Kamis, 02 Mei 2024
#34 Sesuatu Pasti Ada Tujuannya
Sabtu, 27 April 2024
#29 Jaga Menu Makan
Saya bermimpi bertemu seseorang di masa lalu yang belum sempat bertegur sapa lagi setelah sekiat tahun. Padahal dulu saya sempat dekat dan dia salah satu inspirasi saya untuk tetap melanjutkan kuliah. Namun, tugas dia telah selesai dalam hidup saya sepertinya. Dia telah mengantarkan saya untuk berpendidikan tinggi dan belajar untuk tidak menyerah. Saya pernah di fase sebahagia itu ketika bertemu dengannya, bahkan saat saya masih SMA. Kuliah pun, saya mengikuti jejaknya. Awalnya sih memang berjalan baik-baik saja, tapi ternyata memang ada ketidakcocokan di antara kami, itu yang kurasakan. Alhasil, ya sudah let it go! Dan di mimpi itu, sepertinya emosi yang saya pendam selama ini muncul dari alam bawah sadar. Saya ingat kalau saya meminta maaf ke dia karena saya cut off dia tanpa ada penjelasan. Ya, nggak papa sebenarnya. Tapi saya bersyukur, di mimpi itu mungkin bisa dikatakan saya release emosi yang telah lama saya pendam.
Saya cerita ke Mbak Raras. Efek mozzarella katanya. >.< Ya memang waktu kemarin ketemuan itu, saya pesan pizza vegetarian tapi kan tetap ada mozzarella. Hahaha. Sekuat itu kah efeknya? Haha. Memah harus seketat itu untuk sementara waktu demi masa depan cerah. Aamiin.
Lalu, hari ini saya kembali ke jalan yang benar. Saya masak tempe goreng, tumis pokcoy tahu, lalu makan pepaya lagi. Haha. Daun bawang mentah tidak lupa juga. Ternyata enak lho daun bawang mentah itu. Ketagihan kan....
Mari kembali ke jalan yang benar. Fokus kembali atur pola dan menu makan. Olahraga tiap pagi, belajar bahasa lagi. Fokus perbaiki diri dan tingkatkan kapasitas diri. belajar hal-hal baru dan bahagia selalu.
Saya bilang ke Fitri kalau sudah hampir 5 tahun saya tidak pakai bedak. Saya pun tanya foundation yang bagus apa yang gabung sama bedak gitu. Karena dulu dia pernah liatin bedak yang ada foundationnya, tapi saya lupa merk-nya. Tiba-tiba saja pengen beli. Mau mempercantik diri sendiri, bukan buat orang lain, tapi buat diri sendiri. Biar kalau lagi ngaca bisa se-happy itu lihat wajah sendiri dan semangat meniti hari.
Next mission adalah beli kebaya. Entah kenapa jadi seneng liat-liat kebaya lucu-lucu, motif cantik-cantik gitu. Yuk bisa yuk, bahagiain diri sendiri! You don't love me, its okay. I love me! Terus keinget Reels lewat tempo hari kalau orang lain tidak menyukaimu, tidak apa-apa, karena kamu mencintai dirimu sendiri dan itu sudah cukup! Mari berbahagia.... :D
Jumat, 26 April 2024
#28 Jalan Semesta
Hari ini ada acara Syawalan di sekolah. Saya berangkat jam sembilan pagi kurang. Hari ini keluarga besar Salam berkumpul di halaman sekolah. Saya membawa snack batagor yang beli di abang-abang gerobak di jalan menuju sekolah. Awalnya, saya kira itu adalah penjual gorengan, ternyata siomay dan batagor. :D Karena sudah terlanjur berhenti, saya belilah batagor. Saya bawa wadah sendiri, sambal dipisah, mas-mas yang jual juga ramah. Awalnya mau beli 10ribu, tapi kutambah lagi 5rb, jadi 15rb. Lalu, setelah selesai dibungkusin batagor, saya melanjutkan perjalanan.
Sampai di sekolah, halaman sudah banyak orang. Jiwa introvert saya memilih untuk masuk ke kelas, nyari yang sepi. Lalu diikuti teman-teman kelas 5, saya pun bertanya apakah kotak makan teman-teman sudah ditaruh di meja SD besar atau belum. Beberapa ada yang sudah, tapi sebagian besar belum. Saya pun mengajak mereka untuk memberi nama di kotak makan masing-masing. Saya potong kertas dan ambil lakban bening. Anak-anak menulis nama dan kelas masing-masing. Lalu, saya tanya lagi, "Apakah pada bawa snack?" Beberapa menjawab kalau snack dibawa ortu. Kemudian saya mengeluarkan batagor dari tas. Beberapa dari mereka pengen nyoba. Alhasil, batagornya kami makan bersama di kelas. :D Sampai habis. :D Alhamdulillah.
Setelah makan batagor, kami turun ke halaman dan nyari tempat duduk di halaman. Acara pun dimulai, Bu Er pun maju jadi MC dadakan karena gemes teman-teman yang lain tidak segera menempati tempat yang sudah disediakan. Hahaha. Saya mengkoordinir teman-teman kelas 5, alhamdulillah mereka masih aman untuk diajak kerja sama. :D
Tapi memang sih, karakter anak-anak kelas 5 ini rajin, ontime, teratur, dan saling mengingatkan kalau ada peristiwa. Jadi sebenarnya, saya yang belajar dari mereka.
Menu makan siangnya ada lontong, opor ayam dan telur, sayur krecek dan sayuran sama kerupuk. Saya berusaha komitmen tentang makanan yang saya konsumsi. Telur dan ayamnya saya kasihkan ke Sandhi, kreceknya pedes, jadi saya kasih ke Bu Er. Sampai Sandhi kenyang banget karena dapet tambahan lauk dari saya. Hahaha. Terima kasih ya Sandhi sudah mau bantu saya. Terus saya makan apa? Saya makan lontong, kuah sayur, sama kerupuk. :D
Ya awalnya sih mereka bertanya-tanya kenapa saya tidak makan daging dan protein hewani. Saya bilang, sedang diet protein hewani. Hahaha. Ya memang bener. Hahaha. Saya sedang mencoba makan non hewani dan turunannya untuk mengontrol emosi, pikiran dan energi tubuh. Ya, semoga konsisten ini membuahkan hasil lebih baik ya. Aamiin.
Pulang dari Salam, saya janjian sama Mbak Raras, mau nemenin Mbak Raras ketemu sama salah satu temennya. Saya ke rumah Mbak Raras jam 5 sore. Tetep ya, saya nyasar pas sudah sampai lokasi. Haha. Hanya beda gang sih tapi ya begitu, daya ingat saya lumayan buruk untuk mengingat lokasi atau maps. Ya, ngobrol-ngobrol bentar sama Mbak Raras, terus kami berangkat. Kami menuju Pizza Nanami yang ada di daerah Ngadipuran kalau nggak salah. Kami datang lebih awal dan memesan minuman terlebih dahulu. Masih nunggu Pungki dan Anees. Keduanya belum saya kenal sebelumnya.
Lalu, ada kejadian kocak. Ternyata Anees kuliah di kampus yang sama dengan saya. Hahaha hanya saja beda jurusan. :D Lalu, ternyata dia sedang main sama temennya di deket kos saya. :D Lha, kok kocak! Ternyata eh ternyata, beneran itu alamat kos temennya itu deket banget dengan kosan saya dan sering saya lewati. Ampun deh... Hahaha.... Jauh-jauh ke Ngadipuran ternyata ketemunya sama tetangga kosan. Hahaha. Sekocak itu hidup.
Setelah datang semua, kami kenalan. Ternyata itu juga hari pertama Mbak Raras ketemu sama Anees, tapi mereka sudah sering ngobrol lewat telpon. Dan ada hal yang menarik lagi yang menurut saya ternyata bener-bener ya kalau kita sinkronisasi energi dengan semesta, semesta itu akan menjawab apa yang kita inginkan. Beberapa hari yang lalu, saya berpikir dan ngebatin, ngelist teman-teman saya yang jurusan sains, tapi nggak inget. Rencana mau kuajak ke sekolah dan biar murid-muridku bisa belajar dari mereka. Kucari-cari kok gak nemu, nggak inget kalau ada Galih dan Vincent tapi kayaknya mereka sibuk. Hahaha. Terus, tahu apa yang terjadi di pertemuan itu? Anees ternyata jurusan biologi dan dia punya teman jurusan kimia juga. Dia menawarkan kalau saya perlu dikenalkan sama anak kimia, dia bisa bantu. Ahhh, alhamdulillah, masyaAllah ya....
Sekeren itu alam semesta ini membuat skenario baiknya. Dan pertemuan saya dengan Mbak Raras juga pasti ada alasannya. Semua yang datang ke hidup ini pasti punya alasan. Entah hanya sekadar kenal atau yang kenal dekat. Pasti ada rencana semesta yang sedang berjalan dan menjalankan misinya. Terima kasih Tuhan atas kasih dan sayang-Mu. Semoga semua makhluk berbahagia dan damai harmonis.... Aamiin. Salam kenal ya Pungki dan Anees! Thank you Mbak Raras!
Selasa, 23 April 2024
#25 Revolver yang Kendor
Senin, 22 April 2024
#24 Hari Pertama Sekolah
Hari pertama masuk sekolah! Agenda hari ini adalah menyiapkan kelas. Ada alat-alat baru dari Ozan, ada peta dunia dan peta Indonesia, lalu ada mini lab dan mikroskop baru. Anak-anak sangat senang mendapatkan hal-hal baru itu. Terima kasih ya Ozan!
Kami makan bersama snack lebaran yang telah kami bawa, kalau Bu Er bilang, itu adalah THR (Turahan Hari Raya). Kami duduk melingkar sambil menikmati jajanan lebaran, Ada dodol, selondok, sale pisang, biskuit, puding, dan beberapa makanan lainnya. Saya membawa permen warna-warni dan permen jelly, anak-anak suka dan alhamdulillah habis juga akhirnya setelah beberapa hari nganggur di kosan. Semua senang, semua punya cerita, dan bahagia selalu.
Lalu, ada hal yang membuat saya kagum. Salah satu anak di kelas kami, sangat penasaran dengan mikroskop yang saya bawa itu. Dia mengutak-atik mikroskop yang dari kemarin-kemarin gagal saya operasikan. Saya kasih satu sampel lapisan bawang merah di kaca objeknya. Entah, detik ke berapa dia sangat excited menunjukkan ke saya kalau setting objeknya sudah benar. Saya langsung menghampirinya dan benar saja, untuk pertama kalinya objeknya terlihat. Ahhh, saya bangga sama ini anak. Dia berhasil! Lalu saya mengajak anak-anak yang lain untuk mengamati objek tadi bergantian. Mikroskop diputar ke seluruh anak di kelas. Lalu kami menyebutnya sebagai Professor Earth. :D Panggilan yang sangat cocok untuk anak ini. Saya pun tambah kagum dengan cara kerja dia. Anak yang istimewa. Dia sangat suka hal-hal yang detail seperti bongkar pasang dan hal-hal teknis. Saya salut dengannya!
Memang ya, di kelas ini saya bertemu dengan anak-anak yang sangat unik dan istimewa. Dan memang pada kenyataannya setiap anak adalah istimewa. Saya belajar banyak hal di sini. Ternyata sudah hampir satu tahun saya menjadi volunteer di tempat ajaib ini. Saya belum memutuskan apakah semester depan masih lanjut ataukah tidak. Saya belum menentukan pilihan dan belum ada rencana ke depan seperti apa. Satu hal yang saya harus selesaikan adalah thesis saya. Ayolah semangat untuk diriku! Kita bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu! Ayo, bisa!
Saya bersyukur untuk diri saya saat ini. Saya bersyukur berada di lingkungan yang mendukung. Saya bersyukur dipertemukan orang-orang baik. Saya bersyukur untuk hidup saya saat ini. Terima kasih Tuhan atas kemudahan dan keberuntungan yang telah saya dapatkan saat ini. Mari bahagia!
Jumat, 19 April 2024
#21 Teman Baik Adalah Rezeki
Kamis, 18 April 2024
#20 Mari Bermimpi Kembali
Selasa, 16 April 2024
#18 Memulai Hal Baru
Kamis, 04 April 2024
#6 Hari Terakhir Sebelum Liburan
Hari terakhir sebelum liburan, kami punya agenda membahas riset salah satu teman kecil di kelas. Risetnya tentang Candi Gedongsongo.
Pagi itu saya datang mepet jam masuk karena mengantar Tace terlebih dahulu ke fotokopian. Sampai di sekolah, saya langsung persiapan untuk agenda pagi itu. Kelas pindah ke ruangan kelas 6 karena kami butuh screen dan proyektor untuk nonton bareng.
Saya disambut oleh teman-teman kecil dengan berbagai cerita paginya. Ada yang bercerita tentang jadwal piket yang belum ada temannya, ada yang cerita kalau oleh-oleh mencatat provinsi di Indonesia, bahkan ada yang menggambar peta Indonesia dengan bagusnya. Saya sungguh menikmatinya. Hariku bahagia bukan? Tentu!
Kami memulai kegiatan kelas dengan berdoa, "Tuhanku, terima kasih atas pagi yang cerah ini, berkati kegiatan kami hari ini. Aamiin." Saya butuh satu semester untuk mengingat doa pagi, doa makan, doa pulang. :'') Kelas dibuka dengan laporan masing-masing anak atas tugasnya. Kami membahas 38 provinsi di Indonesia, pulau-pulau di Indonesia, lokasi Sabang dan Merauke, juga kota-kota yang pernah kami kunjungi. Saya bercerita kalau saya pernah ke NTT dan NTB, pengalaman naik kapal 4 hari 3 malam, nonton bioskop di kapal, dan keajaiban-keajaiban yang saya dapatkan selama perjalanan. Semoga teman-teman kecil ini juga dapat kesempatan untuk menjelajah dunia lebih jauh lagi ya! Aamiin.
Saya jadi teringat salah satu kawan saya dari Malaysia. Hampir tiap kali dia liburan selalu diisi dengan keliling dunia. Saya senang melihat postingan-postingan telegramnya penuh dengan trip ke berbagai belahan dunia. Dia cerita kalau dia baru saja liburan di Hawaii. Dia mengirimi saya cuplikan video di pantai. Cuacanya bagus katanya. Saya senang mendengarkan cerita-cerita perjalanannya. Semoga di lain kesempatan, dia bisa datang ke Jogja dan mengunjungi sekolah tempat saya belajar ini. Aamiin.
Kegiatan selanjutnya adalah nonton youtube tentang Candi Gedongsongo. Candi ini berada di kawasan Ungaran, Jawa Tengah. Saya sendiri belum pernah ke sana, tapi melihat videonya, di sana tempatnya sepertinya menarik. Makin ke sini, saya makin menyukai sejarah. Kalau dulu saat sekolah, saya tidak suka sejarah karena harus menghafal, Padahal belajar sejarah tidak hanya menghafal lho, dengan kita berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, kita bisa belajar banyak di sana. Dan saya bersyukur, saya bisa belajar di salah satu sekolah nonformal di Jogja ini. Terima kasih Tuhan.
Kelas dilanjutkan menonton Avatar di netflix. Teman-teman kecil semangat menontonnya. Saya juga senang melihat mereka tumbuh menjadi pribadi masing-masing dengan keunikannya sendiri-sendiri.
Jam 12 tiba, kami menutup kelas dengan berdoa, "Tuhanku terima kasih kami sudah bermain dan belajar, kami akan pulang, berkatilah...." Aamiin. Tiba-tiba ada yang punya usulan, sebelum kami pulang, mari bersalam-salaman. Kami berbaris memutar, bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Selamat lebaran dan berkumpul dengan keluarga!
Selasa, 30 Maret 2021
#30 Alasan yang Hilang
"Hidup adalah serangkaian perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka - itu hanya menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka." - Lao Tzu (link)
Ya, belakangan ini saya sedang kembali menemukan alasan yang hilang tentang beberapa hal yang ingin saya capai. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap menjaga semangat dan niat hati untuk terus bermimpi. Dan mungkinkah semangat itu akan roboh begitu saja saat ada orang yang mengatakan, "Kenapa harus Papua?" Lagi-lagi saya kehilangan alasan yang kuat mengapa harus Papua!
Entahlah, tapi pencarian tersebut mengingatkan saya pada sebuah acara di televisi saat saya masih SMP atau SMA. Saya lupa! Entah itu mungkin malah sewaktu kuliah. Saya tak ingat. Ada sebuah acara semacam jejak petualang atau pengenalan budaya Indonesia. Ya, saya tiba-tiba ingat itu. Hal yang masih sangat saya ingat adalah tentang Papua, kehidupan Mama-Mama Papua. Menanam ubi, berjalan jauh ke pasar untuk menjajakan sayuran. Bagaimana menghuni rumah dengan atap jerami dengan tungku di tengahnya. Sepertinya itu gambaran yang pernah terekam dalam memori saya mengenai Papua.
Lalu, ditambah lagi saya sangat suka film Laskah Pelangi dan Alangkah Lucunya Negeri Ini saat saya kuliah. Sepertinya, gambaran tentang kehidupan daerah pedalaman menyisakan memori yang sungguh dalam di ingatan saya. Dan keinginan untuk mengunjungi dan tinggal di pedalaman pun tumbuh seiring waktu. Ah, apakah impian saya itu terlalu muluk-muluk? Entahlah....
Bahkan ketika ada pertanyaan yang muncul mengapa saya tak menjadi guru sekolah di Jakarta dan malah memilih menjadi pekerja lepas, saya selalu menjawab, saya tak ingin menghabiskan banyak waktu di jalan karena macetnya Jakarta, jika saya ingin menjadi guru sekolah, saya ingin menjadi guru di pedalaman. Dan itu impian yang hingga saat ini masih saya pupuk, masih saya perjuangkan.
Tahun ini menurut saya adalah waktu yang cocok untuk kembali memperjuangkan mimpi itu setelah 8 tahun mati suri. Kesempatan yang pas di saat semua yang dulu-dulu menjadi penghambat, di tahun ini pula sudah tuntas terselesaikan dengan baik. Jika memang tahun ini tahun baik untuk saya pergi dan mewujudkan impian saya itu, semoga Tuhan memberi rencana yang terbaik. Jika memang belum, saya mungkin perlu belajar lagi lebih banyak hingga saya siap untuk pergi sesuai rencana Tuhan.
Ahhh, terima kasih semesta sudah membawa saya sejauh ini!
Senin, 29 Maret 2021
#29 Mari Luruskan Niat!
Hari ini saya sungguh merasa sangat takut, takut kalau-kalau apa yang saya perjuangkan mendapat penolakan lagi. Entah, bisikan apa yang membuat saya sangat takut akan rencana manusia dan seolah saya melupakan rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Ya, rasa ketakutan itu sungguh mematahkan semangat saya. Sepertinya, saya belum bisa 99%, lima puluh persen saja belum untuk bersikap semeleh. Masih tetap berspekulasi dan berasumsi tentang apa-apa yang belum saya tahu ke depannya. Ahhh, rencana Tuhan memang sangat misteri.
Hari ini pula hati terasa enggan bahagia, tak terasa hati pun menangis tanpa sebab yang jelas. Ya, rasanya pengen nangis aja, yang susah dideskripsikan rasanya. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata saya menangis karena merasa down lagi. Antara ambisi dan realita saat ini. Hati kuat ingin ke Papua, tapi realita otak berpikir menimbang-nimbang lagi antara tetap stay di Jogja atau 'memaksakan diri' ke Papua. Tahap wawancara semi akhir beberapa saat yang lalu belum juga menampakkan hasil.
Sepertinya perlu saya luruskan lagi niat. Bahkan saat Fitri bertanya, mengapa kamu ingin ke Papua? Sa tak bisa jawab. Seperti ada missing part yang saya sulit jelaskan. Kalau sudah begitu, Fitri akan mengingatkan pada saya untuk kembali memperjelas alasan mengapa harus Papua, jika memang mau mengajar di daerah pedalaman, masih banyak kok daerah lain yang juga pedalaman, mengapa harus Papua?
Kemelut hati kembali bertambah saat Kuri Juni menanyakan, "Sudah baca-baca tentang Papua? Sudah pertimbangkan kira-kira orang-orang di sana butuh dirimu nggak? Atau apa yang bisa kamu lakukan untuk Papua? Jangan sampai semangat kamu saat ini membuatmu kecewa nanti!" Tamat sudah! Saya mencoba menggali lagi alasan saya selama ini. Hampir 8 tahun lho, saya tetap memegang mimpi itu walaupun sempat mati suri. Saya kembali mengingat alasan pertama saya mengapa memilih Papua? Mengapa memilih mengajar di pedalaman?
Ah, benar juga kata-kata mereka. Jika memang sudah waktunya ke Papua, semesta akan memberi jalan! Ya, seperti kata Kak Rosa, "Kalau ada rencana yang tidak tercapai saat ini, berarti ada hidden mission dari semesta untuk kita. Kita gak perlu ngoyo untuk kejar, tapi tetap dipupuk mimpinya dan pelan-pelan diupayakan. Believe it or not, universe will conspire to make your dream happen."
Semoga ada jalan.... Aamiin....
Minggu, 28 Maret 2021
#28 Terima Kasih!
Beberapa waktu yang lalu, Kak Rosa mengajak saya untuk terlibat Elege Inone, sebuah komunitas peduli pendidikan anak-anak Papua yang Kak Rosa dirikan bersama teman-temannya. Setelah bertemu Yesman dan Endi, saya memiliki kesempatan bertemu pula dengan Demite. Trio Kogoya ini sangat menginspirasi saya untuk bermimpi tentang Papua kembali.
Saya sangat senang saat Kak Rosa mengajak saya untuk ikut mengurus @magebaga IG @magebaga, salah satu brand Demite yang menjual barang-barang handmade seperti noken atau sulaman tangan Demite atau juga hasil desain Yesman. Tunggu produk-produk baru kami ya.... :)
Nah, kali ini ada 9 noken, 8 kiriman dari orang tua Demite untuk mendukung pendidikan Demite dan Yesman. Alhamdulillah, noken jualan kami habis. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membeli. :) Untuk kamu yang ketinggalan, tunggu info terbaru kami ya! Kamu juga bisa ikut membantu lho untuk pendidikan anak-anak Papua melalui @Elege Inone di link Elege Inone. Terima kasih :)
Sabtu, 27 Maret 2021
#27 Daun Dala - Mengenali Diri Sendiri Melalui Melukis di Tulang Daun
Jumat, 26 Maret 2021
#26 Mari Kita Potong Sudah!
Pagi-pagi anak-anak sudah ribut di depan gerbang. Memanggil-manggil saya yang masih juga baru bangkit dari rebahan. "Lah, memang hari ini kita belajar?" tanya saya. "Kita kan mau potong sabun hari ini!" balas mereka bersemangat.
Oh iya, lupa saya!
Sungguh semangat mereka belajar luar biasa. Langsunglah saya mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu dan saya bergegas mengambil sabun. Anak-anak itu pun girang melihat sabun mereka sudah mengeras dan siap dipotong. Sebenarnya banyak foto-foto yang kami dapatkan di hari sebelumnya, sayangnya hp saya tiba-tiba error dan beberapa memori foto yang kami punya hilang sudah. Sedih? Iya sih tapi ya sudah. Bukankah momen lebih melekat di hati daripada hanya sebuah foto. Ya kadang memang perlu suatu momen tanpa ada foto, ya nikmati saja begitu, bukan malah sibuk ambil foto sana ambil foto sini. Ya walaupun tak dipungkiri, pengambilan momen menggunakan foto akan mudah diingat kembali dan paling banter ya upload di social media. Ini sih yang masih sulit dihindari! Social media masih menjadi wadah untuk menyimpan foto-foto kenangan dan terkadang niatnya hanya untuk dapat like atau ajang woro-woro memberitahukan segala aktivitas ke teman-teman dunia maya. Jujur itu masih menjadi hal yang cukup sulit dihindari. Padahal kawan-kawan dunia maya kita itu 'they do not care about your life!' Ya, benar. Saya juga masih belajar untuk menangani hal ini.
Ya, kembali lagi ke cerita hari ini pemotongan sabun ya. Topiknya ini tuh kemana-mana. Hahaha. Maaf! Proses pemotongan menggunakan pisau. Anak-anak saya minta berpikir sebaiknya dipotong jadi berapa agar semua kebagian. Ada yang punya usul, "Duh, sayang dipotong sabunnya! Biar gitu sajalah kayak kue ulang tahun. Kalau mau pake dicolek saja!" Hahaha. Saya juga maunya gitu, sayang dipotong, habis bentuknya lucu! Hahaha Akhirnya kami bersepakat akan memotong menjadi 16 untuk yang block.
Usai potong-potong sabun, beberapa anak masih semangat belajar. Lalu saya minta saja mereka mengerjakan tugas dari sekolahnya. Nah, Aufar, salah satu anak mengambillah LKS sekolahnya. Dibukalah LKS dan mulai mengerjakan soal matematika. Topiknya adalah simetri lipat dan simetri putar. Aufar dengan cepatnya menyelesaikan soal-soal itu dan tibalah di soal tentang gambar baju dan diminta untuk mencari jumlah simetri lipat. Dia berpikir sambil mengingat-ngingat momen dimana dia lipat baju. Saat saya tahu kalau anak ini butuh visualnya, saya pun langsung mengambil kaos yang saya punya di lemari dan memberikan kaos itu kepada Aufar. Langsunglah dia mengeksekusi lipat baju! Ada 3 lipatan, katanya! Lalu saya pun mengajukan beberapa pertanyaan lanjutan. Saya minta tunjukkan simetri lipat itu seperti apa. Ternyata dia berpikir bahwa simetri lipat itu sama seperti saat kita melipat baju, ya karena kebetulan soalnya tentang baju. Duhhh!!! Masuk diakal sih ya, melipat baju ini. >.< Akhirnya saya jelaskan lagi konsep simetri putar dan simetri lipat.
Berlanjut, setelah saya belajar dengan anak-anak, saya jemput Kuro-chan dari klinik. Alhamdulillah, sudah bisa pulang ini anak kicik. :)
Kamis, 25 Maret 2021
#25 Membuat Sabun Ala Pandawa Lima
Pagi ini kami berkumpul kembali dengan ide membuat sabun. Ide ini tercetus setelah saya belajar dengan Ibu Guru Rosa beberapa hari yang lalu. Yak, sepertinya mudah jika diaplikasikan ke anak-anak. Baiklah! Yuk, buat!
Bahan-bahannya cukup mudah dan saya masih punya sisa praktik di kelas Kuri Rosa. Ada minyak kelapa, minyak zaitun, saya tambah minyak kelapa sawit (uji coba), air putih saya pakai air galon, soda api, pewangi saya pakai vanili, dan kunyit untuk pewarna alami. Ukuran-ukurannya saya sesuaikan dengan bahan minyak. Anak-anak menimbang sendiri bahan-bahannya dengan pantauan saya. Saya memperingatkan pada mereka kalau soda api berbahaya jika kena kulit karena bisa membuat kulit melepuh. Mereka pun sangat berhati-hati.
Mereka mengamati bagaimana proses mendidihnya campuran soda api dan air yang membuat mata perih, lalu mengamati panasnya baskom sampai menunggu dingin. Sungguhlah itu pengalaman pertama mereka mengenal beberapa jenis minyak goreng, soda api dan pembuatan sabun.
Setelah bahan-bahan sesuai hitungan Aufar, di sini Aufar menjadi tim hitung karena diyakini dia yang paling jago matematika. Hahaha, sesuai tugas ya! Prosesnya dimulai campur-campur bahan, lalu aduk-aduk dengan menggunakan hand blender. Walaupun ini pertama kalinya mereka menggunakan hand blender, tapi mereka cukup lihai lho! Mudah mengarahkan mereka untuk menggunakannya dengan hati-hati.
Refleksi saya, mereka itu anak-anak yang cerdas, rasa ingin tahunya tinggi, dan bertanggung jawab. Satu per satu akhirnya saya bisa tahu karakter masing-masing anak. Ya, mereka sungguhlah anak-anak yang membanggakan! Senang belajar dan antusias tinggi. Bahkan kalau sudah ke kosan saya, mereka tidak mau pulang! Hahaha.
Sabun kami jadi, dicetak dan besok siap dipotong! Terima kasih Pandawa Lima!
Rabu, 24 Maret 2021
#24 Menikmati Setiap Momen "Pecel dan Tempe"
Agenda berubah! Pagi ini saya bergegas pergi ke warung sayur. Saya pikir saya akan bertemu anak-anak pagi itu, tapi ternyata tak ada satu pun anak-anak yang menghampiri. Mungkin karena saya sudah bilang kalau hari ini libur sehari sebelumnya. Ya mungkin!
Selasa, 23 Maret 2021
#23 Belajar Membuat Eco-Enzyme
Pagi itu anak-anak sudah berkumpul di depan gerbang pagi sekali. "Belajar apa hari ini?" ucap mereka.
Okay, baik! Saya langsung putar otak kira-kira apa yang bisa dilakukan hari ini. Melihat sisa sayuran dan kulit buah sisa kemarin masih ada di kulkas, yang memang saya suka mengumpulkan untuk persiapan pembuatan eco enzyme, baiklah mari kita eksekusi saja! Yak, mari kita belajar eco-enzyme sudah!
Anak-anak pun sedikit banyak sudah mendapat bocoran eco-enzyme seperti apa. Beberapa hari yang lalu mereka ingin tahu toples berisi air berwarna coklat dengan kulit jeruk yang mengapung-apung di halaman belakang itu apa namanya. Mereka kita itu ikan. :) Ya memang dari kejauhan seperti ada ikannya, tapi itu bukan ikan. Itu adalah hasil eksperimen pertama yang saya buat setelah mengikuti workshop pembuatan eco-enzyme bersama Pak Aang, salah satu aktivis peduli lingkungan.
Bahan-bahan hanya ada 3, yaitu kulit buah dan sisa sayuran dengan kondisi yang tidak busuk, air keran, gula merah. Perbandingannya air adalah 60% dari volume wadah. Kemudian kita ukur gula merah 1/10 dari volume air. Lalu sisa sayuran atau kulit buahnya 3 kali ukuran gula merah. Nah, untuk eco enzyme sendiri, semakin banyak varian sayuran atau kulit buahnya, semakin bagus dan kaya akan nutrisi. Hal yang perlu diingat dalam pemilihan kulit buah atau sisa sayuran tidak boleh yang bergetah, bau menyengat, busuk, berulat, berjamur, kulit keras, beberapa daun pepohonan tidak bisa, ranting, atau bahan-bahan yang dimasak. Sebaiknya juga dicacah lembut semakin bagus. Untuk air yang mengandung kaporit sebaiknya diendapkan terlebih dahulu, lalu gunakan wadah plastik yang mulut botolnya lebar karena rawan meledak. Hati-hati ya!
Nah, kali ini anak-anak benar-benar mulai dari awal langkah-langkah pembuatan. Mulai dari mengumpulkan sisa-sisa buah dan sayur sehari sebelumnya, mereka juga mulai memotong kulit buah dan sayuran menjadi potongan kecil sendiri. Bahkan mereka juga mencari toples bekas dari warung sekitar kosan sendiri lho! Mempersiapkan bahan-bahan saya bantu sedikit-sedikit, ditambah ukuran saya jelaskan juga sedikit. Mereka yang menimbang dan memperkirakan sendiri. Lalu juga, mereka menjumlahkan beberapa perhitungan untuk menambahkan beberapa bahan ke dalam adonan.
Yak, dan berhasil mencampur adonan sesuai ukuran. Tinggal kasih penanggalan, kita tunggu 7 hari kemudian. Yak, semoga jadi! Terima kasih untuk kelas hari ini Pandawa Lima! Semangat terus belajarnya ya!
Senin, 22 Maret 2021
#22 Membuat Tempe Ala Pandawa Lima
Pertemuan saya dengan anak-anak tetangga kos kali ini dimulai dari Kuro-chan, artis idola kampung kami. Hampir semua anak tahu siapa itu Kuro-chan. Yak, benar! Artis idola itu adalah kucing saya alias big boss saya. :) :)
Kala itu saya sedang menyapu di halaman bersama Kuro chan. Beberapa anak tetangga lewat dan berhenti di depan gerbang sambil memanggil Kuro. Saya pun langsung mengajak mereka masuk untuk duduk di teras. Kami mengobrol beberapa hal tentang sekolah mereka dan cara belajar mereka. Tiba-tiba tercetuslah ide, "Yuk buat tempe yuk!" Lantas, kami pun membuat rencana. "Saya siapkan dulu kedelainya ya, harus direndam 24 jam dulu baru bisa dibuat tempe. Besok saya beli kedelai dulu di pasar," janjian kami ditutup 'deal!'. Kita buat tempe!
Yak, benar saja, saya beli kedelai di pasar Bantul, lalu rendam selama 24 jam. Baru keesokannya kami buat tempe. Caranya pun cukup mudah diikuti anak-anak. Ada 5 orang yang datang, Aufar, Ridho, Febrian, Hanan, Rafqi. Mereka adalah anak-anak saya yang pertama di sekitaran kos. :) :) :)
Bagaimana prosesnya? Anak-anak sudah datang pagi-pagi bahkan saya belum mandi. Saya ambilkan kedelai yang sudah direndam untuk dibersihkan kulit arinya. Prosesnya lama, tapi anak-anak semangat mengupas kedelai sampai-sampai saya tinggal mandi pun, mereka tetap bertanggung jawab menyelesaikan tugas penting itu. Ahhh, saya bangga pada mereka!
Usai kulit ari bersih, kami pun mulai mengukus tempe lumayan lama. Sembari menunggu kedelai matang, kami membuat rujak, yang semua bahannya mereka bagi tugas. Ada yang beli buah, nyari buah ke warung sendiri, sampai nguleg sambalnya sendiri. Mereka anak-anak laki-laki tapi jago masak dan nguleg! Luar biasa! Mereka pun bereksperimen dengan berbagai macam sambal yang terasa pedas itu, kebanyakan cabe setan pula. Lidah kami sepertinya tak cocok untuk porsi rujak pedas macam sengir itu. Hahaha. Alhasil mereka tambah sendiri gula, nanas, dan terakhir keju. Lumayan mengubah rasa yang sebelumnya sengir jadi cocok di lidah kami. Hahaha, luar biasa mereka!
Lanjut, setelah kedelai matang, mulai proses pendinginan. Tetep nunggu dingin kami terus menikmati rujak buah bengkoang, mentimun, dan nanas. Sungguhlah surga! Usai panas, saya pun mengajari mereka cara dan porsi membubuhkan ragi ke kedelai tersebut lantas aduk-aduk hingga rata. Nah, ini! Daun pisang pun mereka bergantian lap dan buat tali untuk ikat. Saya beri tahu contoh satu saja, mereka tirukan. Dan apa yang terjadi? Hasil bungkus mereka bagus!!! Walaupun ada beberapa daun yang mudah sobek, alhasil kami lapisi dengan koran. Saya kira mereka akan kesulitan bungkus, ternyata sampai habis mereka selesaikan dengan sangat baik, malah di atas ekspektasi saya dalam urusan bungkus-membungkus daun pisang!
Setelah selesai semua, saya bilang ke mereka untuk menunggu 2 sampai 3 hari tempe jadi. Dan tiap hari mereka ke rumah buat cek tempe jadi atau tidak. Rumah saya pun ramai tiap hari. Di hari pertama sudah muncul serabut-serabut tipis cikal bakal tempe matang, lalu hari kedua pun hasilnya mantap, sempurna matang! Saya beri tahu anak-anak kalau tempe sudah jadi, mereka sangat senang dan tak sabar untuk menggoreng tempe dan makan-makan tempe sampai puas! Alamakkk!!!
Sabtu, 20 Maret 2021
#20 'Slow Living'? Mari Kita Coba!
Sempat beberapa hari yang lalu Kak Rosa, Kak Juni, Jane dan saya membahas tentang 'slow living'. Sungguhlah menjadi ide baru saya dalam memilih hidup seperti apa. Terlebih lagi di tengah kehidupan yang serba cepat ini, kita dituntut untuk segala sesuatu harus cepat dan instan. Lalu muncullah perkataan, "Kalau ada yang gampang kenapa harus cari yang susah?"
Kadang segalanya yang serba instan dan cepat ini membuat stress tanpa saya sadari. Tuntutan yang tinggi membuat kita jarang sekali memaknai hidup ini terlebih menikmatinya. Ya, seperti saja contohnya, saat makan kita tak fokus dengan makanan apa yang dihidangkan atau menu apa yang kita nikmati kala itu karena tangan dan pikiran juga sibuk dengan bolak-balik memantau social media. Padahal, momen itu kita seharusnya bisa menikmati rasa yang kita rasakan saat mengunyah makanan, menikmati suara piring dan 65sendok yang riuh beradu, atau bahkan merasakan uap panas dari sayur yang baru saja matang dari kompor. Ya, itu, kita mencoba untuk multi tasking tapi lupa menikmati setiap momennya.
Saya pun masih belajar, baru juga mencoba beberapa hal yang masih bisa saya coba lakukan. Seperti fokus satu-satu kegiatan yang ingin saya lakukan dan mencoba menikmati setiap momennya. Berusaha memulai dari nol, dari mulai membaca hal-hal tentang slow living hingga melakukan satu per satu aktivitas yang mendukung. Tak apa, satu hari satu kegiatan yang tercapai, nanti bertambah lagi seiring waktu berjalan. Pelan-pelan saja... Kalau kata Kak Rosa mengutip dari kata-kata Lao Tzu, "Alam tidak pernah terburu-buru, tapi semua tercapai." Ya betul, pupuk saja terus mimpi-mimpi itu, lakukan pelan-pelan, lama-lama akan menjadi terbiasa dan jika waktunya sudah tepat, semesta akan menunjukkan hasilnya.
Berikut ini beberapa artikel yang saya baca mengenai 'slow living' ini.
1. Mengenal Gaya Hidup Slow Living Saat di Kos | RoomMe
2. Tips Menjalani Slow Living bagi Millennial agar Lebih Nikmat (idntimes.com)
Jumat, 19 Maret 2021
#19 Mari Temukan Jalan Sendiri
Beberapa hari yang lalu ibu menelepon, menanyakan apakah saya bisa pulang tanggal 8 April nanti. Aku sudah curiga ada sesuatu yang akan terjadi 'lagi'. Dengan pura-pura tak tahu, jawabku singkat, "Ada apa di tanggal itu?" Sebenarnya jawaban yang sudah saya bisa tebak dan jawab sendiri. Ya, menikah lagi! Apa yang saya rasakan? Entahlah, saya tak bisa mengenali rasa yang saya rasakan, emosi apa yang telah bergelut di dalam batin, atau respon apa yang harus aku sampaikan. Benar-benar membingungkan!
Mungkin ini karena ada kondisi dimana sesuatu itu pernah terjadi dan seakan otak sudah tahu kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Sungguh, saya hanya bisa diam sambil mencoba merelakan. Kata Fitri, otak sedang memprosesnya, beberapa sarafnya mencoba memanggil kembali kenangan-kenangan yang sebenarnya sudah terlupakan, tapi dibangunkan kembali. Oh Tuhan! Apa lagi ini?
Sempat saya mempertanyakan jodoh itu sebenarnya seperti apa? Mengapa ibu menikah lagi? Siapa sebenarnya jodoh ibu sebenarnya? Bukankah jodoh sudah di tulis sebelum kita dilahirkan? Sampai sekarang tak pernah terjawab.
Tahun ini, saya memilih jalan sendiri. Mencoba mencari kebahagiaan saya sendiri. Menjadi diri saya sendiri. Seperti kepindahan saya ke Jogja tanpa sepengetahuan ibu. Hanya adik saya yang paling besar saja yang saya beri tahu, adik yang kecil saja tak tahu tentang hal ini. Saya hanya ingin menemukan jalan hidup sendiri, jalan hidup yang telah lama saya tinggalkan demi membahagiakan orang lain. Ya, bukankah di dunia ini kita tak bisa membahagiakan semua orang? Tentu saja begitu. Ada berapa hal yang akan dikorbankan untuk kebahagiaan orang lain? Sedangkan kita jarang membahagiakan diri sendiri. Ah, mari hidup di jalan masing-masing.


















