya perlu menabur hal-hal baik untuk diri sendiri. Sebagai pemutus karma leluhur selama ini. Bahagia seluruh makhluk....

Sabtu, 11 Mei 2024

#43 Tenang Seimbang, Datar Saja

Hari ini Kuro belum pulang juga. Entah kemana perginya. Saya hanya bisa bersikap tenang saja. Semoga baik-baik saja dan bahagia selalu. Saya belajar untuk merelakan sesuatu yang di luar kontrol saya, seperti sesuatu yang pergi dan tak kembali, ya saya perlu merelakannya. Jika dia kembali, tentunya puji syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan kedua untuk bersama lagi. Ya, saya belajar untuk tidak bereaksi apa pun, datar saja, karena semua sudah ada jalannya. Begitu pula saat Kuro tak pulang, saya tetap tenang, datar saja. Semua akan kembali seperti biasa, tak perlu terlalu berlebihan sedih, terlalu senang, atau terlalu benci. Itu yang saya pelajari.

Seperti halnya, saya sempat benci sekali dengan nama Anis semenjak huru-hara ibukota yang membuat saya lumayan trauma dengan identitas Islam. Sebenarnya, saya tahu betul itu hanya sebagian saja, toh masih banyak kyai atau pemeluk Islam yang mengayomi dan tenang damai. Namun, sejujurnya, tetap kejadian yang ada di Jakarta dulu membuat saya trauma. Saking bencinya saya dengan nama Anis, sampai akhirnya saya tidak suka ketika ada nama Anis, entah itu disebutkan orang atau saya membaca sesuatu yang berhubungan dengan kata itu. Dan semesta pun sangat adil dan mengingatkan saya untuk tidak membenci.

Dan tahu apa yang terjadi? Semesta mengirimkan teman bernama Anees. Lha kok bisa? Ya, begitulah cara semesta mengingatkan kita untuk tetap sesuai jalur kehidupan. Kan kalau seperti ini, interaksi saya bersama nama Anees semakin banyak dan mau nggak mau saya harus terbiasa dan tidak boleh berlebihan dalam membenci maupun menyukai sesuatu. Intinya adalah sedatar-datarnya, sewajarnya, dan tak perlu berlebihan.

Makanya, saya sekarang tidak mau ambil pusing dengan kedatangan maupun kepergian sesuatu. Kalau datang ya saya hargai. Kalau pergi ya saya biarkan pergi dan saya lepaskan. Tak perlu berlebihan mencintai atau membenci. Belajar untuk melepas kemelekatan karena hidup datang dan pergi. Tetap fokus ke diri sendiri. Tetap tenang seimbang. Fokus ke diri sendiri dan perbaiki diri. Dan ini sudah hampir satu bulan saya mengkonsumsi sesuatu non hewani. Ternyata saya bisa bertahan juga. Lalu, konsisten untuk tetap menjaga diri dengan olahraga dan beberapa kegiatan lainnya. Semesta sangat baik ya ke diri ini. Kadang manusianya saja yang terlalu banyak mengeluh dan memprotes. Padahal semesta sudah memberi yang terbaik untuk kita. Mari berbahagia.... 

Jumat, 10 Mei 2024

#42 Kuro Tak Pulang!

Hari ini tepat 3 hari Kuro tidak pulang. Biasanya dia akan turun dari atap saat pagi minta sarapan dan sore saat menjelang makan malam. Setiap pagi juga dia menunggui saya cardio. Tidur di sebelah kaki saya bersama Usrok dan Oyen. Dia selalu tahu dan berlari mengejar saya ketika kami berpapasan. Dia selalu pulang! Walaupun kadang hanya untuk say hello!

Selama tinggal bersama saya, Kuro hanya pernah tidak pulang dua kali. Pertama, saat dia kecelakaan tertabrak motor sewaktu kecil. Dia bersembunyi di semak-semak yang akhirnya saya temukan pagi harinya. Feeling saya kuat saat itu kalau saya akan bertemu kembali dengan Kuro. Dan benar saja, pagi harinya saya beranikan diri masuk ke pekarangan tetangga yang terbengkalai. Saya mendapati dia sedang menggulungkan tubuhnya lemas karena luka di muka di antara tumpukan kayu-kayu dan semak-semak. Ya, saya menemukannya!

Lalu, kedua, saat dia terluka kakinya di sekat rumah tetangga. Saat itu saya baru pindah kos. Selang beberapa hari, dia keluar rumah dan saya biarkan karena dia sudah hapal rumah. Tapi beberapa hari dia tak pulang. Saya pergi mencarinya berkeliling kompleks dan tanya ke tetangga-tetangga juga tanya ke kucing-kucing yang saya temui di jalan. Setelah berputar-putar mencari tetap nihil. Kuro tidak saya temukan. Lalu, lagi-lagi feeling saya kuat kalau saya panggil-panggil lagi pasti Kuro akan mendengar dan memberi tahu keberadaannya. Setelah keliling kompleks, saya masuk ke kos, entah kenapa feeling saya kuat kalau saya harus memanggilnya sekali lagi. Saya panggil lagi namanya dan benar! Kuro menyahut dan mengeong menunjukkan keberadaannya. Dia ada di sela-sela tembok tetangga, tidak bisa turun. Lantas, saya berusaha mengambilnya, tapi tembok terlalu tinggi. Saya tunggu dia sampai jam 2 pagi, tapi akhirnya saya memintanya untuk menunggu pagi hari. Setelah pagi, saya minta bantuan ke tetangga untuk mengambilkan Kuro dengan tangga. Alhamdulillah, bapak tukangnya mau bantu. Saya pun bertemu Kuro kembali. Kakinya bengkak karena luka, badannya demam sehingga dia tidak mau makan dan hanya tidur sepanjang hari. Saya membawanya ke Rumah Sakit Hewan UGM dan segera ditangani dokter. Pulang-pulang dikasih antibiotik dan obat agar segera sehat. Beberapa hari kemudian Kuro kembali sehat! Alhamdulillah....

Ini ketiga kali Kuro tidak pulang. Saya sudah berusaha cari keliling kampung dan tanya ke tetangga. Setiap ada kucing tetangga, saya juga tanyakan dan titip pesan kalau mereka bertemu Kuro, si hitam dengan ekor panjang, suruh pulang karena dicari ibuk. Saya masih menunggunya pulang.... Anak ibuk! Dan kali ini saya tidak punya feeling apa-apa.... Saya masih berharap Kuro kembali dengan sehat.... Aamiin....

Pagi tadi setelah cardio, saya meditasi untuk mengurangi overthinking karena semalam saya tidur dengan tidak nyaman dan sangat mengharapkan Kuro pulang. Setelah meditasi, saya lebih tenang. Dan saya mengurangi ekspektasi saya terhadap apa yang terjadi. Saya ingat, dulu saya pernah bilang ke Kuro, kalau suatu hari nanti Kuro ingin pergi duluan, nggak papa, ibu ikhlas, ibuk bahagia karena Kuro sudah menemani ibuk dan sayang sama ibuk selama ini. Jangan terbebani ya Kuro, sayangnya ibuk! Kalau suatu saat ibuk duluan yang pergi, Kuro juga nggak boleh nungguin Ibuk terus ya.... Ibuk sayang sama Kuro! Terima kasih ya sudah sayang sama ibuk dan selalu menemani ibuk! Sayang sama mamas Kuro.... Itulah, sesungguhnya hidup ini memang perlu merelakan dan menerima. Semeleh dengan apa yang terjadi. Tidak perlu memberontak atau berekspektasi. Semua akan indah tepat pada waktunya. Jika pun berpisah, itu artinya memang sudah selesai sampai di sini, sesuatu itu datang di hidup kita dan kita pun memang harus mengikhlaskan.

Kuro, anak baik! Love you! Terima kasih ya sudah sayang dan menemani Ibuk selama ini.... Di mana pun kamu berada, ibuk sayang sama mamas Kuro. Love you! Alhamdulillah, ibu bersyukur karena sudah dipertemukan dengan mamas Kuro.... Ibu bahagia selama ini hidup bersama sama Mamas Kuro! Baik-baik ya Nak! Love you! 

Untukmu yang terbaik, Mamas Kuro, kucing hitam berekor panjang dengan warna putih di dada. Love you!

Kamis, 09 Mei 2024

#41 Happy Birthday!

Happy birthday to you! 9 Mei!

Apa kabar kamu? Sehat selalu ya.... Dua hari yang lalu, tak sengaja aku melihat postinganmu di salah satu grup facebook. Ternyata kita beririsan di grup itu. Kamu berbagi cerita tentang perjalananmu ke Jepang. Nice! Setelah lebih dari 3 minggu ini saya berusaha untuk tidak kepoin kamu, aku senang mendapat kabarmu lagi walau hanya lewat social media. Aku tak perlu tanya kabar kamu lagi kan? Dan aku tidak perlu khawatir lagi karena kamu masih sehat dan bahagia....

Lalu, hari ini kamu ulang tahun ya.... Aku sengaja tak mengucapkan langsung ke kamu. Cukuplah di tulisan sini saja dan dalam doa baik. Aku tak mau mengganggu hidupmu lagi. Biar kamu bahagia dengan caramu sendiri. Dan aku juga bahagia dengan caraku sendiri. Terima kasih ya, sudah mengajarkan bagaimana cara membahagiakan diri sendiri. Terima kasih sudah mengajarkan apa itu kasih sayang dan cinta. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana cara mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Terima kasih ya sudah pernah datang di dalam cerita hidupku sejauh ini. Aku belajar untuk merelakan dan menerima. Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana bersikap dewasa dan menjadi teman yang baik.

Di tahun ini, aku belajar memperbaiki diri dan belajar mengenali diri sendiri. Aku belajar untuk mengambil sikap. Aku memilah hal mana saja yang perlu aku pertahankan dan mana yang perlu aku tinggalkan. Aku belajar untuk merelakan dan melepas segala sesuatu yang memang ingin pergi. Terima kasih ya sudah menyadarkan aku tentang arti hidup menerima dan memberi.

Teruntuk kamu, sehat-sehat ya.... Bahagia selalu.... Aku berhenti untuk tanya kabarmu.... Aku berhenti untuk mau tahu urusanmu.... Aku berhenti untuk menghubungimu.... Aku berhenti untuk meresponmu.... Aku berhenti untuk memikirkanmu.... Bukan berarti aku benci, bukan.... Aku hanya memberi waktu untuk diriku sendiri. Fokus pada diriku yang selama ini aku fokus pada orang lain. Aku kembali fokus pada goals dan hidupku.... Pergilah dengan bahagia!

Suatu hari nanti ketika kita bertemu kembali, mari bercerita banyak hal.... Suatu hari nanti ya! Bahagia dan damai selalu.... Selamat ulang tahun ya.... Doa-doa baik untukmu.... Thank you!

Sabtu, 04 Mei 2024

#36 Netralkan Energi Tubuh

Pagi ini saya petik daun ginseng dari teras kos. Hari kemarin saya petik daun kelor dari sekolah. Kok enak ya tinggal di Indonesia! Apa-apa tinggal petik.

Itulah pesan pagi yang saya sampaikan ke Mbak Raras. Lalu Mbak Raras bilang, "Senetral itu energimu sekarang. Pelan maknai pahami ilmu diri. Lepas semua kemelekatan. Kita itu diberi terus oleh Tuhan."

Alhamdulillah. saya pun menyadari saat ini saya lebih sering merasa nyaman dengan diri sendiri. Misalnya saja saat saya ngaca, saya senang melihat diri saya, cantik! Senyumannya saya sukai. Rambut, saya sukai. Semua saya sukai. Kalau dulu saat saya bercermin, biasanya saya tidak suka berlama-lama.... Tapi sekarang, tiap pagi saya ngaca dan saya merasa sennag. :D

Lalu, satu hal lagi yang saya sadari tentang menghadapi energi negatif dari orang lain. Sekarang saya sudah bisa kontrol diri untuk tidak terkontaminasi energi buruk. Saya sudah bisa memilah mana yang perlu saya keep dan mana yang perlu saya abaikan. Ya, masih tahap belajar ya... hehhehe. Kadang masih terbawa situasi sih tapi tidak separah dulu. Kalau dulu diceritain hal-hal negatif tentang orang lain, alam bawah sadar saya merespon ikut membenci hal-hal tersebut. Tapi sekarang, ya biasa saja. Netral. Ikuti alam semesta bertindak saja. Kalau sudah tidak perlu membicarakan sesuatu lagi, ya sudah diam. Tetap tenang dan seimbang. :)

Kayaknya sekarang saya jarang deh curhat ke Fitri tentang hal-hal buruk. Sekarang kebanyakan hal-hal bahagia dan yang baik-baik saja. Hahaha.... Mari berbahagia!

Jumat, 03 Mei 2024

#35 Jalan Semesta

Hari ini ada silat di sekolah. Seperti biasa saya ikut jalan puter kampung sama anak-anak. Biasanya saya selalu di deretan paling terakhir karena nggak kuat lari, jadi tertinggal di belakang. Nah, hari ini entah gimana ceritanya, saya pun semangat untuk silat. Saya ikut lari kecil bersama anak-anak cewek, tapi lama-lama mereka maunya jalan saja, ya sudah saya ikut jalan di paling belakang. Biasanya kan saya di urutan belakang karena saya nggak kuat ya, tapi hari ini saya di urutan belakang bukan kareana saya tidak kuat, tetapi saya sengaja di deretan belakang untuk memantau anak-anak selamat sampai sekolah lagi. Gerakan saya juga lebih ringan, kaki-kaki saya juga semakin kuat. Alhamdulillah....

Energi saya benar-benar berbeda setelah saya rutin cardio tiap pagi. Saya cerita ke Mbak Raras, selaku mentor dan guruku. Lalu, mbak Raras bilang kalau semesta memberi cara untukku menjadi lebih baik dan mengenal diri sendiri lagi. Melalui Vipassana, lalu bertemu Mbak Raras. Sebenarnya, sudah lama saya tahu Vipassana tapi saya selalu tidak jadi ikut karena jadwal yang bentrok. Nah, mungkin memang jalannya ya.... Vipassana Desember lalu saya bisa ikut. Memang sudah berjodoh dan ada jalan dari Tuhan. Kebetulan, Mbak Raras ini samping kamar saya waktu vipassana. Orangnya rajin dan saya sempat kesal karena ditegur rambut rontok yang tidak tahu itu rambut siapa. Wkwkwkwk.... Terus, awalnya sih saya tidak terlalu banyak bicara sama Mbak Raras, ya karena memang tidak boleh berbicara dengan sesama siswa. Terus pas hari terakhir, kami boleh berbicara dengan teman, akhirnya saya ikut gabung dengan siswa-siswa baru yang sedang ngobrol di kamar. Berujung pada dipijit sama Mbak Raras.

Awalnya, saya menginfokan kalau saya sempat kolesterol, lalu Mbak Raras ngecek telapak tangan saya, dikasih tahu beberapa gejala penyakit yang ada potensi saya derita kalau pola makan dan hidup tidak benar. Dari rambut rontok sampai darah tinggi dan lain-lain. Lalu cerita banyak hal dan setelah sehari pulang dari Vipassana, mbak Raras tiba-tiba WA, ngajakin olahraga. Aku terharu.... :')

Lalu, saya bergabung di grup LOA Mbak Raras, isinya sangat positif, banyak ilmu yang saya dapatkan dan bagaimana bisa mencintai diri sendiri. Mbak Raras kalau punya ilmu nggak pelit, diajarin, dibimbing. Lalu beberapa kali saya bertemu lagi ikut meditasi tiap hari Jumat. Selesai meditasi, kami ngobrol tentang hidup. Mbak Raras, pernah bilang, kalau beliau sudah bertemu orang dan berinteraksi sama orang itu pasti ada tujuan semesta yang ingin disampaikan lewat Mbak Raras. Dan salah satunya pesan semesta untuk saya.

Saya bersyukur.... Saya rajin cardio tiap pagi sekarang. Bahkan saat energi saya kecewa dan saya cerita ke Mbak Raras, energi saya seperti kembali netral. Saya juga sedang menjalani pola makan tanpa produk hewani. Dan saya merasa lebih baik. Kata Mbak Raras, programnya minimal 3 bulan yang harus saya selesaikan. Baiklah.... Saya senang menjalaninya.... Hal baik yang saya rasakan adalah saya menjadi lebih baik dari segi perasaan, emosi, dan juga kondisi fisik. Alhamdulillah ya.... Semoga semua makhluk berbahagia, damai dan harmonis.... :)

Kamis, 02 Mei 2024

#34 Sesuatu Pasti Ada Tujuannya

Hari ini saya coba apply salah satu company di US. Salah satu aplikasi yang sering saya gunakan untuk belajar tetapi ini yang produk baru berkaitan dengan math. Setelah sekian lama, saya pun memperbaharui CV dan Application letter dengan data terbaru. Saya bilang ke Fitri, saya mau coba hal baru. Hahaha, saya coba saja dulu, toh apa pun hasilnya yang penting sudah saya coba. Biar saja semesta yang menghendaki, mari tetap berenergi positif ke semesta. :D

Ini kali pertama di tahun ini, saya mencoba lagi apply beberapa kesempatan. Lalu teringat salah satu teman yang bekerja dan study di US. Kadang dia chat menceritakan tentang aktivitasnya di US, bekerja dan belajar. Saya senang ketika mendapat kabar baik itu. Kadang saya share agenda masak-masak saya ke dia. Saya bilang hari ini saya masak ini lho.... Sampai-sampai dia bilang kalau saya chef. :D Padahal mah yang saya masak hanya masakan rumahan dan sayur serta lauk nabati saja kalau nggak tahu ya tempe ya jamur. >.< Wkwkwk.... Tapi saya juga bangga sih sama diri sendiri atas salah satu kemampuan yang diturunkan oleh ibu yaitu bisa masak. Walaupun rasanya tergantung mood harian. Hahaha.

Jadi inget sih, dulu waktu SMP sampai SMA, tiap hari Minggu atau liburan sekolah agenda utama saya adalah cuci baju seluruh keluarga yang terdiri dari 5 orang dan masak. Hanya saja beberapa resep ibu, saya lupa karena bertahun-tahun hidup di Jakarta dan jarang masak makanan seperti di rumah. Kadang kalau saya pulang ke rumah dan masak, adek-adekku akan bilang kalau masakan saya sama persis seperti masakan ibuk. Pernah masak nasi goreng kampung, adek langsung komen, kok masakmu kayak masakan ibuk, langsung dia nambah banyak. Itulah kenapa saya bersyukur. Ya, dulu sih saya sering mengeluh karena kenapa selalu saya yang diminta bantu-bantu ibuk, kenapa nggak adek-adek. Tapi setelah kedua orang tua telah tiada, saya sadar betul bahwa orang tua saya telah melakukan yang terbaik untuk saya. Mereka mendidik saya untuk tetap menjadi perempuan mandiri dan tahan banting terhadap segala situasi.

Gak salah, bapak dulu selalu meminta saya menjadi contoh adik-adik untuk berprestasi di sekolah. Dan itu benar-benar membantu saya saat ini untuk melanjutkan hidup. Terima kasih ya Bapak & Ibu, saya bangga menjadi bagian dari hidup Bapak dan Ibu! Bahagia selalu di surga....

Oh iya, hari ini adalah ulang tahun adikku yang pertama. Happy birthday ya Adik! Sukses dan bahagia selalu ya! :D

Rabu, 01 Mei 2024

#33 Berbagi Makanan

Hari ini saya masak-masak untuk mengisi hari libur. Saya masak kering tempe, tumis pokcoy, beli semangka. Lalu, saya cerita ke Mbak Raras tentang efek dari skip cardio kemarin. Dan memang ya sengaruh itu, tapi ya kudu bisa tetap tenang. Lalu, Mbak Raras bilang, masak bagi ke Anees biar dia nyobain masakan Indonesia. Tapi sebenarnya awalnya saya tidak yakin sama masakan sendiri. Alhasil, saya bilang ke Mbak Raras, nanti kalau jadi kukabari.

Terus, lanjut masak-masak. Setelah selesai lha kok makanannya kayaknya enak. Hahhaa. Emang enak sih. Saya saja seneng makannya. Lalu, saya bilang lagi ke Mbak Raras, Anees di kos nggak, terus tiba-tiba Anees WA. :D Sekocak itu pertemanan kami. Hahaha... Saya pun janjian ke Anees, mau bagi makan siang. Siap-siap dan kos dia hanya sekitar 5 menit naik motor dari kos saya. Semoga nggak kepedesan ya, sengaja kering tempenya kubuat manis. Hahaha.... Anees kan nggak suka pedas. >.<

Kami bertemu setelah pertemuan makan pizza malam itu. Kali ini saya bagi makanan hasil masak-masak hari ini. :D Terus, saya balik ke kosan. Lanjut makan siang. Sekocak itu ya, saya bersyukur punya support system seperti Mbak Raras yang membimbing saya untuk kembali ke diri sendiri. Cara ngajarinnya juga kalau iya iya kalau enggak ya enggak.... Begitulah.... Kadang membuat saya berpikir dan belajar bagaimana mencintai diri sendiri. Saya bersyukur.... Tetap tenang dan bahagia dalam menghadapi hidup. Terutama untuk hal-hal yang di luar kontrol kita. Saya bersyukur menjadi diri saya saat ini. :D Bahagia selalu diriku!

Selasa, 30 April 2024

#32 Overthinking Kambuh

Hari ini saya ke sekolah seperti biasa. Sebelum ke sekolah saya selesaikan edit cerpen Jalu terlebih dahulu sampai lupa waktu dan skip cardio pagi. Ya, saya menjalani rutinitas seperti biasa, ke sekolah, lalu pulang. Sampai di kos, entah kenapa saya merasa lelah sekali dan ingin tidur tapi tidak bisa. Mood saya berubah dengan cepat dan benar-benar pikiran kemana-mana. Sepertinya overthinking kambuh!

Saya mencoba untuk tidur, tetap saja tidak bisa. Saya pun seharian tutup pintu kamar karena tidak ingin diganggu siapa pun. Lalu malamnya saya ngajar, lanjut tidur lagi dengan pikiran tidak tenang. Sampai tengah malam pun belum juga sembuh. Waduh! Bahaya!

Sekarang saya lebih menyadari emosi yang muncul seperti apa dan trigger-nya apa. Biasanya kalau sudah seperti itu, saya akan mencoba menemukan apa yang membuat emosi lalu menyadari perasaan dan emosi yang muncul. Kemudian, mengatur napas dan mengatur pikiran. 

Bener-bener, proses ini kadang membuat saya geleng-geleng karena berefek sekali ke pikiran. Biasanya pagi saya cardio, lalu kalau skip cardio, ternyata efeknya ke overthinking yang kumat. Bisa begitu ya? Efeknya sungguh nyata lho! Harus rajin dan konsisten memang.... Semangattt untuk diri sendiri!

Senin, 29 April 2024

#31 Selaraskan Diri

Sepulang dari sekolah hari ini saya lanjut ke cafe Mas Danang, sudah ditunggu Mbak Raras. Ya, Mbak Raras adalah salah satu support system sekaligus guru saya. Saya belajar banyak tentang hidup dan bagaimana untuk kembali ke diri sendiri. Seperti hal-hal kecil misalnya, cara Mbak Raras mendengarkan cerita saat saya curhat, lalu cara Mbak Raras mengakhiri pembicaraan. Semua itu saya pelajari dari mengamati. Sekarang, saya lebih bisa menerima respon orang lain dan bagaimana cara orang lain bersikap. Ya, semua hal itu tidak bisa saya kontrol. 

Saya jadi belajar kalau misal mau curhat ke teman, tak apa kok kalau teman itu sambil main HP, bukan karena dia tak peduli dengan cerita kita, tetapi itu salah satu bentuk dia tidak terpapar energi negatif dari cerita-cerita kita. Ya, dengan kita menceritakan kesedihan misalnya atau kekesalan misalnya, itu artinya kita memberi energi negatif ke orang lain. Terlebih kalau sedang curhat. Mbak Raras bilang, kalau saya mau curhat tentang hal-hal sedih, biarkan teman yang mendengarkan itu main HP atau tidak terlalu fokus pada cerita kita. Karena kalau dia bisa release energi negatif ya bagus, tapi kalau tidak bisa release ya kasihan. Jadi biarkan dia nggak terlalu fokus sama cerita kita. Toh, pada dasarnya kita hanya ingin didengar, kita curhat ngoceh banyak hal hanya ingin ditungguin saja, kalau sudah plong ya sudah.

Tapi memang benar sih, energi semesta itu sungguhlah besar. Dan saya sedang belajar menyelaraskan diri dengan alam semesta. Salah satunya kembali mencintai diri sendiri.

Pulang dari cafe, saya mengantar Mbak Raras pulang, lalu lanjut pulang ke kos. Sampai di kos, mampir belanja di ibu sayur, lalu masak untuk makan malam. Menu hari ini tumis jamur dan tumis toge. Memasak adalah salah satu healing saya. Masak lalu makan hasil masakan sendiri. :) Sungguh menyenangkan.... Mari selalu memperbaiki diri....

Sabtu, 27 April 2024

#29 Jaga Menu Makan

Saya bermimpi bertemu seseorang di masa lalu yang belum sempat bertegur sapa lagi setelah sekiat tahun. Padahal dulu saya sempat dekat dan dia salah satu inspirasi saya untuk tetap melanjutkan kuliah. Namun, tugas dia telah selesai dalam hidup saya sepertinya. Dia telah mengantarkan saya untuk berpendidikan tinggi dan belajar untuk tidak menyerah. Saya pernah di fase sebahagia itu ketika bertemu dengannya, bahkan saat saya masih SMA. Kuliah pun, saya mengikuti jejaknya. Awalnya sih memang berjalan baik-baik saja, tapi ternyata memang ada ketidakcocokan di antara kami, itu yang kurasakan. Alhasil, ya sudah let it go! Dan di mimpi itu, sepertinya emosi yang saya pendam selama ini muncul dari alam bawah sadar. Saya ingat kalau saya meminta maaf ke dia karena saya cut off dia tanpa ada penjelasan. Ya, nggak papa sebenarnya. Tapi saya bersyukur, di mimpi itu mungkin bisa dikatakan saya release emosi yang telah lama saya pendam.

Saya cerita ke Mbak Raras. Efek mozzarella katanya. >.< Ya memang waktu kemarin ketemuan itu, saya pesan pizza vegetarian tapi kan tetap ada mozzarella. Hahaha. Sekuat itu kah efeknya? Haha. Memah harus seketat itu untuk sementara waktu demi masa depan cerah. Aamiin.

Lalu, hari ini saya kembali ke jalan yang benar. Saya masak tempe goreng, tumis pokcoy tahu, lalu makan pepaya lagi. Haha. Daun bawang mentah tidak lupa juga. Ternyata enak lho daun bawang mentah itu. Ketagihan kan.... 

Mari kembali ke jalan yang benar. Fokus kembali atur pola dan menu makan. Olahraga tiap pagi, belajar bahasa lagi. Fokus perbaiki diri dan tingkatkan kapasitas diri. belajar hal-hal baru dan bahagia selalu.

Saya bilang ke Fitri kalau sudah hampir 5 tahun saya tidak pakai bedak. Saya pun tanya foundation yang bagus apa yang gabung sama bedak gitu. Karena dulu dia pernah liatin bedak yang ada foundationnya, tapi saya lupa merk-nya. Tiba-tiba saja pengen beli. Mau mempercantik diri sendiri, bukan buat orang lain, tapi buat diri sendiri. Biar kalau lagi ngaca bisa se-happy itu lihat wajah sendiri dan semangat meniti hari.

Next mission adalah beli kebaya. Entah kenapa jadi seneng liat-liat kebaya lucu-lucu, motif cantik-cantik gitu. Yuk bisa yuk, bahagiain diri sendiri! You don't love me, its okay. I love me! Terus keinget Reels lewat tempo hari kalau orang lain tidak menyukaimu, tidak apa-apa, karena kamu mencintai dirimu sendiri dan itu sudah cukup! Mari berbahagia.... :D

Jumat, 26 April 2024

#28 Jalan Semesta

Hari ini ada acara Syawalan di sekolah. Saya berangkat jam sembilan pagi kurang. Hari ini keluarga besar Salam berkumpul di halaman sekolah. Saya membawa snack batagor yang beli di abang-abang gerobak di jalan menuju sekolah. Awalnya, saya kira itu adalah penjual gorengan, ternyata siomay dan batagor. :D Karena sudah terlanjur berhenti, saya belilah batagor. Saya bawa wadah sendiri, sambal dipisah, mas-mas yang jual juga ramah. Awalnya mau beli 10ribu, tapi kutambah lagi 5rb, jadi 15rb. Lalu, setelah selesai dibungkusin batagor, saya melanjutkan perjalanan. 

Sampai di sekolah, halaman sudah banyak orang. Jiwa introvert saya memilih untuk masuk ke kelas, nyari yang sepi. Lalu diikuti teman-teman kelas 5, saya pun bertanya apakah kotak makan teman-teman sudah ditaruh di meja SD besar atau belum. Beberapa ada yang sudah, tapi sebagian besar belum. Saya pun mengajak mereka untuk memberi nama di kotak makan masing-masing. Saya potong kertas dan ambil lakban bening. Anak-anak menulis nama dan kelas masing-masing. Lalu, saya tanya lagi, "Apakah pada bawa snack?" Beberapa menjawab kalau snack dibawa ortu. Kemudian saya mengeluarkan batagor dari tas. Beberapa dari mereka pengen nyoba. Alhasil, batagornya kami makan bersama di kelas. :D Sampai habis. :D Alhamdulillah.

Setelah makan batagor, kami turun ke halaman dan nyari tempat duduk di halaman. Acara pun dimulai, Bu Er pun maju jadi MC dadakan karena gemes teman-teman yang lain tidak segera menempati tempat yang sudah disediakan. Hahaha. Saya mengkoordinir teman-teman kelas 5, alhamdulillah mereka masih aman untuk diajak kerja sama. :D

Tapi memang sih, karakter anak-anak kelas 5 ini rajin, ontime, teratur, dan saling mengingatkan kalau ada peristiwa. Jadi sebenarnya, saya yang belajar dari mereka. 

Menu makan siangnya ada lontong, opor ayam dan telur, sayur krecek dan sayuran sama kerupuk. Saya berusaha komitmen tentang makanan yang saya konsumsi. Telur dan ayamnya saya kasihkan ke Sandhi, kreceknya pedes, jadi saya kasih ke Bu Er. Sampai Sandhi kenyang banget karena dapet tambahan lauk dari saya. Hahaha. Terima kasih ya Sandhi sudah mau bantu saya. Terus saya makan apa? Saya makan lontong, kuah sayur, sama kerupuk. :D

Ya awalnya sih mereka bertanya-tanya kenapa saya tidak makan daging dan protein hewani. Saya bilang, sedang diet protein hewani. Hahaha. Ya memang bener. Hahaha. Saya sedang mencoba makan non hewani dan turunannya untuk mengontrol emosi, pikiran dan energi tubuh. Ya, semoga konsisten ini membuahkan hasil lebih baik ya. Aamiin.

Pulang dari Salam, saya janjian sama Mbak Raras, mau nemenin Mbak Raras ketemu sama salah satu temennya. Saya ke rumah Mbak Raras jam 5 sore. Tetep ya, saya nyasar pas sudah sampai lokasi. Haha. Hanya beda gang sih tapi ya begitu, daya ingat saya lumayan buruk untuk mengingat lokasi atau maps. Ya, ngobrol-ngobrol bentar sama Mbak Raras, terus kami berangkat. Kami menuju Pizza Nanami yang ada di daerah Ngadipuran kalau nggak salah. Kami datang lebih awal dan memesan minuman terlebih dahulu. Masih nunggu Pungki dan Anees. Keduanya belum saya kenal sebelumnya.

Lalu, ada kejadian kocak. Ternyata Anees kuliah di kampus yang sama dengan saya. Hahaha hanya saja beda jurusan. :D Lalu, ternyata dia sedang main sama temennya di deket kos saya. :D Lha, kok kocak! Ternyata eh ternyata, beneran itu alamat kos temennya itu deket banget dengan kosan saya dan sering saya lewati. Ampun deh... Hahaha.... Jauh-jauh ke Ngadipuran ternyata ketemunya sama tetangga kosan. Hahaha. Sekocak itu hidup.

Setelah datang semua, kami kenalan. Ternyata itu juga hari pertama Mbak Raras ketemu sama Anees, tapi mereka sudah sering ngobrol lewat telpon. Dan ada hal yang menarik lagi yang menurut saya ternyata bener-bener ya kalau kita sinkronisasi energi dengan semesta, semesta itu akan menjawab apa yang kita inginkan. Beberapa hari yang lalu, saya berpikir dan ngebatin, ngelist teman-teman saya yang jurusan sains, tapi nggak inget. Rencana mau kuajak ke sekolah dan biar murid-muridku bisa belajar dari mereka. Kucari-cari kok gak nemu, nggak inget kalau ada Galih dan Vincent tapi kayaknya mereka sibuk. Hahaha. Terus, tahu apa yang terjadi di pertemuan itu? Anees ternyata jurusan biologi dan dia punya teman jurusan kimia juga. Dia menawarkan kalau saya perlu dikenalkan sama anak kimia, dia bisa bantu. Ahhh, alhamdulillah, masyaAllah ya....

Sekeren itu alam semesta ini membuat skenario baiknya. Dan pertemuan saya dengan Mbak Raras juga pasti ada alasannya. Semua yang datang ke hidup ini pasti punya alasan. Entah hanya sekadar kenal atau yang kenal dekat. Pasti ada rencana semesta yang sedang berjalan dan menjalankan misinya. Terima kasih Tuhan atas kasih dan sayang-Mu. Semoga semua makhluk berbahagia dan damai harmonis.... Aamiin. Salam kenal ya Pungki dan Anees! Thank you Mbak Raras!

Kamis, 25 April 2024

#27 Coba Menu Baru

Hari ini hari kedua saya makan sayur dan protein nabati tanpa protein hewani. Tahu apa yang kumasak hari ini? Yups, sate jamur tanpa tusuk. Kemarin sengaja beli jamur, tapi bingung mau dimasak apa. Teringat waktu vipassana ada salah satu menu sate jamur yang menurutku enak. Lalulah saya cari resepnya di cookpad. Sampai saat ini, cookpad masih menjadi website masak-masak andalan saya. Hahaha. Semua resep ada dan banyak pilihan. :)

Menu makan kali ini adalah nasi, sate jamur tanpa tusuk, selada, sama pepaya potong. Oh iya, saya biasanya itu tidak suka makan pepaya karena harus kupas dan menurut saya ribet. Kalau di rumah biasanya ibu saya selalu sedia pepaya di kulkas, tapi tak pernah saya sentuh karena kudu ngupas dulu sebelum makannya. Biasanya ibu yang akan mengupasnya lalu makan di depan saya dan membuat saya kepengen. Lalulah saya yang akan minta pepaya yang dimakan ibu itu. Dengan senangnya, ibu akan mengupas dan memotongkannya lagi. Ahh, kangen ibu! Al Fatehah. :D Love you ibu!

Nah, siang kemarin saya beli pepaya di ibu sayur. Pepayanya ditimbang dulu, nggak tah berapa kilo, tapi harganya Rp10.000. Pulang dari warung, saya biarkan tergeletak di meja belum saya sentuh. Hahaha. Masih mager kupas. Lalu keesokannya, hari ini saya baru kupas dan potong. Pas saya coba rasanya lha kok manis. Alhamdulillah. Enak banget. Lalu, saya makan beberapa potong, sisanya saya potong dan masukkan ke wadah dan taruh kulkas. :D

Terus, saya makan, tapi sebelum makan, biasa pamerin dulu menu kali ini ke Fitri. Hahaha. Nasi, selada, daun bawang mentah, sate jamur tanpa tusuk, lalu pepaya. So nyummy! Walaupun sate jamurnya kebanyakan ketumbar, jadi rasanya lumayan strong dan sebenarnya ganggu banget rasa ketumbarnya. Hahaha. Efek saya tak kira-kira masukin ketumbarnya dan ngulegnya kurang lembut. Nah, ginilah kalau masak, kadang butuh kira-kira dalam membuat bumbu. Memang keterampilan yang perlu diasah. Dan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya kenapa kalau kita masak dengan hati gembira itu pasti makanannya enak. :))) Tapi kalau kita masak pakai hati yang nggak senang, pasti makanannya rasanya juga nggak jelas. :D Begitulah kira-kira edisi masak kali ini. Besok masak apa lagi ya? Hahaha....

Rabu, 24 April 2024

#26 Pergi Bukan Berarti Membenci

Jika kemarin-kemarin aku block kamu lalu beberapa saat kemudian aku unblock lagi. Begitu berulang-ulang, sampai aku berada di titik ini. Kali ini aku benar-benar block kamu for good. Aku belajar untuk mengikhlaskan. Aku belajar untuk tidak penasaran. Aku belajar untuk menyembuhkan luka masa lalu. Kau tahu?  Cut off kamu bukan karena aku benci, tapi karena demi kebaikan bersama. Aku juga perlu menyayangi diri sendiri. Dan cut off adalah salah satu cara yang aku pilih untuk belajar memikirkan diri sendiri dan memberi kebebasan untukmu melanjutkan hidupmu. Kadang kita terlalu fokus untuk membahagiakan orang lain, sedangkan kita lupa membahagiakan diri sendiri. Kadang kita melukai diri sendiri hanya untuk membuat orang lain tidak terluka.

Kadang kita benar-benar butuh waktu untuk sendiri, fokus pada diri sendiri. Dan kalau boleh jujur, melupakan kamu adalah hal sulit untukku. Tapi lagi-lagi, logikaku harus bertabrakan dengan yang namanya perasaan. Aku harus menerima bahwa dalam kamus hidupmu tidak pernah ada aku. Di tiap harimu tidak pernah teringat diriku. Dalam perjalanan hidupmu, aku hanya pernah singgah dan tak boleh menetap. Pada akhirnya, aku memilih untuk menyudahi segala pikiran tentangmu. Kamu bilang, aku tak perlu khawatir, aku akan ikuti. Tak perlu kukhawatirkan hidupmu. Apa lagi melakukan hal-hal seperti kemarin-kemarin. Aku akan belajar untuk tidak merasa bersalah mengenai perasaan. Aku akan menggunakan logika untuk berpikir.

Jika kamu tidak mau lagi membalas pesanku, tidak apa-apa. Jika kamu tak lagi mau berteman denganku, tak apa-apa, jangan dipaksakan. Jika kamu ingin pergi, silakan pergi. Jika kamu tidak pernah memprioritaskan aku, tak apa-apa, aku juga akan melakukan hal yang sama. Berjuang sendirian, effort lebih sendirian, telah membuat aku sadar, aku bukan siapa-siapa. Semua biar aku permudah, biar aku perjelas, bahwa kita bukan siapa-siapa. Dan aku layak mendapatkan yang lebih baik seperti katamu tempo hari. Semua akan kupermudah jalannya. Kamu tak enak pergi, biar aku yang pergi. Cukup olehku menyakiti diriku sendiri. Terlebih saat aku terlalu berharap semua akan berjalan mulus, padahal tebing sangat tinggi untuk didaki.

Biar aku selesaikan semuanya. Semua kulakukan bukan karena aku benci ya! Aku sadar perasaanku masih ada rasa sayang. Aku sadari itu. Tapi saat ini aku perlu membahagiakan diri sendiri. Aku perlu memikirkan diri sendiri. Aku perlu menyayangi diri sendiri. Biar aku fokus pada diri sendiri dulu.

Dan aku senang dengan rutinitasku saat ini. Aku nulis blog secara konsisten untuk mengungkapkan segala hal yang ada di pikiran maupun perasaan. Aku olahraga setiap hari. Aku makan sayur, protein nabati, dan buah setiap hari. Say no untuk segala daging dan turunannya untuk sementara waktu. Belajar bahasa Spanyol setiap hari. Membangun banyak relasi pertemanan lagi. Merawat anabul-anabulku dan tanaman-tanamanku. Dan aku menikmati prosesnya.

Mari bahagia di jalan masing-masing ya.... Jika nanti kita bertemu lagi, mari bertegur sapa.... Mari kita bercerita banyak hal setelah urusan hati sudah tak saling membebani.... Atau kita pikirkan nanti saja.... Biar Tuhan yang berkehendak. Saat ini mari fokus di hidup masing-masing ya! Semoga kau bahagia selalu, aku pun begitu, aku akan bahagia dengan caraku sendiri. 

Senin, 22 April 2024

#24 Hari Pertama Sekolah

Hari pertama masuk sekolah! Agenda hari ini adalah menyiapkan kelas. Ada alat-alat baru dari Ozan, ada peta dunia dan peta Indonesia, lalu ada mini lab dan mikroskop baru. Anak-anak sangat senang mendapatkan hal-hal baru itu. Terima kasih ya Ozan!

Kami makan bersama snack lebaran yang telah kami bawa, kalau Bu Er bilang, itu adalah THR (Turahan Hari Raya). Kami duduk melingkar sambil menikmati jajanan lebaran, Ada dodol, selondok, sale pisang, biskuit, puding, dan beberapa makanan lainnya. Saya membawa permen warna-warni dan permen jelly, anak-anak suka dan alhamdulillah habis juga akhirnya setelah beberapa hari nganggur di kosan. Semua senang, semua punya cerita, dan bahagia selalu.

Lalu, ada hal yang membuat saya kagum. Salah satu anak di kelas kami, sangat penasaran dengan mikroskop yang saya bawa itu. Dia mengutak-atik mikroskop yang dari kemarin-kemarin gagal saya operasikan. Saya kasih satu sampel lapisan bawang merah di kaca objeknya. Entah, detik ke berapa dia sangat excited menunjukkan ke saya kalau setting objeknya sudah benar. Saya langsung menghampirinya dan benar saja, untuk pertama kalinya objeknya terlihat. Ahhh, saya bangga sama ini anak. Dia berhasil! Lalu saya mengajak anak-anak yang lain untuk mengamati objek tadi bergantian. Mikroskop diputar ke seluruh anak di kelas. Lalu kami menyebutnya sebagai Professor Earth. :D Panggilan yang sangat cocok untuk anak ini. Saya pun tambah kagum dengan cara kerja dia. Anak yang istimewa. Dia sangat suka hal-hal yang detail seperti bongkar pasang dan hal-hal teknis. Saya salut dengannya!

Memang ya, di kelas ini saya bertemu dengan anak-anak yang sangat unik dan istimewa. Dan memang pada kenyataannya setiap anak adalah istimewa. Saya belajar banyak hal di sini. Ternyata sudah hampir satu tahun saya menjadi volunteer di tempat ajaib ini. Saya belum memutuskan apakah semester depan masih lanjut ataukah tidak. Saya belum menentukan pilihan dan belum ada rencana ke depan seperti apa. Satu hal yang saya harus selesaikan adalah thesis saya. Ayolah semangat untuk diriku! Kita bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu! Ayo, bisa!

Saya bersyukur untuk diri saya saat ini. Saya bersyukur berada di lingkungan yang mendukung. Saya bersyukur dipertemukan orang-orang baik. Saya bersyukur untuk hidup saya saat ini. Terima kasih Tuhan atas kemudahan dan keberuntungan yang telah saya dapatkan saat ini. Mari bahagia!

Senin, 24 Mei 2021

Pemakluman Agar Tetap Waras!

Dunia kadang tidak sesuai rencana kita. Keinginan hati A, tapi jalan Tuhan ternyata Z. Sebagai manusia kadang kita mengeluh, kesal, marah sama keadaan yang tidak sama dengan rencana kita. Lalu, kita mulai tak bersyukur dan menganggap Tuhan jahat dengan kita. Padahal semesta sebenarnya telah berjalan dan merencanakan hal baik dari Tuhan untuk kita sebaik-baiknya.

Saya jadi teringat apa kata Fitri tempo hari, sebenarnya semesta ini semuanya saling terhubung. Kita melakukan A, ternyata A itu adalah jalan yang ditakdirkan Tuhan untuk orang lain yang kita temui. Pernah gak sih berpikir kalau pertemuan kita dengan orang lain itu sebenarnya masing-masing kita membawa misi Tuhan. Rencana Tuhan memutuskan perjalanan hidup kita. Dan satu lagi, orang-orang yang satu frekuensi dengan jalan hidup kita itu saling terhubung dan memiliki intersection di sebuah pertemuan dengan kita. Dan kadangkala kita bertanya-tanya kok bisa ya ketemu orang X dan delalahnya orang X ini ada sangkut-pautnya sama hal-hal yang ingin kita tuju. Ya begitulah cara Tuhan menugaskan semesta.

Seperti contohnya, bulan lalu saat Kuro-chan, kucing saya tertabrak motor dan baiknya orang yang nabrak ini bertanggung jawab. Akhirnya kami dipertemukan lagi karena Mbak yang nabrak ini ingin nengokin Kuro pas udah dari rawat inap ke dokter. Dia ingin memastikan Kuro baik-baik saja. Akhirnya kami mengobrol banyak hal. Mulai dari pekerjaan hingga asal kami berada. Saya bilang kalau saya pindah dari Jakarta setelah 10 tahun merantau di sana. Lantas dia bercerita juga kalau dia juga sering ke Jakarta dan menginap di salah satu temannya di daerah Pancoran. Dannn, ternyata dia sering melintasi jalanan Sampoerna University yang tak lain adalah kampus saya. Lalulah kami sedikit demi sedikit ada bahan untuk diperbincangkan. Ditambah lagi, ternyata dia punya tante yang tantenya ini punya usaha membuat sabun organik di dekat kos saya. Tak sampai di situ, ternyata juga suka kucing. Banyak hal-hal yang kadang membuat saya melongo! Oh Tuhan! Sungguhlah indah jalan hidup yang telah Engkau atur untuk saya! Kocaknya lagi, tantenya juga punya usaha burger tempe yang sering saya lihat di postingan-postingan Pasar Wiguna, salah satu pasar di Jogja yang menarik saya untuk kunjungi. Baikkk!!! Begini ya cara Tuhan menghadirkan banyak hal pembelajaran yang kadangkala malah kita lupa bersyukur.

Dan satu hal lagi, kadang di tengah perjalanan kita menyayangkan sesuatu buruk yang terjadi pada diri kita. Sering sekali ini terjadi. Kadang saya sendiri pun menyesal dan menyalahkan diri sendiri kenapa membuat kesalahan yang seharusnya bisa kita minimalkan. Atau jika kesalahannya kepada orang lain, dengan seenaknya saya masih suka menyalahkan orang lain tersebut. Menyalahkan keteledorannya karena seharusnya itu bisa diusahakan untuk tidak salah. Menyayangkan apa-apa yang salah dan menyesal kenapa tidak melakukan perbaikan di saat kita tahu itu mendekati salah. Saya pun masih belajar tentang ini. Belajar untuk ikhlas bahwa sesuatunya itu telah ditetapkan Tuhan. Pasti Tuhan punya alasan mengapa harus berjalan seperti itu. Kadang saat saya berefleksi, saya pun pada akhirnya memaklumi semua yang telah terjadi. Memaklumi setiap kesalahan itu adalah bagian dari jalan Tuhan. Dan pada akhirnya kita mencoba untuk mengikhlaskannya dan mengupayakan semeleh. Kenapa kita memakluminya? Ya, biar kita tak menjadi gila karena hal itu. Jika kita terus-terusan menyesal dan tak mengikhlaskannya, mau sampai kapan kita akan terus memikirkan satu masalah? Hidup sudah pasti banyak masalah yang akan kita lalui di depan mata. Kalau energi kita habis untuk satu masalah saja, mau hidup seperti apa? Take our time! Istirahat sebentar tidak apa-apa sambil cari solusi di saat pikiran jernih. :) Ya seperti ini contohnya, menulis dan journaling menjadi salah satu media untuk saya menjernihkan otak!



Selasa, 30 Maret 2021

#30 Alasan yang Hilang

"Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka - itu hanya menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka." - Lao Tzu (link)

Ya, belakangan ini saya sedang kembali menemukan alasan yang hilang tentang beberapa hal yang ingin saya capai. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap menjaga semangat dan niat hati untuk terus bermimpi. Dan mungkinkah semangat itu akan roboh begitu saja saat ada orang yang mengatakan, "Kenapa harus Papua?" Lagi-lagi saya kehilangan alasan yang kuat mengapa harus Papua!

Entahlah, tapi pencarian tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di televisi saat saya masih SMP atau SMA. Saya lupa! Entah itu mungkin malah sewaktu kuliah. Saya tak ingat. Ada sebuah acara semacam jejak petualang atau pengenalan budaya Indonesia. Ya, saya tiba-tiba ingat itu. Hal yang masih sangat saya ingat adalah tentang Papua, kehidupan Mama-Mama Papua. Menanam ubi, berjalan jauh ke pasar untuk menjajakan sayuran. Bagaimana menghuni rumah dengan atap jerami dengan tungku di tengahnya. Sepertinya itu gambaran yang pernah terekam dalam memori saya mengenai Papua. 

Lalu, ditambah lagi saya sangat suka film Laskah Pelangi dan Alangkah Lucunya Negeri Ini saat saya kuliah. Sepertinya, gambaran tentang kehidupan daerah pedalaman menyisakan memori yang sungguh dalam di ingatan saya. Dan keinginan untuk mengunjungi dan tinggal di pedalaman pun tumbuh seiring waktu. Ah, apakah impian saya itu terlalu muluk-muluk? Entahlah....

Bahkan ketika ada pertanyaan yang muncul mengapa saya tak menjadi guru sekolah di Jakarta dan malah memilih menjadi pekerja lepas, saya selalu menjawab, saya tak ingin menghabiskan banyak waktu di jalan karena macetnya Jakarta, jika saya ingin menjadi guru sekolah, saya ingin menjadi guru di pedalaman. Dan itu impian yang hingga saat ini masih saya pupuk, masih saya perjuangkan.

Tahun ini menurut saya adalah waktu yang cocok untuk kembali memperjuangkan mimpi itu setelah 8 tahun mati suri. Kesempatan yang pas di saat semua yang dulu-dulu menjadi penghambat, di tahun ini pula sudah tuntas terselesaikan dengan baik. Jika memang tahun ini tahun baik untuk saya pergi dan mewujudkan impian saya itu, semoga Tuhan memberi rencana yang terbaik. Jika memang belum, saya mungkin perlu belajar lagi lebih banyak hingga saya siap untuk pergi sesuai rencana Tuhan.

Ahhh, terima kasih semesta sudah membawa saya sejauh ini!



Senin, 29 Maret 2021

#29 Mari Luruskan Niat!

Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.

Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.

Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?

Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?

Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."

Semoga ada jalan.... Aamiin....