Jumat, 26 Desember 2025

Sadar "Ada Hal yang Perlu Dibenahi"

 Hi, lama tak menulis di sini. Hari ini terketuk hati sa untuk menulis lagi. Mungkin akan sedikit membingungkan kata-katanya karena sudah lama tidak menulis lagi.

Jadi ceritanya, mulai tanggal 20 Desember 2025, sa mengurangi penggunaan WhatsApp. Bukan kenapa-kenapa, hanya butuh 'me time' tanpa mikir kerjaan. Jadi selama liburan itu, sa bener-bener gak buka WA group atau WA chat dari teman-teman di sekolah. Sa hanya menghubungi 2 orang saja, Fitri dan Nafis. Selain itu gak buka WA, kalau ada yang urgent baru membalas. Memang sudah niat dari awal liburan, mau mengurangi interaksi dengan banyak orang.

Beberapa hari yang lalu, teman kerja WA, namun tak sa balas. Terakhir kali sa dapat WA, tawaran kerjaan, tapi sa tunda. Ada ortu yang WA, sa balas, tapi dengan jeda. Sebenarnya, sa tahu, ini kurang baik, apalagi menghilang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Lalu, teman kerja WA lagi, dan kali ini meminta bantuan teman-teman lain untuk menghubungi sa. Lagi-lagi sa tak jawab telepon maupun jawab pesan. Walaupun sebenarnya, sa ingin sekali balas dan bilang kalau sa butuh waktu sendiri, namun sa urungkan. Sa bilang ke Fitri kalau sa sedang mengurangi interaksi dengan rekan-rekan di sekolah maupun kerjaan. Namun, ternyata kehidupan sosial di Indonesia sangatlah kuat. Rekan kerja rasa saudara dan kadang apa-apa perlu diketahui lainnya. Sebenarnya, sa mencoba pasang boundaries. Ada beberapa hal yang tak bisa sa jelaskan begitu saja ke semua orang. Dalam hal ini, sa bisa dikatakan "cukup mampu" menangani hal ini.

Sa pikir, sampai di situ saja cukup. Ternyata tidak. Hari ini teman sa datang ke rumah dengan kekhawatirannya. Khawatir sa kenapa-kenapa. Khawatir sa tidak baik-baik saja. Awalnya, sa mau tak buka pintu, tapi tak tega. Sudah jauh-jauh ke rumah buat cek kondisi sa yang tak menjawab telepon maupun chat, ya masak tidak sa temui? :"( Lantas, sa buka pintu. Sontak kekhawatiran mereka pun hilang dan merasa lega. Dalam otak sa berkecamuk, kenapa mereka datang dengan kekhawatiran seperti ini? Perasaan macam apa ini? Sa mencoba memproses. 

Bu Er cerita kalau dulu pernah diceritain, salah satu teman. Ada teman dari temannya yang tidak ada kabar. Kondisinya mungkin mirip saya, tinggal seorang diri, merantau. Namun, tidak ada yang tahu kalau ternyata sudah meninggal beberapa hari di kontrakannya tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal. Mungkin, Bu Er tidak mengalami secara langsung, tapi pengalaman tersebut membuatnya khawatir ketika ada temannya yang tidak seperti biasa tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, menghilang....

Sampai cerita tersebut diceritakan, sa mencoba mencerna dan berpikir. Sa sudah salah dan membuat beberapa orang khawatir. Sa sadar dan mencoba belajar kembali tentang perasaan aneh yang muncul selama proses ini.

Sa bercerita ke kawan tentang kejadian ini. Ada satu benang merah yang bisa sa gali dan sa sambungkan. Sa sadari perasaan kesal, sedih, senang, aneh yang muncul satu per satu. Kenapa sa sedih? Kesal karena merasa liburan sa terganggu. Tapi di sisi lain ada orang-orang yang khawatir di balik itu semua. Mungkin beda lagi ketika sa dari awal memberitahu kalau selama liburan sa tidak pegang HP, mungkin mereka akan lebih berlapang. Sa merasa sedih, senang dan aneh bercampur jadi satu. Perasaan campur aduk ini muncul karena merasa ada yang perhatian dan ada yang khawatir dengan sa. Terasa asing. Rasa yang sulit sa deteksi. Seharusnya sa bahagia ya karena ada yang peduli, tapi di sisi lain sa merasa perlakuan ini 'too much' dalam pertemanan. Tapi, setelah sa gali lebih dalam muncullah statement dari diri sa "aneh karena tidak familiar dengan perlakuan dicintai". Ternyata sa perlu belajar satu hal "perasaan dicintai, dipedulikan".

Setelah sa telusuri jauh ke masa lalu, pola asuh seperti apa yang membuat sa terasa asing seperti ini? Sepertinya karena dari kecil sebagai anak pertama, sa selalu dididik dengan berbagai macam tuntutan: harus mandiri, harus menjadi contoh adik-adik, harus apa-apa bisa sendiri, harus berbagi ke orang lain, harus memberi dan membagi cinta ke orang lain. Dan tidak diajari untuk menerima cinta dari orang lain atau perasaan dicintai itu sendiri. Selama ini, sa hidup dalam perasaan harus mencintai daripada dicintai. Merasa berhasil mengambil kontrol dari sesuatu tindakan. Mungkin juga takut ditinggalkan maupun tidak diterima. Sehingga sejauh ini, sa lebih familiar dengan perasaan mencintai daripada dicintai.

Dari kejadian ini, sa perlu belajar untuk tidak harus selalu memberi, tetapi "menerima" pun juga tidak apa-apa. Belajar menerima cinta dan dicintai orang lain. Belajar untuk menerima tanpa ada tuntutan untuk mengembalikan.

Afirmasi yang perlu sa ulangi seperti kata Bunda Shada:
"Aku layak menerima bantuan dengan hati terbuka. Aku terhubung dengan jiwa-jiwa baik yang melindungiku. Aku berjalan menuju masa depan yang stabil, kuat, penuh berkah, bahagia, dan berkelimpakan. Aku layak dicintai dan menerima cinta yang membahagiakan."

Minggu, 05 Januari 2025

#5 Buat Komitmen

Hari ini saya masak sayur sawi dan ikan cakalang. Tidak banyak yang saya lakukan hari ini. Hanya bersih-bersih rumah, nyuci baju, dan jemur bantal. Hari ini ada Mbk S dari grup pola makan sehat tiba-tiba chat saya tanya tips agar BB turun. Saya jawab ikuti tips yang diberikan coach. Ya memang begitu.

Hari ini saya berkomitmen untuk mengatur kembali keuangan. Beberapa hal perlu diubah. Menenangkan diri untuk tetap fokus pada kebahagiaan diri dan self love. Semangat ya kamu yang tengah belajar.... 

Sabtu, 04 Januari 2025

#4 Rutinitas Beberes Rumah

 Hari ini masak sayur sop dan ayam suwir. Saya sudah terbiasa tidak sarapan dan makan siang jam 12, lanjut makan malam sebelum jam 6 malam. Setelah masak, lanjut nyapu dan ngepel rumah. Ditambah nyuci baju.

Rencana awal mau ke bengkel, tapi gak jadi. Sore jam 3, akhirnya ngajar K 1,5 jam terhenti karena wifi K yang error. Lalu, lanjut beres-beres rumah lagi sebentar. Makan malam tapi hanya makan sayur karena masih terasa kenyang. Saya lupa minum vitamin. 😅

Lanjut, beres-beres lagi. Seperti ini ya kehidupan IRT, beres-beres mulu kerjaannya. Terus siap-siap istirahat. Jam 9 malam pun udah mulai ngantuk. Istirahat....

Jumat, 03 Januari 2025

#3 Hidup Penuh Kesadaran

 Hari ini saya ke sekolah setelah libur 2 minggu. Tidak banyak yang datang. Mungkin saya termasuk yang awal datangnya. Saya kira saya datang terlambat, ternyata acara belum dimulai.

Sempat saya ngobrol dengan Bu Umi dan bilang kalau saya tadi di jalan buru-buru tapi saya sadar kalau saya buru-buru juga tidak mengubah banyak hal. Saya teringat kata-kata Mbak Raras. Pernah saya cerita suatu pagi saya buru-buru ke sekolah. Naik motor dengan ugal-ugalan. Lantas, Mbak Raras tanya, "Emang kenapa buru-buru?" Saya jawab, "Takut telat." Lalu Mbak Raras menimpali lagi, "Kalau telat memangnya kenapa?" Saya tidak bisa menjawab. Mbak Raras bilang, "Yang tenang... Hidup nggak perlu buru-buru." Sampai saat ini saya mengingat terus kata-kata itu. Saat saya merasa akan terlambat berangkat ke sekolah, saya langsung berbicara pada diri sendiri, "Ya, ini tadi saya memang bangun kesiangan dan lama melakukan ini itu, jadi besok lagi bangun lebih awal. Pelan-pelan saja di jalan, jangan grusa-grusu. Kalau terjadi sesuatu kan yang merasakan diri sendiri. Jadi tetap fokus di jalan dan jangan gegabah."

Saya jadi ingat, tiap kali di jalan terjadi sesuatu misalnya saja ada orang nyebrang tidak hati-hati, kalau dulu saya akan misuh. Tapi sekarang, saya melakukan hal lain yaitu lebih sadar dan berhati-hati di jalan, meyakini bahwa orang tersebut menjadi pengingat saya agar saya lebih berhati-hati lagi. Hal itu adalah cara Tuhan untuk menyelamatkan saya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitulah percakapan saya dengan diri sendiri. Dan saya bersyukur telah diberikan selamat selama perjalanan.

Begitu pula dengan kata-kata Bu Umi kepada saya. Kalau buru-buru di jalan, ya itu jadi pengingat untuk diri sendiri bukan untuk orang lain. Berarti kalau besok-besok lagi datang lebih awal dan berangkat lebih awal. Semua fokus dan balik lagi ke diri sendiri, bukan untuk maupun karena orang lain. Begitulah nasihat Bu Umi hari ini.

Lalu, saat kegiatan dimulai, kami diskusi untuk game pagi hari pertama. Saya mengusulkan dance dengan gerakan yang mudah, lalu teman-teman sepakat. Dance itu saya cari dari youtube saat di kegiatan sebelumnya untuk backup partner kelas kalau sewaktu-waktu dia tidak masuk, sehingga saya sudah punya backup an kegiatan. Ternyata seru juga. Saya juga memberanikan diri untuk usulan beberapa kegiatan dan aktif dalam kegiatan contoh gerakan. Semoga di semester ini saya lebih aktif lagi ya....

Setelah kegiatan, saya makan bersama teman-teman yang datang. Menu yang disiapkan lebih banyak dari jumlah yang datang sehingga lebih banyak dan kami boleh membawa pulang. Saya ambil semangkok sayur asem dan sambel. Cukup itu saja. Karena di sana juga saya sudah makan nasi, sayur asem, ayam, ikan asin, sambal. Ditambah lagi saya sedang mengikuti program IF Mbak Raras mulai dari tahun baru kemarin. Jadi memang harus jaga pola makan. Kalau dulu semua hal saya makan, sekarang saya sudah pelan-pelan menjaga makan saya. Sebenarnya, sudah setahun ini sih saya mengatur pola makan. :) Hasilnya luar biasa, emosi dapat terkontrol, kalau dulu sukanya galau, sekarang lebih ke hidup dengan penuh kesadaran.

Sampai rumah, saya ngajar Krish. Selesai ngajar, beres-beres rumah. Hobi baru saya adalah menjaga rumah sehingga tetap bersih dan rapi. Momen yang saya tunggu adalah buka pintu saat Subuh. :) Lalu, saya juga rutin mengikuti afirmasi positif. Semoga tahun ini hidup lebih melimpah dan bahagia selalu. Aamiin....

Kamis, 02 Januari 2025

#2 Semua Indah Tepat Pada Waktunya....

 Semua indah tepat pada waktunya....

Ya, benar sekali. Seperti setahun belakangan ini. Banyak hal yang membuat saya sadar dan belajar untuk memahami setiap hal yang terjadi. Di saat semester 4 master saya, sudah pasti ada keinginan lulus tepat waktu. Tepatnya Agustus tahun lalu, saya memutuskan untuk memperpanjang semester saya ke semester berikutnya. Ya, keputusan yang tak pernah saya sesali, tapi sebaliknya, saya merasa keputusan itu tepat. Begitu pula saat target yudisium September lagi-lagi keputusan saya menambah waktu lagi. Semua berjalan dengan lancar. Bahkan ada hal yang membuat saya bersyukur atas keputusan itu. Semua selesai dengan baik dan alhamdulillah lancar.

Di momen pendaftaran yudisium November, saya juga memutuskan lagi mengundurnya. Walaupun saat itu, sebenarnya sudah lengkap dan tinggal daftar yudisium dan wisuda November. Namun, ada beberapa pertimbangan yang membuat saya memutuskan itu. Dan keputusan saya wisuda tahun 2025 saja. 😊 

Di bulan Desember 2024, saya pun memutuskan lagi ambil yudisium Desember. Saya bersyukur keputusan-keputusan yang telah saya buat, semua itu telah ditakdirkan untuk saya. Jadi hal yang terlintas di pikiran saya adalah, tetap melakukan yang terbaik dan menerima hal-hal yang terjadi. Saya belajar tentang acceptance. Dan tidak perlu disesali. Saya belajar untuk tidak mengulang takdir. Karena cara memutus takdir adalah dengan menghadapinya dengan cara berbeda. Pola yang sama akan berulang, jadi perlu pola baru. Saya masih belajar untuk beraksi dan mengurangi reaksi. 😊

Tanggal 2 Januari 2025, semua tepat pada waktunya. Saya bisa lulus S2 dengan baik. Alhamdulillah....

Begitu pula dengan hubungan dengan teman-teman, sudah membaik setelah saya memutuskan untuk pindah kos. Kami bertemu kembali dan makan bersama. Untuk sampai di fase ini tentunya banyak hal yang telah saya lalui dan belajar dari pengalaman. Saya belajar untuk diam dan beraksi, bukan seperti dulu yang bereaksi, galau, dan gak jelas alurnya. Dengan menghadapi masalahnya, bukan kabur menghindari. Itu salah satu hal yang saya pelajari dari konflik yang ada. Semua pasti berlalu....

Rabu, 01 Januari 2025

#1 Mari Mengawali

Selamat datang tahun 2025. Saya bersyukur atas kebahagiaan, keberlimpahan, dan kedamaian harmonis hari ini dan seterusnya.

Hari ini diawali dengan mendengarkan hal baik-baik. Salah satu lagu yang sering saya dengarkan adalah Mantra Uang dan Mantra Cinta oleh Aviwkila. Jadi ingat pesan Mbk Raras tentang berdoa saat bangun tidur dan sebelum tidur. Jadi  rutinitas doa khusus pagi dan malam saya tambah. Lalu, afirmasi baik saya tambah.

Hal baik selalu menyertai hari ini dan seterusnya....

Agenda tahun baru, gak banyak. Hanya belanja sayur dan lauk, terus ngangetin soto semalam. Hari ini mulai IF jadi tambahan telur. Sedang mengurangi bumbu yang rasanya kuat. Lebih suka yang light soal rasa.

Tahun baru kali ini di rumah aja sambil beberes rumah. Oh iya, tempat tinggal yang sekarang jauh dari kota. Suasana banyak pohon jati. Saya senang bisa tinggal di sini. Anak-anak juga senang. Mereka bebas masuk hutan dan semak-semak. Tetangga juga jarang, jadi jarang berinteraksi. Paling teman anak-anak yang suka datang pagi, siang, sore, malam. Kadang Subuh mereka sudah manggil-manggil kalo gak ya masuk dari jendela. Minta makan. 😅 Tapi memang rezeki mereka atas kepindahanku. Ayam-ayam pun juga ikutan minta makan. Alhamdulillah bisa berbagi dengan semua makhluk.

Tahun baru ngapain? Tidur cepat 🤣 Iya beneran. Soalnya perlu tidur 8 jam dan perlu bagi waktu. 

Sudah itu aja.... 😊

Kebahagiaan, keharmonisan, kedamaian, keberlimpahan menyertai seluruh makhluk.... 😊